Aku mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi mas Andy dengan seksama lewat telpon. Belum ada perubahan yang berarti bagi kondisinya, aku merasa tekanan di pundakku semakin berat tanpa kehadiran mas Andy di sisiku. Ingin rasanya menyerah dan melepaskan semua tapi urung ku lakukan karena ibu Adriana pasti tidak menginginkan aku menyerah sekarang. Sambungan internasional itu sudah selesai, aku hanya bisa menghela nafas dan menunggu keajaiban terjadi pada suamiku. Aku hanya bisa menunggu waktu dimana mas Andy akan bangun dan pulih seperti sedia kala. Tak bisa ku pungkiri jika hati kecilku ini merindukannya, sangat merindukannya. Ketukan di pintu kantorku mengembalikan kesadaranku, aku menyeru masuk dan menunggu siapa yang ingin menemuiku. “Hey, Rico apa ada hal yang penting sampai kau datang ke sini?” aku tersenyum lebar pada anak muda di depanku ini, yaah aku masih berharap jika Sandrina mau mengubah pendiriannya untuk menerima Rico sebagai pendamping hidupnya. “Saya butuh tanda tangan San, Tante. Tapi dari tadi pagi saya gak bisa menghubungi dia, apa San ke sini?” Aku menyandarkan punggungku pada kursi kerjaku, tiga hari ini aku memang belum bertemu dengan Sandrina, terakhir dia mengatakan akan menginap di hotel untuk lebih memfokuskan dirinya pada event pariwisata yang akan digelar di hotel. Kesibukanku juga membuat aku tak menyadari jika aku lupa menelpon anak itu dan dia pun tak pernah muncul di hadapanku. “Lho … katanya San mau nginap di hotel supaya bisa fokus urus event. Tante gak pernah ketemu San selama tiga hari ini.” aku menatap Rico dengan cemas, kemana lagi perginya anak itu. “Dua hari ini San memang ada di hotel, Tante. Tapi sejak tadi pagi hingga siang ini saya tidak bisa menghubungi dia lagi. Nanti saya bantu cari, Tante gak usah khawatir.” Rico menyunggingkan senyumnya untuk mencoba menenangkanku. “Kalau begitu saya permisi dulu yaa, Tante. Saya akan kabari jika sudah menemukan Sandrina.” Rico pun berbalik meninggalkan ruangan dan meninggalkanku dengan perasaan kalut. “Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi…” suara operator telepon selular membuatku semakin cemas. Apa yang sedang dilakukan anak itu, ini adalah pekerjaan penting untuknya agar bisa membuktikan kecakapannya dalam memimpin hotel, tapi mengapa dia tiba-tiba menghilang? Apakah Ariel berbuat sesuatu padanya? Ben … Ariel … Aku menyebut nama itu dengan was-was … dia tidak akan menyakiti putriku kan? Jemariku pun sibuk mencari ponselku dan menelpon Darwis untuk mencari keberadaan Sandrina. Jangan sampai Ariel kembali mendapatkan hati Sandrina lagi. Bahkan aku rela membayar mahal Darwis agar Ariel tidak bisa menjangkau San lagi dengan cara apapun juga. Lama ku tatap layar ponselku yang memperlihatkan foto keluargaku, ada senyum Sandrina dan Aldrin di sana. Darwis yang ku hubungi barusan meminta waktu agar bisa menemukan Sandrina. Anak itu harus segera ditemukan dan kembali pulang, di tangannya ada tanggung jawab besar yang tidak boleh diabaikannya. Setelah rapat terakhir dengan kepala divisi untuk proyek konstruksi aku memilih pulang. Aku sudah sangat lelah hari ini ditambah pikiranku pada mas Andy dan Sandrina yang menghilang. Apakah Ariel akan senekat itu pada Sandrina, demi Tuhan … apakah Ariel tidak bisa merasakan sesuatu yang ganjil pada San? Mengapa Ariel justru memiliki ketertarikan pada San sebagai laki-laki kepada perempuan? Apakah mata hati Ariel benar-benar tertutup hingga tidak bisa merasakan ikatan lain dengan Sandrina? Jujur aku masih takut untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya, aku takut jika Sandrina tahu dia akan terpukul karena lahir dari suatu keadaan yang tidak diharapkan. Sandrina hanya dekat dengan mas Andy dan sekarang ayahnya itu sedang sakit, lalu kemana Sandrina pergi sekarang ini? Pelipis ku berdenyut dan aku mencoba memejamkan mata agar bisa menenangkan isi kepalaku. “Maaf Nyonya, kita akan kemana? Apa kita akan pulang ke rumah sekarang?” tanya Budi dengan hati-hati. Aku melihat keluar jendela mobil langit masih terang, pantas Budi bertanya akan kemana karena biasanya aku pulang ke rumah setelah bintang bermunculan di langit. “Antarkan saya ke “rumah” bapak dan ibu Sanjaya, Budi," jawabku pendek, di saat kalut seperti ini aku sangat merindukan mereka. “Baik, Bu. Saya akan mampir membeli bunga sebelum kita ke sana.” Budi mengiyakan dan tanpa kusuruh lagi dia paham tentang bunga yang selalu aku bawa ke makam mereka. Langit mulai bergradasi warna putih ke oranye, sudah setengah jam aku hanya bisa berdiri mematung di depan pusara mendiang bapak dan ibu Sanjaya. Tatapanku nanar entah harus berkata apa, bayangan mas Andy yang sakit sungguh mematahkan sebelah sayapku dan Sandrina yang berulah lagi membuatku seakan kehilangan arah navigasi tujuanku. “Pak, Bu … apa yang harus ku lakukan saat ini? Rasanya aku tidak kuat lagi menjalani semua tanggung jawab ini. Mas Andy yang menjadi kekuatanku sedang terbaring lemah, jangan panggil dia sekarang yaa Pak, Bu, aku masih membutuhkannya.” Setitik air mataku jatuh setelah mengatakan itu. “Sandrina, putri kalian … apa yang harus ku lakukan pada putri kalian itu, Pak, Bu? Dia mencintai ayah kandungnya layaknya wanita pada pria, aku ingin menghukum Ariel tapi tidak dengan membuatnya jatuh cinta pada putrinya sendiri. Sekarang anak bandel itu hilang … entah di mana dia sekarang, aku takut Pak, Bu …” air mataku yang lainnya lolos satu persatu. Budi mengamatiku dari kejauhan, aku selalu melarangnya mendekatiku jika sedang di depan makam Sanjaya ini. Seikat bunga Anyelir kesukaan ibu Sanjaya ku letakkan di atas makamnya. Setelah merasa sedikit lega aku ingin kembali pulang. Budi mengikutiku dan beberapa kali menawarkan lengannya agar aku bisa berpegang dan berjalan dengan aman. “Budi, aku minta pistolmu, pastikan terisi penuh.” Aku memilih duduk di depan sehingga membuat Budi tersentak kaget. “Mengapa Nyonya menginginkan pistol saya? Saya yang akan menghadapi mara bahaya untuk Nyonya, jangan sampai Nyonya terluka atau melakukan sesuatu yang seharusnya Nyonya tidak perlu lakukan.” Budi sangat keberatan dengan permintaanku. Aku terdiam, toh memang aku belum pernah menggunakan benda itu sebelumnya, entah mengapa perasaanku mengatakan jika saat ini Sandrina sedang bersama Ariel dan butuh tindakan yang keras kali ini untuk laki-laki itu. Aku masih kepikiran untuk menembak kepalanya! “Nyonya akan bertemu dengan siapa, biar saya yang menemani Nyonya," pinta Budi lagi. Di saat yang sama ponselku bergetar dan sebuah panggilan dari Darwis terlihat. “Bagaimana, Dar? Apa kau sudah menemukan putriku?” tanyaku tanpa membuang waktu. “Nona Sandrina sedang berada di sebuah villa pinggir kota. Anda bisa segera ke sini untuk menjemputnya Nyonya.” Darwis pun menyebut sebuah lokasi dan Budi mengetahui daerah itu dengan baik. “Apa Ariel ada di sana?” tanyaku lagi untuk memastikan, Darwis terdiam sesaat seakan ragu untuk menyampaikan sesuatu. “Maaf Nyonya, kemarin Flora menghubungi saya, dia dipaksa untuk mengakui jika perbuatannya itu atas perintah dari seseorang. Sejauh ini Flora memang mengakui itu pada Ariel tapi Flora tidak pernah tahu siapa yang membayarnya. Mungkin karena ini nona Sandrina memilih untuk menyendiri.” Aku menghela nafas panjang, aku mengira urusan ini sudah selesai tapi memang Ariel begitu gigih untuk meluruskan fitnah terhadap dirinya dan akan kembali menarik simpati Sandrina. “Baiklah, terima kasih informasinya Darwis, kita harus mengakui jika Ariel memang lawan yang tangguh. Namun, ku harap aku masih bisa menemukan cara lain untuk menjauhkan mereka berdua. Aku akan menghubungimu lagi setelah menjemput Sandrina.” Aku menutup panggilan Darwis dan memerintahkan Budi agar segera menuju villa yang disebut oleh Darwis. Aku mencoba menghubungi Rico tapi berkali-kali panggilanku tidak dijawab olehnya, mungkin anak itu sedang sangat sibuk karena pekerjaan yang ditinggalkan oleh Sandrina. Aku hanya berharap tidak bertemu dengan Ariel di villa itu, jika benar laki-laki itu ada di sana mungkin aku akan sungguhan menembaknya.
“San? Sandrina?” aku mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada jawaban. Pintu villa ini pun ternyata tidak dikunci. Aku masuk diikuti oleh Budi yang dengan sikap bersiaga. Aroma dari minuman keras menyengat dari ruang tengah dan melihat sosok putriku itu sedang tidur bergelung di sofa. Matanya sembab habis menangis, berkaleng-kaleng minuman keras terlihat berserakan di meja dan lantai. “Sejak kapan anak ini minum minuman keras? Sandrina … Ayo bangun! Ikut Mom pulang!” aku membangunkan dengan menggoyangkan bahunya. “San gak mau pulang," jawabnya malas-malasan. Kemarahanku sudah nyaris sampai di ubun-ubun melihat kelakuan Sandrina. “Bangun Sandrina, kau harus menjelaskan kepada Mom kenapa kamu lari dari tanggung jawab pekerjaan kamu dan memilih mabuk-mabukkan di sini, ayo banguuun!” bentakku kesal. Perlahan gadis muda itu membuka matanya dan mengusap wajahnya yang sembab dengan telapak tangannya. Dia mencoba duduk meski terhuyung lalu menatapku tajam. “San tidak menyangka jika Mom sanggup memfitnah Ben seperti itu, menjijikkan!” ucapnya kasar dan dingin kepadaku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
24/04/2022
0mantap
05/07
0mantap
23/12
0Lihat Semua