Aku meminta pada dokter yang merawatku agar tidak mengijinkan siapapun untuk bertemu denganku. Aku belum siap bahkan dengan Sandrina yaa … terutama Sandrina aku tidak bisa menemuinya sekarang. aku belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya, bagaimana jika dia tahu jika dia adalah anak dari hasil pelecehan seksual ? dia akan semakin merasa jika aku membencinya karena itu. Yaa Tuhan … mengapa hal yang begitu kutakutkan akhirnya terjadi ? aku hanya berharap jika Ariel tidak akan pernah bertemu dengan Sandrina justru hal yang lebih menakutkan terjadi, mereka saling jatuh cinta. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, ini tidak bisa sampai kapanpun seorang ayah tidak mungkin menikahi putri kandungnya sendiri. Ponselku berdering panggilan dari suamiku sudah ketiga kalinya masuk ke ponselku. Dia sedang berada di Singapura untuk pertemuan bisnis, pasti dia sudah tahu jika aku tumbang lagi. “Iya Mas, ada apa?” aku memutuskan menjawabnya jika tidak dia pasti akan langsung terbang pulang ke Indonesia. “Justru aku yang harus bertanya Sayang, ada apa ? kenapa kamu bisa sampai masuk Rumah Sakit lagi ? San sampai panik dan menangis menelponku.” cecar mas Andy dari seberang sana. “Aku … aku hanya kelelahan saja,Mas.” Suaraku bergetar untuk menutupi gemuruh dalam hatiku. “Kamu gak bisa bohong sama aku Rin, aku kenal kamu dengan baik. Aku akan pulang malam ini segera.” Suara mas Andy terdengar mencemaskanku. “Tapi Mas kan baru tiba, pertemuannya juga berlangsung tiga hari. Jangan begitu dong Mas, aku baik-baik saja beneran, dua hari nanti setelah tenagaku pulih aku pasti sudah boleh pulang.” Mas Andy terdiam sesaat mungkin dia sedang menimbang akan pulang atau tidak. “Yakin kamu gak apa-apa Rin?” tanya mas Andy untuk memastikan lagi kondisiku. “Iya Mas, aku gak apa-apa, aku akan istirahat dalam seminggu ke depan, gak ada pekerjaan, gak ada proyek, gak ada meeting dan sebagainya. Aku akan minta Sandrina untuk mengurusnya juga Rico.” Aku mendengar helaan napas mas Andy dari sana dia pasti tahu jika itu bukan tipeku untuk meninggalkan semuanya tanpa memikirkan apa-apa. “Mas jangan khawatir, nanti sepulang Mas Dari Singapura kita rencanakan liburan keluarga yaa, aku ingin mendekatkan San dengan Rico.” “Baiklah kedengarannya ide bagus itu. Jaga diri kamu baik-baik yaa … sekali lagi aku dengan laporan dari San kamu kenapa-kenapa aku langsung pulang.” Kali ini suara mas Andy terdengar tegas dan aku mengiyakan. Telpon dari mas Andy pun berakhir dengan kecupan dan kata mesra darinya. Hal yang belasan tahun tidak pernah hilang darinya. Aku masih menatap ponselku dengan kontak Darwis, aku harus merencanakan sesuatu agar San menjauhi Ariel atau Ben atau siapalah nama laki-laki itu. “Iya Bu Airin, senang rasanya mendapat telpon dari Anda.” Tak butuh menunggu lama Darwis mengangkat panggilanku. “Aku ingin bertemu, kalau bisa sekarang. Ada pekerjaan sangat penting kali ini.” kemudian aku menyebut alamat Rumah Sakit aku dirawat dan meminta dokter dan perawat untuk mengijinkan Darwis untuk menemuiku. Aku memutuskan untuk menelpon Sandrina dan mencoba membuatnya sibuk. “San Sayang, tolong bantu Mom handle pertemuan dengan timnya Rico yaa. Untuk pekerjaan Mom beberapa hari ke depan kamu sama Rico yang pegang dulu.” “Lho urusan apartel baru ini gimana Mom ? kok aku harus sama Rico di Sanjaya Build?” protes Sandrina. “San Sayang, ingat kamu pemilik saham terbesar di Sanjaya Build dan belajar lah juga di sana, apartel biar bawahan dad yang pegang sementara.” “Mom sendiri bagaimana ? masa sih dokter bilang Mom gak bisa dijenguk dulu, Aldrin sampai merengek-rengek sama aku Mom mau jenguk Mom.” “Kamu kasih tahu adik kamu kalo Mom masuk Rumah Sakit?” aku menghela napas, Aldrin itu benar-benar fotokopi dari ayahnya yang sangat mengkhawatirkan aku jika mendengar aku sedang sakit. “Iya San kasih tahu, dia kan anak Mom juga, dia berhak tahu kalo orang tua kenapa-kenapa.” ‘Duuuh San … andai saja kamu tahu serangan jantungku karena kejutan yang kau berikan bersama laki-laki itu.’ Keluhku dalam hati. “Mom, jadi Aldrin gimana nih ? dia udah bolak balik telpon San.” “Bilang sama Al, Mom baik-baik aja cuma kelelahan dan bilang juga supaya bersabar nanti kalo dad pulang kita akan pergi liburan keluarga. Kamu sama Rico nanti jemput dia di asramanya.” “Liburan keluarga ? beneran Mom?” tanya Sandrina dengan antusias. Dia tetap saja terdengar seperti anak-anak di telingaku dan di hatiku. “Iya tunggu Mom baikan dulu selama sepekan ini sambil tunggu urusan Dad selesai di Singapura. Baiklah, Mom mau istirahat dulu, ingat yaa kamu belajar sama Rico dan paman Rudy.” “Ok Mom, San akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Oh ya Ben titip salam dia juga sudah tahu kalau Mom masuk Rumah Sakit. San mau telpon Rico dulu yaa Mom, bye Mom.” Ben … Ben … Ben … Nama itu membuat dadaku menjadi nyeri. Tanpa sadar jemariku meremas ponselku gemuruh itu kembali datang dan akhirnya aku hanya bisa tertunduk lemah dan ingin menangis kembali. Tapi tidak … sudah cukup aku menangisi dia bertahun-tahun lamanya. Aku hanya ingin Sandrina menjauh dan terpisah dari Ben tanpa mereka tahu rahasiaku ini.
Suara ketukan pintu membuatku berhenti berselancar di ponselku, aku sedang mencari sesuatu untuk menunjang rencanaku ini. kupersilahkan orang yang mengetuk pintu itu masuk karena pasti tamu itu Darwis. Seorang laki-laki berpostur tegap dan tinggi serta mengenakan topi masuk, dugaanku benar itu Darwis. “Tampaknya Ibu sedang kurang sehat.” Darwis menatapku sekilas, aku mempersilahkannya duduk. “Kamu masih ingat dengan laki-laki yang bernama Ariel Rivaldo alias Ariel Benjamin Sanders? Aku tidak menyangka jika orang itu menjalin hubungan dengan putriku Sandrina. Ini tidak boleh terjadi, Darwis.” Aku bersandar pada kepala tempat tidurku, membahas sosok Ariel membuat tenagaku seketika terkuras. “Jadi saya harus berbuat apa kali ini Bu Airin?” tanya Darwis dengan tenang, kurasa perintah untuk membunuhnya pun pasti akan diterimanya. “Buatlah seakan-akan Ariel sedang selingkuh, gunakan beberapa gadis untuk menjebak Ariel sehingga Sandrina menjauhi Ariel selama-lamanya.” Darwis mengangguk paham, bibirnya melengkungkan senyum, bukan senyum keramahan tentunya. “Tentang sumber daya ….” Darwis mengangkat wajahnya tapi aku memotong ucapannya lebih cepat. “Gunakan sebanyak yang kau butuhkan yang penting Sandrina menjauh dari Ariel. Aku akan mengajak keluargaku berlibur setelah aku keluar dari sini. Selama kami pergi liburan gunakan waktu itu sebaik mungkin untuk pekerjaanmu itu.” Aku meraih ponsel dan menekan sejumlah angka, “Nomer rekeningmu masih sama kan?” Darwis hanya mengangguk, dia merogoh sakunya dan menatap layar ponselnya. Suara notifikasi terdengar dari ponselku yang disusul ponsel Darwis. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk hormat. “Kalau begitu saya pamit dan saya akan beri laporan perkembangan dan rencana saya.” Aku balas anggukannya dan senyuman ke arahnya. Sesaat kemudian dia berpamitan, ruangan ini kembali sepi, sunyi dan aku merasa sedang berada di pasir hisap yang akan menelanku.
Pintu kembali terdengar diketuk, aku memberi ijin untuk masuk, aku mengira jika Darwis kembali datang untuk suatu hal. Dugaanku kali ini salah, seseorang masuk ke dalam ruanganku sambil membawa bunga yang begitu indah. Aku mengernyitkan dahi dan mereka-reka siapa yang mengirimkan aku bunga yang begitu indah dan mewah ini. “Maaf Mas, siapa yang mengirim ini?” aku belum melihat wajah laki-laki yang membawa masuk bunga itu karena wajahnya terhalang. Laki-laki itu meletakkan bunga chrysant yang bercampur dengan lily. Seraut wajah itu pun terlihat dan membuatku terkesiap kaget. “Kaaau …! Berani-beraninya kau datang kemari hah?!” hardikku pada Ben alias Ariel. “Airin, aku hanya ingin menjengukmu saja, aku masih ingin mendapatkan pengampunan darimu atas dosa-dosaku di masa lalu.” wajah Ariel terlihat sangat tenang dengan sorot mata memohon. “Bajin*an …. Aku menyuruhmu untuk pergi ke neraka!” teriakku nyalang, aku turun dari tempat tidurku bahkan aku mencabut jarum infus yang menghalangi gerakku. “Jangan dekati lagi putriku Sandrina, pergi jauh dari kehidupannya, kau tak layak mendekati keluargaku.” desisku tajam sambil menunjuk ke arah wajahnya. “Aku sudah berubah Airin, aku sudah menjalani kehidupan yang lurus. Aku pun tidak tahu mengapa aku bisa jatuh cinta pada Sandrian putrimu. Ku mohon biarkan kami ….” Plaaakk …. Belum sempat Ariel menyelesaikan kata-katanya kulayangkan telapak tanganku dengan keras mendarat di pipinya. Dia terhuyung sejenak dan merasakan jika sudut bibirnya menjadi asin. Dia tersenyum ke arahku sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah. “Untuk ukuran orang sakit tamparanmu luar biasa Airin.” “Menjauh dari putriku atau kau akan menyesal, apa kau pikir mas Andy Rivaldo ayah Sandrina akan memberikanmu restu ? jangan bermimpi!” “Andy hanya ayah tirinya, bukan ayah kandungnya kan?” Tanganku mengepal ada kalimat-kalimat kebenaran yang ingin kukatakan tapi mendadak lidahku kelu. “Keluaaar dari kamarku!” aku mengusir Ariel, kuambil dengan kasar bunga yang diletakkannya di meja dan mendorongnya pergi bersama bunga itu. “Jangan sampai kau menyesal muncul di hadapanku lagi, lain kali pengawalku yang akan memukulimu!” aku membuka pintu dan menunggunya berlalu dari dari hadapanku. Laki-laki itu hanya menghela napas dan berhenti sejenak di ambang pintu. “Aku mencintainya dan tidak akan berhenti begitu saja.” Aku mendorongnya keluar dengan kasar lalu menghempas pintu itu dengan keras. Aku hanya bisa melorot di lantai kamarku dan mencoba bernapas dengan baik. Tanganku gemetar … suatu hari salah satu dari kami harus membayar semua ini dengan mahal.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
24/04/2022
0mantap
05/07
0mantap
23/12
0Lihat Semua