Beranda/Black White Life/
Penyelamatan Nathan
Episode Sebelumnya..
“Siapa Kalian semua ? dan kau … kenapa kau dengan seenaknya masuk ke dalam rumah orang tanpa sopan santu.” ujarnya dengan nada suara yang dingin.
***
“Aku ingin membawa pulang saudaraku.” balas Rain dengan santai “Saudara?!” tanya orang itu dengan bingung “Kau tidak usah bingung Tn. Jackson … aku hanya ingin membawa saudaraku dan setelahnya aku akan pergi, jadi kau hanya perlu diam dan lihat saja apa yang aku lakukan, maka semua akan baik baik saja.” ujar Rain dengan datar dan setelahnya Rain berjalan menuju ruangan bawah tanah yang sudah di beritahukan oleh Kenzo.
“Yaakkk!! Jangan seenaknya kau disini!!” teriak Jackson tidak terima, namun pria itu hanya bisa pasrah karena kini dia tengah di tahan oleh anak buah Rain.
Back to Rain
Rain membuka pintu itu dan melihat tangga yang menuju ruangan bawah tanah itu, tanpa membuah waktu lama, Rain segera melangkah turun di ikuti oleh Felix di belakangnya sedangkan Kenzo menunggu di dalam mobil mereka.
Setelahnya Rain melihat seorang pria yang tengah di ikat dengan sebuah rantai pada kedua kakinya, keadannya benar benar jauh dari kata baik, tubuh yang lusuh dan banyaknya bekas luka cambukan yang menghiasi tubuh lemah itu, Ya itu adalah Nathan.
“Na-Nathan …” lirih Rain yang mulai mendekati saudaranya itu, Nathan yang merasakan jika ada yang datang seketika menjadi panik dan berteriak dengan keras “Siapa di sana !!! jangan menggangguku!! Pergi kalian!!!” teriaknya histeris, Rain tidak bisa membendung air matanya lagi gadis Zee itu mulai terisak dengan pelan melihat keadaan saudara yang sangat dia sayangi itu.
“Nathan ini aku … Rain.” ujar Rain dengan suara bergetar “Hiikks … aku datang … maaf aku terlambat.” ujar Rain mulai mendekat pada Nathan.
“Siapa kau ?! benarkah kau Rain … Rain adikku?!” tanya Nathan sambil meraba raba sekitar, Rain diam mematung melihat pergerakan Nathan yang seperti---
“Rain … kamu di sini? Kamu masih hidup sayang?!” tanya Nathan yang masih meraba raba untuk mencari keberadaan sang adik, Rain kembali menetesakan airmatanya melihat Nathan yang ternyata tidak bisa melihat, gadis Zee itu meremat dadanya yang terasa sakit.
“Apa yang terdai padamu … apa mereka yang membuatmu seperti ini, maafkan aku Nathan.” gumam Rain dengan berderai air mata, Rain mencoba tenang dan meraih tangan Nathan dengan lembut.
“Hhmmm aku di sini, aku datang untuk memjemputmu,” ucap Rain yang berusaha untuk tersenyum “Hikks… kamu masih hidup sayang … Albert benar jika kamu tidak mungkin meninggalkan kami, sayang aku sangat merindukan kamu.” ujar Nathan memeluk Rain dengan erat.
“Aku juga sangat merindukanmu … sangat.” lirih Rain membalas pelukan sang kakak tak kalah erat “Ayo kita pulang.” ujar Rain membantu Nathan untuk berdiri dibantu juga oleh Felix setelah rantai pada kedua kaki Nathan di lepas.
Mereka semua berjalan menuju keluar ruangan itu, di ruang tamu Jackson terduduk dengan wajah masam dan kesalnya, Jackson mendengar orang yang berjalan mendekat ke arahnya dengan cepat pria itu menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang berada pada rangkulan gadis Zee itu.
“Si-siapa dia?!” tanya Jackson dengan mata membulat terkejut bercampur bingung “Dia saudaraku.” balas Rain dengan santai “Bawa dia ke dalam mobil.” perintah Rain pada Felix “Baik.” balas Felix dan akan menuntun Nathan menuju mobil mereka.
“Tidak!! Aku tidak ingin bersama denganmu … mana Rain, aku ingin bersama Rain.” tolak Nathan dengan panik, Rain mendekat pada saudaranya itu “Tenanglah … dia adalah orang kepercayaanku, semua akan baik baik saja, percaya padaku.” ujar Rain menggenggam tangan Nathan dengan hangat, dengan perlahan Nathan mengangguk setuju, setelahnya Nathan berjalan menuju mobil bersama Felix.
Sementara Jackson hanya diam dengan wajah kebingungannya melihat semua itu, pria itu masih heran kenapa ada orang asing di rumahnya “Sekarang bisa kau jelaskan apa yang terjadi ?!” tanya Jackson pada Rain sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Aku Zee Rain, pemilik Zee Corp.” ucap Rain menatap Jackson datar “Zee Corp bukannya perusahaan yang sudah bangkrut 3 tahun yang lalu.” ujar Jackson dengan kebingungan “Bukan bangkrut tapi di curi.” jelas Rain dengan tajam “Dicuri ?!” tanya Jackson lagi.
“Ya … dan yang mencurinya adalah adikmu sendiri.” jelas Rain menatap Jackson tajam “APA!!” sarkas Jackson dengan tajam “Jaga ucapanmu nona!! Tidak mungkin adikku merebut perusahaanmu!!” tekan Jackson menatap Rain tajam.
“Aku tidak asal bicara Tn. Jackson … adikku memang mengambil perusahaanku, dia mendekati saudaraku yang kau lihat tadi dan memangsa saudaraku untuk memindahkan semua poperti kami atas nama dia.” jelas Rain tak kalah menatap Jackson tajam “Omong kosong!!” sarkas Jackson yang masih tidak terima.
“Apa kau masih belum percaya juga ?!” tanya Rain sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap Jackson dingin “Tentu aku tidak akan percaya dengan semua omong kosongmu nona.” sarkas Jackson santai, Rain tersenyum tipis dan memberikan kode pada salah satu anak buahnya untuk memberikan sebuah rekaman pada Jackson
Jackson melihat vidio itu dengan tatapan yang awalnya biasa menjadi sangat tajam.
“Sial!!” umpat Jackson dan menutup latop itu kasar, terihat amarah yang sangat besar di dalam mata pria itu “Apa kau sudah percaya Tuan.” ujar Rain tersenyum miring, setelahnya Rain bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu utama itu.
Tapi sebelum beranjak pergi Rain berbicara dengan amat dingin dan membuat Jackson diam membeku “Adikmu akan merasakan apa yang juga di rasakan oleh saduaraku Tn. Jackson yang terhormat.” tekan Rain dan benar benar berlalu dari sana.
Jackson terduduk dengan lemas sambil mengusap wajahnya kasar, pria itu tidak menyangka adik yang sangat dia sayangi bisa berbuat sekeji itu hanya demi kekayaan.
***
Setelah dari kediaman Jackson, mereka semua menuju rumah sakit untuk mengobati Nathan, Rain menunggu Dokter yang memeriksa Nathan di luar ruangan VVIP itu.
1 jam kemudian
Nampak seorang pria dengan jas putihnya yang diyakini itu adalah dokter yang menangani Nathan keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana kedaannya Dok?!” tanya Rain dengan cemas “Keadannya jauh dari kata baik nona muda,” ucap Dokter itu “Apa maksud anda Dok ?!” tanya Rain lagi dengan sangat cemas.
“Tuan Nathan mengalami kerusakan pada kornea matanya dan mengakibatkan dia mengalami kebutan, tapi nona muda tenang saja, itu bisa diobati dengan adanya pendodor kornea matanya yang cocok dengan Tuan muda.” jelas Dokter, Rain menghela napas lega.
“Segera lakukan apapun agar dia bisa melihat kembali Dok.” ujar Rain menatap Dokter itu penuh harap “Kami akan melakukan yang terbaik nona.” balas Dokter tersenyum hangat.
Setelah Dokter pergi, Felix dan Rain masuk ke dalam ruangan itu, saat masuk Rain melihat wajah tampan saudaranya itu di hiasi dengan lebam yang sangat banyak, Felix mencoba menenagkan Rain dengan mengusap punggung gadis yang tengah rapuh itu.
“Kenapa … kenapa ini semua selalu menimpa keluargaku Felix?!” tanya Rain dengan suara bergetar sambil menggenggam tangan Nathan yang terlihat sangat kurus, Felix hanya diam tanpa menyahuti gadis itu, pria itu juga sangat sedih melihat semua yang menimpa sahabat dan juga bosnya itu.
“Kenapa semua orang yang aku sayangi harus terkena masalah karenaku … apa aku ini pembawa sial … kenapa Tuhan … Kenapa kau mengujiku dengan sangat berat … aku tidak sekuat itu Tuhan.” gumam Rain terisak sambil menggenggam tangan Nathan dengan erat.
Felix keluar dari ruangan itu membiarkan Rain menumpahkan semua kesedihannya, dan memberikan waktu sebentar agar gadis itu merasa lebih baik, mungkin dengan menangis bisa mengurangi beban dalam hatinya itu pikir Felix.
Felix keluar dan pergi untuk membelika Rain makan, akhir akhir ini Rain sering melewatkan jadwal makannya bahkan Rain tidak memperdulikan kesehatannya. Setelah membeli makan Felix kembali masuk dalam ruangan Nathan.
Saat Felix masuk, pria itu melihat Rain yang tengah menatap kota dari jendela ruang inap itu dengan tatapan kosong, Felix melangkah dengan perlahan dan meletakan makanan yang dia beli tadi di atas meja yang ada di dalam ruangan itu “Ayo makan.” ucap Felix pada Rain, gadis itu tersentak dan menoleh pada Felix yang tengah menyiapkan makanan mereka di atas meja.
Setelah semua makanan tertata rapi, Felix menoleh pada Rain yang juga melihatnya dengan diam “Kenapa kau menatapku seperti itu,” tanya Felix dengan bingung “Tidak apa,” balas Rain dengan dingin dan mengalikan pandangannya kembali pada pemandangan kota.
“Apa kau tidak akan makan?” tanya Felix heran “Tidak … kau saja yang makan.” tolak Rain dingin, memang dasarnya gadis Zee itu sangat keras kepala, pikir Felix, pria jakung itu menghela napas berat sebelum bersuara kembali “Setidaknya kau harus makan sedikit, apa kau mau jika nanti Nathan sadar dan melihat adiknya yang sudah lama dia rindukan jatuh sakit,” ucap Felix dengan dingin.
Rain mampak berpikir sejenak dan setelahnya gadis Zee itu duduk bersebelahan dengan Felix kemudian mereka mulai memakan makanannya masing masing.
***
2 hari kemudian, sudah dua hari Nathan belum mendapatkan donor mata, Rain menatap saudaranya itu sendu, saat ini Nathan tengah tidur setelah beberapa menit yang lalu dia makan dan meminum obatnya.
Tiba tiba ada yang masuk ke dalam ruangan Nathan yang tidak lain adalah dokter yang merawat pria itu “Pagi nona muda.” sapanya dengan ramah “Pagi.” balas Rain datar “Saya sudah mendapatkan donor yang cocok untuk tuan muda, nona.” ucap Dokter tersenyum ramah.
Rain yang mendengar itu dengan seketika menoleh pada dokter dengan pandangan berbinar “Benarkah … lalu kapan operasinya ?!” tanya Rain penuh harap “Lusa nona muda.” balasnya
“Hah!! Syukurlah.” gumam Rain tersenyum melihat kearah Nathan.
***
Seorang pria tua dengan angkuh duduk bersandar pada kursi kebesarannya dengan sebotol wine yang menemani, terpancar aura kebahagiaan pada wajah tua itu dengan senyum licik seperti singa yang akan menerkam mangsanya detik itu juga.
Agaknya pria itu seperti memenangkan sebuah jacpot yang sangat berharga untuknya “Kerja bagus … lusa lakukan tugas kalian.” titahnya dengan senyum miringnya “Baik tuan.” ujar pengawal itu dengan hormat dan berlalu dari ruangan yang di yakini itu adalah ruangan Bos pengawal tadi.
“Tunggu tanggal mainnya Black Lady.” gumam pria tua itu dengan senyum miring yang selalu terukir pada wajah tuanya.
***
Disisi Albert, 19.00
Albert kini tengah mengerjakan pekerjaannya pada ruangan kerjanya setelah pria itu menyelesaikan makan malam bersama sang putra, terdengar helaan napas berat pada pria tampan itu.
“Hah!! Ke mana lagi aku harus mencarimu sayang.” gumam Albert sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut sakit, pasalnya Albert sudah 2 minggu lamanya mencari keberadaan gadis yang dia yakini adalah istrinya yang dia tidak sengaja dia temui 2 minggu lalu.
Saat sedang bergelut dengan pikirannya, Albert di kejutkan dengan kedatangan sang putra yang memanggil namanya sambil membawa mainan kesukaannya itu “Daddy.” panggil bocah kecil itu, Albert menoleh dan mendapati sang putra yang menatapnya dengan pandangan sayu akibat menahan kantuk.
“Astaga … jagoan daddy belum tidur hmmm.” ujar Albert yang langsung membawa sang putra pada pangkuannya “Aku ingin tidur bersama daddy.” ujarnya dengan manja dan menatap sang ayah dengan mata bulatnya.
“Jadi jagoan daddy ingin tidur bersama daddy ya,” ujar Albert dengan gemas sambil mencium kedua pipi sang anak, bocah kecil itu hanya mengangguk lucu membuat Albert sangat gemas pada putranya itu “Baiklah sayang … ayo kita tidur.” ucap Albert sambil melangkah menuju kamar dengan sang putra yang berada pada gendongannya.
Bersambung…Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (43)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
lurveee
18/08/2025
0keren
23/06/2025
0bagus bgtt
31/05/2025
0Lihat Semua