DKJ 22

“Saya berharap proyek kita ini berjalan dengan lancar. Jangan sampai ada yang miss. Kalau sampai itu terjadi, saya nggak akan segan-segan memotong gaji kalian 50%,” ucap Bagas kepada para staf nya.

“Satu lagi, untuk pengerjaan kelanjutannya, saya serahkan kepada kalian. Saya akan memantaunya dari jauh.”

Bagas meninggalkan para stafnya setelah menyampaikan perintahnya. Proyek yang ia kerjakan merupakan proyek besar yang baru pertama kali perusahaannya dapatkan. Tentu saja, Bagas harus langsung turun tangan dalam menangani dan memantau proyek ini.

Namun, tujuannya bukan hanya itu. Ada hal lain yang saat ini harus Bagas penuhi.

“Sayang, kamu kok lama banget datangnya? Aku udah kangen tau.”

“Iya, aku minta maaf. Aku ke sini, kan, bukan untuk main-main. Aku ke sini ada kerjaan, jadi aku harus selesaikan dulu kerjaan aku,” jawab Bagas.

Wanita tersebut, lebih tepatnya Sandra, sudah bergelayut manja di lengan Bagas. Ya, hal lain yang harus Bagas penuhi adalah pertemuannya dengan Sandra. Sandra menyusul Bagas ke luar kota.

“Ya sudah, kita istirahat, yuk. Kamu keliatan capek banget.”
Sandra membawa Bagas menuju tempat tidur. Mereka saat ini sedang berada di hotel yang Sandra pesan hanya untuk dirinya dan Bagas. Tidak ada yang tahu. Semua mereka sembunyikan dengan begitu sempurna.
Di sisi lain, Jesna dan Ramlan, ayah mertuanya, baru saja tiba di sebuah hotel. Hotel ini adalah hotel dimana para staf dari perusahaan Bagas menginap.
“Ayah, Jesna telfon Bagas dulu, ya. Jesna mau ngabari kalau kita ada di sini.” Jesna hendak mengambil ponselnya dari dalam tas.
Mengetahui hal tersebut, Ramlan langsung mencegah Jesna.
“Tidak perlu, Jesna. Kita langsung datangi saja tempat dimana proyek itu berlangsung. Mereka pasti lagi sibuk banget, kamu nggak mau kan mengganggu pekerjaan Bagas?”
Jesna berpikir sejenak kemudian mengangguk menyetujui ucapan ayah mertuanya.
Setelah itu, Jesna dan Ramlan segera menuju tempat yang dituju. Namun, entah kenapa, perasaan Jesna menjadi tidak tenang.
“Astaghfirullahal’adzim,” lirih Jesna.
“Kenapa, Jesna?” tanya Ramlan.
“Ayah, nggak tahu kenapa, perasaan Jesna kok nggak enak, ya?”
“Sudah, jangan kamu pikirkan. Itu mungkin karena kamu terlalu lelah setelah perjalanan jauh.”
Jesna mencoba menerima ucapan ayah mertuanya. Semoga saja seperti itu.
Setibanya Jesna dan Ramlan di tempat proyek tersebut, Jesna langsung menatap ke seluruh ruangan.
Sepertinya ini benar-benar proyek besar yang ditangani oleh perusahaan Bagas. Lihat saja, ruangan yang ada di dalam gedung besar ini telah disulap sedemikian rupa karena adanya event besar yang akan digelar.
Ramlan terlihat berbicara dengan salah satu staf Bagas yang ada di sana. Mendengar ucapan staf tersebut, Ramlan mengernyit bingung. Ia tidak paham dengan situasi seperti ini.
Tidak mau membuat Jesna curiga, Ramlan segera menemui Jesna dengan membawa staf yang berbicara dengannya tadi.
“Jesna, ini staf Bagas. Kamu bisa berikan berkas yang kamu bawa kepadanya,” ucap Ramlan.
Jesna mengangguk kemudian mengambil berkas tersebut dari dalam tasnya dan memberikannya kepada staf tersebut.
“Kalau boleh tahu, Pak Bagasnya dimana, ya?” tanya Jesna kepada staf tersebut.
“Pak Bagas sedang mengurus hal yang lain, Bu. Beliau baru saja pergi,” jawab staf tersebut.
“Hal lain?” tanya Jesna bingung.
“Iya, Bu. Event ini merupakan proyek besar yang pertama kali ditangani oleh perusahaan, jadi Pak Bagas pergi untuk mengurus beberapa surat izin yang masih menggantung.”
Jesna mengangguk paham meski sejujurnya ada hal yang mengganjal dalam hatinya.
“Ya sudah, kalau begitu kamu boleh kembali bekerja,” ucap Ramlan kepada staf tersebut.
“Jesna, berkas tersebut sudah sampai, kan? Jadi, kamu mau bagaimana? Istirahat dulu dan kembali besok atau kita kembali sekarang?” tanya Ramlan.
“Kita, kita kembali sekarang saja, Yah.”
“Kamu yakin?” Jesna mengangguk pasti.

Kini, Jesna tengah dalam perjalanan pulang bersama Ayah mertuanya. Meski telah mendengar penjelasan dari salah satu staf Bagas, Jesna masih merasa ada hal yang ganjal.

“Jesna, kamu tidur saja. Ayah tau kamu pasti lelah kan?”

“Iya, Ayah.”

Jesna memutuskan untuk tidur. Kepalanya sudah pusing karena perjalanan yang singkat ini ditambah dengan pikirannya tentang Bagas.
Setelah menempuh beberapa jam, Jesna dan Ramlan telah tiba di rumah Jesna. Ramlan memaksa untuk mengantar Jesna pulang karena melihat kondisi Jesna yang terlihat lemas.
“Kalau ada apa-apa, kamu segera hubungi Ayah. Ayah nggak mau menantu Ayah kenapa-kenapa. Selama Bagas pergi, kamu tanggung jawab Ayah, Jesna.”
“Iya, Ayah. Jesna bakal kabarin ke Ayah kalau terjadi sesuatu sama Jesna. Ayah jaga kesehatan, ya. Banyak istirahat, jangan kerja terus.”
“Pasti. Ya sudah, Ayah pergi dulu. Kamu hati-hati di rumah.”
“Iya, Ayah. Ayah juga hati-hati di jalan.” Jesna mencium punggung tangan ayah mertuanya.
Setelah kepergian ayah mertuanya, Jesna memasuki rumahnya. Hari ini, ia memutuskan untuk beristirahat. Tubuhnya benar-benar begitu lemas.
***
“Bagaimana? Kamu sudah dapat info?”
“Sudah, Pak. Semuanya sudah saya kirimkan ke email Bapak.”
“Bagus. Kamu pantau terus gerak-geriknya, lalu segera laporkan kepada saya.”
Ramlan segera membuka email yang dikirim oleh anak buahnya. Ia merasa curiga dengan apa yang dilakukan oleh anaknya di luar sana.
“Astaga, Bagas, kenapa kamu seperti ini?” ucap Ramlan terkejut setelah melihat beberapa foto yang diterimanya.
“Ayah benar-benar nggak nyangka kamu berbuat hal menjijikkan seperti ini.”
Ramlan segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Tolong kamu kirimkan schedule Bagas beberapa minggu ke depan.” Tanpa menunggu jawaban, Ramlan langsung memutuskan panggilan tersebut.
“Kamu mau coba bermain-main dengan menantu ayah, ya? Jangan harap kamu,” ucap Ramlan lirih.
Jujur saja, ia kecewa dengan Bagas. Kenapa Bagas tega melakukan hal tersebut dan mengkhianati Jesna, menantu yang sangat ia sayangi.
“Kamu tenang aja, Jesna. Ayah nggak akan biarin Bagas nyakitin kamu. Kamu adalah menantu Ayah. Kamu adalah menantu yang sudah Ayah anggap seperti anak Ayah sendiri. Ayah nggak akan biarkan siapapun termasuk Bagas menyakiti kamu,” ujar Ramlan seraya menatap bingkai foto pernikahan anaknya dengan Jesna yang ada di meja kerjanya.
Satu minggu kemudian, Bagas telah kembali dari luar kota. Jesna yang akan pergi mengajar, mengurungkan niatnya begitu melihat Bagas baru saja turun dari mobil.
“Mas? Kamu udah pulang?” Jesna mencium punggung tangan Bagas dan meraik tas yang dibawa oleh Bagas.
“Ayo, masuk. Aku siapin sarapan dulu buat kamu.”
“Kamu nggak ngajar?”
“Iya, tapi siang nanti. Ya udah, kamu bersih-bersih, gih,” suruh Jesna. Bagas pun pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Jesna menghangatkan kembali nasi goreng yang ia buat tadi. Kemudian, ia mengambil tas Bagas dan mengeluarkan pakaian kotor.
“Mas, ayo sini sarapan dulu,” ucap Jesna begitu melihat Bagas memasuki dapur.
Bagas pun duduk dan menyantap sarapannya. Ia menatap Jesna yang sedang menuangkan air minum ke dalam gelas.
“Kenapa, Mas? Kok ngeliatin aku gitu?”
“Kamu, nyusulin aku ke sana, ya?” tanya Bagas.
“Iya, Mas. Ada berkas kamu yang ketinggalan. Aku takut itu berkas penting.”
“Kenapa nggak kamu titipin aja ke staf aku di kantor? Kan kamu nggak perlu repot-repot nyusulin aku.”
“Aku udah ke kantor kamu, Mas. Mereka bilang nggak ada yang ke sana. Terus aku juga hubungi kamu tapi ponsel kamu nggak bisa dihubungi,” jelas Jesna.
Bagas diam.
“Lagi pula, aku perginya bareng Ayah, kok, jadi kamu nggak perlu khawatir,” sambung Jesna.
Bagas tersedak mendengar ucapan Jesna.
“S-Sama Ayah?”
“Iya, nggak sengaja ketemu di kantor kamu.”
Bagas mengangguk dan meneruskan sarapannya. Namun, diam-diam dia merasa khawatir.
“Ya sudah, Mas, aku berangkat dulu, ya. Baru ingat kalau aku mau ngumpulin hasil evaluasi mahasiswa ke jurusan.”
“Kamu nggak apa-apa, kan, aku tinggal?”
“Iya, aku nggak apa-apa. Kamu hati-hati di jalan. Maaf, ya, aku nggak bisa nganterin kamu.”
“Iya, nggak apa-apa, Mas. Aku pergi, ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Melihat Jesna sudah pergi, Bagas menghentikan sarapannya.
“Bisa gawat kalau Ayah tau. Duh, kenapa jadi gini, sih?” racau Bagas. Ia mengacak rambutnya asal.

Komentar Buku (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru