Semenjak kejadian dimana Jesna memergoki suaminya bersama wanita lain, sikap Bagas masih sama seperti biasa. Sikap Bagas menunjukkan seolah-olah ia tidak melakukan hal apapun di luar sana.
Jesna juga tidak ingin menanyakan hal tersebut kepada Bagas. Semuanya sudah jelas. Bagas telah bermain api di belakangnya dan tidak berusaha untuk menyudahinya.
Meski rumah tangganya tidak baik-baik saja, Jesna masih saja menampilkan sikap seperti biasa kepada Bagas. Walau sedikit, ia berharap Bagas menghentikan perbuatannya tersebut dan berubah. Berubah menjadi imam yang baik untuk dirinya. Pagi ini, sebelum berangkat bekerja, Jesna memasakkan sarapan untuk Bagas dan meminta Bagas untuk sarapan bersamanya.
“Ayo, Mas, sarapan dulu,” ucap Jesna.
“Nggak usah. Aku sarapan di kantor aja.” “Loh, kenapa, Mas? Ini aku udah masak,” ucap Jesna. “Aku buru-buru. Ya sudah aku pergi dulu, ya.” Setelahnya, Bagas langsung pergi.
Beberapa hari belakangan ini selalu seperti itu.
Jesna menatap kepergian Bagas dengan tatapan nanar. Air matanya seolah tidak sabar untuk keluar dari persembunyiannya.
Jesna terduduk. Ia tidak kuat menahan tubuhnya yang sudah lemas.
“Ya Allah, kenapa ini? Kenapa hal ini harus terjadi di rumah tangga hamba, Ya Allah?” Jesna terisak.
Jesna menghapus air matanya lalu mengambil ponselnya. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan hal ini dari keluarganya, terutama tantenya. Ia ingin menceritakan segalanya kepada sang tante.
Beberapa saat kemudian, Jesna telah tiba di kediaman om dan tantenya. Ia segera masuk dan langsung memeluk sang tante begitu ia melihat tante Anya sedang menunggunya di ruang keluarga.
“Tante …” Jesna terisak dipelukan sang tante.
“Sayang, ada apa? Kamu kenapa?” tanya Tante Anya khawatir. Ia begitu khawatir dengan keponakannya ini. Jesna tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tidak ada jawaban dari Jesna. Hanya ada isakan tangis yang terdengar dan mengisi keheningan rumah ini. Tante Anya membiarkan Jesna melepaskan segala sesak didadanya. Ia menunggu sampai Jesna merasa sedikit lebih baik dan menceritakan apa yang terjadi kepadanya. Setelah beberapa saat, isakan Jesna tidak terdengar lagi. Tante Anya menarik Jesna dari pelukannya untuk memastikan keadaan Jesna. “Sayang, udah merasa lebih baik?” tanya Tante Anya. Jesna mengangguk dan menatap Tante Anya. Tante Anya bisa menangkap kesedihan dan kepedihan dari mata Jesna. “Sekarang, kamu bisa cerita ke Tante, ada apa, Jesna? Ada masalah apa sampai kamu menangis seperti ini? Tante tahu, kamu nggak akan serapuh ini kalau masalah yang kamu tanggung begitu berat.” “Tante …” Jesna menatap sendu Tante Anya. Tante Anya begitu mengerti dirinya. “Cerita, Sayang, biar Tante tahu apa yang terjadi sama kamu.” “Mas Bagas, Tante.” “Kenapa sama Bagas? Masih tentang rumah singgah?” tanya Tante Anya. Jesna menggeleng. “Lalu?” “Mas Bagas selingkuh, Tante,” ucap Jesna lirih. Ia tidak kuat untuk mengatakannya. Tante Anya terkejut mendengar pernyataan Jesna. “Kamu, yakin? Jesna, kamu tidak boleh membenarkan apa yang belum pasti.” “Jesna mengatakan yang sebenarnya, Tante. Jesna juga melihatnya sendiri. Mas Bagas …” Jesna tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Melihat Jesna yang begitu rapuh, Tante Anya kembali memeluk Jesna. Begitu erat seolah menyalurkan energi baik untuk Jesna. Begitu lama pelukan itu terjalin hingga pada akhirnya Tante Anya melepaskannya. Tante Anya menggenggam erat tangan Jesna. “Sayang, maafin Om dan Tante, ya. Semua ini terjadi karna kami yang menjodohkan kamu,” ucap Tante Anya. “Enggak, Tante. Ini bukan salah Om dan Tante. Ini mungkin memang takdir yang harus Jesna jalani. Jadi, Jesna mohon, Tante dan Om jangan merasa bersalah karena telah menjodohkan Jesna.” “Jujur, Tante, ada sedikit rasa penyesalan dalam diri Jesna. Tapi, balik lagi, mungkin ini takdir yang harus Jesna jalani. Jesna harus bisa melewatinya,” ucap Jesna. “Jesna ke sini cuma ingin cerita ke Tante. Jesna udah nggak kuat kalau harus menahan semua ini.” “Kamu harus tetap sabar, Sayang. Kalau memang Bagas melakukan hal itu, kamu harus bertahan. Kamu harus bisa mempertahankan rumah tangga kamu sembari berdoa sama Allah. Tapi, kalau kamu merasa segala usaha sudah kamu lakukan, kamu boleh menyerah. Mungkin memang perpisahanlah solusinya.” “Kamu kuat, ya. Cerita ke Tante kalau kamu merasa udah nggak kuat. Tante akan selalu ada untuk kamu, Sayang.” Tante Anya memeluk Jesna kembali. Tidak kuat rasanya melihat Jesna seperti ini. “Tante meminta kamu untuk bertahan bukan karena Tante ingin melihat kamu seperti ini, Sayang. Kamu tahu, Allah sangat membenci yang namanya perceraian. Tante cuma minta kamu untuk bertahan sedikit lagi. Allah maha membolak-balikkan hati manusia, nggak ada yang tahu ke depannya. Kita berdoa semoga Bagas berubah dan kembali ke kamu.” Jesna mengangguk mendengar ucapan Tante Anya. “Tapi, kalau kamu merasa nggak kuat, kamu boleh berhenti. Bilang sama Tante dan Om, kami akan mengurusnya. Kebahagiaan kamu lebih penting dari segalanya, Jesna.” “Terima kasih, Tante. Jesna akan berusaha. Jesna juga nggak mau pernikahan ini selesai gitu aja. In Syaa Allah, Jesna akan bertahan dan berusaha kuat melewati semua ujian ini,” ucap Jesna. Tante Anya tersenyum mendengarnya. Ia sedikit lega karena Jesna mau mendengar nasihatnya. Beberapa saat kemudian, ponsel Jesna berbunyi. di sana menampilkan nama Bagas sebagai penelpon. “Tante, Mas Bagas telfon. Jesna angkat dulu, ya.” Tante Anya mengangguk. Jesna kemudian pergi menuju halaman depan rumah dan mengangkat panggilan Bagas. “Assalamu’alaikum, Mas?” sapa Jesna. “Wa’alaikumsalam. Jesna, kamu dimana?” tanya Bagas. “Lagi di rumah Tante Anya, ada apa, Mas? Ada berkas yang tinggal di rumah? Biar aku yang ambil dan bawa ke kantor kamu.” “Enggak-enggak. Aku cuma mau ajak kamu makan siang. Beberapa hari ini aku sering ninggalin kamu saat sarapan. Jadi, aku mau menggantinya. Kamu bisa, kan?” tanya Bagas. Jesna tersenyum senang, “bisa, Mas. Ya udah, kamu bilang aja tempatnya dimana, aku akan ke sana.” “Oke. Aku tunggu kamu. Assalamu’alaikum.” Jesna menyimpan kembali ponselnya dan kembali menuju Tante Anya. “Kenapa Bagas, Sayang?” tanya Tante Anya begitu melihat Jesna berjalan ke arahnya. “Tante, Mas Bagas ngajak Jesna makan siang. Dia ngerasa bersalah karena akhir-akhir ini dia nggak sarapan di rumah.” “Maa Syaa Allah, bagus kalau begitu. Kamu harus memanfaatkan momen-momen seperti ini untuk meluluhkan hati Bagas biar dia nggak ngelanjutin perbuatannya itu.” “Iya, Tante. Jesna akan berusaha. Setelahnya, Jesna pergi meninggalkan kediaman om dan tantenya dan bergegas menuju tempat yang dijanjikan oleh Bagas. Setibanya Jesna di tempat tersebut, Jesna segera masuk ke dalam restoran. Ia tidak menyangka Bagas akan melakukan hal ini sebagai penebus kesalahannya. Ia berharap semoga ia bisa mengembalikan Bagas seutuhnya menjadi miliknya. “Reservasi atas nama Bagas?” tanya Jesna kepada pelayan. Pelayan tersebut menuntun Jesna ke meja yang telah Bagas pesan. Ternyata, ada di lantai dua. “Ibu naik saja, meja Pak Bagas ada di sebelah kanan,” tunjuk pelayan tersebut. “Baik, terima kasih.” Jesna kemudian berjalan menaiki tangga. Begitu Jesna tiba di lantai dua, matanya mengitari meja-meja yang ada di sana. matanya berbinar kala melihat sosok Bagas tengah duduk menatap layar ponselnya. Jesna berjalan perlahan menghampiri Bagas. Namun, baru beberapa langkah, Jesna menghentikan langkahnya. Ia terkejut melihat sosok wanita yang kemarin ia lihat bersama Bagas di area wisata kini berjalan menuju Bagas dan duduk di samping lelaki itu. Hati Jesna terasa diremas. Ia tidak menyangka Bagas akhirnya berani membawa wanita itu. Ia pikir, ini adalah hari istimewanya bersama Bagas. Jesna berbalik hendak turun ke bawah saat suara Bagas menghentikannya. Jesna bisa merasakan bahwa Bagas menyusulnya. “Kamu mau kemana, Sayang? Kok turun lagi?” tanya Bagas saat telah berada di hadapan Jesna. “Ayo, itu meja kita. Sekalian aku perkenalkan dengan teman sekaligus klien aku di kantor. Tadi nggak sengaja ketemu dia waktu mau masuk ke sini,” jelas Bagas. Ia pun membawa Jesna ke mejanya. Jesna hanya bisa pasrah. Ia tidak bisa pergi lagi karena kini Bagas memegang pergelangan tangannya. “San, kenalin ini istri aku. Dan, Sayang, ini Sandra. Dia ini teman lama aku dan juga klien baru kita di perusahaan.” Bagas mengenalkan Jesna kepada Sandra begitu mereka telah tiba di meja yang ditempati oleh Bagas dan Sandra tadi. “Oh, hai? Kenalin aku Sandra. Teman dan klien baru Bagas,” ucap Sandra. “Cantik juga istri kamu, ya, Gas,” puji Sandra. Namun, Jesna bisa merasa kesinisan dari pujian yang diberikan oleh Sandra. “Saya Jesna, istrinya Mas Bagas,” ucap Jesna dengan menekankan kata istri kepada Sandra. “Senang berkenalan dengan kamu, teman sekaligus kliennya Mas Bagas. Kamu juga cantik, kok.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (81)
MentariYunna
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1
Stay madIf you mad
bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0
NurulAfiqah
Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
16/01/2022
0Lihat Semua