Beranda/Dibalik Kesabaran Jesna/
DKJ 12
Hari ini, Jesna mengunjungi kediaman Om dan Tantenya. Setelah kepergian Bagas ke kantor, Jesna meminta izin untuk pergi ke rumah om dan tantenya. Hampir dua minggu pernikahan mereka, Jesna belum sempat untuk mengunjungi Om dan Tantenya.
Jesna kini tiba di rumah Om dan Tantenya. Ia disambut sangat haru oleh sang Tante.
“Ya ampun, Jesna. Tante kangen banget sama kamu. Kamu kenapa baru sekarang sih datang ke sini?” ucap sang Tante seraya memeluk Jesna.
Jesna tersenyum kemudian melepas pelukan tante Anya, “maafin Jesna, ya, Tante. Jesna baru ke sini sekarang,” jawab Jesna.
“Hem, iya deh yang pengantin baru. Pasti pengennya berduaan terus.” Tante Anya membawa Jesna ke ruang keluarga.
“Jadi, gimana? Kamu udah ngerasa nyaman?”
“Alhamdulillah, Tante, Jesna sudah merasa nyaman dengan Bagas. Itu karena Bagas yang selalu perhatian dengan Jesna.” Jesna tersenyum riang mengingat perhatian yang Bagas berikan untuknya.
“Alhamdulillah tante senang mendengarnya. Tante hanya khawatir karena pernikahan kamu yang dipercepat membuat kamu merasa canggung. Tante doakan pernikahan kamu langgeng hingga maut memisahkan.”
“Aamiin … Terus doain Jesna ya, Tante.”
“Pasti, Sayang.”
“Oh iya, Tante, Om Putra gimana, sehat kan?”
“Alhamdulillah. Tapi ya itu, beberapa hari ini Om kamu sering melamun. Kalau Tante tanya alasannya karena kerjaan di kantor. Jadi, Tante diam-diam perhatiin Om kamu kalau lagi sendiri, eh taunya dia liatin foto kamu. Om kamu kangen banget sama kamu.”
Jesna terenyuh mendengarnya. Ia juga merindukan Om nya itu. Ia merasa bersalah karena baru bisa mengunjungi Om dan Tantenya hari ini.
Setelah berbincang-bincang, Tante Anya mengajak Jesna ke halaman belakang untuk melihat tanaman bunga serta menyiramnya. Jesna paling senang jika sudah berkebun dengan tantenya. Sewaktu tinggal di sini, ia sangat jarang melakukan hal ini dengan Tantenya karena ia sibuk mengajar.
“Kamu nginap di sini, ya? Beberapa hari lagi kan kamu udah mulai mengajar, pasti kamu bakalan jarang datang ke sini,” ujar Tante Anya.
“Hem gimana, ya, Tante, Jesna bilangnya cuma berkunjung ke Bagas.”
“Ya udah, kamu telfon aja lagi. Pokoknya kalian berdua harus menginap di sini,” ucap Tante Anya memaksa.
“Ya udah, nanti Jesna telfon Bagas, ya, Tante,” balas Jesna. Ia tidak tega melihat wajah penuh harapan dari Tantenya. Ditambah ia juga belum bertemu dengan Om nya yang saat ini masih di kantor.
Hari sudah menunjukkan pukul 1 siang. Usai melaksanakan sholat zhuhur, Jesna dan tantenya makan siang bersama. Kali ini mereka hanya makan berdua karena Om Putra masih berada di kantor.
Jesna begitu menikmati kebersamaannya bersama dengan Tantenya, wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Begitulah, setelah kepergian orang tuanya, Tante Anya berperan seperti ibu kandungnya, yang selalu memperhatikan Jesna baik dalam kecil sekalipun.
“Tante, biar Jesna aja yang nyuci piringnya,” ucap Jesna saat melihat tante Anya hendak mencuci piring.
“Tidak usah. Kamu telfon saja Bagas, mumpung masih siang. Piring ini biar Tante yang cuci.”
“Ya sudah. Kalau begitu Jesna telfon Bagas dulu, ya, Tante.” Jesna pun meninggalkan tante Anya yang sudah mulai mencuci piring. Ia pergi menuju ruang keluarga dimana tasnya berada untuk mengambil ponselnya.
Dering pertama berbunyi menandakan panggilan Jesna tersambung. Setelah dering ketiga terdengarlah suara sahutan dari sebrang.
“Halo?” sahut Bagas.
“Assalamu’alaikum, Mas?”
“Wa’alaikumsalam, ada apa Jesna? Kamu sudah makan siang?”
“Sudah, Mas. Kamu sudah makan?” balas Jesna.
“Sudah, baru saja selesai.”
“Begini, Mas. Tante Anya meminta kita untuk menginap di sini, apa boleh?” tanya Jesna hati-hati. Ia takut Bagas tidak menyetujuinya.
“Tentu boleh, dong. Ya sudah nanti setelah dari kantor aku langsung ke rumah Om Putra, ya.”
Jesna semringah mendengar jawaban Bagas, “baiklah, aku tunggu kamu di sini. Kalau begitu, aku tutup dulu, ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Usai menghubungi Bagas, Jesna pergi menuju kamarnya, kamar yang sudah ia tinggalkan hampir dua minggu ini. Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah. Tante Anya selalu membersihkan kamarnya dan tidak mengubah apapun di dalamnya.
Saat Jesna hendak menuju balkon, ia terhenti di depan bingkai foto yang masih terpampang di kamarnya. Jesna menyentuh kedua bingkai tersebut dan tanpa disadari air matanya lolos begitu saja.
“Suatu saat nanti, aku akan bisa mengunjungi mu. Meski saat ini aku harus merelakanmu untuk sejenak, aku yakin dan percaya Allah akan memberikan jalan agar aku bisa berada di sana dan mengais banyak ilmu di tempat suci-Nya,” lirih Jesna seraya memandangi bingkai foto yang menampilkan gambar Ka’bah dan masjid Nabawi.
Ketukan pintu menyadarkan Jesna yang larut dalam mengenang impiannya. Ia segera menghapus jejak air mata dan bergegas membuka pintu kamarnya. Di sana, Tante Anya tersenyum lalu mengajak Jesna untuk pergi ke supermarket. Tante Anya mengajak Jesna berbelanja untuk bahan makanan makan malam mereka nanti.
Sedari tadi, tante Anya menyadari ada sesuatu yang disembunyikan oleh Jesna. Entah tentang apa, tapi Tante Anya tidak mau mencampurinya. Biarlah ia menunggu hingga Jesna menceritakan apa yang membebani hatinya.
Jesna dan Tante Anya membeli beberapa bahan yang akan di masak untuk makan malam nanti. Jesna yang sudah mengetahui bumbu-bumbu masak memilih untuk mencari bumbu di rak yang tak jauh dari tempat Tante Anya berada.
Setelah semuanya lengkap, Jesna dan Tante Anya segera pulang. Jesna lebih dulu menuju mobil untuk memasukkan belanjaan mereka kemudian disusul oleh Tante Anya.
“Jesna, minggu ini Tante dan Om berencana untuk ke panti. Kamu gimana, mau ikut?” tanya Tante Anya saat mereka sudah berada di mobil.
Jesna yang sedang fokus mengendarai mobil menoleh sejenak ke arah tantenya, “Gimana ya Tante, Jesna belum tahu,” jawab Jesna.
“Kamu belum memberi tahu Bagas, ya?” tanya Tante Anya dan dibalas dengan gelengan oleh Jesna.
Tante Anya menghela napas pelan, “kamu harus segera beritahu Bagas, Jes. Kamu gak mungkin diam-diam ke panti apalagi mengunjungi rumah singgah tanpa sepengetahuan Bagas.”
“Iya, Tante. Nanti Jesna akan beritahu Bagas. Semoga saja Bagas bisa menerima apa yang Jesna katakan nanti.” Tante Anya mengamini perkataan Jesna.
Malam telah tiba. Kini Jesna, Bagas, beserta Om dan Tante sedang makan malam bersama. Suasana kali ini berbeda karena bertambahnya anggota keluarga mereka.
“Jadi gimana Jesna, Bagas, kapan kalian akan bulan madu?” Jesna tersedak makanan yang ia makan ketika mendengar pertanyaan Om Putra. Melihat itu, Bagas mengambil air putih untuk Jesna minum dan meredakan sakit ditenggorokan Jesna.
“Bagas belum memikirkannya, Om. Lagi pula Bagas baru saja masuk kantor dan juga Jesna akan mulai mengajar tiga hari lagi.”
“Seharusnya kalian menambah masa cuti atau kalian ambil cuti saja lagi,” ujar Om Putra.
“Om, untuk masalah bulan madu sepertinya kita gak perlu melakukan.”
“Loh, kenapa gak perlu? Itu adalah hal yang perlu dan wajib dilakukan oleh pengantin baru seperti kalian. Ya sudah, nanti Om dan Ayah kalian yang bicarakan masalah ini. Om mau cepat-cepat punya cucu,” putus Om Putra.
Di sampingnya, tante Anya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Di satu sisi ia ingin cepat memiliki cucu, namun di sisi lain, ia juga tidak mau memberatkan Jesna.
Satu bulan kemudian, kehidupan rumah tangga Jesna dan Bagas berjalan begitu harmonis. Bagas yang selalu memperhatikan Jesna begitu pula dengan Jesna yang selalu memastikan keadaan Bagas.
Jesna pun sudah mulai mengajar di kampus. Ia berusaha semaksimal mungkin agar bisa membagi waktunya untuk mengajar dan juga mengurus rumah tangganya. Ia juga sudah menukar jadwal mengajarnya yang biasa dilakukan pada malam hari menjadi siang hari.
Seperti hari ini, Jesna sudah lebih dulu tiba di rumah dibanding Bagas. Ia menyiapkan makan malam yang akan ia santap bersama suaminya. Jesna tersenyum senang melihat hasil makanan yang sudah ia buat terhidang di meja makan.
“Assalamu’alaikum,” ucap Bagas ketika memasuki rumah.
Jesna yang sedang menata bagian terakhir di meja makan menoleh lalu beranjak menuju ruang depan.
“Wa’alaikumsalam. Mas, udah pulang?” sahut Jesna. Jesna meraih tas dan juga jas yang dipakai Bagas lalu meletakkannya di atas sofa.
“Kamu mau mandi dulu atau langsung makan?” tanya jesna.
Bagas meraih tangan Jesna kemudian menciumnya.
“Emangnya kamu masak apa hari ini?”
“Hem, hari ini aku masak makanan kesukaan kamu. Ada dendeng balado sama tumis kangkung.”
“Wah kedengarannya enak juga. Ayo deh aku mau makan dulu, gak sabar nyicipin masakan istri tercinta.”
Bagas dan Jesna berjalan bersama menuju meja makan. Mereka makan dengan tenang disisipi dengan perbincangan ringan mengenai keseharian mereka di tempat kerja.
“Ah iya aku hampir lupa, besok kamu gak usah masak untuk makan malam, ya.”
“Loh kenapa, Mas?” tanya Jesna bingung.
“Besok aku mau ngenalin kamu sama teman-teman aku. Kemarin waktu pernikahan kita mereka tidak hadir karena kesibukan pekerjaan. Kamu bisa kan?”
“Insya Allah bisa, Mas,” jawab Jesna.
“Syukurlah, berarti besok aku juga harus pulang lebih cepat biar kita bisa berangkat bareng,” ucap Bagas.
Jesna mengangguk merespon perkataan Bagas. Setelahnya mereka melanjutkan makan dengan tenang.
“Semoga saja Jesna tidak mengenali mereka. Ya Allah ampuni aku karena pernah membohongi Jesna,” ucap Bagas dalam hati.
***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (81)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
16/01/2022
0Lihat Semua