Beranda/Dibalik Kesabaran Jesna/
DKJ 10
Malam ini, Jesna sedang berada di mall. Ia bersama dengan Tantenya sedang melakukan perawatan di salah satu salon karena dua hari lagi adalah pernikahannya. Ia juga sudah tidak masuk lagi ke kampus dan tidak juga bertemu Bagas. Bisa dikatakan ia telah dipingit. Pergi ke mall ini saja ia harus ditemani oleh tantenya karena mereka takut Jesna akan bertemu dengan Bagas atau sebaliknya.
Usai melakukan perawatan, Jesna dan Tantenya pergi ke salah satu toko yang menyediakan sepatu. Jesna ingin membelikan tantenya sepatu untuk dikenakan dihari pernikahannya. Meski Tantenya sudah menolak, tetapi Jesna tetap memaksa agar tantenya mau menuruti keinginannya. Ia ingin di hari pernikahannya, Om dan Tantenya tampil sempurna.
“Jesna, beberapa hari lagi kamu sudah menjadi istri. Tante mau kamu membuka sebesar-besarnya rasa sabar dalam diri kamu. Kamu tahu, tepat setelah ijab qobul terucap, setan-setan akan memulai rencananya untuk menghancurkan rumah tangga yang baru saja dibangun.” Nasehat tante Jesna. Setelah membeli sepatu, Jesna dan Tantenya memutuskan untuk makan siang.
Tante Anya meraih tangan Jesna yang bebas di atas meja.
“Pernikahan memang merupakan tanggung jawab kedua belah pihak. Tapi, kamu sebagai seorang istri harus memiliki perasaan yang lebih peka terhadap suami kamu. Bagaimana cara mewujudkan itu, di sini lah perlunya komunikasi, Jesna.”
“Jangan biarkan suami kamu mengeluarkan segala kekesalan, kekecewaan, atau kebahagiaannya sekalipun kepada orang lain. Jika sampai itu terjadi, itu berarti kamu memberi kesempatan terbuka kepada para ‘pengganggu-pengganggu’ di luar sana.”
“Kamu paham maksud Tante, kan?” Jesna menganggukkan kepalanya. Ia akan mengingat nasihat Tantenya ini.
“Memang semua itu akan berat jika dijalani. Siapa yang akan bersabar jika dalam suatu hubungan, si ‘pengganggu’ akan ikut serta. Tapi kamu harus ingat, disinilah ujian kamu sebenarnya. Kamu harus kuat dan mampu melewati setiap ujian yang datang dalam rumah tangga kamu. Jangan biarkan kamu kalah dengan ujian itu. Tante berdoa agar pernikahan kamu terjauh dari masalah yang berat dan juga dari para ‘pengganggu’ itu.” Ucapan Tante Anya terhenti karena pelayan mengantar makanan pesanan mereka.
“Terima kasih,” ucap Jesna kepada pelayan tersebut sembari mengulas senyum.
Jesna kembali menatap Tantenya, “Tante, Insya Allah Jesna akan melewati segalanya dengan kesabaran. Doakan Jesna kuat jika ujian itu benar datang di kehidupan Jesna.”
“Pasti. Tante akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kamu, Jesna. Jangan sungkan-sungkan untuk cerita jika ada suatu hal yang tidak bisa kamu pecahkan sendiri. Tante dan Om akan selalu mendengarkan setiap keluh kesah kamu. Meski kamu sudah menikah, hubungan kita tidak akan pernah putus.” Tante Anya menitikan air matanya kala mengatakan hal tersebut. Ia sungguh merasa sedih akan ditinggalkan oleh Jesna yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri.
“Tante, please jangan nangis. Jesna enggak akan ninggalin Om dan Tante. Om dan Tante adalah orang tua pengganti terbaik yang Jesna punya. Jesna gak mungkin melupakan semua hal yang udah Om dan Tante berikan untuk Jesna.” Jesna beranjak dari tempat duduknya dan memeluk erat tantenya.
Makan siang kali ini dipenuhi rasa haru. Jesna sangat-sangat bersyukur dikaruniai keluarga yang berhati malaikat seperti Om dan Tantenya.
Hari pernikahan telah tiba. Jesna dan Bagas mengadakan acara pernikahan mereka sebuah hotel mewah yang telah disewa oleh Bagas. Usai mengucapkan ijab qobul, kini Jesna resmi menyandang status sebagai istri dari seorang Bagas Atmadja.
Jesna diiringi oleh Tantenya berjalan keluar dari sebuah ruangan untuk bertemu dengan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Sejak kata ‘sah’ sudah terucap, Jesna menyerahkan dirinya seutuhnya hanya untuk sang suami. Telah menjadi tugasnya saat ini untuk mengabdikan diri kepada sang suami.
Sejak Jesna keluar dari ruangan tempat ia dirias hingga duduk di samping Bagas saat selesai ijab qobul, Bagas tidak henti-hentinya menatap kagum terhadap Jesna. Ia sungguh memuji kecantikan yang Jesna miliki. Rasanya ia menjadi lelaki yang paling beruntung bisa mendapatkan Jesna dan menjadikannya miliknya seutuhnya.
Setelah acara ijab qobul, kini acara resepsi pun dilakukan. Ballroom yang sudah disulap dengan dekorasi yang indah pun menambah suasana mewah dan elegan pada resepsi Jesna dan Bagas. Ditambah dengan banyaknya tamu undangan yang berdatangan dan mengucapkan selamat kepada Jesna dan Bagas, memberikan kesan meriah yang sangat berbanding terbalik dengan keinginan Jesna. Ya, konsep pernikahan seperti ini seratus persen adalah keinginan Bagas. Ia seolah-olah ingin menegaskan bahwa wanita yang berada tepat di sampingnya ini adalah miliknya sekarang.
“Sayang, kalau kamu capek kita bisa minta pihak WO untuk menghentikan sejenak antrian para tamu itu,” ucap Bagas saat melihat raut wajah kelelahan Jesna.
Mendengar hal itu membuat Jesna menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa. Aku baik-baik saja. Lagi pula, kelihatannya ini tamu terakhir jadi tidak masalah untuk menunggu beberapa saat lagi,” ucap Jesna tak lupa memberikan senyum menenangkan.
Pesta pernikahan telah usai. Para tamu undangan sudah kembali ke tempat mereka masing-masing. Kini hanya menyisakan keluarga kedua belah pihak yang saat ini tengah berkumpul di kursi yang berada di tengah ruangan ini.
“Alhamdulillah, pernikahan Jesna dan Bagas berjalan dengan lancar. Aku masih tak menyangka kita telah menjadi besan, Put,” ujar Ramlan dengan senyum bahagianya.
“Benar. Apa yang kita inginkan dan rencanakan bisa terwujud hari ini. Aku berharap semoga pernikahan Jesna dan Bagas dapat bertahan lama, bahkan hingga maut memisahkan. Aamiin,” sahut Putra dengan semringah.
Jesna hanya tersenyum menanggapi ucapan om dan ayah mertuanya. Ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apalagi, ia merasa tubuhnya benar-benar harus diistirahatkan.
“Yah, Om, Bagas izin bawa Jesna ke kamar dulu, kelihatannya Jesna lelah sekali,” ucap Bagas memotong pembicaraan Om Putra dan ayahnya.
“Ya sudah, kalian silahkan beristirahat. Kami juga akan kembali ke kamar,” ujar Putra.
“Bagas, satu pesan ayah, kamu jangan menambah lelah istrimu ini ya,” ucap Ramlan tertawa dengan maksud tersirat.
Bagas hanya tersenyum, ia jelas mengerti maksud dari sang ayah.
“Ayah tenang saja, Bagas gak akan buat menantu ayah ini terlalu lelah,” sahut Bagas disambut dengan tawa orang-orang yang ada di sana.
Disinilah Jesna berada. Di sebuah kamar hotel yang telah dihias khusus untuk pengantin baru. Jujur, Jesna merasa jantungnya berdegup dengan kencang. Ia masih tidak menyangka kini ia telah resmi menjadi istri seorang Bagas dan akan tidur seranjang dengannya malam ini dan seterusnya.
“Jesna, kamu mau mandi dulu?” tanya Bagas.
Jesna berpikir sejenak, “em … kamu dulu saja. Aku harus membersihkan riasan ini terlebih dahulu.”
“Baiklah kalau begitu, aku gak akan lama.” Setelahnya Bagas telah masuk ke kamar mandi. Kini tinggallah Jesna yang tengah sibuk melepaskan aksesoris dan riasan yang menempel pada tubuhnya.
Tak lama kemudian, Bagas telah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Spontan Jesna langsung menutup matanya. Ia tidak pernah melihat hal-hal ini sebelumnya dan ia masih belum terbiasa dengan keadaan sepertinya.
Bagas yang melihat tindakan Jesna dengan pelan berjalan menuju Jesna yang tengah duduk di depan meja rias.
“Hei, kenapa kamu menutup mata seperti itu,” ucap Bagas sembari melepaskan tangan Jesna dari wajahnya dengan lembut.
“Sayang, kamu harus membiasakan diri mulai saat ini. Kita sudah halal, kamu tidak perlu merasa malu untuk hal-hal yang lazim dilakukan oleh pasangan suami istri seperti kita.”
Jesna yang semula menunduk perlahan mengangkat wajahnya menatap Bagas. “M-maaf, aku masih belum terbiasa,” ucap Jesna pelan.
Bagas tersenyum melihat wajah gugup Jesna, “tidak apa. Ini hal baru bagi kamu dan aku tentunya. Ya sudah, sekarang kamu mandi dan setelah itu kita istirahat.” Jesna mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Tak lupa membawa handuk dan juga pakaian tidurnya.
Setelah kepergian Jesna, Bagas termenung ditempatnya. Apa gue tega manfaatin Jesna cuma untuk membalas mantan gue. Jesna memiliki hati yang begitu lembut, gue gak sanggup nyakitin dia.
Ya, malam ini, Bagas luluh dengan sikap lembut yang Jesna tampilkan. Sesaat setelah memikirkan segalanya, Bagas bertekad untuk melupakan niat awalnya menikahi Jesna. Ia tidak mau menyakiti Jesna hanya karena masa lalunya. Ia telah memutuskan untuk menjalani pernikahan ini dengan sebaik mungkin. Semoga saja semua berjalan dengan lancar.
Jesna keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya. Ia melihat Bagas yang sedang membuka sesuatu di laptopnya. Jesna berjalan dengan perlahan menuju ruang kosong tak jauh dari tempat tidur untuk melaksanakan sholat Isya. Ia ingin bertanya kepada Bagas apakah ia sudah sholat atau belum, namun melihat keseriusan Bagas melihat laptopnya, ia tidak mau mengganggu dulu.
Merasakan kehadiran seseorang, Bagas menoleh ke sampingnya. Ternyata, Jesna telah selesai mandi dan hendak melaksanakan sholat. Bagas merasa tertampar dengan hal yang dilihatnya saat ini. Jesna masih memiliki waktu dan tenaga untuk mengerjakan sholat padahal ia terlihat begitu lelah tadi. Makin ke sini Bagas merasa dirinya benar-benar akan menjaga Jesna dan tidak akan menyakitinya.
Bagas tidak mengatakan sesuatu dan membiarkan Jesna menyelesaikan sholatnya. Untuk saat ini, Bagas belum bisa untuk mengerjakan kewajibannya sebagai umat Islam. Biarlah seiring berjalannya waktu, ia akan mencoba untuk memulainya tanpa ada paksaan sedikitpun. Ia harap dengan adanya Jesna disampingnya bisa membuatnya dekat dengan sang Pencipta.
***Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (81)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
16/01/2022
0Lihat Semua