Beranda/Satu Atap Dua Dapur/
bab 8
SATU ATAP DUA DAPUR
BAB 8
Keributan tadi mengalihkan pikiranku tentang Mas Rudi. Aku masih kepikiran ucapan Abang ojol tadi. Ah … aku harus menyelidikinya. siapa wanita yang sering ditemui suamiku itu.
Kenapa Mas, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan.
Apakah kamu berniat menghianatiku.
🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
Kutengok jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sudah masuk waktu shalat zuhur. Aku berdiri dari dudukku, lalu segera menuju kamar mandi. Ku ambil wudhu, segera ku tunaikan sholat dzuhur. Usai sholat kupanjatkan do'a, ku adukan segala keluh kesahku, segala dukaku kepada-Nya.
Aku berdoa memohon agar masalah yang sedang menimpaku ini segera menemukan jalan keluar. Jangan sampai apa yang ku takutkan itu terjadi. Aku juga berdoa agar Allah mau melembutkan hati ibu mertuaku dan juga adik iparku. Sejujurnya aku sudah menganggap beliau seperti ibu kandungku sendiri, sosok ibu yang telah lama menghilang. Jangankan memperlakukanku seperti seorang putri, bahkan Ibu tak pernah sekalipun menganggapku sebagai menantu.
🍥🍥🍥🍥🍥🍥
Hari sudah sore, sudah menjadi kebiasaanku untuk membereskan rumah, agar saat suamiku pulang rumah sudah dalam keadaan bersih dan rapi.
Kusapu seluruh ruangan terkecuali kamar ibu mertua dan Erna. Karena Ibu selalu mengunci kamarnya. Sedangkan untuk kamar Erna aku memang sengaja, karena aku malas membersihkannya. Karena Erna sangat jorok, selain itu aku juga ingin dia memiliki kesadaran untuk membersihkannya sendiri.
Saat sudah didepan kamar Erna kulihat pintu kamarnya sedikit terbuka, terdengar dia sedang menelpon seseorang. Entahlah siapa yang sedang dia ajak bicara lewat sambungan telepon.
"Tenang Mbak, Si Bod*h itu gak bakalan tau deh. Tenang aja semua akan sesuai rencana kita. Tinggal Mbak rencanakan saja acaranya di mana."
Samar kudengar pembicaraannya, apa maksudnya, siapa yang dia panggil Si Bod*h. Dia bicara dengan siapa, dan acara apa yang sedang dia rencanakan.
Ah … kenapa aku jadi kepo ya. Bisa saja kan dia itu cuma sedang membicarakan temannya.
Kutajamkan lagi pendengaranku
Apa, Mbak, wah … di gedung. Itu pasti akan menjadi resepsi yang meriah. Ya, walaupun cuma siri yang penting kan, Mbak sudah mendapatkannya. Tenang sejauh ini dia belum tau apa-apa. Tapi lihat saja setelah ini Mbak akan memilikinya seutuhnya. Iya emang bod*h dia itu. Hihihhi…."
Aku masih terus menguping pembicaraannya. Kok, firasatku mengatakan bahwa yang sedang dibicarakan itu aku ya! Atau jangan-jangan benar dugaanku.
Aku memang harus segera mencari tahu. Aku akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Segera ku berlalu dari depan kamar Erna, kulanjutkan aktifitasku yang tertunda tadi.
🍥🍥🍥🍥🍥
Terdengar suara motor milik Mas Rudi, seperti biasa aku akan menyambutnya.
"Mas sudah pulang." Kucium punggung tangannya. Eh tapi kok ini suamiku tercium wangi sabun seperti habis mandi.
"Iya Dek."
"Loh Mas kok wangi sekali seperti habis mandi, itu sepertinya rambut Mas juga basah," tanyaku menyelidik.
"I--itu, Dek, ta--tadi Mas mandi di kantor, ya … Mas mandi di kantor. Karena gerah Dek," jawab suamiku gelagapan.
"Oh, mandi di kantor." mulutku membulat, kentara sekali mas jika kamu sedang berbohong, batinku.
"Ya, sudah Mas tak ganti baju dulu."
Mas Rudi berlalu pergi dari hadapanku.
Bohong saja terus Mas, lihat saja aku akan segera mencari tahu semuanya. Jangan dikira aku ini lemah.
🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
Usai makan malam terlihat Mas Rudi menuju teras, ku ikuti dari belakang terlihat dia asik sekali memainkan ponselnya. Entah ada hal menarik apa di dalamnya.
"Mas, lagi apa kok terlihat serius sekali," ucapku sambil menepuk pundaknya. Yang membuatnya terkaget.
"Eh, kamu ngagetin aja Dek. I--ini bukan apa-apa hanya sedang berbalas WA dengan teman kantor." Terlihat Mas Rudi gelagapan segara ia memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Oh kirain … ya sudah aku ke kamar dulu ya Mas." Aku tinggalkan Mas Rudi yang masih terduduk di kursi teras.
Aku merebahkan tubuh ini di atas pembaringan. Memang mata ini terpejam namun pikiran masih terus melayang memikirkan drama apa yang sedang keluarga ini mainkan. Biar saja nanti ku coba mencari bukti dan petunjuk melalui ponsel Mas Rudi. Siapa tahu aku menemukan sesuatu disana.
Tak lama berselang terdengar derap langkah kaki menuju kamar. Aku yakin itu pasti Mas Rudi. Benar saja setelah terdengar pintu terbuka terlihat suamiku itu memasuki kamar.
Aku berpura-pura sudah tertidur lelap. Sedikit mata ini terbuka, aku intip Mas Rudi menuju kamar mandi mungkin saja dia mau berganti baju piyama. Setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup, aku segera mencari dimana Mas Rudi meletakkan ponselnya.
Ternyata Mas Rudi meletakkan ponselnya di bawah bantal. Setelah ketemu segera kubuka namun aku sungguh kecewa ternyata dia mengunci ponselnya. Kenapa kamu sekarang mengunci ponselmu mas. Biasanya tidak dikunci, kamu benar-benar sudah berubah, Mas!
Namun aku tidak menyerah, kucoba memasukkan tanggal lahir Mas Rudi, tidak bisa. Kucoba tanggal pernikahan tetap tidak bisa hingga kucoba memasukkan tanggal lahirku tetap saja tidak bisa. Mungkin bisa dicoba nanti, aku segera mengembalikan ponsel kembali ketempatnya tadi. Karena takut ketahuan oleh Mas Rudi.
Terasa Mas Rudi sudah merebahkan tubuhnya disampingku, dia mencoba memelukku namun aku berpura-pura tak menghiraukanya. Aku tau jika sudah begini dia pasti ingin meminta haknya padaku. Aku tetap diam, bukannya aku tak mau ataupun bermaksud menolak. Tapi sudah merasa tidak nyaman jika seandainya benar Mas Rudi sudah menghianatiku. Sampai semua kecurigaanku tak terbukti aku bermaksud tak ingin melayaninya. Walaupun aku tahu semua itu dosa.
"Dek, sudah tidur," ucapnya sambil mengelus kepalaku
"Hemmm … iya Mas ada apa," jawabku yang dibuat seolah aku sedang mengantuk.
"Ituuuu, Dek, ini kan malam jum'at." Dicolek-colek pundak ini.
"Iya, Mas, tapi hari ini Adek lagi halangan," ucapku berbohong.
"Yaelah, Dek, terus gimana ini? Ya udah Mas tak tidur aja." Mas Rudi melepaskan pelukan tangannya yang sedari tadi melingkar di pinggangku.
Hahaha … pusing gak tuh. Emang enak rasain deh. Udah konek tapi gagal nyambung. Aku tertawa jahat dalam hati.
Tak berselang lama terdengar dengkuran halus, kuperiksa dengan hati-hati. Aku menggoyang-goyangkan telapak tangan di depan muka Mas Rudi. Setelah memastikan bahwa dia benar-benar tertidur. Segera kembali ku mengambil ponsel miliknya. Mungkin saja dia menggunakan sidik jari sebagai penguncinya. Kuangkat jari telunjuknya dan kutempelkan pada ponsel secara perlahan dan berhasil.
Ya ampun segitunya, Mas kamu sampai ponsel pun kamu kunci pakai sidik jarimu. Setelah ponsel terbuka tak buang-buang waktu, fokus pertama adalah aplikasi beewarna hijau.
Kubuka percakapannya tak ada yang mencurigakan, atau memang Mas Rudi sengaja sudah menghapus riwayat percakapanya. Kubuka lagi aktivitas panggilan, dan disini nomor yang paling banyak melakaukan panggilan hanya satu. Namanya Jaka tapi kok poto profilnya perempuan, Ah mungkin saja itu foto istrinya. Namun saat aku perhatikan lebih seksama lagi … bukankah ini Lila.
Ya Allah, Mas apakah kecurigaanku benar kamu sedang bermain api di belakangku.
Oke Mas lihat saja apa yang bisa aku lakukan. Akan aku balas jika dirimu memang benar terbukti melakukannya.
Segera ku sadap ponselnya agar mengetahui siapa, dan apa yang sedang dilakukannya. Aku kembalikan ponsel ke tempat semula.
Aku putuskan untuk tidur karena mata ini sudah mengantuk. Saat sedang menarik selimut untuk menutupi tubuhku, tring terdengar notif dari ponselku segera ku buka, ternyata Jaka yang mengirim chat kepada suamiku. Betapa terkejutnya saat melihat isi pesannya … oh my god ini Jaka jadi-jadian ternyata.
bersambung ....Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
jadi ga sabaran kelajutanya suka banget ceritanya kehidupan rumah tangga bikin jengkel sm mertuanya bikin yng berani tu mantunya biar ga dizollmi terus biar mertuanya takut 👍👍👍👍jangan terlalu lama nunggu kelanjutanya sukses mantap sekaleeee
20/01/2022
4dri judul nya seru ...apa lagi kisah nya ...👍
03/06
0sangat bagus ceritanya
17/08/2025
0Lihat Semua