Beranda/Satu Atap Dua Dapur/
bab 43
SATU ATAP DUA DAPUR
BAB 43
"Tidak, Mas. Aku tidak mau menggugurkan anak ini. Walaupun nyawaku sebagai taruhannya, aku siap melakukan itu semua," rancau Lila. Dia benar-benar histeris. Bagaimana tidak anak yang selama ini di idam-idamkan harus digugurkan.
"Mbak, sabar." Isti memeluk tubuh Lila, seolah menyalurkan energi positif untuk Lila. Kini memang Isti sudah menganggap Lila seperti kakaknya sendiri.
"Is, aku tidak mau menggugurkan kandungan ini," ucap Lila di sela tangisnya. Kini dia sudah agak tenang dibanding sebelumnya.
"La, sabar. Mas juga tidak mau kehilangan kalian, terutama kamu. Aku tidak mungkin bisa hidup tanpamu." Rudi mencoba menenangkan Lila. Dia menggenggam tangan istrinya itu.
"Betul, Mbak. Untuk saat ini kamu Mas dan Mbak Lila harus tenang. Kita cari jalan keluar yang memungkinkan. Kiya juga harus banyak berdoa agar Allah memberikan mukjizatnya." Isti menghela nafas. "Memangnya tidak ada jalan lain, ya, Mas. Selain menggugurkan janinnya? Bukankah dulu Mbak Lila sudah melakukan operasi kista?" ucapnya kembali bertanya pada Rudi.
"Entahlah, Dokter Haris mengatakan bahwa dilihat dari hasil USG ada kista yang tumbuh lagi di rahim Lila. Maka dari itu kehamilan ini sangat beresiko bagi ibu dan bayinya," jelas Rudi menelan ludah karena mungkin tenggorokannya terasa kering. "Dulu memang sudah diberitahu jika pun sudah dilakukan operasi kistanya masih mungkin untuk tumbuh kembali," jelasnya lagi.
"Mbak, yakin, ya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Aku akan membantu Mbak Lila dan juga kamu Mas. Sepertinya kita harus mencari opsi pendapat dari Dokter lain." Isti mencoba membuat Lila dan Rudi tenang. Dia tahu jika ibu hamil tidak boleh stres.
"Iya, kamu benar, Dek. La sudah sabar dulu, kamu tenang. Setelah keadaanmu stabil, kita cari rumah sakit yang lebih bagus kalau perlu kita ke luar negri," tutur Rudi.
"Benar, Rud. Sepertinya aku punya kenalan dokter kandungan biar nanti aku hubungi dia. Sepertinya kita bida meminta pendapat darinya." Hasan ikut memberi solusi.
"Iya, San. Terima kasih, kalian berdua sudah banyak membantuku." Rudi menyetujui usulan Hasan.
"Mbak, Mas. Ini sudah sore, aku pamit pulang dulu, ya, kasihan Abid sudah lama aku tinggalkan." Isti berpamitan pada Lila dan Rudi.
"Iya, Dek. Terima kasih sudah mau menemani Lila." Rudi mengiyakan.
"Mbak, aku pulang dulu. Jangan banyak pikiran dulu, tenang kita ikhtiar sebisanya dulu. Ibu hamil tidak boleh stres," ucap Isti seraya memeluk Lila.
Setelah itu Hasan dan Isti benar-benar meninggalkan ruangan dimana Lila dan Isti dirawat.
***
"Mas, aku benar-benar prihatin dengan apa yang menimpa Mas Rudi dan Mbak Lila. Terutama Mbak Lila di sini yang akan tertekan. Dan Mas Rudi juga pasti sangat sulit untuk mengambil keputusan, untuk memilih diantara anak dan istrinya atau bahkan bisa saja Mas Rudi kehilangan keduanya." Isti mengawali obrolan di sela perjalanan ke rumah.
"Benar, Sayang. Aku juga ikut prihatin. Semoga Allah memberi jalan terbaik, semoga ada mukjizat untuk Lila," Hasan menimpali ucapan Isti. "Aku benar-benar kagum denganmu Sayang, dimana kamu berhati besar. Bahkan sekarang ini kamu mampu menjadi kawan baik bagi orang yang dulu pernah menyakitimu, kamu mampu mengendalikan emosi. Mungkin jika aku berada di posisimu belum tentu aku mampu berdamai dengan keadaan." Hasan menghela nafas. "Aku benar-benar beruntung bisa menjadi suamimu, Sayang," ucapnya lagi seraya tangannya menggenggam tangan Isti.
"Hmmm … sebenarnya tidak mudah untuk melalui itu semua, Mas. Aku juga perlu mendamaikan hatiku. Aku tidak mau menyimpan dendam di hatiku. Semua juga penuh pertimbangan untuk aku bisa berdamai dengan hatiku. Melihat ketulusan dan penyesalan yang di lakukan oleh Mas Rudi juga Mbak Lila, maka dengan sendirinya aku mampu memaafkan mereka," ucap Isti terhenti dia ingin menghirup oksigen untuk memenuhi paru-parunya, karena dia berbicara tanpa menarik nafas. "Kalau boleh jujur sebenarnya sakit di hatiku belum sembuh sepenuhnya, ibarat kata kaca yang sudah retak tak mungkin bisa utuh kembali," lanjutnya lagi.
"Ini, yang membuatku semakin jatuh cinta denganmu. Terima kasih sudah mau menjadi istriku, Sayang." Hasan meraih tangan Istri kemudian menciumnya.
"Ish … gombal kamu, Mas." Isti terlihat malu dengan perlakuan Hasan padanya.
*
Sampai di rumah, Isti dan Hasan tak langsung menemui keluarganya. Mereka berdua langsung menuju kamar untuk segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Mereka takut membawa virus dari Rumah Sakit. Karena memang di sana tempatnya orang sakit, apalagi ada Abid yang masih kecil, yang sangat rentan mudah tertular penyakit.
Setelah mengganti pakaiannya kemudian Isti berniat menemui anaknya yang kini sedang bersama Fatimah di ruang tv. Isti menyisir rambutnya bernuat untuk mengikatnya, tiba-tiba Hasan sudah memeluk dirinya dari belakang. Tentu saja hal itu mengagetkan Isti.
"Mas, kamu ini mengagetkan saja," ucapnya kemudian sedikit menepuk tangan Hasan.
"Hemm kamu wangi sekali sayang," ucap Hasan tepat dibagian leher nafasnya terasa hangat hingga membuat bulu romanya berdiri.
"Mas, sudah. Abid sudah menunggu kita. Kasihan ibuk dari tadi ngemong Abid." Isti menghentikan aktifitas yang dilakukan Hasan.
"Huh, iya deh. Tapi awas, ya, nanti malam kamu gak bisa lari dari cengkramanku." Hasan semakin menggoda Isti dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Coba saja kalau bisa, wekk …." Isti kemudian dengan cepat dia berlalu setelah mengenakan jilbab bergo miliknya.
Isti segera menuju ke tempat di mana anaknya kini berada. Dari jauh dia bisa melihat anaknya itu begitu anteng bermain dengan neneknya.
"Halo sayang, tadi nakal tidak sama Mbah uti," ucap Isti ketika dia sudah sampai di mana Abid dan ibunya berada.
"Ya, tentu saja tidak, kan Abid anak pintar, ya ,Sayang," sahut Fatimah.
"Terima kasih, ya, Buk. Sudah aku repotkan untuk menjaga Abid."
"Kamu itu ngomong apa sih, tentu saja dengan senang hati Ibuk akan menjaga Abid. Dia kan cucuku." Fatimah menepuk lengan Isti.
"Abuk … Unda atit, ya?" celoteh Abid. Ucapannya masih belum jelas. Dia sepertinya mengerti tentang kondisi yang dialami Lila. Mungkin dia sudah faham.
"Iya, Nak. Bunda sakit. Tapi sekarang sudah baikan." Isti mencoba menjelaskan pada anaknya.
"Bid, nyau emu Unda, Abuk," ucaonya lagi.
"Iya, nanti, kalau Bunda sudah pulang dari Rumah Sakit kita sama-sama kesana menjenguk Bunda, ya, Sayang." Isti kembali memberi penjelasan kepada anaknya itu, tidak mungkin dia membawa Abid ke Rumah Sakit untuk menemui Lila.
"Lalu sakit apa dia, Is," Fatimah menanyakan keadaan Lila.
Kemudian Isti menjelaskan semua yang terjadi. Tanpa mengurangi ataupun menambah.
"Ya, Allah. Ibuk ikut prihatin atas apa yang menimpa Lila. Memang benar kita harus mencari solusi lain dulu, semua tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak," ucap Fatimah.
"Betul, Buk. Itu juga yang saya katakan. Kita harus mencari opsi lain sebelum mengambil keputusan. Rencananya saya akan menghubungi temanku yang kini jadi Dokter kandungan. Mungkin saja ada solusi lain selain menggugurkan kandungan Lila." Dengan cepat Hasan menyahuti ucapan mertuanya.
Setelah itu mereka berbincang mencari solusi untuk masalah yang kini sedang menimpa Rudi dan Lila.
*
Pagi ini Lila sudah diperbolehkan pulang. Mengingat kondisi Lila sudah semakin membaik. Rencananya Isti dan Hasan akan menjenguknya lagi di rumah, tentu saja dengan mengajak Abid. Karena Abid sudah merengek untuk menemui Bundanya itu.
"Assalamualaikum, ucap Hasan dan Isti." Setelahnya pintu terbuka seorang wanita paruh baya tampak ramah menyambut kedatangan Isti.
"Masuk, Neng. Mbak Lila ada di kamarnya. Eh, ada Den Abid. Tambah ganteng saja ini." Mbok Jum tampak gemas dengan Abid. Sedangkan Abid hanya menyengir saat Mbok Jum menoel pipinya.
"Terima kasih, Mbok. Kami masuk dulu, ya," ucap Isti kemudian dia berjalan menuju ke kamar Lila.
"Unda …." Abid langsung turun dan berlari memeluk Lila yang tampak berbaring dan menyandarkan badannya di ranjang.
"Sayang, apa kabar kamu. Bunda kangen." Lila kemudian meraih bocah kecil itu dalam pelukannya.
"Om, Tante." Isti menyapa ayah dan Ibunya Lila.
Juragan Gani dan istrinya memang sengaja menemani Lila melihat kondisinya saat ini.
"Nak, Isti. Mari duduk," ucap ibunya Lila. Kemudian dia bangkit dan mempersilahkan Isti untuk duduk di sebelah Lila. Sementara hasan duduk di sofa bersebelahan dengan juragan Gani.
"Gimana, kabarnya, Mbak?" Isti mengawali pembicaraan. "Abid, jangan gitu Sayang. Bundanya lagi sakit." Isti melarang anaknya yang merengek meminta gendong pada Lila.
"Tidak, apa-apa Mbak Isti. Lagian aku juga sudah kangen banget sama anak gantengku ini," ucap Lila sambil mencium gemas Abid.
"Abid, sini sama Oma. Oma punya es krim di kulkas ayo kita makan es krim," ucap ibunya Lila, dia sengaja mengajak Abid untuk makan es krim supaya mereka bisa leluasa berbicara. Lagi pula ayah dan ibunya Lila sudah menganggap Abid sebagai cucunya sendiri, mereka sama seperti Lila yang jatuh hati pada anaknya Isti. Isti merasa beruntung sekali anaknya banyak yang menyayanginya.
Tanpa ada penolakan Abid turun dari ranjang dan mengikuti Omanya untuk makan es krim. Tentu saja dia tidak menolak jika itu berhubungan dengan es krim
"Terima kasih, Tan," ucap Isti.
"Untuk apa, Nak, Isti?"
"Karena Tante sudah menyayangi anak saya." Isti merasa sangat terharu.
Kemudian dijawab anggukan oleh ibunya Lila.
*
"Gimana, La. Aku sudah menghubungi temanku dan sudah membuat janji bertemu dengannya. Setelah aku menceritakan kasus yang terjadi padamu." Hasan langsung menyampaikan niatnya.
"Benarkah? Tapi aku harus menunggu Mas Rudi dulu, dia masih di kantor, Mas Hasan."
"Baiklah, semoga ada jalan untuk semuanya, ya, Mbak." Isti memegang tangan Lila.
"Terima kasih, kalian sudah banyak membantuku, Mbak." Lila meneteskan air mata. Mengingat semua perlakuannya dulu pada Isti, namun apa kini Isti malah dengan ikhlas membantunya.
"Oh, iya, Mbak. Apakah ibunya Mas Rudi sudah mengetahui kalau Mbak masuk Rumah Sakit." Isti berucap hati-hati.
"Tentu saja tahu, karena Mas Rudi sudah mengabari Erna. Tapi nyatanya apa, Ibu tidak ada datang menjengukku. Aku sudah tidak mengharapkan simpati dari Ibu, Mbak. Apalagi sekarang semua sudah terasa jauh semenjak Erna menikah dan Ibu ikut tinggal bersamanya di rumah suaminya. Mungkin sekarang impian Ibu sudah benar-benar terwujud memiliki menantu yang bisa menyenangkannya dengan limpahan materi." Lila berkata dengan sorot mata mengawang. Seolah hubungannya dengan ibu mertuanya sudah semakin hambar.
"Sabar, ya, Mbak."
Tak terasa waktu cepat berlalu, hingga waktu sudah menunjukan waktu siang. Abid sudah terbangun dari tidurnya. Dia tertidur setelah kenyang memakan es krim. Isti dan Hasan berpamitan pulang.
Bersambung …..Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
jadi ga sabaran kelajutanya suka banget ceritanya kehidupan rumah tangga bikin jengkel sm mertuanya bikin yng berani tu mantunya biar ga dizollmi terus biar mertuanya takut 👍👍👍👍jangan terlalu lama nunggu kelanjutanya sukses mantap sekaleeee
20/01/2022
4dri judul nya seru ...apa lagi kisah nya ...👍
03/06
0sangat bagus ceritanya
17/08/2025
0Lihat Semua