Beranda/Satu Atap Dua Dapur/
bab 41
SATU ATAP DUA DAPUR
BAB 41
Sebulan sudah kini usia pernikahan Hasan dan Isti, hari-hari mereka terasa begitu indah bak seperti remaja yang sedang kasmaran. Keduanya nampak begitu menikmati hari-hari mereka sebagai pasangan suami istri.
Sementara waktu sambil menunggu rumah yang dibangun Hasan selesai, mereka masih tinggal bersama di rumah fatimah.
*
"Mas, ayo bangun!" Isti mengguncangkan tubuh suaminya.
"Iya, bentar lagi sayang, masih ngantuk." Hasan seolah enggan bangun dari tidurnya. "Kamu, sih Yang, semalam bikin aku gak bisa tidur," ucapnya manja.
"Halah, itu sih, bisanya kamu aja! Lagian siapa yang semalam gangguin aku tidur?" jawab Isti dengan berkacak pinggang. "Sudah, ayo bangun. Keburu siang ini," ucapnya lagi.
"Iya … ya. Cium dulu nanti baru aku mau bangun," ucap Hasin sambil menunjuk pipinya.
"Ih, ogah," ucap Isti seraya melempar bantal ke arah Hasan kemudian berlari.
"Oh, awas, ya," jawab Hasan lalu bangkit dan berlari mengejar Isti. Karena langkahnya yang panjang sungguh mudah baginya untuk mendapatkan istrinya itu. Hasan memegangi tangan Isti kemudian dia memepet tubuhnya hingga merapat ke tembok.
"Mas, lepaskan." Isti mencoba memberontak.
"Kamu nakal, ya," Hasan semakin menekan tubuh Isti.
"Mas, mau apa?" kata Isti sambil tersenyum malu. Isti semakin memundurkan wajahnya tatkala Hasan semakin mendekatkan wajahnya.
"Mas, mau makan kamu Sayang," jawab Hasan semakin dekat dengan Isti. Hingga kini wajah mereka hanya berjarak satu sentimeter.
Isti memejamkan matanya namun ketika mereka hendak berci*uman, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Waduh, salah masuk kamar," ucap Fatimah malu. Karena tidak sengaja harus menyaksikan adegan di depannya. Seketika Hasan melepaskan tangannya fan mereka berjingkat. Seandainya bisa melihat jelas wajah keduanya sangat memerah, kelihatan begitu malu.
"Ibu, ada apa?" tanya Isti.
"Ini, Ibuk mau ambil Abid. Apa dia sudah bangun?"
"Belum, Buk. Tadi sebenarnya dia sudah bangun, tapi habis nyusu dia tertidur lagi." Isti menjawab dengan masih grogi akibat kepergok ibunya.
"Oh," Fatimah memonyongkan bibirnya. "Ya, sudah, sana dilanjut lagi." Kemudian Fatimah menutup kembali pintu kamar, sebelum itu dia melongok kembali sambil berucap. "Jangan lupa, kamarnya dikunci," katanya lagi sambil tertawa kecil, kemudian dirinya benar-benar meninggalkan kamar anak dan menantunya.
"Ih, tuh kan. Malu tau!" Isti menggerutu.
"Ibuk itu juga pernah muda. Pasti ngerti lah."
"Sudah, ayo buruan sholat."
Setelah itu mereka berdua membersihkan diri dan sholat berjamaah. Usai sholat keduanya pun keluar kamar. Seperti biasa Isti akan membuatkan minuman hangat untuk mengawali pagi. Secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng sebagai pelengkapnya sudah tersaji di meja. Hasan kemudian menyeruput kopi yang baru saja dibuat oleh istrinya.
Tak lama Fatimah datang dengan menggendong cucunya yang sudah kelihatan segar dengan bedak yang tebal, dan bau khas bayi. Sementara Isti memasak untuk sarapan. Mereka mengobrol hangat, tentu saja Abid lah yang menjadi pusat perhatian dari semuanya.
*
Beberapa bulan berlalu, tak terasa kini usaha Isti semakin maju. Bahkan dia sudah memiliki tiga cabang baru. Kini dia mempercayakan salah satu kedainya kepada Mala. Dan dua cabang lagi lagi di pegang oleh Yanti dan Mita. Tidak dipungkiri keberhasilan dan kemajuan usaha yang dirintis oleh Isti, juga turut serta campur tangan dan kegigihan dua karyawannya yang setia itu. Makanya Isti mempercayakan dua cabang kedainya untuk dikelola oleh mereka berdua. Jadi kini total kedai milik Isti berjumlah empat.
Isti sendiri tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi pemilik empat kedai pentol. Semua terasa seperti mimpi, semua juga tidak lepas dari dukungan ibu beserta keluarganya terutama suaminya yaitu Hasan.
"Selamat, ya, Mbak. Kini cabang ke empat resmi dibuka. Kami semua turut berterima kasih sudah mempercayakan cabang kedai kepada kami berdua." Yanti terharu dia tak hentinya berucap terima kasih kepada Isti juga Hasan.
"Semua ini juga tidak lepas dari peran kalian, kalian lah yang seharusnya diberi ucapan selamat, kalian lah yang selama ini membantuku dalam memajukan usaha ini. Seharusnya aku yang harus berterima kasih kepada kalian semua terutama kamu, Yanti dan Mita." Isti sesekali menyeka air matanya. "Terima kasih telah menemani dan berjuang bersamaku," ucapnya lagi.
"Selamat, ya, Sayang." Hasan memberikan seikat bunga untuk istrinya.
"Terima kasih, Mas." Setelahnya Hasan mencium hangat kening istrinya.
"Cie … cie. Suit … suit." Mala mulai menggoda kakaknya.
"Bocah, nakal." Darkasi menjitak kepala putri semata wayangnya itu.
"Sakit, Buk." Mala meringis sambil mengelus kepalanya.
"La, kamu suka bener godain embakmu.
"Ja … ja …! Seblem … seblem," celoteh Abid sambil menirukan neneknya memukul tantenya. Kebetulan dia berada dalam gendongan Hasan dan berada tepat di samping Mala. Tingkahnya itu seketika menjadikan semua orang tergelak.
"Ih, kok, Tante dipukul sih. Awas sini Ante cubit," Mala mencubit gemas pipi gembul milik Abid. Bukannya menangis justru itu membuat Abid tertawa riang.
Akhirnya acara selesai dan dilanjutkan dengan acara makan-makan.
***
"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Isti dengan membawa kue di tangannya.
Hari ini tepat satu tahun usia Abid. Isti membuat pesta ulang tahun dengan mengundang anak-anak kecil.
Isti juga sengaja menyewa jasa badut untuk menghibur anak-anak. Pesta begitu riuh dengan suara anak-anak yang sangat antusias dengan aksi sulap yang ditampilkan oleh Sang badut
Abid begitu terlihat sangat bahagia, keluarga besar mereka berkumpul bersama tak terkecuali Lila dan Rudi. Kini memang mereka semakin akrab apalagi Lila sekarang merasa bahwa Isti sudah seperti kakak perempuannya. Sedang Rudi sudah membuang jauh seluruh perasaannya dulu pada Isti, begitupun sebaliknya.
Lain halnya dengan Bu Saroh dan Erna dia sama sekali tidak pernah bertanya kabar tentang cucu dan keponakannya. Kini mereka telah tinggal terpisah dengan Rudi dan Lila. Semenjak Erna menikah mereka berdua meninggalkan rumah Lila dan kini tinggal di rumah suami Erna.
Kini memang impian Erna dan Bu Saroh akhirnya terwujud. Tinggal di rumah mewah, suami Erna memang pengusaha kaya, walaupun mereka terpaut usia sangat jauh namun Bu Saroh tetap menyetujuinya tanpa meminta pendapat dari Rudi.
Kembali ke pesta ulang tahun Abid.
"Selamat ulang tahun Sayang, ini hadiah untuk anak ganteng Bunda," ucap Lila lalu mencium gemas pipi gembul Abid.
"Selamat ulang tahun anak ganteng ayah," Rudi ikut mencium putranya.
"Makasih, La, Mas, kalian repot banget membawa begitu banyak hadiah untuk Abid." Isti menerima beberapa kotak kado dari Lila.
"Tidak, Mbak. Dia juga putraku 'kan. Jadi tidak perlu sungkan pada kami. Bahkan seharusnya kami yang harus berterima kasih pada kalian. Sebab kalian sudah ikhlas memaafkan kami dan tidak menghalangi Mas Rudi serta aku untuk menemui Abid," Tutur Lila, dia menggenggam tangan Isti.
"Ayo kita foto-foto dulu," Mala mengajak semua orang berfoto sebagai kenangan dokumentasi.
Semua berpose dengan gaya suka-suka. Tentu saja Abid sebagai bintang utamanya. Sesi terakhir mereka mengambil pose berjejer, Abid berada di tengah-tengah mereka semua. Bocah lucu itu seakan tau dirinya menjadi pusat perhatian. Dia sudah pandai memainkan berbagai gaya, dari memonyongkan bibir, mengerlingkan satu mata.
"Sudah siap," tanya seorang Juru kamera. "Oke, satu … dua … ti—,"
Bruk … belum sempat menjepret, Sang fotografer terhenti karena Lila tiba-tiba jatuh pingsan.
"Mbak," teriak Isti.
Bersambung ….
Wah kenapa, ya, Lila. Apakah sakitnya semakin parah?
Beberapa bab lagi tamat, yuk imak terus.
Maafkan saya yang tidak bisa sering up. Terima kasih bagi kalian yang masih bersedia membaca tulisan receh saya ini. Salam sayang dari saya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
jadi ga sabaran kelajutanya suka banget ceritanya kehidupan rumah tangga bikin jengkel sm mertuanya bikin yng berani tu mantunya biar ga dizollmi terus biar mertuanya takut 👍👍👍👍jangan terlalu lama nunggu kelanjutanya sukses mantap sekaleeee
20/01/2022
4dri judul nya seru ...apa lagi kisah nya ...👍
03/06
0sangat bagus ceritanya
17/08/2025
0Lihat Semua