bab 37

SATU ATAP DUA DAPUR
Bab 37
Oleh: Fitri Dwiana
"Assalamualaikum," ucap seseorang dindepan pintu.
"Wa—alaikum salam," Isti tergagap menjawab salam karena terkejut melihat kedatangan Rudi dan istrinya.
Ya, yang datang adalah Rudi bersama istrinya. Mereka berdua sengaja bertandang ke rumah Isti selain karena ingin menengok bayinya, dia juga ingin memberikan kado sebagai hadiah untuk putranya.
"Ka—mu, mau apa kamu kesini? Mau menyakiti keponakanku lagi? Kurang kamu memberikan penderitaan padanya," ucap Darkasi tiba-tiba ketika melihat sosok Rudi yang datang. Dia menatap sinis pada pria yang pernah menjadi suami keponakannya itu.
"Bulek," Isti menggenggam tangan Darkasi kode bahwa dia harus menghentikan perkataannya. Isti takut Darkasi lepas kontrol. Bukan apa-apa, namun di rumah sedang ada acara penting. Isti tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Maaf, jika kedatangan kami membuat kalian tidak nyaman," ucap Lila. Dia merasa tidak enak dengan ekspresi seluruh anggota keluarga Isti. Mereka menatap sinis padanya.
"Iya, Mbak Lila." Isti mengangguk. "Silahkan duduk," Isti mencoba bersikap ramah walau dalam hati kecilnya masih menyimpan rasa sakit hati.
"Terima kasih, ini ada sedikit hadiah untuk adek bayi." Lila menyerahkan paper bag yang ia bawa kemudian Isti menerimanya.
"Terima kasih, La." Isti menerima kado dari Lila seraya berucap terima kasih. "Mit, tolong ambilkan minum dan kudapan untuk tamu kita," ucap Isti meminta tolong pada karyawannya itu. Hari ini kedai libur, untuk itu sengaja mereka diminta untuk ikut membantu di rumah.
"Iya, Mbak," jawabnya kemudian berlalu ke dapur untuk mengambilkan minum sesuai perintah Isti.
Kali ini Fatimah dan Darkasi memilih untuk pergi meninggalkan dua orang yang membuat suasana hati mereka jadi tidak enak.
Lila tersenyum ketika menatap sosok mungil di pangkuan Isti. Ada hasrat pada dirinya untuk menggendong makhluk kecil yang sesekali menggeliat. Namun Lila ragu ingin mengucapkannya.
"Mbak, bolehkah aku menggendong si kecil?" ucap Lila hati-hati.
"Silahkan," jawab Isti dengan ragu-ragu, dia takut jika Lila akan menyakiti putranya. Dia menyerahkan bayi mungil itu kepangkuan Lila. Dengan senang hati Lila menerimanya.
Ditatapnya wajah polos nan teduh itu, tersirat betapa masih sucinya dia. Lila menimang dan mencium gemas pipinya, berapa dia langsung jatuh hati pada bayi Isti. Isti yang melihat sedikit lega, karena padahal dia sudah was-was kalau Lila ingin mencelakai putranya.
Rudi ikut mencium gemas pipi anaknya itu. Betapa bahagia hatinya akhirnya bisa memiliki keturunan, namun sekaligus juga bersedih karena kebahagiaan dia begitu hambar tatkala kini dia telah berpisah dengan Isti. Dalam hatinya dia merasa menyesal atas apa yang dia lakukan dulu. Seandainya dia tidak mendengarkan ibunya mungkin kini kebahagiaan dia begitu sempurna. Tapi apa guna menyesali apa yang telah terjadi, kini dia harus bisa memantapkan hatinya pada Lila.
Lila melihat suaminya nampak bahagia dengan kelahiran anaknya. Dalam hati kecil Lila betapa ia menyesali perbuatannya dulu yang telah dengan sengaja menikahi Rudi. Dia merasa kasihan karena merasa ikut andil memisahkan antara ayah dan anak.
Isti melihat betapa bahagianya Rudi saat dia menimang putranya. Terbesit sebuah fikiran, kembali dia berandai-andai kalau perpisahannya dengan Rudi tidak pernah terjadi namun segera dia menggeleng tanda kalau apa yang ia pikirkan itu salah. Semua sudah terjadi, mungkin ini adalah jalan hidup yang telah digariskan oleh Allah untuknya.
Lamunannya buyar ketika mendengar tangis putranya. Segara Lila mengembalikan bayi mungil itu pada ibunya.
"Cup, sayang. Kenapa anak Bunda, mau haus, ya, mau mimik?" Isti berbicara seolah anaknya mengerti apa yang diucapkannya. "Mas, Mbak, saya permisi mau memberi ASI untuk Si Kecil." Isti berpamitan pada Rudi dan Lila, dia hendak memberi ASI kepada anaknya ke kamar.
"Kalau begitu kami permisi pamit pulang," ucap Lila.
"Iya, Mbak. Terima kasih sudah mau datang ke sini."
"Terima kasih juga kamu mengizinkan aku untuk melihat anakku," ucap Rudi lirih.
Rudi juga Lila pulang, namun sebelum itu Isti menyuruh Yanti memberikan buah tangan yang memang sudah disediakan untuk tamu yang datang.
Saat Rudi sudah sampai di depan dia berpapasan dengan Hasan juga ibunya yang. Dengan bersikap biasa saja Hasan menyapa Rudi dan istrinya ramah.
*
Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tamu undangan sudah berdatangan, kursi yang disediakan sudah penuh. Isti yang melihat itu tersenyum bahagia.
Acara berlangsung khidmat, lantunan ayat suci dan sholawat dibacakan. Setelah selesai prosesi pemotongan rambut, Isti mengumumkan nama putranya. Sudah jauh hari dia menyiapkan sebuah nama yang menurutnya akan membawa kebaikan bagi putranya, ABID RAHMADANA PUTRA itulah yang menjadi pilihannya.
Semua berjalan sesuai rencana. Setelah acara usai, para tamu undangan pulang dengan membawa hantaran nasi berkat yang berisi aneka lauk, terutama bahan masakan dari daging kambing yang disembelih sebagai aqiqah. Tak lupa snack box yang berisi aneka jajanan kue basah juga kering.
**
Semua tamu sudah pulang, tinggal menyisakan keluarga saja. Hasan dan ibunya juga masih belum pulang. Mereka sengaja berkumpul hari ini untuk membicarakan kelanjutan hubungan Isti juga Hasan.
"Fat, mumpung masih dalam suasana yang membahagiakan, kita berunding sekarang saja untuk membicarakan tentang kelanjutan hubungan anak-anak kita," ucap Bu Parti lugas.
"Iya, Mbak. Kalau saya sekarang ini tergantung dengan yang menjalani saja. Bagaimanapun juga Isti itu pernah mengalami suatu kegagalan, aku juga sedikit takut jika semuanya akan terulang kembali," tutur Fatimah.
"Bagaimana keputusanmu, Nduk? Ibu akan mendukung apapun keputusanmu," ucapnya lagi seolah menanyakan keputusan apa yang akan diambil oleh putrinya itu.
"Bagaimana, Nak Isti. Apakah kamu mau menerima putra Bude?" Bu Parti berganti bertanya kepada Isti.
"Saya … sa—ya, mau Bude." Dengan tergagap Isti menjawab pertanyaan wanita di depannya itu. "Tapi saya juga ingin bertanya apakah Bude juga Hasan mau menerima saya juga anak saya? Karena sekarang saya bukan seorang wanita lajang lagi, melainkan seorang janda yang memiliki anak." Isti memandang Hasan dan Ibunya.
"Is, dengan sepenuh hati aku menerimamu dengan apapun keadaanmu sekarang ini. Aku akan menjadi ayah bagi putramu ini, kamu tidak perlu khawatir aku akan menyakitimu seperti mantan suamimu dulu," ucap Hasan lantang. Dia sangat yakin dengan keputusannya memilih wanita yang sejak dulu ia sukai itu. Dia juga sudah bertekad akan menjadi ayah bagi anak Isti, dia akan menyayanginya seolah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Setelah itu Hasan berdiri dari duduknya dan berlutut di hadapan Isti. Dia mengeluarkan sesuatu dati saku celananya. Sebuah kotak berlapis kain beludru berwarna merah. Saat Hasan membukanya terpampang sebuah cincin emas yang bertahtakan berlian, meski kecil namun berlian itu menampakkan sinarnya yang begitu indah.
"Istiana apakah kamu mau menjadi istriku?" Hasan berkata sembari menyodorkan cincin itu ke depan Isti.
Istin tampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Hasan. Segera Darkasi mengambil Alih nayi Abid dari pangkuan keponakannya itu.
"Iya, aku mau." Isti mengangguk mantap menerima lamaran dari laki-laki yang dulu menjadi sahabat karibnya itu. Senyum mengembang di bibir Hasan dan semua orang, Setelah itu Hasan meraih tangan Isti kemudian dia menyematkan cincin indah itu di jari manis milik wanita yang dicintainya itu.
Mereka berdua tersenyum malu, seolah sedang kasmaran. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
Suasana berubah menjadi riuh, kebahagian terpancar di rona wajah semua orang yang ada di ruangan itu.
Bersambung …

Komentar Buku (48)

  • avatar
    Slamet Budiono

    jadi ga sabaran kelajutanya suka banget ceritanya kehidupan rumah tangga bikin jengkel sm mertuanya bikin yng berani tu mantunya biar ga dizollmi terus biar mertuanya takut 👍👍👍👍jangan terlalu lama nunggu kelanjutanya sukses mantap sekaleeee

    20/01/2022

      4
  • avatar
    Wina Syafana

    dri judul nya seru ...apa lagi kisah nya ...👍

    03/06

      0
  • avatar
    Rama Satu

    sangat bagus ceritanya

    17/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru