Beranda/Satu Atap Dua Dapur/
bab 33
SATU ATAP DUA DAPUR
BAB 33
OLEH : FITRI DWIANA
"Fat … ka—mu Fatimah, mbak ayuku?" Darkasi berkata seraya tubuhnya bergetar karena melihat sosok perempuan di hadapannya kini.
"Iya, Dar. Iki aku Fatimah mbakmu." Perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai kakak dari Darkasi.
Sedetik kemudian usai saling pandang mereja berdua berpelukan. Meluapkan kerinduan yang seolah lama terpendam. Bagaimana tidak, sosok perempuan yang kini hadir di hadapan Darkasi itu sudah berpuluh tahun hilang kabar bak ditelan bumi. Kepergiannya ke negeri orang untuk mencari penghidupan, membuat kakak beradik itu terpisah.
Usai berpelukan Darkasi menarik tangan Isti yang masih terdiam terpaku melihat kedua perempuan yang saling meluapkan rindu itu.
"Mbak, iki anakmu wes gede koyo ngene," kata Darkasi.
"Nduk, kamu Isti anakku. Benar itu? Kamu cantik sekali." Fatimah meraih tangan putri kandungnya yang telah lama ia tinggalkan.
"Ibuk," ucap Isti. Dia menangis.
"Ya, Allah, maafkan Ibuk. Ibuk sudah meninggalkanmu, lama sekali." Fatimah merengkuh tubuh anaknya. Kini ketiga wanita itu saling berpelukan.
Tak ayal orang-orang yang berada di sawah mereka ikut menghampiri mereka. Karena bagaimanapun, Fatimah adalah tetangga mereka yang sudah lama tidak diketahui kabarnya.
"Nduk, Fat. Iki awakmu to? Ya Allah tak kiro awakmu gak bakalan balik mrene," ucap Bu Sumi.
"Iya, De. Ceritanya panjang sekali. Bagaimana saya bisa kehilangan kontak dengan kalian," ucap Fatimah.
Setelahnya ketiga perempuan tadi pulang di antar oleh becak yang di tumpangi Fatimah. Senyum merekah diantara mereka bertiga.
Sampai di rumah.
"Pak … Pak. Cepat sini keluar, aku ada kejutan buat sampen." Darkasi berteriak memanggil suaminya.
"Ono op to Buk? Mbok yo ngucap salam sek, ora nyerocos koyo ngono." Slamet keluar dari arah dapur.
"Lihat, siapa ini, Pak," ucap Darkasi dambil menunjuk Fatimah.
"Fatimah?!!" Slamet sama terkejutnya dengan Darkasi. Melihat sosok perempuan yang kini duduk di hadapannya itu. Karena keluarga dan warga setempat sudah lama menganggap Fatimah telah tiada.
"Iya, Met. Iki aku, Fatimah. Aku wes balik saiki."
"Kenapa Mbak, bisa kehilangan kabar. Kami semua mengira sampean sudah tiada," ujar Slamet.
"Ceritanya panjang, Met. Bagaimana aku bisa menghilang." Fatimah menatap langit-langit rumah, dia menerawang jauh bagaimana dirinya di sana bisa kehilangan kontak denga keluarganya. Lalu mengalirlah cerita dari bibirnya.
Awal mula keberangkatanya ke Taiwan, semua lancar. Fia mendapat majikan yang baik, beberapa bulan dia bisa rutin mengirimi uang untuk Isti juga neneknya. Namun di bulan ketujuh, petaka itu berawal.
Saudara lelaki dari majikannya datang berkunjung ke rumah. Mereka menginap hingga beberapa minggu. Entah darimana adik lelaki dari majikannya itu menaruh hati pada Fatimah. Memang Fatimah adalah sosok yang cantik, parasnya yang ayu juga kalem mungkin itu yang membuat pria itu menyukai Fatimah. Hingga di suatu pagi saat majikannya pergi bekerja, di rumah hanya menyisakan dirinya juga adik dari majikannya itu. Fatimah tidak menaruh curiga sama sekali, entah dirasuki setan apa adik dari majikannya itu mencoba melecehkan Fatimah. Fatimah mencoba membela dirinya, dia berlari namun naas kakinya tersandung dan membuatnya terjatuh. Mencoba berteriak pun tak ada guna, tidak akan ada yang mendengar teriakannya. Fatimah tertangkap, pria itu sudah berada di atas tubuh Fatimah, wanita itu mencoba memukul dan mencakar namun tenaganya kalah kuat, saat tangannya meraba sesuatu yang ternyata itu adalah fas bunga yang terbuat dari marmer, tanpa pikir panjang Fatimah segera mengambil dan memukulkannya ke bagian kepala pria itu seketika darah mengucur, tubuhnya limbung dan terjatuh yang akhirnya hilang kesadaran.
Fatimah segera bangkit, dirinya amat ketakutan. Melihat tubuh pria di hadapannya itu sudah terkapar bersimbah darah. Dia segera menelpon majikannya. Sampai akhirnya majikannya datang, Fatimah dilaporkan kepada pihak berwajib atas tuduhan penganiayaan. Karena beruntung pria tersebut masih hidup.
Fatimah sudah mengatakan semuanya, namun karena bukti-bukti semua mengarah padanya akhirnya dia dituntun hukuman dua puluh lima tahun.
Sampai suatu ketika pria itu menyesali semuanya bertahun-tahun dia dihantui rasa bersalah. Karena perbuatannya wanita malang yang sebenarnya tidak bersalah itu harus dihukum akibat dari kekhilafannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya kepada keluarganya. Hingga pihak dari mereka mencabut semua tuduhan atas Fatimah. Begitupun pria tersebut menebus kesalahannya dengan menerima hukuman atas kesalahannya.
Majikan Fatimah memberikan kompensasi kepadanya atas apa yang dilakukan Fatimah, atas dukungan dari Pihak KBRI juga akhirnya Fatimah bisa pulang ke tanah air. Fatimah sudah memaafkan semuanya. Tidak lupa mantan majikan Fatimah memberikan sejumlah uang yang lumayan sangat banyak untuk dirinya sebagai ganti rugi atas kemalangannya selama ini. Bukan pihak KBRI selama ini tidak mencoba membantu kasusnya namun, karena semua bukti sudah mengarah padanya maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Pihak mereka ingin mengabari keluarga, Fatimah melarangnya. Dia tidak mau menambah beban keluarganya. Makanya selama ini keluarga menganggap Fatimah telah tiada.
Fatimah menceritakan semuanya secara detail. Sesekali dia terisak, mengingat kepiluan yang ia rasakan.
"Sudah, Mbak. Ayo sampean istirahat. Pasti capek sekali 'kan." Darkasi mencoba menetralkan suasana agar Fatimah tidak kembali mengingat kesedihannya.
"Buk, jangan tinggalin Isti lagi, ya, nenek sudah pergi ninggalin Isti." ucapnya sambil memeluk ibunya.
"Iya, Nduk. Kamu dulu masih kecil saat Ibuk tinggalkan. Sekarang sudah tumbuh besar menjadi gadis yang cantik." Fatimah mengelus rambut putrinya. "Maafkan Fatim, Mak. Telah merepotkan Emak. Fatimah rindu Emak," gumamnya.
"Eh, Nduk. Kamu hamil toh." Fatimah kaget saat tangannya menyentuh perut Isti.
"Iya, Buk." Isti mengangguk.
"Loh, kamu sudah menikah? mana suamimu? Ibuk mau ketemu sama menantuku." Fatimah mendongakkan kepalanya.
"Anu … i—tu," Isti terlihat gagu.
"Dia sudah bercerai Mbak Fat," Darkasi menyahuti ucapan keponakannya.
"Ya, Allah, kok bisa to. Bgaimana ceritanya." Fatimah terlihat bingung.
"Panjang juga ceritanya, Mbakyu." lalu bercerita lah Darkasi kepada kakaknya itu, tentang apa yang menimpa Isti. "Mungkin Isti sedang mendapat ujian dari Allah, jodohnya dengan mantan suaminya hanya sebatas itu saja."
"Oalah, kok kebangeten to anakku."
"Tapi jangan khawatir, Mbak. Setelah ini sampean akan mendapatkan mantu idaman." Darkasi terkekeh.
"Op, Dar?"
"Iya, Mbak. Setelah Isti melahirkan dan habis masa nifasnya. Dia akan segera dinikahi oleh pemuda yang menyayangi dan mau menerima keadaannya ini, Mbak."
"Sopo, Dar? Aku gak mau Isti salah pilih suami lagi. Sudah cukup dia menderita." Fatimah berucap.
"Tenang, Mbak. Dia anak baik. Itu anaknya, Yu Parti."
"Oh …"
"Wes, bubar, Mbak Fatimah. Pasti sampean capek. Ayo Mbak istirahat dulu. Tidak usah ngurusi Darkasi. Tambah panjang nanti obrolannya. Nanti di sambung lagi," tukas Slamet. Dia ngin memberikan waktu pada ibu dan anak itu untuk saling melepas rindu.
"Iya, Met. Kalau begitu aku sam Isti pulang dulu, ya," pamit Fatimah.
Setelahnya Isti dan ibunya pulang kerumah yang hanya berjatak beberapa meter saja.
"Nduk, nanti temani Ibu untuk ziarah ke makam ayah dan nenekmu, ya,"
"Iya, Bu."
Setelah itu mereka berdua memasuki rumah dan beristirahat. Karena Fatimah juga merasa capek setelah perjalanan jauh yang menempuh beberapa jam.
Bersambung ….Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
jadi ga sabaran kelajutanya suka banget ceritanya kehidupan rumah tangga bikin jengkel sm mertuanya bikin yng berani tu mantunya biar ga dizollmi terus biar mertuanya takut 👍👍👍👍jangan terlalu lama nunggu kelanjutanya sukses mantap sekaleeee
20/01/2022
4dri judul nya seru ...apa lagi kisah nya ...👍
03/06
0sangat bagus ceritanya
17/08/2025
0Lihat Semua