Beranda/Satu Atap Dua Dapur/
bab 30
SATU ATAP DUA DAPUR
BAB 30
OLEH: Fitri Dwiana
Setelah puas berpelukan Mala juga Isti berjalan beriringan memasuki rumah yang sedianya sudah sekitar tiga bulan lebih tidak di sambangi oleh gadis yang merantau bekerja di kota sebelah itu.
"Assalamualaikum," Mala mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," Slamet juga Darkasi menjawab serentak.
"Mala, kamu pulang Nduk. Ibu sudah kangen banget sama kamu." Darkasi berlari ke depan pintu kemudian memeluk tubuh anak gadisnya yang kini sudah tumbuh semakin dewasa.
"Ibuk Mala tidak bisa bernafas ini," ucap Mala terbata. "Uhuk … uhuk," Mala tampak sesak hingga terbatuk, akibat pelukan Darkasi yang begitu erat.
"Ya Allah. Maafkan Ibu Nduk. Habisnya Ibu sudah kangen berat sama kamu," ucap Darkasi seraya melepaskan pelukannya. Tanpa merasa bersalah dia malah cengengesan melihat ekspresi wajah putrinya itu.
"Dasar kamu itu Bune. Sudah masuk sini, pasti kamu lelah istirahat dulu. Cepat siapkan makanan untuk anak wedok( anak perempuan) Bune," Slamet memberikan perintah kepada istrinya itu.
"Siap, juragan." Darkasi menjawab dengan mengangkat satu tangannya seperti sedang melakukan hormat.
"Oalah, bojoku gemblung," ucap Slamet pada wanita yang telah membersamainya selama hampir dua puluh tahun. Sedangkan orang yang disebut malah tertawa cengengesan, tingkah Darkasi membuat semua orang jadi ikut tertawa.
*
Selesai makan Isti membantu buleknya itu untuk membereskan meja makan.
"Wes, Nduk kamu istirahat sana, biar bulek saja yang mengerjakan ini semua." Darkasi melarang keponakannya untuk membantunya.
"Iya, Mbak. Sudah biar Mala yang membantu ibu." Kemudian Mala mengambil alih tumpukan piring kotor dari tangan Isti.
Usai makan, mereka bercengkrama duduk santai di ruang tv.
"Mbak," Mala memulai pembicaraan. "Mbak," lagi Mala berucap sambil mengguncang lengan Isti.
"Apa, La. Ada apa? Jangan bikin penasaran ah," jawab Isti seraya meletakkan ponsel yang ia pegang.
"Bocah kok, ngalem." Darkasi menyahut.
"Apa se Buk. Gak apa-apa kan ngalem sama mbakku sendiri." Mala malah mempererat pelukan tangannya pada Isti.
"Ada ap se La? Ngomong?" Isti berbicara seraya meletakkan ponsel yang ia mainkan.
"Hmmm, Mbak sudah yakin sama Mas Hasan? Sebenarnya Mas Hasan sudah sejak lama suka sama Mbak, loh! Tapi Mbak Isti gak peka banget," celetuk Mala.
"Ah masa! Yah, ya mana Mbak tau kalau dia suka sama Mbak. Lagian dia gak pernah ngomong, dulu cuma nganggep Hasan itu temen baik Mal."
"Terus sekarang gimana perasaan Mbak sama Mas Hasan?" Mala kembali memberi pertanyaan yang membuat Isti bingung harus menjawab apa.
"Hmmm … entahlah, Mbak gak tau? Sebenarnya Mbak juga belum siap untuk kembali menikah, namun Mbak juga memikirkan bayi yang ada dalam kandungan Mbak ini. Mbak rasa tidak ada salahnya mencoba membuka hati untuknya. Lagi pula Bude Parti juga baik sekali sama Mbak," tutur Isti seraya dia mengelus perutnya yang semakin membuncit.
"Semoga kali ini Mbak mendapat kebahagian, lupakan masa lalu buka lembaran baru."
"Wes to suwe gak muleh saiki anakku ternyata wes gede iso nuturi embake," ( sudah lama gak pulang sekarang anakku sudah besar bisa nasehati Mbaknya) celetuk Darkasi dari belaakang.
"hehehehe."
"Iya, Is. Bulek lebih srek sama anaknya Yu Parti, sebenarnya dulu Bulek kurang setuju saat kamu mengenalkan Rudi. Melihat dari ekspresi wajah mantan ibu mertuamu aku kurang suka. Tapi mau gimana lagi, kamunya sudah setuju di nikahi Rudi," tutur Darkasi panjang lebar.
"Lek, aku pulang dulu. Sudah malam, besok Isti mau pergi ke pasar gede mau belanja stok bahan karena sudah banyak yang habis." Isti beranjak dari duduknya kemudian berpamitan pada buleknya.
"Buk, aku tidur di rumah Mbak Isti, ya, bolehkan?" Malaa merengek meminta izin untuk tidur di rumah Isti.
"Ojok ngrepoti loh yo!" seru Darkasi pada putrinya.
"Siap Ndoro," jawab Mala.
🍀🍀🍀
Bu Saroh dan juga Erna kini sudah tiba di rumah, namun keadaan rumah masih tampek seperti semula mereka pergi. Sepi tidak nampak Lila pulang.
"Buk, Perempuan itu belum pulang kayaknya. Pasti sengaja menghindar dari kita!" ujar Erna.
"Entahlah, pergi kemana perempuan itu. Pasti dia memang sengaja pergi, atau memang dia memang sengaja tidak memberi Ibu uang." Bu Saroh nampak sekali kesal.
"Ah, iya Bu. Pasti dia sengaja. Sekarang dia sudah berani melawan Ibu. Kita harus memberi pelajaran padanya, Bu!" seru Erna pada ibunya.
Ibu dan anak itu nampak sekali kesal dan marah. Angannya untuk berbelanja gagal lantaran uang yang biasanya sudah diberikan padanya kali ini tidak diterimanya.
"Bu, aku lapar." Erna merengek pada ibunya.
"Ya, makan sana."
Erna membuka tudung saji, namun tidak ditemukannya makanan. Karena pagi tadi Lila hanya memasak sedikit.
"Tidak ada makanan, Bu?" Erna bertanya pada Ibunya. "ayo Ibu masak buat aku, tadi pagi aku cuma makan sedikit. Sekarang sudah lapar lagi, Bu." Kebiasaan Erna belum berubah, dia tetap mengandalkan tenaga ibunya. Bagai kerbau dicucuk begitupun Bu Saroh tampak menuruti permintaan putrinya. Dia gegas ke dapur untuk memasak makanan.
Bu Saroh sibuk memasak, sedangkan putrinya sibuk ongkang-ongkang kaki seraya memainkan gawainya.
"Nih, sudah matang. Cepat makan!" seru Bu Saroh.
"Ih, Ibu masa cuma ini?" Erna protes pada ibunya. Pasalnua memang hanya mi instan dengan tambahan telur saja yang dimasak oleh Bu Saroh.
"Di kulkas tidak ada yang lain, adanya cuma telur saja. Sudahlah makan saja itu. Kalau tidak mau, ya, jangan dimakan." Bu Saroh nampak kesal sebab protes dari putri kesayangannya itu. Karena dirinya jug masih kesal pada menantunya, karena uang bulanan juga belum diterimanya.
Walaupun protes Erna tetap lahap memakan semangkuk mi kuah dengan tambahan telur diatasnya. Karena dia begitu kelaparan.
*
Malam menjelang akhirnya Lila pulang. Baru saja memasuki rumah dia sudah disambut omelan oleh Bu Saroh. Karena memang sengaja sedari tadi ibu mertuanya itu menunggu kedatangannya.
"Bagus, ya, jam segini baru pulang. Kamu itu memang sengaja kan menghindari Ibu? Dasar menantu durhaka!" ucap Bu Saroh ketus.
"Apa maksud ibu?" jawab Lila bingung. Karena memang dirinya tidak menahu maksud dari perkataan sang ibu mertua.
"Halah, jangan pura-pura kamu, Mbak!" sahut Erna dari belakang.
"Apa maksud kalian? Aku benar-benar tidak mengerti?" tukas Lila.
"Halah kamu jangan berlagak, ini tanggal berapa apakah kamu lupa itu. Uang jatah Ibu mana!" seru Bu Saroh dengan menadahkan tangannya di depan menantunya.
"Iya, apa Mbak sengaja lupa?" sahut Erna.
Setelah mendengar ucapan dari mertuanya, Lila baru paham maksud pembicaraan ini. Namun bukan tanpa sengaja dirinya tidak memberikan uang jatah untuk ibu mertuanya, namun atas perintah suaminya lah yang melarang dirinya memberikan uang itu.
"Itu, bukan saya lupa, tapi …."
"Tapi apa, hah." Belum selesai Lila berucap Bu Saroh sudah menyambar perkataannya.
"Itu, Bu, Mas Rudi yang …."
"Aku yang melarang Lila!" ucap seseorang. Suara kerasnya sudah dapat dikenali kalau dia adalah Rudi.
Semua menoleh ke sumber suara.
"Ya, memang aku yang melarang Lila memberikan uang bulanan kepada Ibu, mulai dari sekarang. Karena aku rasa uang gaji yang kuberikan pada Ibu sudah lebih dari cukup bukan?" terang Rudi.
"Apa sih, maksud kamu Rud. Apa alasanmu melarang Lila memberi jatah uang untuk Ibu? Lagipun berapa gaji kamu tentu saja kurang!" ucap Bu Saroh kesal.
"Iya, Mas. Lagian kenapa sih sekarang kamu berubah. Ya, terserah Mbak Lila lah, mau kasih uang atau tidak pada Ibu. Kok, Mas larang-larang," imbuh Erna.
Lila hanya menatap mereka bergantian. Bingung mau berkata apa karena suara mereka sama-sama meninggi.
"Kurang, Bu! Uang empat juta Ibu bilang kurang?" Rudi semakin kesal dengan penuturan adik dan ibunya.
Dengan kasar ia meremas rambutnya. "Apa, Ibu tidak malu, setelah apa yang Ibu lakukan. Ibu masih mengharap uang dari Lila. Ibu tau kan, dari mana Lila mendapatkan uang. Dari ayahnya, karena ulah Ibu dan Erna usaha Ayah mertua terancam bangkrut. Jadi mulai sekarang jangan lagi meminta uang lebih dari Lila.
"Halah, sekarang kamu mulai itung-itungan sama Ibu! Kamu mau jadi anak durhaka. Seharusnya itu semua kurang dibanding pengorbanan ibu membesarkanmu. Lagi pula sudah sepantasnya kamu itu menyenangkan Ibu!"
"Bu, aku juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Jika ibu ingin menghitung biaya membesarkanku, buat saja tagihan rincian totalnya. Biar aku bisa mencicilnya." Kalap Rudi berucap, mendengar penuturan sang ibu dia menjadi sedikit emosi. Kecewa yang kini ia rasakan. Dia benar-benar tak habis fikir dengan ibunya, semuanya di ukur dengan uang.
"Heh, Mas. Sudah sepantasnya kamu itu membahagiakan Ibu! Ingat Mas, kalau bukan karena Ibu, tidak mungkin kan kamu bisa menjadi menantu dari orang kaya." Erna menyahuti ucapan kakaknya.
"Tutup mulutmu," ucap Rudi spontan seraya mengacungkan jari ke arah adiknya. "Berterima kasih untuk apa? Untuk rumah tanggaku yang sudah kalian hancurkan. Seandainya aku mendengarkan perkataan Isti, pasti aku masih bahagia bersamanya," sungut Rudi.
Lila uang mendengarkan ucapan sang suami sedikit merasa bersalah karena sudah masuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Terbesit penyesalan, ternyata cintanya terhadap Rudi telah membutakan mata hatinya.
"Halah, Mas apa yang kamu harapkan dari wanita mandul dan kampungan itu?" sahut Erna.
"Jaga ucapanmu Er!" Rudi merangsek maju hendak memukul adiknya. Karena sudah tidak bisa menahan emosi.
Lila yang melihatnya reflek memegangi suaminya agar tidak melakukan kekerasan kepada adik iparnya itu.
"Sudah, Mas. Ayo masuk kamar," ucap Lila menenangkan suaminya.
Dia menggandeng lengan suaminya menuju ke kamar. Rudi menurut pada ajakan Lila.
Terdengar Erna juga Bu Saroh masih menggerutu. Namun sudah tak jelas lagi apa yang diucapkannya.
*
Di dalam kamar Lila mencoba menenangkan emosi suaminya.
"Sudahlah, Mas. Tidak apa-apa jika aku harus tetap memberi Ibu jatah bulanan."
"Tidak perlu. Aku malu padamu juga ayah dan ibu. Sebab karena ulah ibu dan Erna usaha ayah terancam bangkrut," timpal Rudi.
"Terserah kamu, Mas. Aku cuma tidak mau hanya karena uang menjadi ribut." Lila beranjak dari duduknya.
*
Entah Lila gelisah tidak bisa tidur. Meskipun dia sudah memaksa memejamkan mata namu kantuk tak juga menyapa. Begitupun dengan Rudi, dia seolah teejebak dalam lamunannya. Bayangan dulu kerika masih bersama Isti menari-nari di angannya. Menyesal itu yang kini ia rasakan. Sementara Lila juga begitu, dia terjebak dalam pikirannya. Penyesalannya kini mendera, seandainya dia tidak menuruti rasa cinta yang telah membutakan mata hatinya. Mungkin tidak akan ada hati wanita yang terluka. Saat Lila membalikan badanya ternyata Rudi juga sedang membalik merubah posisi, sehingga tanpa sengaja mata mereka saling beradu.
"Mas," ucap Lila lirih.
"La, kamu belum tidur?" sahut Rudi. Seketika rasa canggung menerpa.
"Gak bisa tidur, Mas.
"Sama, aku juga tidak bisa tidur."
"Hmm, Mas seandainya kamu menyesali pernikahan ini. Tinggalkan aku Mas! Kembalilah pada Isti. Aku tidak apa-apa." Entah mendapat kekuatan dari mana tiba-tiba Lila berucap begitu.
"Tidak mungkin La. Isti pasti tidak akan pernah mau kembali padaku. La aku tidak akan meninggalkanmu. Lusa adalah sidang putusan perceraianku. La apakah kamu benar-benar mencintaiku?"
"Iya, tentu saja aku sangat mencintaimu. Kalau tidak mana mungkin aku rela menjadi istri siri." Lila menjawab dengan gugup.
"Kalau begitu ayo kita mulai hubungan ini. Aku akan mencoba dan belajar mencintaimu. Aku tidak ingin lagi melukai hati wanita. Sudah cukup pernikahanku gagal dengan Isti. Mari kita coba perbaiki hubungan ini," ucap Rudi yang seketika membuat geliat aneh pada diri Lila. Tentu saja ada binar bahagia mendengar perkataan suaminya itu.
"Apa kamu yakin, Mas?"
"Tentu saja." Rudi menjawab mantap.
"Baiklah mari kita mulai semuanya dari awal. Semoga niat baik ini di ridhoi oleh Allah."
"Setelah urusan perceraianku selesai, aku akan kembali menikahimu secara sah."
"Terima kasiH, Mas." Reflek Lila memeluk tubuh suaminya. Dan dengan malu-malu Rudi membalas pelukan istrinya. Hingga tak terasa mereka tertidur dengan saling berpelukan.
Bersambung ….Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (48)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
jadi ga sabaran kelajutanya suka banget ceritanya kehidupan rumah tangga bikin jengkel sm mertuanya bikin yng berani tu mantunya biar ga dizollmi terus biar mertuanya takut 👍👍👍👍jangan terlalu lama nunggu kelanjutanya sukses mantap sekaleeee
20/01/2022
4dri judul nya seru ...apa lagi kisah nya ...👍
03/06
0sangat bagus ceritanya
17/08/2025
0Lihat Semua