bab 12

Satu Atap Dua Dapur
Bab 12
Pov Rudi 3
Demi kesehatan Ibu akhirnya aku menyetujui permintaan Ibu. Entahlah ini benar atau salah. Yang aku tau Ibu segalanya bagiku. Toh jika pun aku menikah lagi itu semua hanya demi mendapat keturunan. Istri yang aku cintai hanya satu, ia adalah Isti. 
Akhirnya rencana pernikahanku dengan Lila akan ditetapkan. Entah kenapa Juragan Gani juga menyetujui pernikahan ini walau tahu Lila akan menjadi yang  kedua dan kami hanya menikah secara siri. 
Tak ada lamaran resmi. Malah kesanya seperti berunding saja. Tidak ada acara tukar cincin hanya langsung penetapan tanggal nikah.
Walau begitu Lila inginkan resepsi di gedung secara mewah. Tentu saja aku menikah lagi Isti tidak tahu. Ya Allah maafkan aku.
Suatu malam tiba-tiba Lila menelponku padahal sudah ku ingatkan kalau aku sedang ada di rumah jangan pernah menghubungi aku. Aku takut ketahuan oleh Isti.
"Halo Mas." Suara Lila terdengar manja di telingaku.
""Aku, kan sudah bilang jangan menelponku saat aku ada dirumah," tukasku padanya.
"Besok jadwalku kontrol jahitan Mas! Mas gak lupa 'kan." Kembali ia mengingatkan bahwa besok memang jadwal dia kontrol jahitan. Jahitan itu didapatnya akibat kecelakaan kecil jadi kakinya sedikit sobek, untuk menutup luka perlu dilakukan di jahit. 
Sebenarnya malas juga aku, tapi mau gimana lagi Ibu yang memaksaku mengantarkannya.
"Iya, Aku tau. Besok  sebelum berangkat kerja aku akan mengantarmu kontrol. Ya sudah besok aku jemput kamu," jawabku. Segera ku matikan sambungan telepon. 
Saking takutnya ketahuan, aku sampai bersembunyi untuk mengangkat telepon. 
🍒🍒🍒
Pagi ini aku berbohong pada Isti, kalau aku ada meeting jadi harus berangkat awal. Ah … maafkan suamimu ini yang sudah membohongimu istriku.
Karena sebelum berangkat kerja aku harus mengantar Lila kontrol maka dari itu aku harus berangkat lebih awal.
Sampai di rumah Lila aku memasukan motorku ke dalam lalu berganti aku menaiki mobil milik Lila.
Kami pergi kontrol ke klinik kasih ibu, karena Lila harus vaksinasi sebelum menikah maka sekalian saja kontrol jahitan luka kakinya disini. 
***
Di kantor aku tidak bisa fokus, karena fikiranku kacau. Antara memikirkan permintaan ibu, juga memikirkan bagaimana kalau Isti tahu tentang rencana pernikahan ini. 
Arghh  … aku meremas rambutku. Rasanya kepalaku mau pecah.
Setiap jam makan siang Lila selalu saja menggangguku. Dia selalu menyuruhku untuk pulang ke rumahnya untuk makan siang. Pernah aku menolak tapi apa akhirnya ibu memarahiku. Sejak itu aku selalu mengiyakan permintaan Lila. Sebenarnya kesannya seperti memerintah.
Sore itu ketika aku akan pulang. 
Aku mandi dulu di kantor. Aku ingin terlihat segar saat pulang. Agar isti tidak curiga, pasalnya selama beberapa hari ini aku seperti orang yang kurang bersemangat, pernah waktu itu dia menegurku karena aku tak menghabjakan sarapanku.
Sampai di rumah aku sudah disambut bidadariku, ah apakah keputusanku menikah lagi ini sudah benar, tapi ini semua kan demi Ibu. Karena ibu adalah segalanya bagiku. 
Ya Isti sepertinya heran melihat aku pulang dalam keadaan sudah wangi. 
Da menanyakan kenapa aku sudah terlihat segar. Aku agak gugup menjawabnya. Takut dia berpikiran yang macam-macam.
Ah segara kutinggalkan dia aku menuju kamar untuk berganti baju.
********************************************
Pov. Isti
Setelah mendapatkan informasi yang kubutuhkan aku memutuskan untuk pulang, aku akan memikirkan rencana untuk menggagalkan rencana ibu dan Erna. Aku tidak menunggu kedatangan Mas Rudi. 
Kang ojol tadi masih menungguku. Sebenarnya agak sungkan juga menyuruhnya untuk menungguku, tapi mau gimana lagi aku sangat membutuhkan bantuannya.
Sampai di rumah, karena badanku rasanya capek sekali aku memutuskan untuk tidur. 
Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena mendengar suara benda jatuh. Segera aku berlari untuk melihatnya, betapa kagetnya saat aku keluar ternyata Ibu yang terjatuh di dekat kompor. Segera aku berlari menghampiri dirinya.
"Ibu kenapa, kok bisa jatuh?" Aku berjongkok di samping ibu. Di pinggir ibu terlihat panci tergeletak dan ada air yang tumpah. Mungkin ibu jatuh kareba membawa panci ini.
"Ya ibu terpeleset."
"Ayo saya bantu berdiri." Walaupun jengkel dengannya tapi aku juga kasihan melihatnya begitu. 
"Iya," Ibu mengulurkan tangannya padaku. Di memegang lenganku, namun Bruk … ibu jatuh kembali. Tapi kok rasanya seperti memang sengaja menjatuhkan dirinya.
"Gimana sih, niat nolongin gak. Megaanggin gitu aja gak bisa. Sudah sana saya bisa berdiri sendiri," cerocos ibu padaku. 
Ah … aku mendesah apapun yang aku lakukan memang tidak pernah benar di mata ibu mertuaku. 
Aku kembali ke kamar, karena hari sudah sore kuputuskan untuk mandi saja. Karena sebentar lagi Mas Rudi akan pulang.
*
Dua hari berlalu … 
Pagi itu saat sarapan Mas Rudi bilang besok dia akan ada perjalanan dinas ke luar kota selama satu minggu. 
Namun aku sudah tau itu bukan perjalanan dinas biasa namun itu acara pernikahan mu Mas. 
Tentu saja Mas, aku akan datang ke sana. Untuk menggagalkannya.
Pagi ini Mas Rudi berpamitan padaku. Dia berangkat naik taksi online. Dan sebentar lagi aku juga akan menyusulmu Mas! Bohong kalau tak ada yang sakit di dalam sini. Aku juga merasa sesak, suamiku yang begitu kucintai dan kusayangi akan menikah lagi. Walaupun dia melakukan ini karena keterpaksaan. Mas kenapa kau tega ….
Setelah Mas Rudi berangkat, terlihat ibu dan Erna juga bersiap pergi. Pasti mereka juga akan menghadiri acara pernikahan suamiku. 
"Loh, Ibu mau kemana?" tanyaku basa basi.
"Kita mau ke rumah sodara, disana ada acara kawinan. Kamu sengaja gak kami ajak takut malu-maluin." Ibu berkata sinis padaku.
Kemudian mereka menghilang seiring berlalunya mobil taksi yang mereka naiki.
Aku harus bersiap, mungkin acaranya akan dilakukan sebentar lagi. Dari Mana aku tahu, tentu saja dai pesan yang dikirimkan Lila pada Mas Rudi, dia bilang kalau acaranya akan dilangsungkan sekitar pukul satu siang. Sekarang sudah pukul sembilan, aku harus cepat. Karena tempat diadakannya acara lumayan jauh.
* 
Aku merias diriku, aku harus terlihat cantik di hari pernikahan suamiku. Ya Allah tolonglah aku, aku ingin menyelamatkan rumah tanggaku. Selesai  berhias aku bersiap berangkat taksi yang aku pesan pun sudah datang. 
Selama perjalanan hatiku begitu hancur membayangkan suamiku mengucap ijab kabul untuk wanita lain. 
Ku lihat arloji yang melingkar di tabganku, jam sudah menunjukan pukul setengah satu. Ya Allah, sebentar lagi acaranya dimulai.
"Pak bisa dipercepat sedikit. Saya takut terlambat Pak! Acaranya akan segera dimulai." Aku meminta supir untuk sedikit menambah kecepatan. Aku begitu khawatir. 
"Ya, Mbak. Tapi memang jalanan sedang ramai. Kalau saya terlalu ngebut takut terjadi sesuatu. 
Saya juga harus memikirkan keselamatan kita berdua, Mbak!" Pak supir memberi penjelasan padaku. Memang jalanan hari ini terlihat sangat ramai. Karena memang ini menjelang hari libur, mungkin banyak dari mereka yang akan mudik.
"Iya Bapak benar."
Dari jauh sudah terlihat bahwa sedang ada acara yang sedang dilangsungkan di gedung itu. Terlihat dari banyaknya tamu yang memasuki gedung tersebut. Tak heran kalau tamu undangan begitu banyak. Karena memang Juragan Gani adalah orang yang sangat terpandang.
Aku berjalan mendekat ke gedung. Di pintu masu terpampang jelas foto Mas Rudi dan Lila. Mereka memang nampak begitu serasi. Lila terlihat cantik dengan balutan baju warna putih dan suamiku memakai jas warna hitam. Dia memeluk pinggang Lila, nampak mesra sekali.
Nyeri sekali rasanya. Sesak yang aku rasakan saat ini, cairan bening dari mataku sepertinya hendak menerobos keluar. Aku harus bisa menahannya. 
Ku langkahkan kaki menuju ke dalam gedung. Beruntung untuk masuk dalam acara tidak dibutuhkan undangan. Jadi aku bisa lebih mudah memasuki tempat acara.
Kuedarkan pandangan terlihat di tengah ruangan terduduk sepasang pengantin. Dan ya, benar itu suamiku dia tengah menjabat tangan dari penghulu. Sepertinya mas Rudi akan mengucapkan ijab kabul. Sebelum itu dimulai aku berteriak kencang.
Hentikan…..!
Lalu semua mata tertuju padaku.
Bersambung ....

Komentar Buku (48)

  • avatar
    Slamet Budiono

    jadi ga sabaran kelajutanya suka banget ceritanya kehidupan rumah tangga bikin jengkel sm mertuanya bikin yng berani tu mantunya biar ga dizollmi terus biar mertuanya takut 👍👍👍👍jangan terlalu lama nunggu kelanjutanya sukses mantap sekaleeee

    20/01/2022

      4
  • avatar
    Wina Syafana

    dri judul nya seru ...apa lagi kisah nya ...👍

    03/06

      0
  • avatar
    Rama Satu

    sangat bagus ceritanya

    17/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru