logo text

Bab 28 Club malam

“Memangnya seperti apa, Bi, kucingnya?” tanya sekali lagi, tentu saja ia tertarik dengan kucing kesayangan Kennan itu seperti apa kucing tersebut sampai Kennan semarah itu. Apakah kucing itu sangat berarti bagi pria itu sampai harus seperti itu pada pelayannya.
“Kucing itu berwarna putih, Non, Tuan
Kennan menyukai kucing itu karena itu pemberian neneknya sebelum ia meninggal dunia.” Jelas pada Henny. Bi inah memang pelayan yang sudah lama melayani Kennan bahkan ia pun tahu jika majikannya itu menjalin hubungan dengan Amel.
Karena Kennan sering sekali membawa wanita itu ke rumah tersebut dan juga sering masuk kamar Kennan seenaknya, tetapi Bi Inah tidak tahu jika setelah menikah dengan Henny, majikannya itu tetap berhubungan dengan Amel, ia kira jika Kennan sudah sadar dan memutuskan menikahi Henny untuk melupakan Amel.
“Oh, Begitu ya sudah, Bi, terimakasih sudah bantu saya bawa barang-barang.” Ucapnya sebelum wanita paruh baya itu meninggalnya.
“Baik Non, kalau Non Henny membutuhkan sesuatu bisa panggil saya saja,” pintanya karena Henny baru saja tinggal di rumah itu, tentu saja takut wanita itu terlalu sungkan untuk meminta bantuan pada pelayan di rumah tersebut.
“Baik Bi, saya mengerti” ucapnya sambil menganggukan kepalanya mengerti yang harus ia lakukan kan nanti. Ia membuka kopernya dan mengeluarkan beberapa bajunya dan barang-barangnya.
Setelah Bi inah keluar dari kamarnya ia pun membereskan baju-bajunya untuk di taruh di lemari dan juga ia harus bersiap mandi terlebih dahulu, ia harus membiasakan diri hidup bersama dengan Kennan mau tak mau pria itu sudah menjadi suaminya yang sah.
Tentu saja ia harus melupakan Dimas yang sempat menjadi kekasihnya walaupun hanya sehari saja sebelum ia menikah dengan Kennan. Entah bagaimana perasaan Dimas saat melihatnya menikah pasti hancur.
Sedangkan di tempat lain Dimas yang sengaja mampir ke salon Bobby untuk sekedar memperbanyak kegiatannya untuk mencoba melupakan kenangannya bersama dengan Henny tetapi ia tetap saja selalu ingat dengan wanita itu.
“Ngapain lo ngelamun bae sendirian?” tanya Bobby saat melihat temannya itu melamun tak tahu apa yang sedang ia fikirkan, ia merasa sangat kasihan dengan temannya walaupun ia tidak bisa merasakan apa yang sekarang sedang di rasakan oleh Dimas, tetapi hanya melihat wajah murungnya saja sudah bisa mengartikan bahwa pria itu sedang patah hati.
“Nggak apa-apa, gue lagi mager aja makanya kaya begini,” balasnya dengan begitu tak bersemangat hanya rasa patah hati yang sedang ia rasakan.
Bukan Bobby namanya jika tidak menjahili Dimas yang terlihat seperti itu tentu saja itu kesempatan bagi dirinya juga menghibur dan menjaili temannya. Ia pun bersiap-siap menarik nafasnya untuk menyanyikan sebuah lagu.
Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuanganku tuknya
Bahagikan dia kau sayangi dia
Seperti ku menyayainya
Kan ku ikhlaskan dia
Tak pantasku bersanding dengannya
Kan kuterima dengan lapang dada
Aku bukan jodohnya
Dimas pun memukul bahu Bobby agar berhenti untuk menyanyikan lagu yang jelas menyindir dirinya tentu saja, ia merasa kesal dengan lagu yang temannya itu nyanyikan sama dengan apa yang sedang ia alami.
“Apa sih lo, Bob, dikit-dikit nyanyi, kaya bagus aja suara lo tuh,” sinisnya pada Bobby. Tak suka dengan apa yang di lakukan oleh pria yang ada di sampingnya itu, bukannya menghibur dirinya yang sedang patah hati malah menambah kesedihannya.
Tentu saja Bobby terkekeh saat melihat Dimas menjadi kesal , ia berhasil membuat pria itu kesal hanya dengan menyanyi. Sebenarnya ia berusaha untuk menghibur tetapi ia tak tahu caranya menghibur temannya itu.
“Orang gue yang nyanyi, koq lo yang sewot,” protes Bobby karena temannya tidak suka.
Ia pun bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan makanan yang di sukai oleh temannya itu, tentu saja ia tahu jika orang yang sedang patah hati pasti lapar karena terlalu banyak berfikir kenangan tentang Henny.
“Udahlah gue mau cabut aja.” Putusnya lalu bergegas dari tempat Bobby, ia berniat ingin ke club malam untuk menghibur diri, sebenarnya Dimas bukanlah pria yang tidak pernah ke hiburan malam tetapi untuk kondisinya yang tidak stabil ia pun menjadi ingin mencoba sedikit meminum alkohol.
“Dim, gue lagi mau buatin makanan buat loh nih,” ucapnya sebelum Dimas pergi lebih jauh lagi. Makan yang ia buat hampir saja matang tetapi Dimas malam pergi dari tempatnya, tentu saja dirinya yang akan memakannya sendiri.
“Gue udah kenyang dengerin suara loh tadi,” ketusnya ia tidak berniat menolak tawaran dari temannya itu tetapi saat in, untuk makan saja ia sudah tidak ada selera lagi.
“Yaudah gue aja yang makan ini, kebetulan gue juga laper,” gumamnya melihat makan yang sudah matang itu di atas piring itu.
Sedangkan Bobby yang melihat kepergian temannya itu hanya geleng kepala, begitulah jika orang sedang patah hati, semuanya begitu menyebalkan untuk dirinya.
Mobil Dimas melaju dengan kecepatan yang sedang , ia tak ingin ceroboh mengendari mobilnya lagi sama seperti dulu ketika ia tak sengaja hampir menabrak Henny.
Sesampai di club malam Dimas pun memarkirkan mobilnya di parkiran khusus, dan ia pun langsung masuk ke dalam tempat itu, saat ia masuk terlihat beberapa wanita penghibur dan orang yang sedang mabuk.
Ia pun memesan alkohol minuman yang tidak pernah ia minum sama sekali, tentu saja ini hanyalah sebuah pelampiasan. Tak berapa lama alkohol yang di pesan sudah datang dan langsung di teguk oleh Dimas, ia terus meminta tambah berkali-kali sampai ia mabuk.
Seorang wanita mendekati Dimas yang sedang mabuk itu, ia membantu Dimas yang sudah lemas karena pengaruh alkohol. Wanita itu kaget dengan keberadaan pria itu di club malam untuk pertama kalinya.
“Pak Dimas lagi ngapain di sini, Pak?” tanya wanita itu terlihat khawatir dengan apa yang dia lihat, ia tak pernah mengdengar ataupun melihat jika pria yang di depannya itu seorang pemabuk.
“Hen, kamu dateng?” racaunya menganggap wanita yang mendatanginya itu adalah Henny.
Setelah mendengar atasannya itu sedang meracau , ia mengerti bahwa pria yang sedang mabuk itu, sedang patah hati karena Henny yang menikah dengan pria lain, ia tidak tahu jika Dimas mencintai Henny sampai membuatnya harus seperti ini.
“Ayo kita pulang, Pak,” membantu Dimas untuk berdiri dan menuntun pria itu agar keluar dari tempat tersebut. Ia tidak mungkin membiarkan pria itu tetap berada di tempat itu sampai tak sadarkan diri, ia harus mengantarnya pulang ke rumah Dimas.
Mereka pun keluar dari tempat tersebut, ia fikir pria itu tidak akan mampu berjalan ke parkiran dan ia pun mencari kunci mobil yang ada di saku Dimas dan meminta penjaga untuk mengambilkan mobil milik Dimas di parkiran.
Pertemuan mereka memang tak terduga Siska sudah terbiasa ke tempat tersebut bersama teman-temannya, saat melihat Dimas yang tengah mabuk dari ke jauhan tentu saja ia tak percaya sampai ia harus mendekatinya untuk memastikan

Komentar Buku (1033)

  • avatar
    KhanifudinMuhammad

    novelnya keren banget👍👍

    05/04/2022

      0
  • avatar

    cerita ni best sangat sangat

    05/04/2022

      0
  • avatar
    AdawiyahArya

    I like thisss❤️❤️❤️

    29/03/2022

      5
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru