logo text

Bab 27 Dua tujuh

"Aku tidak menyangka Pak Jagarsa akan melakukan itu semua padahal dia yang selama ini selalu mendukung dan membantuku. Ia ingin membunuhku agar ia dapat memenuhi ambisi gilanya, membuat obat itu menjadi racun tanpa penawar."
Aku hanya mengangguk saja, tidak sepenuhnya memperhatikan kata-kata Stefan. Kata-kata Irana terus saja terngiang dan menggangguku. Membuat diriku tidak bisa fokus dengan cerita Stefan setelah ia bertemu Pak Jagarsa di penjara.
"Kamu kenapa?" tanya Stefan akhirnya. Suasana senja di taman tersebut begitu indah. Warna jingga di langit menyemarakkan suasana di tempat tersebut.
Aku hanya menggeleng. Tatapanku tetap melekat pada mega yang begitu indah, tetapi keindahan itu tidak mampu menenangkan hatiku. Aku cemas, takut bahwa Stefan akan mengabulkan keinginan Irana.
"Apa jangan-jangan kau sudah mendengar permintaan Irana?" tebak Stefan. Ia melihat ke arahku kemudian menghela napas panjang.
"Sudah kuduga, kau pasti mendengar semua perkataan Irana padaku," ucapnya lagi.
"Aku tidak tahu apa maksudmu."
Stefan tiba-tiba memencet hidungku.
"Ih, pakai bohong lagi, apa nggak takut hidungnya entar jadi panjang?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Apa sih?" ujarku sambil menepis tangan pria itu, tetapi ia malah meraih tanganku dan mengecupnya pelan.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan beralih pada Irana. Gadis yang kucintai hanya dirimu seorang."
"Tapi, Irana?"
"Aku juga kasihan padanya. Bagaimanapun ia pernah dekat denganku. Sekarang ia menghadapi masalah karena ayahnya berada di penjara, tapi meski aku bersimpati dengannya tidak berarti aku harus bersama dia."
Aku mengangguk sambil tersenyum lega.
"Tuh, kan, kamu pasti dengar semuanya. Jangan khawatir, La. Masalah Irana, aku yang akan menangani, aku jelaskan pelan-pelan padanya, aku yakin dia akan bisa mengerti," ucap Stefan lagi.
***
Perasaanku tidak tenang. Meski saat ini, hubunganku dengan Stefan semakin dekat, tetapi masalah Irana masih saja mengganggu pikiranku. Aku masih ingat gadis itu begitu terobsesi memiliki Stefan. Apa mungkin Irana akan melepaskan pria yang kucintai itu begitu saja?
"La!" panggil Vano dengan suara cukup keras. Menyentakku keluar dari lamunan.
"Apaan sih? Kenapa teriak-teriak? Pendengaranku ini masih baik, kok!" seruku kesal. Ya, saat sedang memikirkan hubungan aku dan Stefan dengan Irana berada di antaranya, semua langsung buyar karena teriakan Vano.
Vano yang berdiri di hadapanku sambil memasang senyum tipis itu menggeleng sambil menghela napas panjang.
"La, La, kamu ini bagaimana? Aku sudah memanggilmu dari tadi. Kamu saja yang tidak mendengar, sampai suaraku serak gini," gerutunya.
Aku hanya tersenyum kecil.
"Melamun saja. Apa sih kamu pikirkan? Apa Stefan mencampakkanmu? Kalau gitu kamu sama aku saja," lanjut Vano lagi sambil menggenggam tanganku.
"Kamu tuh katanya mencintai Risa sekarang malah goda-goda aku lagi."
Kulihat wajah Vano berubah muram meski senyum masih terpampang. Sejenak rasa sesal menyusup dalam hatiku karena menyinggung tentang Risa.
"Aku masih merindukan dia, La," ujar Vano sambil duduk di sampingku.
"saat-saat seperti sekarang ini, biasanya ia selalu menempel padaku sambil memasang wajah cemberut karena aku dekat denganmu, adalah saat yang tidak bisa aku hapus dari ingatan. Tempat ini selalu mengingatkanku tentang dia, La. Kadang aku berharap semua yang terjadi hanya mimpi dan dia keluar dari kamar untuk menyambutku."
Aku masih tetap diam. Kulihat Vano menghapus air mata yang mengalir di pipinya dan kembali tersenyum.
"Kuharap kamu tidak mengalami hal yang sama denganku. Saat cinta datang menghampiri, jangan pernah kau melepaskannya."
Aku mengangguk.
"Apa kau ke sini untuk menemaniku mengobrol dan menjadi pakar hubungan cintaku?" tanyaku.
"Ya ampun!" seru Vano sambil menepuk jidatnya dengan keras.
"Aku lupa kalau Pak Yan mencarimu. Kamu sih pakai acara ajak aku ngobrol segala."
Aku melotot ke arahnya kemudian menggeleng. Dasar Vano, ia tetap saja tidak berubah, dumelku dalam hati. Aku kemudian bergegas menuju ruangan Pak Yan.
***
Ruangan Pak Yan tampak berantakan seperti biasa. Pekerjaan kami memang tidak menuntut kerapian kecuali saat berada di luar. Kami harus melakukan tugas dengan rapi agar tetap aman dari incaran polisi.
Pak Yan menyapaku kemudian mengenalkanku pada kliennya, orang yang akan menyewaku. Aku diam tertegun saat orang itu tersenyum sambil merapikan baju mahal yang dikenakannya. Ia segera mengulurkan tangan untuk mengajakku bersalaman. Aku masih terpaku menatap dia.
"La, ada apa?" tegur Pak Yan. Aku menggeleng. Beliau pasti tidak tahu bahwa aku sudah mengenal klien tersebut sebelumnya. Merasa aku tidak menanggapi, orang tersebut kembali duduk sambil menyilangkan kaki. Senyum tetap saja terukir di wajahnya.
"Jadi dia Snow Queen?" tanya klien kami tersebut. Pak Yan mengangguk. Aku masih saja diam dan menatap sosok di hadapanku itu sambil bertanya-tanya apa yang sebenarnya dia inginkan dengan datang kemari.
"Baiklah, aku tidak akan menunda lagi, aku akan menyewa dia untuk membunuh seseorang."
Ia kemudian mengeluarkan selembar foto dari tasnya. Aku menatap tidak percaya saat mengetahui bahwa itu adalah foto Stefan.
"Aku yakin kau sudah mengenal dia dengan baik. Ini akan mudah. Aku ingin kau membunuh dia," ucap klien kami tersebut. Sikapnya sangat tenang dan senyumnya masih tetap sama.
Mataku membeliak lebar tidak percaya.
"Kenapa kau melakukannya? Bukankah selama ini Stefan selalu baik padamu?"
Orang tersebut masih saja tersenyum mendengar pertanyaanku. Aku sedikit merinding. Selama ini bekerja sebagai pembunuh, baru kali ini aku melihat klien yang membuatku ngeri.
"Itu semua karena Stefan telah mengecewakan aku."
"Stefan telah melakukan banyak hal untukmu dan kau masih bilang dia telah mengecewakannya? Apa ini semua karena kau menaruh dendam padanya?"
Orang tersebut justru tertawa. Akan tetapi, hanya sekejap tawa itu lenyap dan berganti tatapan tajam ke arahku.
"Apa ini cara kerja kalian? Bukankah dari aturan yang.kubaca, kalian tidak mencampuri masalah klien? Apa aturan itu memang boleh dilanggar atau karena orang yang menjadi sasaranmu adalah Stefan?" tanyanya.
"Nila!" tegur Pak Yan. Beliau sepertinya mencoba menengahi kami. Aku akhirnya diam sambil masih menatap orang yang menjadi klien kami tersebut. Hati manusia memang tidak bisa diduga. Bisa saja ia selama begitu baik dan dekat denganmu, tetapi ternyata di belakang ia menusukmu dan menginginkan kematianmu.
***
Aku tengah bersiap, memeriksa pistol yang akan kugunakan sekali lagi. Kulihat selongsongnya telah terisi dengan enam peluru. Tidak perlu terlalu banyak karena misiku kali ini kurasa akan selesai dengan cepat.
Vano yang baru saja tiba di gudang tempat penyimpanan senjata tersebut berjalan menghampiriku dengan cepat. Ia kemudian mencekal tanganku yang masih menggenggam pistol. Matanya menatapku tajam.
"Apa kau sudah kehilangan akal sehat? Mengapa kau menerima misi kali ini? Aku akan memberitahu Pak Yan bahwa kau tidak bisa melakukannya," sergahnya cepat.
Ketika ia akan beranjak pergi, ganti aku yang mencekal tangannya.
"Tidak perlu. Aku akan melakukannya."

Komentar Buku (44)

  • avatar
    AuliaPutri

    bguss

    07/02

      0
  • avatar
    Horas

    seruh sekali

    14/12

      0
  • avatar
    Zaskia Anggun

    sukaaaa

    09/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru