Beranda/Cold-hearted Girl/
Bab 26 Dua enam
Aku ingin secepatnya berada di sana. Melihat kondisi Stefan. Memastikan bahwa dia baik-baik saja. Akan tetapi, aku tahu aku harus tetap tenang. Bertindak gegabah hanya karena khawatir justru akan membuat semua orang berada dalam bahaya.
Kendaraan yang membawa kami berhenti beberapa meter dari kediaman Pak Jagarsa. Suasana rumah besar nan mewah tersebut tampak normal saja.
"Ada apa? Kenapa kita berhenti di sini?" tanyaku sambil bergegas hendak turun, tetapi Vano segera mencekal tanganku.
"Kita harus merancang rencana lebih dulu. Apa kau lupa bertindak ceroboh akan membuat kita berada dalam bahaya?"
Ucapan Vano membuatku terdiam. Aku memang diajarkan untuk bertindak dengan tenang dan efisien. Tidak ada kesalahan dalam melakukan setiap misi. Bertindak gegabah hanya akan membuat kita berada dalam bahaya.
Aku tahu betul prinsip itu, tetapi saat memikirkan Stefan mungkin berada dalam bahaya, aku tidak bisa lagi berpikir jernih.
"Tenanglah," ucap Vano lagi.
"lagipula bukankah Irana ada bersama dia? Jika ia benar mencintai Stefan, tidak mungkin ia membiarkan ayahnya melukai pemuda yang dia cintai."
"Aku tidak terlalu yakin. Jika rencana Stefan terkuak, Irana mungkin akan sakit hati. Apa dia akan tetap berpihak pada Stefan?" tanyaku.
Vano hanya diam.
"Kata-katamu ada benarnya," ujar Sophie.
"kita harus menyelamatkan mereka secepatnya."
Aku menoleh dan melihat wajah gadis itu seputih kertas. Ia juga tampak gemetar. Ia pasti benar-benar panik sekarang.
***
Aku berjalan mengendap-endap. Perasaan cemas yang menggelayut tidak bisa kuhilangkan. Baru kali ini aku melakukan sesuatu dengan perasaan tidak tenang. Mungkin karena ini semua terkait dengan keselamatan Stefan. Hal ini justru membuatku cemas bercampur panik.
Kugenggam erat tanganku untuk menenangkan pikiran. Stefan pasti baik-baik saja, ucapku dalam hati berulang kali.
Sekelompok orang berpakaian serba hitam datang dan menghadangku. Mereka menyerangku dengan serempak. Akan tetapi, dengan mudah aku menangani dan mengatasi mereka.
Aku memukul orang terakhir dan ia jatuh tidak sadarkan diri. Tidak lama aku sudah berada di dalam kediaman Pak Jagarsa.
Ruang tamu tempat itu terlihat sepi. Namun beberapa barang pajangan jatuh dan ada pula yang pecah berserakan di lantai. Jejak darah di lantai membuatku semakin cemas.
Pintu di samping terbuka. Vano bergegas masuk bersama Sophie. Gadis itu, meski ketakutan, ia tetap bersikeras ingin menemani kami.
Suara bising dari ruangan sebelah membuat kami bergegas ke sana. Kulihat Irana tergeletak di lantai. Begitu pula Andi yang tengah duduk bersandar di dinding dengan wajah babak-belur.
Pak Jagarsa sedang menodongkan pistol ke arah Stefan. Ketika beliau hendak menarik pelatuk, aku segera berlari dan menendang tangan pria itu. Pistol tersebut jatuh ke lantai dan meletus.
Aku segera menangkap Pak Jagarsa. Pria itu hanya berdiri tertegun. Tatapan matanya yang nanar tampak lurus menatap ke depan. Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat Irana bersimbah darah di pelukan Stefan. Kelihatannya ia yang menerima peluru yang ditujukan sang ayah pada pria yang dicintainya.
***
Ambulans tiba dengan cepat membawa Andi dan Irana bisa ke rumah sakit. Sebenarnya Andi memang baik-baik saja. Ia hanya babak-belur dihajar orang-orang suruhan Pak Jagarsa, tetapi dia ingin berada di rumah sakit agar Sophie bisa merawatnya.
"Dasar tukang cari perhatian!" gerutuku. Sophie yang mendengar itu hanya tersenyum. Setelah menjenguk Andi, aku segera keluar dari kamar. Ia pasti ingin berdua dengan Sophie. Aku tidak ingin mengganggu mereka.
Di luar, aku bertemu dengan Stefan yang baru saja keluar dari kamar rawat Irana.
"Bagaimana dia?" tanyaku.
"Dia baik-baik saja. Kata dokter, Irana cukup beruntung karena peluru itu tidak mengenai bagian yang vital."
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu."
Kami berdua hanya berdiri diam. Di angkasa bintang-bintang tampak bertabur cerah menghias langit berteman purnama. Ini adalah untuk kesekian kali aku berada di tempat ini. Semenjak bertemu Stefan, aku sering berada di rumah sakit, tempat yang tidak begitu kusukai.
Aku terperanjat saat Stefan tiba-tiba meraih tanganku. Pandanganku masih tetap ke depan. Aku takut jika menoleh Stefan akan mendapati bahwa aku tengah salah tingkah. Jemari tangannya menggenggam dan perlahan meremas jemariku. Aku masih mematung meski ada kehangatan yang mengalir di tanganku dari genggaman tersebut.
"Terima kasih telah datang untukku. Meski begitu, aku berharap kamu tidak menempuh bahaya lagi untukku," ucap Stefan lembut.
"Bukankah kamu yang menempuh bahaya? Bahkan berbohong padaku. Untuk apa melakukan semua ini? Apa kamu tidak percaya padaku?" sahutku.
Stefan membalik tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Netra hitam itu tengah menatapku lekat.
"Aku melakukannya karena ingin melindungi wanita yang kucintai. Aku tahu benar tentangmu, kamu tidak akan peduli meski terluka hanya untuk bisa menangkap Pak Jagarsa. Aku tidak mau melihatmu terluka lagi di hadapanku."
Aku diam sejenak mendengar penuturan Stefan.
"Bukankah kamu membenciku? Kamu bahkan bersikap dingin padaku saat kita bertemu sebelumnya."
Stefan sontak menggeleng.
"Aku telah berusaha untuk membencimu. Menganggapmu sama seperti mereka yang telah mencelakai aku dan Vita, tapi aku tidak bisa melakukannya. Semakin aku berusaha, justru aku semakin terus teringat padamu. Aku menyerah untuk membencimu. Jadi kuputuskan untuk mencintaimu saja."
Seulas senyum muncul di bibirnya. Aku ikut tersenyum dan memeluk Stefan erat. Betapa selama ini merindukan sosoknya. Belaian tangannya di rambutku membuat senyum semakin lebar.
Aku kemudian mendorong dia menjauh. Sengaja kupasang wajah cemberut.
"Meski begitu seharusnya kau memberitahuku, bukan malah bertindak sendiri. Dasar bodoh, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?"
"Apa kau akan bersedih jika terjadi sesuatu padaku?"
Aku mencubit lengannya sekuat tenaga. Ia mengaduh kesakitan dan aku tertawa lepas. Lega rasanya melihat dia berada bersamaku.
"Pertanyaan macam apa itu? Mana mungkin aku tidak mencemaskanmu?"
Stefan menangkup wajahku.
"Kalau begitu kau pasti juga mengerti yang kurasakan. Aku selalu mencemaskanmu karena kau adalah gadis yang kucintai."
***
Cuaca hari itu terbilang cukup cerah. Mentari bersinar tidak terlampau terik, tetapi cukup untuk menerangi hariku. Semua kini terasa menyenangkan karena Stefan telah bisa menerimaku.
Aku membeli sekeranjang buah untuk dibawa sewaktu menjenguk Irana. Gadis itu masih berada di rumah sakit. Bagaimanapun aku merasa kasihan padanya, ayahnya kini berada di penjara. Stefan juga nyaris tiap hari menjenguk dan menemaninya. Ia bahkan hampir tidak punya waktu untukku.
"Apa kamu tidak cemburu? Irana pernah sangat menyukaiku lho," goda Stefan suatu ketika.
Tentu saja aku tidak suka dengan kedekatan mereka, tetapi tidak akan kutunjukkan hal tersebut di hadapan pria itu, aku hanya menggeleng sambil tersenyum.
Selesai membeli buah, aku bergegas ke rumah sakit. Langkahku terhenti di depan pintu kamar tempat Irana dirawat. Pintu tersebut hanya terbuka sedikit. Di dalam terdengar Irana sedang memohon pada Stefan.
"Kumohon, Stefan, jangan tinggalkan aku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu," pintanya.
"Tenanglah, Irana. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu menemanimu," jawab Stefan.
"Apa kamu tidak membenciku karena ayahku?"
"Tidak, Irana. Aku tidak akan membencimu hanya karena ayahmu."
"Kalau begitu, jangan pernah tinggalkan aku, Stefan. Cintai aku dan jadikan aku milikmu."Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (44)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bguss
07/02
0seruh sekali
14/12
0sukaaaa
09/06/2025
0Lihat Semua