logo text

Bab 21 Dua satu

Pertanyaan Sophie itu tidak bisa kujawab. Meski aku tahu aku harus melepaskan Stefan, tetapi tetap saja aku mencemaskan dia.
Aku tidak bisa tenang meninggalkan Stefan. Pemuda itu, aku tidak mau dia celaka.
"Kau mau ke mana?" tegur Vano saat melihat aku telah Beria. Mengenakan jaket kulit dan celana panjang hitam. Biasanya aku berpakaian seperti itu saat hendak mengintai sasaran. Aku tahu aku tidak bisa membohongi Vano, karena saat ini tidak ada misi yang ditugaskan padaku. Pak Yan sepertinya menyadari suasana hatiku yang kacau sehingga ia tidak memberiku misi sejak aku kembali ke tempat ini.
"Aku harus ke suatu tempat," jawabku singkat.
"Apa itu rumah Stefan?"
Aku hanya diam. Tidak mungkin untuk menutupi semua dari Vano.
"Dia tidak lagi menginginkanmu, Nila, bahkan ia mungkin juga membencimu. Mengapa kau harus ke sana? Kau bahkan memikirkan cara untuk melindungi dia, sedang dia tidak tahu bahwa kau berbuat ini untuknya."
"Aku tidak peduli. Aku akan tetap melindungi dia!" seruku bersikeras. Vano menggeleng.
"Kenapa kau begitu bersikukuh? Dia tidak peduli padamu, Nila. Dia membencimu!"
"Apa kau akan berhenti, Vano?"
Vano tertegun menatapku. Ia terlihat tidak mengerti dengan maksudku.
"Kau selalu bilang kau mencintaiku, 'kan, Vano? Jika aku membencimu, apa kau tidak akan menolongku saat aku dalam bahaya?"
Aku segera kembali bergegas tanpa menunggu jawaban Vano. Akan tetapi, pemuda itu lalu mengejarku.
"Tunggu aku, La, aku akan ikut denganmu!"
"Kau tidak perlu melakukannya."
"Aku akan tetap ikut denganmu. Aku akan melindungimu, La, meski kau tidak menyukaiku."
***
Rumah Stefan tampak begitu lengang. Seorang pria bertubuh tegap tampak berdiri di halaman mengawasi sekeliling. Rupanya dia adalah pengawal pribadi baru yang ditugaskan Pak Harsono untuk menjaga Stefan.
"Kurasa dia akan baik-baik saja. Penjaga baru itu berjaga seperti elang sedang mengawasi sarang," ucap Vano. Ia merenggangkan tubuh dan memperbaiki posisi duduknya di balik kemudi. Kelihatannya dia sudah lelah. Mungkin seharusnya aku tidak melibatkan dia dalam hal ini.
Netraku kembali mengawasi rumah besar itu. Jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat Stefan melangkah keluar dari dalam. Rambut ikalnya terlihat agak berantakan. Sweater hitamnya tampak sedikit kusut. Wajahnya juga terlihat lesu.
Aku baru pergi beberapa hari, tetapi perasaanku tidak berubah. Melihat dia kembali justru membuatku tidak bisa lagi menahan kerinduan yang membuncah dalam hatiku. Aku ingin bertemu dia, tetapi aku sadar tidak akan bisa. Sekarang yang bisa kulakukan hanya menjaga dia dengan diam-diam seperti sekarang.
Vano menjentikkan jari di depanku.
"Kau menatapnya seperti itu. Apa ingin membuatku cemburu? Jika kau sangat merindukannya, sebaiknya kau pergi menemui dia," ucapnya. Aku menggeleng.
"Aku hanya merasa dia ceroboh. Larut malam seperti ini justru keluar dari rumah. Apa ingin memancing bahaya?"
Aku kemudian kembali menatap Stefan. Wajah persegi yang kurindukan itu berada di sana. Lesung pipi yang telah memikatku sejak pandang pertama membuatku kembali merasa sedih. Pria yang kucintai itu tampak sedang mengobrol dengan si penjaga baru. Tidak lama ia menatap sekeliling dan berhenti pada mobil yang aku dan Vano kendarai.
Napasku tercekat dan bertanya-tanya. Apa mungkin Stefan tahu keberadaanku? Apa dia menyadari bahwa aku berada di sini? Begitu dekat dengannya. Menjaganya karena tidak ingin dia celaka.
Tidak lama tatapan Stefan kembali beralih pada si penjaga baru. Keduanya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Pintu kayu bercat putih itu kembali tertutup setelah keduanya masuk ke dalam. Aku tidak bisa lagi melihat Stefan. Apa pintu itu adalah pertanda bahwa pintu hati Stefan juga telah tertutup untukku?
"Sampai kapan kau akan terus melihat rumah itu? Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas lagi. Sebaiknya kau juga beristirahat," ucap Vano. Aku hanya mengangguk. Sampai akhirnya Vano pulas tertidur, aku tetap saja terjaga dan mengawasi rumah tersebut.

***
Aku membuka mata saat cahaya mentari menyeruak masuk dari jendela. Aku terkejut saat mendapati diriku berada di kamarku. Stefan, bagaimana dia? Aku kemudian bergegas keluar untuk mencari Vano. Akan tetapi, di tengah jalan, aku justru berpapasan dengan Risa.
"Aku ingin bicara denganmu," ucap gadis berkulit kuning langsat tersebut.
"Ada apa? Masih ada hal lain yang harus kulakukan!" Tanpa menunggu jawaban Risa, aku segera bergegas.
"Kau masih ingin pergi? Apa bisa untuk sekali saja kau tidak egois?"
Aku berbalik dan menatap Risa marah. Gadis itu justru balas menatapku dengan tajam.
"Aku tidak mau bertengkar denganmu, tapi jika kau mencari masalah, aku tidak segan untuk menghajarmu!" ancamku.
Risa mendengkus keras.
"Aku tidak takut dengan tantanganmu itu, meski aku tahu tidak mungkin untuk menang darimu, tapi yang kuinginkan saat ini hanya bicara denganmu. Tapi jika kau memang hanya bisa berbicara melalui pertarungan, baiklah aku akan melayanimu."
"Apa kau serius?"
Risa mengangguk mantap.
"Tentu saja aku serius. Aku tahu aku bukan tandinganmu. Kemampuanmu berada jauh di atasku, tapi aku melakukan semua ini demi Vano."
"Apa terjadi sesuatu pada Vano?" tanyaku cemas. Bagaimanapun, meski aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya, Vano tetap temanku. Orang yang tumbuh bersama denganku di tempat ini.
"Aku menyukai Vano," ucap Risa. Aku mengangguk. Hal tersebut tentu aku tahu pasti. Apa Vano telah menyakiti Risa? Tapi selama ini Risa pantang menyerah. Meski Vano selalu menjauh, Risa selalu mendekati.
"Namun aku tahu, orang yang dia sukai bukan aku, tapi kamu. Meski begitu, tetap saja aku ingin melindungi dia. Aku tidak ingin dia terlibat masalah."
Vano terkena masalah? Apa lagi yang diperbuat cowok itu? keluhku bertanya-tanya.
"Aku tahu kalian semalam keluar bersama. Aku berusaha untuk tidak cemburu. Dini hari aku melihat dia menggendongmu pulang. Setelah itu dia kembali pergi. Aku berusaha mencegah, tetapi dia tetap saja ngotot. Dan hingga sekarang dia sama sekali tidak bisa dihubungi. Aku tahu dia terlibat dalam masalahmu."
Mata gadis itu berubah berkaca-kaca.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu padanya. Kumohon padamu, bawa Vano kembali dan jangan libatkan dia lagi."
Aku hanya mengangguk. Vano selalu saja sok tahu dan suka ikut campur. Sekarang sepertinya dia sengaja melibatkan diri dalam masalahku.
Aku segera pergi ke kediaman Stefan. Memeriksa sekeliling tempat itu dan tidak menemukan keberadaan Vano. Ke mana dia pergi? Apa mungkin dia tidak kemari atau dia mendatangi rumah Stefan dan mengancam pria itu?
Aku bergegas menuju kediaman Stefan. Melihat sekilas suasana rumah itu terlihat sepi, sepertinya tidak mungkin Vano berada di sana. Sebaiknya aku segera pergi sebelum Stefan tahu aku berada di depan rumahnya.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Stefan berdiri di ambang pintu. Menatapku dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya dengan suara serak.

Komentar Buku (44)

  • avatar
    AuliaPutri

    bguss

    07/02

      0
  • avatar
    Horas

    seruh sekali

    14/12

      0
  • avatar
    Zaskia Anggun

    sukaaaa

    09/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru