logo text

Bab 18 Delapan belas

Aku diam tanpa bisa menjawab pertanyaan Vano. Pemuda di hadapanku itu menggeleng sambil tersenyum pahit.
"Tidak perlu kaujawab, kurasa aku sudah mendapat jawabannya. Tidak kusangka seorang Snow Queen justru menyerahkan hatinya pada seorang pria lemah sepertinya."
"Kau sudah salah sangka. Kau tidak tahu apa-apa."
"Jangan menyangkal lagi, La. Kau tidak bisa berbohong padaku. Kau bahkan tidak bisa menutupi perasaanmu. Aku langsung tahu begitu melihatnya."
Aku menggeleng. Mungkin Vano benar, aku memang telah jatuh cinta pada Stefan, tetapi sekarang aku malah ketakutan karena perasaan yang terlanjur tumbuh tanpa bisa kucegah.
"Tapi aku tetap tidak mau mengalah, La. Meski kau mencintainya, aku akan tetap berusaha mendapatkanmu," ucap Vano lagi sambil meraih tanganku.
"Aku tidak mau melihat orang yang kucintai terluka, karena itu aku memintamu untuk keluar dari tugas ini. Aku juga tidak ingin melihatmu terus bersama dia."
"Kau tidak mengerti, Vano. Aku tidak bisa keluar. Sekarang beritahu aku tentang kelemahan para musuhku itu."
Vano menghela napas panjang.
"Kelompok Macan Hitam adalah pembunuh bayaran nomor satu. Mereka tidak punya kelemahan. Dalam melakukan aksi, mereka selalu bertindak nekat dan menghabisi siapa pun yang mereka anggap mengganggu misi mereka. Hanya orang dengan uang banyak bisa menyewa mereka. Karena target mereka adalah klienmu, itu artinya ia berurusan dengan orang-orang tidak biasa, Nila."
Aku hanya diam mendengar penuturan Vano.
"Jadi kau mengerti, 'kan, Nila, betapa berbahayanya misimu kali ini? Karena itu aku memintamu untuk berhenti."
"Terima kasih untuk informasi dan saranmu. Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menghadapi mereka. Aku pergi dulu untuk mempersiapkan banyak hal."
"Jadi kau tetap bersikeras? Baiklah, kalau begitu, aku juga akan ikut denganmu. Aku akan melindungimu, La dan membantumu menghadapi mereka."
"Vano, kau tidak perlu ...."
"Aku sudah mengambil keputusan juga, La, dan aku akan melakukannya meski kau tidak setuju."
***
Aku kembali ke rumah sakit bersama Vano yang memaksa untuk ikut denganku. Stefan sudah sadar, tetapi entah mengapa dia terlihat kesal padaku.
"Apa kau sudah membaik? Bagaimana lukamu?" tanyaku.
"Tentu saja dia sudah membaik. Aku menjaganya lebih baik darimu sedang kau malah sibuk dengan acara kencanmu," sahut Irana yang baru saja masuk.
"Jadi kau pergi berkencan?" tanya Stefan yang duduk bersandar di tempat tidur sambil menatapku.
"Tentu saja. Kalau tidak untuk apa cowok ini juga ikut kemari. Dia mengantarnya ke sini setelah kencan. Lihatlah dia benar-benar tidak tahu malu. Lalai dalam tugas, bahkan membawa kekasihnya ke sini!" seru Irana sambil menudingkan jarinya padaku.
Gadis ini sungguh pencemburu. Ia jauh lebih buruk dari Risa. Setidaknya Risa tidak pernah menjelekkan aku di depan Vano atau mungkin Risa sebenarnya sama seperti aku, tidak tahu intrik-intrik dalam dunia percintaan.
"Kau ini siapa, Nona?" celetuk Vano tiba-tiba.
"A-ku ... aku ini teman Stefan dan aku sangat peduli padanya. Aku tahu kalian berencana mempermainkan dia. Kau pasti sengaja membiarkan kekasihmu dekat dengan Stefan."
"Kalau iya, kenapa? Kurasa itu bukan urusanmu. Nila bekerja pada Stefan, sedang kau hanya teman dia, kurasa di sini kau hanya orang luar yang tidak berhak bicara sembarangan apalagi melontarkan tuduhan seperti itu."
Aku tertegun dan menoleh ke arah Vano, tidak menyangka dia akan berdiri membelaku. Pemuda itu hanya tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata padaku.
"Irana, bisakah kau keluar? Aku ingin bicara berdua saja dengan Nila," ucap Stefan. Ia kemudian mengalihkan tatapan pada Vano.
"Baiklah, baiklah," ujar Vano akhirnya setelah beberapa saat.
"asal kau tidak macam-macam karena hanya berdua dengan Nila di kamar ini, aku akan keluar."
Stefan hanya mengangguk.
"Aku tidak mau!" seru Irana tiba-tiba. "Aku akan tetap di sini!"
"Kau harus ikut keluar denganku!" ujar Vano sambil menggamit tangan Irana dan setengah menyeret gadis itu keluar dari kamar.
"Tidak. Tidak!" teriak Irana berulangkali. Berusaha tetap bertahan. Ia bahkan meraih tangan Stefan dan memohon sambil berurai air mata agar tetap di sana. Akan tetapi, Stefan terlihat tidak peduli.
"Jelaskan padaku. Kenapa kau malah pergi bukan menemani aku di rumah sakit? Kenapa justru Irana yang ada di sini? Apa Irana mengusirmu atau kau memang sama sekali tidak peduli padaku?" tanya Stefan bertubi-tubi tidak lama setelah Vano dan Irana keluar.
"Aku ada urusan," jawabku singkat.
"Urusan apa? Begitu penting untuk kamu bertemu dengan kekasihmu itu dan meninggalkan aku bersama Irana?"
"Aku ...."
"Bukankah kau harusnya bertugas untuk menjagaku? Apa kau selalu tidak profesional seperti ini dalam bertugas?"
Apa ini? Kenapa dia begitu marah? Aneh sekali dia.
"Apa maksudmu tidak profesional? Para polisi berjaga di sini dan aku ada urusan penting yang harus kutangani."
Stefan hanya diam menatapku. Ia menutup wajah kemudian mengacak rambutnya sambil menghela napas keras.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, tapi aku ingin kaulah yang berada di sini saat aku bangun. Aku tidak suka mendapati kau pergi dengan pria lain. Semenjak kau berada di sampingku, aku tidak bisa lagi berpikir jernih. Apa aku jatuh cinta padamu?"
Aku diam sejenak kemudian menggeleng.
"Tidak. Kurasa kau salah. Bukankah katamu kau masih mencintai Vita?"
Stefan diam menatapku kemudian melambaikan tangan.
"Mendekatlah," perintahnya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Bisakah kau menurut saja? Mendekat saja, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Toh lukaku masih terasa sakit, mana bisa aku melakukan aneh-aneh? Aku hanya ingin kau membantuku."
Aku yang semula berdiri agak dekat dengan pintu bergegas mendekat.
"Apa ada yang salah? Apa kau baik-baik saja?" tanyaku.
Bukan menjawab pertanyaanku, Stefan justru meraih tanganku dan menarikku dalam pelukan.
"A-pa ... apa yang kaulakukan? Apa kau sedang tidak sehat?" tanyaku gugup. Aku panik jantungku berdetak dengan keras dan Stefan mungkin saja mendengarnya.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak salah dengan perasaanku," jawab Stefan tenang.
"Apa kau sudah mendapat jawaban? Kalau begitu tolong lepaskan aku. Lagipula bukankah kamu bilang lukamu masih sakit?"
Stefan mengurai pelukan, tetapi tetap menahan tanganku, sehingga aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Netra hitam itu lekat menatap mataku. Bibir yang sedikit pucat dan kering tersebut membentuk seuntai senyum.
"Aku tidak salah. Aku memang jatuh cinta padamu dan kau juga. Kau juga jatuh cinta padaku," tandasnya.
"Tidak, kau pasti salah. Kita tidak mungkin saling jatuh cinta!" seruku agak keras sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan Stefan.
Akan tetapi, Stefan justru kembali menarikku dalam dekapan erat. Wajah rupawan yang kukagumi itu kian mendekat.
Tidak. Tidak mungkin seperti ini terjadi padaku! seruku dalam hati.
Apa Stefan akan menciumku?

Komentar Buku (44)

  • avatar
    AuliaPutri

    bguss

    07/02

      0
  • avatar
    Horas

    seruh sekali

    14/12

      0
  • avatar
    Zaskia Anggun

    sukaaaa

    09/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru