logo text

Bab 65 Perjanjian Arman dan Putri

"Putri mencintai Sandi, Mas!" ucap Putri sambil menunduk. Arman terdengar menghela nafas panjang. Mencoba memahami perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
Selama menikah beberapa bulan ini, Arman belum menyentuh Putri sekalipun. Arman paham kalau hatinya dan Putri belum siap.
"Bukankah Mas juga sudah bilang, kalau Mas belum mencintaimu juga? Lalu, kenapa Mas mau bertahan? Karena Mas tidak mau merasakan kegagalan berumah tangga untuk yang ketiga kalinya! Kamu pikir selama ini Mas belum menyentuhmu karena apa, Put?" tanya Arman.
Putri memberanikan diri menatap mata Arman. Di dalam sana, tersirat kesedihan yang amat dalam.
"Karena Mas juga sebenarnya belum siap menjalani kehidupan berumah tangga lagi! Tapi, semuanya sudah terlanjur, Put! Mau tidak mau kita harus bersama-sama membawa kapal kita ketepian!" Mati-matian Arman menahan emosinya agar tidak menjadi-jadi. Sesak di dadanya terasa sangat menyakitk
"Kenapa Mas tidak menceraikan Putri saja?" tanya Putri dengan polosnya.
"Mas, kan, sudah bilang, Put ... Mas gak mau sampai gagal berumah tangga untuk yang ketiga kalinya. Maka dari itu, Put ... ayo kita sama-sama memulai semuanya dari nol! Ayo kita mencoba membuat rumah tangga ini seperti rumah tangga kebanyakan orang!" Mata Arman mulai berkaca-kaca mengingat akan hancurkan kedua rumah tangganya terdahulu.
"Tapi aku juga tidak mau memberikan harapan palsu ke kamu, Mas!" Putri terus saja mencoba untuk mengakhiri pernikahannya itu.
"Aku tak mengharapkan apa-apa dari pernikahan kita, Put. Tapi yang jelas, Mas ingin kita sama-sama menjalani ini semua dengan ikhlas dan mengharap ridho Allah SWT! Mas beri kamu waktu untuk memikirkan semuanya. Jika kamu masih ingin menemui lelaki itu, setidaknya kamu beritahu Mas dulu," kata Arman panjang lebar.
Tak kunjung mendapatkan kesepakatan, Arman memilih untuk keluar dari kamar. Dirinya mencoba menenangkan diri di ruang televisi.
*****
Di dalam kamar, Putri mencoba mencerna setiap ucapan yang diucapkan Arman padanya. Sekarang dirinya bingung dengan statusnya.
"Aku harus gimana?" lirih Putri.
Sandi menjanjikannya akan menikahi Putri kalau Putri mau berpisah dengan Arman. Tapi, mendengar pengakuan Arman tadi, Putri jadi bimbang.
Hampir dua jam Putri merenung dan berpikir tentang semuanya. Karena masih bingung, Putri memilih keluar kamar mendatangi Arman yang sedang menonton televisi.
"Mas ..." lirih Putri memanggil suaminya.
"Hem," jawab Arman tanpa menoleh ke arah Putri.
"Putri boleh bicara?" tanya Putri dengan sedikit malu-malu dan tangannya memilin ujung baju.
"Tanya apa? Tanyakan saja!" Lagi-lagi Arman mendapat tanpa menoleh dan masih asyik menonton acara televisi.
"Kenapa Mas mau mempertahankan rumah tangga ini padahal Mas gak cinta sama Putri?"
Arman mematikan televisi dan menatap mata Putri lekat-lekat. Agak lama Arman menatap Putri, hingga membuat Putri salah tingkah.
"Tadi kamu tidak menyimak Mas bicara apa di kamar?" Arman menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah absurd Putri. Jelas-jelas di kamar tadi Arman sudah menjelaskan semuanya. Tapi, sekarang Putri bertanya lagi padanya.
Putri cengar-cengir tidak jelas. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. Arman memang harus bersabar menghadapi tingkah Putri yang terkadang masih seperti anak ABG.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita buat kesepakatan, Mas?" kata Putri.
"Kesepakatan?" Mata Arman memicing ke atas. Dan kepala Putri mengangguk.
"Iya, Mas, kesepakatan! Semacam perjanjian gitu, Mas," jelas Putri.
"Perjanjian apa, Aisyah Putri Salsabila?" Arman yang gemas dengan Putri sampai-sampai menyebut nama lengkap Putri.
"Mas Arman, kan, tidak mencintai Putri. Dan Putri juga tidak mencintai Mas Arman. Sedangkan Mas Arman tidak mau juga menceraikan Putri, bahkan tidak mau menyentuh Putri juga. Bagaimana kalau kita hidup dengan jalan masing-masing tapi masih tetap dalam ikatan pernikahan ini. Jadi, Mas Arman bebas mau kemanapun dan dengan siapapun juga. Begitu pun dengan Putri. Putri boleh kemana aja dan dengan siapa saja. Gimana?" kata Putri panjang lebar.
Mendengar perkataan Putri, Arman tertawa terbahak-bahak. Menyadari kalau Putri juga bisa bertingkah konyol. Mana ada pernikahan yang seperti itu?!
"Kok malah ketawa, sih, Mas?" kata Putri dengan raut muka yang kesal.
Arman berhenti tertawa dan mengatur nafasnya agar jauh lebih stabil. Sebenarnya, Arman setuju dengan perkataan Putri. Tapi, dia sedikit ragu.
"Tidak bisa begitu, dong! Kalau ada keluargamu yang tahu, bisa-bisa Mas digor*k!" ucap Arman sembari memperagakan leher yang digorok.
"Terus gimana, dong?" Putri menuduk lesu.
Arman memandang istrinya dengan tatapan iba. Dia pun sedang memikirkan solusi yang tepat untuk masalah mereka.
"Bagaimana kalau setiap kamu mau ketemu dengan Sandi itu, Mas yang antar? Dan tak boleh kalian hanya berdua saja. Biar bagaimanapun, kamu itu istriku, jadi tidak mungkin aku membiarkanmu membuat dosa yang akan menjadi tanggunganku nantinya," kata Arman.
"Kok gitu, sih, Mas?! Gak bisa gitu, dong! Mas Arman gak asyik!" Putri melipat kedua tangannya di dada dengan muka cemberut.
Sedangkan Arman malah menikmati pemandangan itu, hingga membuat dirinya tersenyum sendiri. Setelah sekian lama tak bisa tersenyum karena hatinya masih bersedih.
"Ya ... itu terserah kamu! Kalau kamu mau ya ayo! Tapi kalau gak mau ya kita balik aja ke kampung. Beres, kan?" ujar Arman.
Mendengar kata 'kampung', mata Putri mendelik seperti akan keluar dari bola matanya. Putri menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Jangan ... jangan, Mas! Putri belum mau kembali ke kampung lagi. Putri mohon jangan, Mas!" rengek Putri sembari memegang lengan Arman persis seperti anak kecil yang merengek meminta jajan.
"Kalau begitu ... baiklah! Putri terima syarat dari Mas Arman," kata Putri kemudian.
"Nah gitu, dong!" ujar Arman tersenyum.
"Tapi, kewajiban kamu sebagai istri yang mengurus rumah tangga harus tetap dijalankan. Kecuali, urusan ranjang! Oke?" kata Arman lagi.
Putri berpikir sejenak dengan tawaran Arman. Setelah lama berpikir, akhirnya Putri menyetujui syarat Arman itu, daripada dia harus pulang ke kampung.
"Baiklah, Putri setuju!" jawab Putri.
*****
Mulai sejak saat itu, Putri jika akan bertemu dengan Sandi akan menunggu Arman pulang atau libur kerja. Pernah sekali waktu Putri bertemu Sandi tanpa Arman. Tapi, setelah itu Putri merasa bersalah.
"Kamu kenapa, sih, Put? Apa jangan-jangan kamu sudah suka sama suamimu?" tanya Sandi yang kesal karena Putri menolak menemuinya.
"Bukan begitu, Sandi! Tapi, Mas Arman udah baik banget sama aku, sama kamu juga. Gak bisa aku bohongin dia dengan bertemu denganmu dibelakangnya," jelas Putri.
"Kuharap kamu mengerti, ya, San!" sambung Putri lagi. Karena kesal, Sandi menutup teleponnya secara sepihak.
Putri tahu Sandi kesal. Tapi, dia juga menghormati Arman yang sudah mengizinkannya masih menjalin hubungan dengan Sandi.
Sebelum Arman pulang, Putri bergegas memasak untuk makan malam. Biarpun mereka tidak tidur dalam satu kamar, Putri tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Saat sedang asyik memasak, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Putri segera menuju ke depan dan melihat ada Sandi di luar rumah.
Putri bingung antara membukakan pintu atau membiarkannya seperti itu. Karena takut dilihat tetangga, Putri bicara tanpa membukakan pintu untuk Sandi.
"Mas Arman belum pulang, San. Gak enak dilihat tetangga," kata Putri agak kencang di depan pintu masuk.
"Jadi, kamu gak mau keluar, Put?" jawab Sandi.
"Mau gimana lagi, San! Kita sementara memang harus begini dulu, San. Kuharap kamu mengerti," kata Putri.
Putri mencoba menelepon Arman, tapi tak kunjung diangkat. Saat melirik jam dinding, Putri yakin kalau Arman sedang dalam perjalanan pulang.
"Mungkin sebentar lagi Mas Arman pulang, San. Tunggulah!" pinta Putri.
"Aku harus menunggu suamimu itu? Oh tidak, Put! Kalau begitu, lebih baik aku pergi saja!" Sandi mengibaskan kedua tangannya karena kesal.
Tapi, saat Sandi akan pergi, ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah kontrakan Putri. Mobil yang belum pernah Putri lihat sama sekali.
Dan saat orang dalam mobil itu keluar, betapa terkejutnya Putri ketika melihatnya. Secepat kilat Putri membuka pintu dan menghampiri orang yang baru saja keluar dari mobil itu. Siapakah gerangan?
bersambung ....

Komentar Buku (226)

  • avatar
    YusufYusnita

    bagus

    9d

      0
  • avatar
    Masyitah M N

    bagus

    22/01

      0
  • avatar
    Teh Gula Es

    bagus ceritanya

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru