logo text

Bab 47 Flashback Bude Jamilah

Keinginan Bude Jamilah untuk menguasai harta peninggalan adiknya sangatlah besar. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Ada rahasia besar yang hanya Bude Jamilah saja yang tahu.
Bude Jamilah terjerat rentenir, karena sering meminjam uang hanya untuk gaya-gayaan saja. Total pinjaman hampir seratus juta. Teror dari rentenir pun sering kali Bude Jamilah terima.
Sebenarnya, uang dari anaknya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan ada sisa. Tapi ... hanya untuk memenuhi nafs*nya dengan barang-barang mewah, Bude Jamilah rela untuk berhutang.
*****
Hari itu, Bude Jamilah meminta Adi untuk melakukan pekerjaannya lagi. Arini harus segera menyerahkan sertifikat rumah adiknya. Karena, dirinya sudah bosan setiap hari di teror para rentenir yang menagih uang padanya.
Bahkan tujuan lain dari mencari Arini adalah menghindari para rentenir itu. Namun, usaha itu sia-sia, karena mereka bisa melacak Bude Jamilah beserta nomor ponselnya yang baru. Maka dari itu, Bude Jamilah semakin ingin cepat merampas sertifikat itu.
"Ancam Arini dan bawa dia kemari!" Bude Jamilah menelepon Adi yang masih mengintari Arini.
"Siap, Bos!" Adi menutup teleponnya.
Adi mendekat ke arah kos Arini dengan motor. Rencananya, saat nanti Arini keluar dari sana, Adi akan mengikuti dan menghadangnya.
Benar saja, Arini keluar dengan membawa tas besar. Adi bersiap menghidupkan motornya dan bersiap mengikuti Arini.
Saat akan memepet mobil yang Arini naiki, Adi diberhentikan oleh dua anak buah Pak Danu. Tanpa Adi sadari, gerak geriknya sudah diawasi anak buah Pak Danu. Dengan menggunakan motor, anak buah Pak Danu juga mengikuti mobil Arini dan Adi yang naik motor.
"Berhenti! Mau apa kamu?!" teriak salah satu anak buah Pak Danu. Jari tangannya menunjuk ke arah Adi.
Adi yang ketakutan karena tubuh mereka kekar dan besar, langsung memacu motornya kencang. Namun, anak buah Pak Danu juga tak kalah kencang. Sehingga, Adi bisa mereka kejar dan tangkap.
Satu bogem mentah mendarat di wajah Adi. Erangan kesakitan tak dipedulikan oleh anak buah Pak Danu. Tugasnya memang untuk melindungi Arini. Jadi, jika ada yang macam-macam dengan Arini, mereka tak segan untuk menghajarnya.
"Ampun! Ampun!" Adi terus saja memberontak ketika tubuhnya dicekal oleh salah satu dari mereka. Ternyata Adi hanya tampangnya saja yang menakutkan. Tapi, nyalinya ciut.
"Jangan pernah lagi kamu mengganggu perempuan itu! Paham?!" teriak Tono, salah satu dari mereka.
"I—ya, saya mengerti!" jawab Adi dengan menangkupkan kedua tangannya di wajah, agar tidak dihajar lagi.
Adi pulang dengan muka lebam di wajahnya. Rencananya gagal lagi dan pasti dia akan dimarahi oleh Bude Jamilah.
Seringkali, Adi merasa geram saat bosnya itu marah-marah. Kalau sudah marah, uang bayaran yang harusnya dia terima, sering tidak diberikan.
Kring! Kring! Kring!
Baru saja sampai rumah, ponsel Adi berdering. Nama 'Bude Jamilah' tertera dilayar. Sebenarnya Adi malas mengangkatnya. Tapi, kalau tidak diangkat, bayaran Adi tak akan diberikan. Padahal sudah Adi tunggu-tunggu.
Setiap kali Adi meminta bayarannya, Bude Jamilah selalu menundanya dengan alasan pekerjaan Adi belum ada yang beres.
"Halo, Bos!" Adi menjawab telepon sambil mengompres wajahnya yang lebam.
"Gimana? Berhasil bawa Arini?" tanya Bude Jamilah tanpa basa-basi.
"Eh ... itu, anu Bos, belum," jawab Adi terbata.
"Kamu itu gimana, sih?! Masak urus perempuan satu aja gak bisa! Jangan harap aku membayarmu!" Kata-kata pedas dari Bude Jamilah memang kerap kali Adi terima. Namun, baru kali ini dirinya merasa dihina.
Tak menunggu jawaban dari Adi, Bude Jamilah memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Tindakan Bude Jamilah itu, memancing emosi Adi yang sudah menumpuk di hatinya.
Tanpa mempedulikan rasa sakit di wajahnya, Adi menyambar kunci motor yang tergeletak di atas meja. Bergegas dia meluncur ke tempat kos Bude Jamilah.
*****
Setibanya di kos Bude Jamilah, Adi langsung masuk ke dalam kamar bosnya itu. Dilihatnya Bude Jamilah dengan makan makanan enak. Sedangkan bayarannya yang bulan kemarin saja belum diberikan pada Adi.
"Mana bayaranku?!" teriak Adi di dalam kamar. Bude Jamilah tak merespon pertanyaan Adi. Bahkan, Bude Jamilah bersikap seolah-olah Adi tidak ada.
"Hey, perempuan tua! Mana bayaranku?!" Sekali lagi Adi berteriak. Kali ini Bude Jamilah menoleh dan tersenyum sinis.
"Kau bilang apa tadi? Perempuan tua? Berani kamu sama saya!" kata Bude Jamilah tak kalah tinggi suaranya.
"Kerja aja gak beres kok minta bayaran! Jangan mimpi!" sambung Bude Jamilah lagi.
Wajah Adi memerah dan dia keluar dari kamar kos Bude Jamilah menuju motornya. Diambilnya bungkusan plastik yang tergantung di motor dan kembali lagi masuk ke dalam kamar Bude Jamilah.
"Sekali lagi aku minta, mana bayaranku?!" ucap Adi tegas.
"Jangan salahkan aku kalau aku berbuat padamu hey perempuan tua!"
Selesai berkata begitu, Adi langsung melemparkan bungkusan yang diambilnya lagi.
Pyar!
Cairan yang ada di dalam plastik itu mengenai wajah dan juga tubuh Bude Jamilah.
"Aw sakit! Aaaaaa ..." jerit Bude Jamilah.
Adi yang puas dengan melihat Bude Jamilah mengerang kesakitan. Dia pun mengambil uang yang ada di dompet Bude Jamilah dan pergi meninggalkan Bude Jamilah yang semakin kesakitan.
"Rasakan akibatnya main-main denganku!" ucap Adi sebelum pergi.
Tak tahan dengan rasa sakit di wajah dan juga tubuhnya, Bude Jamilah lari keluar kamar untuk meminta pertolongan.
"Tolong! Tolong saya!" teriak Bude Jamilah.
"Dia menyiramkan air keras padaku!" teriak Bude Jamilah lagi. Tangannya menunjuk ke arah Adi yang berjalan mendekati motornya. Ada yang melihat Adi hendak menaiki motornya. Dengan sigap, orang itu berteriak dan membuat Adi ketakutan. Aksi kejar-kejaran terjadi, hingga akhirnya Adi tertangkap dan diserahkan ke polisi.
Wajah dan juga tubuh Bude Jamilah semakin panas dan melepuh. Hingga, Bude Jamilah lari keluar kos dengan tetap berteriak tanpa henti. Sampai akhirnya Bude Jamilah berhenti karena akan tertabrak sebuah mobil.
"Tolong saya!" ucap Bude Jamilah sebelum akhirnya pingsan.
Mengemudi mobil itu keluar dan mendapati Bude Jamilah pingsan dengan wajah dan tubuh melepuh. Karena iba, akhirnya pengemudi itu membawa Bude Jamilah ke rumah sakit.
"Bapak kenal dengan Ibu ini?" tanya pengemudi yang ternyata Rahman pada bapak-bapak yang mengejar Bude Jamilah.
"Dia kos di sana, di tempat saya, Mas! Tolong antarkan ke rumah sakit, ya, Mas! Warga di sini tidak ada yang berani," ujar Pak Sholeh, pemilik kos.
"Baiklah! Bapak ikut?" tanya Rahman.
"Saya ada urusan, Mas! Maaf," jawab Pak Sholeh. Rahman mengangguk dan memasukkan tubuh Bude Jamilah ke dalam mobil taksinya. Jiwa menolong orang yang membutuhkan memang selalu tertanam di hati Rahman.
Sesampainya di rumah sakit, Bude Jamilah ditangani oleh dokter. Luka bakar akibat air keras hampir enam puluh persen mengenai wajah dan juga tubuhnya.
"Pasien tanggung jawab Anda?" tanya Dokter Lukman.
"Bukan, Dok! Tadi saya ketemu Ibu ini di jalan. Dia hampir tertabrak mobil saya. Saat saya lihat, Beliau sudah dalam kondisi wajah dan tubuh yang seperti ini, Dok," jelas Rahman.
"Baiklah kalau begitu! Nanti saya coba tanya ke pasien saja. Terima kasih," ucap Dokter Lukman.
"Sama-sama, Dok. Kalau begitu, saya permisi, Dok!" pamit Rahman. Dokter Lukman mengangguk.
Saat Bude Jamilah dibawa ke ruang perawatan, dia menjerit histeris hingga membuat dokter dan perawat kewalahan. Akhirnya, dokter memutuskan untuk memberi suntikan obat penenang.
Di saat itulah Arini masuk dan melihat kondisi Bude Jamilah. Ada rasa tidak tega padanya. Biarpun Bude Jamilah kerap kali ingin membahayakan nyawanya.
Sikap empati dan simpati Arini muncul saat itu juga. Tanpa berpikir lagi, Arini menyelesaikan administrasi rumah sakit untuk budenya itu. Bahkan, kamar yang dipilih Arini adalah kamar kelas nomor satu.
Arini hanya bisa berdoa, semoga Bude Jamilah segera sembuh dan sadar akan perbuatannya yang tidak baik padanya. Biar bagaimanapun juga, rumah almarhum bapak dan almarhumah emaknya, tidak akan pernah ia jual kepada siapapun. Sekalipun yang meminta adalah anggota keluarga yang sah dari orang tua angkatnya.
"Maafkan Arini, Bude! Tapi, maksud Arini tidak jahat. Arini akan memanfaatkan rumah itu untuk menampung anak yatim piatu. Agar bisa menjadi amal jariyah untuk Bapak dan Emak. Semoga Bude mengerti," batin Arini.
Arini pun meninggalkan Bude Jamilah seorang diri di rumah sakit. Papa kandungnya sudah menunggunya di rumah. Esok hari, Arini janji akan menemui Bude Jamilah lagi.
bersambung ....

Komentar Buku (226)

  • avatar
    YusufYusnita

    bagus

    9d

      0
  • avatar
    Masyitah M N

    bagus

    22/01

      0
  • avatar
    Teh Gula Es

    bagus ceritanya

    03/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru