Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor, Ruby yang baru saja keluar dari gedung Unique Jewelry, terkejut melihat Arkan sudah berdiri menunggunya. "Mas Arkan?" Gumam Ruby dengan mata melotot. Arkan tersenyum sembari melangkah mendekati Ruby, "Hai, By." "Sedang apa Mas di sini?" Tanya Ruby sedikit ketus. "Aku ingin minta tolong sesuatu padamu." Jawab Arkan, wajahnya berubah sendu. Ruby mengernyitkan keningnya, "Minta tolong?" "Iya, By. Aku ingin minta kamu untuk membujuk Mama, karena sejak semalam dia tidak mau makan sama sekali. Aku takut Mama jatuh sakit." "Kenapa harus aku?" "Karena Mama pasti mau mendengarkan mu." Sahut Arkan. "Aku dan beberapa kerabat ku sudah mencoba untuk membujuk Mama, tapi dia tetap tidak mau makan. Jadi tolong bantu aku, By!" Ruby terdiam. Sejujurnya dia merasa kasihan kepada ibunda mantan suaminya itu, tapi dia sendiri merasa berat untuk berurusan lagi dengan Arkan dan juga keluarganya. Namun tak di duga, Arkan menggenggam tangan Ruby dan memandangnya dengan tatapan memohon, "Ini demi Mama, By! Aku mohon!" Ruby sontak menarik tangannya, "Lepaskan, Mas!" "Maaf, By." Ujar Arkan. "Tapi kamu mau, kan? Kali ini saja, tolong bantu aku!" Ruby menghela napas lalu mengangguk dua kali. Dari kejauhan Dinan yang sedang bersama Hanan dan Samara memandangi kedua insan itu dengan rahang mengeras, hatinya merasa cemburu. Hanan yang menyadari kecemburuan Dinan pun meledeknya, "Sepertinya aku mencium bau sesuatu yang terbakar." Dinan tak membalas ledekan Hanan, dia hanya melirik sahabatnya itu. Sedangkan Samara hanya menatap sinis Ruby sambil bergelayut di lengan Dinan. Ruby masuk ke dalam mobil Arkan, kemudian keduanya meninggalkan pelataran parkir gedung Unique Jewelry. Melihat hal itu, Dinan hendak menyusul mereka, tapi Samara menahan lengannya. "Kamu tidak lupa kan ucapan Papamu?" Sindir Samara. Dinan bergeming sembari mengepalkan tangannya dengan kuat demi menahan geram, hatinya benar-benar panas melihat Ruby pergi bersama lelaki lain. Rasanya dia ingin sekali mengejar mereka dan menjauhkan wanita itu dari sang mantan suami, tapi dia tak ingin membuat masalah dengan tindakannya itu. Sementara itu, di perjalanan Ruby hanya diam membisu sembari memandangi keluar jendela, tak sedikitpun dia berniat untuk berbicara dengan Arkan ataupun sekedar meliriknya. Arkan pun mencoba memecah keheningan. "Kamu tidak mau singgah ke tempat lain dulu?" Tanya Arkan. Ruby menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil, "Tidak!" "Aku sungguh tidak menyangka kamu mau membantuku membujuk Mama. Terima kasih, ya." "Sama-sama." Jawab Ruby, masih dengan posisi yang sama. Arkan menghela napas, dia tahu tak mudah untuk meluluhkan hati Ruby yang sudah terlanjur dia sakiti. Arkan pun fokus mengemudi dan tak ingin mengganggu Ruby lagi. *** Begitu tiba di kediaman keluarga Wilian, Ruby langsung menemui Anna di kamarnya, dan benar saja, seorang kerabat Arkan sedang membujuk wanita paruh baya itu untuk makan, tapi dia menolaknya. "Selamat sore, Ma." Sapa Ruby, ada sedikit rasa canggung di hatinya karena kembali lagi ke rumah ini. "Ruby! Kamu datang lagi, Nak?" Pekik Anna tak percaya. "Iya, Ma." "Mama senang kamu masih mau datang ke sini." Ruby tersenyum, lalu melirik sepiring nasi beserta lauk pauknya yang dipegang oleh salah seorang kerabat Arkan. "Mama belum makan?" Anna menggeleng, "Mama tidak berselera untuk makan." Ruby memandang Anna dengan tatapan sendu, "Mama harus makan! Kalau tidak, nanti Mama bisa sakit." "Biar saja Mama sakit, kalau bisa mati sekalian. Agar Mama bisa bertemu Papa." "Mama tidak boleh begitu! Kalau Papa bisa lihat, dia pasti sedih. Mama harus kuat dan ikhlas, Papa sudah tenang di alam sana. Bagaimana pun juga, kita yang masih ada di dunia ini harus tetap melanjutkan hidup dengan baik. Mama masih punya orang-orang di sekitar Mama yang sangat menyayangi Mama. Demi mereka, Mama harus semangat untuk bangkit." Ucap Ruby. Anna dan semua orang yang mendengarnya merasa kagum dan tersentuh dengan kata-kata bijak Ruby, terutama Arkan. Lelaki itu tersenyum sambil menatap Ruby dengan takjub. "Kenapa baru sekarang aku menyadari jika dia wanita yang begitu mengagumkan? Aku menyesal telah melepaskan wanita sebaik dia." Batin Arkan. "Kalau begitu Mama mau makan, tapi kamu yang suap, ya?" Ruby mengangguk dan tersenyum, dia kemudian mengambil piring yang berisi makanan itu lalu menyuapi Anna dengan telaten. Sesekali Ruby bercanda, membuat Anna tertawa. Kesedihan wanita paruh baya itu seketika lenyap berkat Ruby yang menghiburnya. Arkan melamun memandangi Ruby dan Anna, dia merasa semakin menyesal telah menyia-nyiakan mantan istrinya itu, karena dibutakan oleh hawa nafsu dan bujuk rayu Rena, dia sampai melepaskan berlian yang begitu berharga. "Arkan, kenapa berdiri di situ?" Tanya Anna yang melihat sang putra berdiri di ambang pintu, membuat lamunan Arkan buyar seketika. "Eh, tidak apa-apa, Ma. Aku hanya tidak ingin mengganggu saja." Sahut Arkan gugup. "Tidak mengganggu, kok!" Balas Anna. "Kalau begitu mari sini!" Arkan berjalan mendekati mereka lalu duduk di samping Ruby, membuat janda cantik itu risih sendiri. Anna menggenggam tangan Ruby lalu menatapnya lekat, "Mama mohon maafkan Arkan, ya. Mama ingin kalian rujuk lagi." Ruby tercenung lalu menunduk dengan wajah sedih, "Maaf, Ma. Untuk saat ini aku belum bisa. Hati aku masih sakit sekali." Arkan mengembuskan napas berat, dia merasa kecewa karena ucapan Ruby itu, tapi dia berusaha menguasai dirinya dan tak ingin menyela. "Mama mengerti perasaan kamu, Nak. Mama tidak akan memaksamu, tapi Mama berharap suatu saat kalian bisa bersama lagi seperti dulu sebelum Mama pergi menyusul Papa." Ruby mengangkat kepalanya, memandang Anna dengan mata yang berkaca-kaca, "Mama." "Ma, jangan bicara yang aneh-aneh! Sekarang lebih baik Mama istirahat, ya!" Pinta Arkan. Anna pun menurut, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu menarik lengan Ruby, "Temani Mama, ya?" Ruby kembali mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu aku keluar dulu." Pungkas Arkan dan bergegas keluar dari kamar sang ibu lalu menutup pintunya dengan perlahan. Di depan pintu kamar Anna, Arkan berdiri mematung dengan perasaan berkecamuk. "Aku akan wujudkan harapan Mama." Gumam Arkan, kemudian melangkah pergi. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (269)
Sya Salim
ceritanya best
17/04/2022
1
Lovely
bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁
20/01/2022
0
azaro 2septian
wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih
ceritanya best
17/04/2022
1bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁
20/01/2022
0wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih
19/01/2022
0Lihat Semua