Episode 47

Sementara itu di perjalanan, Dinan mengemudi sambil bersiul riang. Dia lega dan senang karena akhirnya Ruby bisa menjauh dari mantan suaminya itu.
"Mas." Tegur Ruby.
"Hemm."
"Terima kasih, ya."
"Terima kasih untuk apa?" Tanya Dinan tanpa memandang Ruby, dia tengah fokus memperhatikan jalanan.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan dan menemani aku." Jawab Ruby.
"Tidak masalah. Aku senang bisa melakukannya."
"Tapi aku merasa tidak enak, karena Mas harus menunggu lama."
"Tidak apa-apa."
Tak berapa lama, mobil Dinan tiba di depan rumah Ruby.
"Sekali lagi terima kasih sudah mengantarkan aku, Mas." Ucap Ruby.
"Sama-sama."
Janda cantik itu buru-buru keluar dari mobil Dinan, dia takut Safira keburu pulang dan memergokinya. Namun apes, Dinan juga malah ikut turun dan menghampirinya.
"Ruby, tunggu!"
Ruby menghentikan langkahnya. "Iya, ada apa, Mas?"
"Besok pagi aku jemput, ya?"
Ruby terdiam, dia merasa tak enak untuk menerima tawaran dari Dinan itu, apalagi dia takut Safira tahu.
"Hemm, tidak usah, Mas! Aku bisa pergi ke kantor sendiri." Tolak Ruby.
"Ayolah, By! Besok aku jemput, ya? Please!" Rengek Dinan dengan wajah memohon.
Ruby semakin merasa tidak enak.
"Baiklah, Mas. Tapi jemput nya jangan ke rumah, aku tunggu di halte itu saja." Ujar Ruby sembari menunjuk halte bus tak jauh dari tempat tinggalnya.
Dinan menautkan kedua alisnya, "Kenapa begitu?"
Ruby menelan ludah sebelum bicara, lalu berdalih, "Hemm, tidak enak dilihat tetangga, Mas. Aku takut jadi gosip."
"Jadi gosip juga tidak apa-apa, aku ikhlas kalau digosipkan dengan kamu." Seloroh Dinan.
"Ish, Mas!"
Dinan tertawa.
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai ketemu besok."
Ruby mengangguk, "Iya, Mas."
Dinan pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Ruby, tanpa keduanya sadari dari kejauhan Safira sedang memperhatikan mereka.
"Kenapa Bos Dinan bisa bersama kakak? Bukankah tadi kata kakak, dia tidak masuk kerja karena sakit?" Safira mencoba menerka-nerka. "Mereka juga terlihat akrab sekali."
"Aku harus tanyakan hal ini kepada kakak." Safira pun mempercepat langkahnya menuju rumah.
Baru saja Ruby melangkah masuk, namun suara Safira sudah mengagetkannya.
"Kakak!"
Ruby sontak berbalik memandang Safira yang berjalan cepat ke arahnya. Hati Ruby mendadak gusar, takut Safira melihat Dinan tadi.
"Fira? Kamu sudah pulang?"
"Kakak kenapa bisa bersama Bos Dinan? Tapi katanya Kakak mau ke rumah Mas Arkan? Terus bukannya Kakak juga bilang Bos Dinan tidak masuk karena sedang sakit? Kakak bohong, ya?" Safira memberondong Ruby dengan pertanyaan bernada menuduh, tanpa menjawab pertanyaan sang kakak terlebih dahulu.
Ruby terkesiap dan tergagap, ketakutannya menjadi nyata, ternyata adiknya itu mengetahui semuanya.
"Fira, dengarkan Kakak dulu."
Safira melipat kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada sembari memandang Ruby dengan tatapan selidik.
"Tadi itu Kakak tidak sengaja bertemu dia di rumah Mas Arkan, dan dia mengantarkan Kakak pulang. Itu saja, kok." Ujar Ruby bohong, dia tentu tak ingin membuat Safira berpikiran macam-macam tentangnya dan juga Dinan.
Safira menautkan alisnya, menatap Ruby dengan curiga. "Benar begitu? Kakak tidak bohong, kan?"
Ruby terdiam sambil menelan ludah, bibirnya serasa gemetar untuk menjawab.
"Ti-tidak, Dek." Jawab Ruby gugup.
"Kenapa Kakak gugup? Kakak bohong, kan? Kakak dan Bos Dinan pasti punya hubungan!" Hardik Safira.
Ruby menggeleng, "Tidak, Dek! Kakak berani bersumpah, kami tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya atasan dan bawahan. Tidak lebih."
Safira bergeming memandang Ruby.
"Kakak mohon percayalah!" Lanjut Ruby.
Safira tak menjawab, dia melangkah masuk, melewati Ruby begitu saja. Sepertinya gadis itu benar-benar kesal.
Ruby menghela napas berat dan ikut berjalan masuk ke dalam rumah.
***
Keesokan paginya, Ruby berjalan dengan gontai, dia tak bersemangat hari ini sebab semalaman tak bisa tidur nyenyak memikirkan sikap Safira yang tidak mau bicara kepadanya. Ruby tak mengerti mengapa sang adik bersikap kekanak-kanakan seperti itu, padahal dia sudah menjelaskan semuanya, tapi Safira tetap marah.
Ruby masuk ke dalam lift, dan tiba-tiba seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Surya juga ikut masuk. Ruby yang mengenalinya, langsung menundukkan kepala dan menyapa ayahanda Dinan itu.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Ruby canggung, sebab hanya ada dia dan Surya di dalam lift.
Namun bukannya menjawab salam dari Ruby, Surya langsung melontarkan kata-kata yang cukup kasar.
"Aku tidak mau tahu ada hubungan apa antara kau dan putraku. Aku hanya ingin tegaskan bahwa Dinan akan segera menikah dengan Samara, dan kau jangan pernah bermimpi untuk bisa masuk ke dalam hidupnya. Karena itu tidak akan pernah terjadi! Aku harap kau sadar siapa dirimu, dan berhenti mendekati putraku!" Ujar Surya sinis.
Ruby sontak mengangkat kepalanya dan terkesiap mendengar kata-kata menohok Surya itu.
"Tapi, Pak ... saya dan Mas Dinan tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya rekan kerja. Saya juga tahu diri bahwa saya tidak pantas untuk dia, jadi anda jangan khawatir!" Balas Ruby dengan bibir bergetar.
"Baguslah kalau kau sadar! Ingat ucapanku, jauhi Dinan atau kau akan dipecat!" Lanjut Surya dengan nada mengancam.
Ruby terdiam menahan kesal dan rasa sakit di hatinya karena ucapan Surya.
Pintu lift pun terbuka dan Surya bergegas keluar meninggalkan Ruby yang masih termangu menatap kepergian lelaki paruh baya itu, tanpa sadar air matanya jatuh menetes, namun buru-buru dia hapus sebelum ada yang melihatnya.
Ruby pun segera keluar dari lift dan berjalan pelan menunju meja kerjanya, sementara Surya masuk ke dalam ruang dewan direksi.
***

Komentar Buku (268)

  • avatar
    Sya Salim

    ceritanya best

    17/04/2022

      1
  • avatar
    Lovely

    bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁

    20/01/2022

      0
  • avatar
    azaro 2septian

    wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih

    19/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru