Episode 41

Ruby mengembuskan napas lega, karena kali ini Dinan tidak memaksanya seperti tadi. Tapi tak disangka, ternyata ....
"Aku tunggu kamu selesai membereskan dapur." Lanjut Dinan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Ruby, membuat wanita itu terkejut setengah mati.
"Ya ampun, Mas!" Pekik Ruby. "Aku kaget!"
Dinan terkekeh geli melihat ekspresi terkejut Ruby, wajahnya semakin merah padam karena malu.
"Kamu lucu kalau kaget!"
Ruby tak menjawab, dia sedang sibuk mengatur hati dan perasaannya karena kembali berdekatan dengan Dinan.
Dinan memperhatikan wajah Ruby dari samping, terlihat titik-titik keringat di dahinya dan perlahan turun mengalir ke lehernya.
"Kamu pasti lelah dan kegerahan, ya?" Tutur Dinan sembari mengusap keringat di dahi Ruby dengan jemarinya.
Ruby lagi-lagi harus menelan ludah dan menghirup udara dalam-dalam untuk menenangkan hatinya, jantungnya serasa mau copot karena perlakuan Dinan. Sedari tadi pria rupawan itu terus saja memberi penyerangan tanpa ampun, membuat Ruby gelagapan mengendalikan perasaannya sendiri. Sekuat tenaga dia berusaha menahan diri agar tidak terbawa perasaan.
"Maaf sudah menyusahkan."
"Ti-tidak apa-apa kok, Mas." Jawab Ruby gugup. "Ini memang sudah tugasku."
"Aku akan memberimu bonus nanti."
"Terima kasih, Mas." Ruby menjawab tanpa menoleh ke Dinan yang berdiri di sampingnya.
Bahkan setelah selesai membereskan dapur pun, dia masih tidak mau memandang Dinan yang terus menatapnya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Cckk, siapa, sih?" Gerutu Dinan kesal karena ada yang mengganggu waktunya bersama Ruby.
"Mas makan saja! Biar aku yang membukakan pintu." Ucap Ruby, dia sengaja ingin menghindari tatapan Dinan.
Ruby membuka pintu, dan terkesiap saat melihat seorang gadis cantik dan seksi berdiri di depan apartemen Dinan.
Wanita itu memperhatikan Ruby yang masih memakai celemek dari bawah sampai atas.
"Siapa yang datang, By?" Tanya Dinan yang tiba-tiba muncul, dan terkejut saat melihat tamunya. "Samara?"
"Dinan! Aku kangen banget dengan kamu!" Tanpa basa-basi, wanita bernama Samara itu langsung berlari dan berhambur memeluk Dinan.
Ruby terkejut melihat gadis cantik dan seksi itu memeluk Bosnya, dia sontak memalingkan wajah demi menghindari pemandangan tak mengenakkan itu. Entah mengapa hatinya merasa tidak suka.
"Samara! Apa-apaan kau? Lepaskan!" Sungut Dinan seraya melepaskan pelukan Samara, dia takut Ruby berpikir yang tidak-tidak.
Walau kesal, Samara tetap pura-pura bersikap manis. Wanita itu kemudian berbalik menatap Ruby dengan sinis.
"Sedang apa dia di sini?" Tanya Samara.
"Dia mengantarkan berkas yang harus aku tanda tangani." Jawab Dinan. "Kau sendiri mau apa ke sini?"
"Tadinya sih aku mau buat surprise, aku mencari mu ke kantor, tapi kata Hanan kamu tidak masuk. Jadinya aku langsung saja ke sini." Ujar Samara, dia bergelayut manja di lengan Dinan.
Dinan menarik lengannya dengan kasar. "Cckk, lepaskan!"
"Dinan! Kamu kok gitu sih dengan calon istri sendiri?" Protes Samara dengan nada yang manja. "Memangnya kamu tidak kangen dengan aku? "
Ruby tercengang mendengar kata-kata Samara itu, mendadak hatinya merasa malu karena sempat mengagumi calon suami orang.
Dinan tertawa mengejek. "Calon istri?"
"Iya, kan sebentar lagi kita bertunangan lalu menikah. Itu berarti aku ini calon istri kamu." Balas Samara sambil melirik Ruby yang terdiam canggung.
Dinan menghela napas. "Kau terlalu banyak berkhayal."
"Dinan! Aku serius!" Rengek Samara.
Ruby merasa serba salah, dia bingung harus tetap di sini atau pergi? Bahkan untuk beranjak dari posisinya sekarang saja dia ragu.
Menyadari Ruby masih terpaku di depan pintu apartemennya, Dinan pun berjalan menghampiri Ruby dan menarik lengan janda cantik itu.
"Kamu sudah selesai membereskan dapur, kan? Sekarang temani aku makan!"
"Tapi Mas ...."
"Tidak ada tapi-tapian!" Sela Dinan sebelum Ruby sempat melanjutkan kata-katanya.
Dinan menyeret Ruby ke meja makan dan melewati Samara begitu saja, membuat wanita cantik nan seksi itu merasa kesal dan marah. Dia tak bisa menahan emosinya lagi.
"Dinan!"
"Apalagi?" Tanya Dinan malas.
"Kamu kenapa cuekin aku begini, sih?" Protes Samara dengan wajah masam.
"Aku mau makan!" Jawab Dinan ketus.
Ruby bingung melihat sikap Dinan kepada Samara yang sama sekali tidak terlihat harmonis.
"Ya sudah, sini aku yang temani." Samara mendekati meja makan.
"Tidak usah! Sudah ada Ruby yang menemaniku." Tolak Dinan tanpa memandang Samara.
"Kamu lebih memilih ditemani dia dari pada aku?" Sungut Samara seraya menunjuk Ruby yang duduk di hadapan Dinan.
"Iya." Sahut Dinan.
"Kamu bisa tidak sedikit saja menghargai aku? Aku jauh-jauh datang dari Paris, tapi kamu malah bersikap seperti ini! Aku kecewa!" Ucap Samara dengan air mata berlinang.
Dinan tak menggubris ocehan Samara, sementara Ruby semakin merasa tidak enak. Mungkin dia harus meninggalkan kedua insan ini agar tidak merasa seperti orang ketiga di antara mereka.
"Hemm, maaf. Sebaiknya aku pergi dari sini. Permisi." Ujar Ruby tiba-tiba dan hendak beranjak, tapi lagi-lagi Dinan menahannya.
"Kamu tetap di sini!" Pinta Dinan.
"Mas ...." Ruby memandang Dinan dengan tatapan memohon.
"Ini perintah!" Pungkas Dinan tegas, membuat Ruby sontak terdiam sambil menelan ludah.
"Kenapa sih kamu tidak biarkan saja dia pergi?" Samara kembali protes.
"Aku rasa sebaiknya kau saja yang pergi! Karena aku tidak membutuhkan mu di sini." Balas Dinan. "Kau hanya mengganggu."
Ruby tercengang karena Dinan bersikap dan berbicara dengan begitu kasar terhadap Samara.
"Dinan!!! Aku ini calon istrimu!!" Bentak Samara.
Dinan mengembuskan napas panjang. "Sayangnya aku tidak merasa begitu."
"Kamu jahat! Aku akan adukan semua ini ke Papa kamu!" Ancam Samara lalu bergegas pergi meninggalkan apartemen Dinan dengan air mata berderai.
Samara benar-benar kesal dan marah melihat sikap Dinan. Pria itu sangat peduli terhadap Ruby, sementara dirinya diabaikan dan di tolak mentah-mentah. Semua ini membuatnya semakin curiga jika calon tunangannya itu memiliki hubungan dengan asistennya pribadinya.
Sekarang Ruby merasa kasihan dan prihatin kepada Samara, sedangkan Dinan terlihat tidak peduli dan justru bersiap untuk makan.
Namun kali ini dia lebih memilih untuk makan sendiri alih-alih meminta Ruby menyuap dirinya.
Ruby hanya memandangi Bosnya itu, dia masih merasa bingung dengan semua ini. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya pada Dinan, tapi takut dianggap usil dan terlalu mencampuri urusan pribadinya.
Akhirnya semua pertanyaan dan rasa ingin tahu hanya berputar-putar di dalam kepalanya, dia terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Dinan bersikap tidak baik terhadap wanita yang mengaku sebagai calon istrinya itu.
"Kamu jangan berpikir macam-macam! Semua yang dikatakan Samara itu tidak benar!" Ujar Dinan tiba-tiba. Dia seolah tahu apa yang ada dipikiran Ruby.
"Kalau benar juga tidak apa-apa, kok." Gumam Ruby pelan.
"Aku bersumpah, By! Itu tidak benar!"
"Mas tidak perlu meyakinkan aku! Karena aku tidak perduli." Balas Ruby ketus.
Dinan terdiam menatap Ruby yang wajahnya masam, sepertinya dia menyadari sesuatu.
***

Komentar Buku (268)

  • avatar
    Sya Salim

    ceritanya best

    17/04/2022

      1
  • avatar
    Lovely

    bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁

    20/01/2022

      0
  • avatar
    azaro 2septian

    wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih

    19/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru