Ruby sudah selesai membereskan mangkuk bekas makan Dinan, dia pun kembali menghampiri bosnya itu. "Mas, apa sekarang aku sudah bisa kembali ke kantor?" Tanya Ruby. "Kan tadi aku sudah bilang, tugas kamu itu mengurus semua keperluan aku. Buat apa kamu kembali ke kantor kalau aku tidak ada di sana?" "Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan lagi di sini, Mas!" "Siapa bilang? Banyak kok yang bisa kamu lakukan, misalnya membuatkan makan siang atau menyiapkan air hangat buat aku mandi, dan .... memijat ku." Mata Ruby sontak melotot. "Mas!" "Iya, yang terakhir aku hanya bercanda." Ralat Dinan. "Tapi kalau menyiapkan makan siang bisa, kan?" "Bukankah Mas bisa memesan makanan dari aplikasi online?" Wajah Dinan mendadak berubah memelas. "Kamu kan tahu aku sedang tidak enak badan, jadi tidak baik makan makanan dari luar. Soalnya belum tentu higienis." Ruby menghela napas. "Jadi Mas maunya makanan apa?" "Makanan yang kamu masak. Aku kan belum pernah makan masakan kamu." "Tapi aku tidak terlalu mahir memasak, takutnya nanti tidak sesuai dengan seleranya Mas." "Tenang saja! Aku ini pemakan segalanya." Seloroh Dinan. Ruby kembali menghela napas. "Baiklah." Dinan tersenyum. "Jadi Mas mau aku masakin apa?" "Apa saja! Terserah kamu! Apapun yang kamu masak, pasti aku makan." "Kalau begitu kita cek, di kulkasnya Mas ada apa saja." Ujar Ruby dan bergegas kembali ke dapur. Dinan pun ikut beranjak dan membuntuti janda cantik itu. Ruby membuka kulkas Dinan, dia sedikit kaget karena ternyata isi lemari pendingin itu cukup lengkap. Ada daging, ikan, telur, sayuran dan lain-lain. "Isi kulkas Mas lengkap juga, ya?" "Kadang kalau lagi rajin, aku juga masak sendiri." Jawab Dinan yang berdiri di belakang Ruby. Ruby sontak berbalik menatap Dinan. "Jadi Mas juga bisa masak?" "Sedikit." Ruby tersenyum, dan kembali berbalik lalu membongkar bahan-bahan makanan di dalam kulkas milik Dinan itu. "Ok, kita akan masak sop ayam dan ikan asam manis." Kata Ruby. "Ayo, eksekusi!" Seru Dinan penuh semangat. "Aku akan bantu kamu!" Ruby mengerutkan keningnya. "Bukannya Mas sedang tidak enak badan dan tangannya lemas, bagaimana mau bantu aku?" Dinan gelagapan dan mendadak gugup. "Hemm, maksudnya aku bantu doa." "Oh. Ya sudah Mas duduk saja, biar aku masak dulu." Pinta Ruby. "Siap, Nyonya!" Seloroh Dinan. Ruby tertawa sambil geleng-geleng kepala dan mulai mengolah bahan makanan di hadapannya, sementara Dinan menunggu di meja makan sembari terus memandangi wanita itu. Dengan cekatan Ruby membersihkan ikan dan menggorengnya, kemudian bergegas menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sop sayur dan juga asam manis. Aroma masakan Ruby benar-benar menggugah selera. Setelah satu jam berkutat di dapur, Ruby akhirnya selesai memasak. Wanita itu celingukan mencari-cari sesuatu, melihatnya kebingungan, Dinan pun bertanya. "Kamu cari apa?" "Mangkuk buat sop, Mas. Apa tidak ada?" Sahut Ruby sembari membongkar rak peralatan makan. "Ada di rak yang paling atas." Ruby pun mendongak ke atas, karena rak itu cukup tinggi, Ruby sampai harus berjinjit, tapi tetap saja dia tidak bisa menggapai mangkuk yang dia inginkan. Melihat Ruby kesusahan, Dinan pun menghampirinya dan berdiri di belakang Ruby dengan posisi yang sangat rapat. Bahkan saking rapatnya, Ruby bisa merasakan dada bidang Dinan menyentuh punggung belakangnya, membuat janda cantik terkejut dan mendadak canggung. Dia bahkan sampai berulang kali menelan ludah untuk menenangkan diri. Dengan mudahnya Dinan mengambil mangkuk itu lalu memberikannya pada Ruby. "Ini mangkuknya. Lain kali kalau tidak bisa, minta bantuan pada orang lain." Ruby terdiam sembari memegang mangkuk itu, jantungnya berdebar-debar. Sedangkan Dinan sudah bergerak menjauhinya. Dinan kembali ke meja makan, tapi Ruby masih bergeming sebab sedang berusaha menguasai dirinya. Dia merasa bingung, kenapa belakangan ini jantungnya sering berdebar kencang jika berada terlalu dekat dengan Dinan. Dia bisa merasakan sesuatu bergetar di dalam hatinya. Sebelumnya dia tidak begini. "Kamu kenapa?" Tanya Dinan sebab melihat Ruby masih terpaku di tempatnya. Ruby tersentak dan gugup. "Hemm, tidak apa-apa, Mas." Janda cantik itu bergegas membawa mangkuk tadi ke dekat wajan untuk memindahkan masakannya. Sebisa mungkin dia berusaha menutupi kegugupannya di hadapan Dinan, agar terlihat biasa saja. *** Dengan hati-hati Ruby memindahkan sop ayam buatannya ke dalam mangkuk dan ikan asam manisnya di piring saji, lalu menghidangkannya di atas meja makan. "Wah, pasti lezat sekali ini!" Ujar Dinan dengan mata berbinar-binar. "Dari mana Mas tahu kalau belum belum mencobanya." "Dari aromanya saja aku sudah tahu, apalagi yang masak wanita secantik kamu." Ruby tersipu malu. "Mas bisa saja!" Dinan mengulum senyum. "Aku boleh makan sekarang?" Tanya Dinan. "Boleh saja, tapi kan Mas baru saja makan bubur." "Perutku tiba-tiba menjadi lapar lagi melihat semua ini, sepertinya cacing-cacing di dalam perutku tahu mana makanan enak." "Jadi Mas cacingan?" Kelakar Ruby. "Memangnya aku terlihat seperti orang cacingan, ya?" Balas Dinan dengan mata mendelik. Ruby tertawa. "Baiklah, aku ambil nasinya dulu." Ruby mengambilkan nasi untuk Dinan, dia melayani pria itu dengan sangat baik. "Loh, kenapa nasinya cuma satu? Kamu tidak makan?" Protes Dinan. Ruby menggeleng. "Aku belum lapar, Mas." "Jadi aku makan sendiri lagi ini?" "Iya, Mas makan saja. Aku mau cuci wajan dan wadah yang kotor dulu." Ruby hendak beranjak pergi tapi dengan cepat Dinan menarik tangannya, membuat janda cantik itu tanpa sengaja jatuh terduduk di atas pangkuan Dinan. Ruby yang terkejut sontak melotot menatap Dinan, sejenak kedua saling mengunci pandangan dengan jarak yang begitu dekat. "Suap kan lagi!" Bisik Dinan. Ruby kembali tersentak dan buru-buru beranjak dari pangkuan Dinan, dia merasa canggung dan gugup sekali, wajahnya memerah dengan jantung yang bertalu-talu. "Maaf, Mas." Ruby tertunduk sebab malu jika harus memandang Dinan. "Kan kamu tahu tangan aku lemas, jadi suap kan lagi ya?" Rengek Dinan. "Mas makan sendiri saja! Aku masih ada kerjaan." Tolak Ruby dan bergegas pergi. Dia ingin menyelamatkan hatinya yang benar-benar merasa malu, saat ini dia tak sanggup jika harus berhadapan dengan bosnya itu. "Kamu kok pergi, sih?" "Aku mau membereskan dapur dulu, Mas." Sahut Ruby yang sudah mulai mencuci wadah dan wajan kotor. "Ya sudahlah." ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (268)
Sya Salim
ceritanya best
17/04/2022
1
Lovely
bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁
20/01/2022
0
azaro 2septian
wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih
ceritanya best
17/04/2022
1bagus ceritanya...... gak sabar nunggu episode lanjutannya....cepat up dong 😁
20/01/2022
0wah semakin seru nah ceritanya sangat bagus g bnyk ML nya aku mersa puas jd tambah penasaran coba cepet lanjut g sabaran nih
19/01/2022
0Lihat Semua