"Hei, jangan pergi!" Laki-laki yang baru saja berjalan di hadapanku itu sengaja ku hentikan. Aneh memanggilnya "Hei" karena sejak awal memang enggak tahu siapa namanya sih. Salah sendiri dia juga enggak memperkenalkan dirinya padaku. "Kenapa?" "Aku tahu kamu yang seminggu lalu ke rumahku kasih kue bolu. Rumahmu nggak jauh dari sini kan? Sebenarnya kamu siapa sih? Membawaku sampai ke Arkhturian?" Aku tak peduli lagi. Laki-laki berjubah misterius yang dikenal sebagai Mystique Z itu selalu saja muncul dalam hidupku. Lalu hilang sesuka hatinya. Bagaimana aku tahu dia tinggal disini? Itu karena sempat ku amati kemana arahnya melangkah dan ternyata belok ke jalan lain yang enggak jauh dari rumahku. Tapi aku malas mengikutinya lebih jauh. Pasti aku dianggap kepo dan tentu saja dia senang kalau sikapku begitu padanya. "Apa mau-mu? Kamu kan yang sering dipanggil Mystique Z di dimensi keenam?" "Haruskah aku berbicara denganmu ditengah jalan seperti ini?" Memang iya sih, kami berdua beneran ngobrol ditengah jalan. Beberapa kali pengendara motor marah karena jalannya terhalang. Aku tak peduli, jelasnya mau tahu dulu apa jawaban dia. "Bathlazor dan Keldirk sudah menjawab pertanyaanmu tadi. Seharusnya sudah cukup." "Aku ingin mendengar jawabannya darimu. Karena hanya kamulah yang saat ini ada disini dan bisa berada di dimensi keenam." Mystique Z tetap terdiam bahkan dia malah lanjut berjalan. Mataku sangat awas kali ini. Tak akan kubiarkan laki-laki ini hilang dihadapanku. "Hei!" "Baiklah... nah disini saja." Mystique Z minggir ke sisi jalan sebelah kanan, membuka tudungnya selama ini. Kini aku bisa melihat wajah aslinya. Bisa ditebak kalau dari usia lebih tua lima tahun dariku. "Sudah cukup menjawab rasa penasaranmu kan?" "Belum! Aku enggak butuh wajahmu!" "Oh, berarti kamu suka yang muka rata?" "Bukaaaan...! Idiih!" Mulai dia buat emosi deh. Harus tenang ya Karina. Tarik napas...buang napas.... Mari kita selesaikan masalah ini! "Besok malam minggu bukan? Aku akan ke rumahmu. Hari ini masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dirumah." Laki-laki itu pergi lagi sambil menutup tudungnya kembali. Astaga! Dia manusia model apaan sih?! Menyebalkan sekali! Tunggu, kenapa aku lupa lagi menanyakan siapa namanya? Duh, Karina! Bodoh kok dipelihara sih! *** Sementara itu di Arkhturian... "Nguooong...! Nguooong!" Mendengar alarm bahaya dari istana, para penduduk mulai berhamburan panik. Saling tabrak pun tak terelakkan lagi. Pasukan kerajaan Arkhturian mencoba mengatur para warga agar tidak ada yang terluka. Setelah seratus tahun lamanya, baru kali ini terdengar alarm bahaya. "Tolong jangan panik...!" Bathlazor sang Tetua pun terpaksa turun tangan. Beliau memanggilku, Keldirk, Lio dan Elfhalia. Kami harus bersiap untuk menghadapi sebuah bahaya yang tidak pernah diketahui sebelumnya. "Alarm istana adalah benda yang sensitif dengan pergeseran energi dan sihir. Bisa dipastikan bunyinya tidak pernah salah. Persiapkan diri kalian semua!" "Baik, Tetua Bathlazor! "Meredith, apa kau siap? Seharusnya ini tugas bagimu. Sebab aku merasakan ada portal yang terbuka." "Tetua, makhluk apa yang kali ini akan kita hadapi?" "Tidak tahu, Keldirk. Penting kita harus siap membantu para prajurit terbaik di Arkhturian ini." "Pedangku bisa langsung melibas kepala mereka. Wooohooo...!" "Jangan berbangga diri dulu, Lio. Kita benar-benar tidak tahu seperti apa mereka. Elfhalia, jangan gunakan racun dari tanaman berbahaya. Sebab disini banyak warga biasa sedang berlindung didalam rumah." "Tidak, Tetua Bathlazor. Aku hanya menggunakan biji ajaib ini saja." Tanpa perlu menggunakan aba-aba lagi, semuanya sudah siap sedia. Keldirk membawa buku sihirnya. Lio membawa pedang besarnya dan busur kesayangannya. Elfhalia hanya membawa beberapa kantong kulit berisi biji ajaib yang di maksudnya tadi. Sedangkan aku, sudah siap dengan tongkat penjaga portal dimensi milikku. Baru kali ini langit Arkhturian kulihat gelap. Seperti mendung, tapi ini bukan. Kilat menyambar secara aneh justru menyamping bukan kebawah. "Ada portal aneh terbuka, Jendral!" Teriakan seorang prajurit membuatku makin kencang memegang tongkat penjaga portal dimensi. Energiku terkumpul dengan baik di pusat tongkat ini. Sosok makhluk mirip alien yang muncul dari portal dimensi itu. Tidak hanya satu, sekali muncul langsung puluhan. Anehnya mereka tidak mau segera turun. Malah justru menguasai atap rumah di Arkhturian. "Tembakkan panah...!" Kondisi yang tidak memungkinkan untuk menggunakan pelontar batu. Sebab bisa merusak rumah yang ada. Anak panah yang ditembakkan mengenai makhluk alien itu. Tapi mereka tetap bisa berjalan. Bahkan menyerang para prajurit Arkhturian. Mereka gugur demi melindungi kerajaan Arkhturian. "Makhluk apa sih kalian iniii....!" "Kwaaak...!" Tebasan pedang Lio langsung mengenai tiga makhluk berwujud alien itu. Kepala ketiganya terpental dan darah hijau menyembur. Aku menghadapi mereka dengan mantra api. Makhluk aneh itu berlarian tunggang langgang. Sebagian ada yang akhirnya kembali ke portal tempat mereka berasal. Elfhalia melempar biji ajaibnya ke tanah. Dalam sekejap tumbuh menjadi tanaman pemangsa. Makhluk aneh tadi dilahapnya dengan cepat oleh tanaman milik Elfhalia. Sementara Keldirk menggunakan sihir dari buku ajaibnya hanya untuk membuat makhluk tadi kembali ke portalnya. "Makhluk-makhluk itu sudah masuk kembali ke portalnya. Kini giliranmu, Meredith!" "Bantu aku untuk menutupnya, Tetua! Aku belum pernah menutup portal selama ini." "Ikuti gerakan tanganku ini, Meredith." Aku mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh Tetua Bathlazor. Kemudian memusatkan kekuatanku pada tongkat penjaga portal dimensi. Gerakan terakhir memutar tongkat searah jarum jam. Portal asing di langit Arkhturian itu tertutup kembali. Kulihat awan yang gelap kembali disinari oleh cahaya matahari. Langit cerah seperti sediakala. Para penduduk keluar dari rumah bersorak-sorai merayakan kemenangan kali ini. "Ini belum selesai." "Masih ada lagi, Tetua?" "Masih. Tapi kali ini biarkan Meredith dan Keldirk yang melakukannya. Cepat kalian ke hutan! Ada aktifitas portal aneh disana." *** "Kenapa harus denganmu ke hutan ini?" "Aku pun juga tidak tahu, Dit." "Hah...kupikir kamu tahu, Keldirk." "Setidaknya aku sudah makhluk apa yang akan kita hadapi nantinya." "Apa itu?" "Goblin!" "Bagaimana bentuknya?" "Ng...nanti saja aku jelaskan sambil kita berdua minum teh. Hal terpenting sekarang adalah...seraaang...!" Keldirk bersiap dengan buku sihir miliknya. Berulang kali ia mengeluarkan sihir dari bukunya dan cukup membuat makhluk hijau seperti katak tapi bergigi tajam itu mundur. "Mereka terlalu banyak! Aku tidak bisa terus menerus membakar mereka!" "Aku tahu itu!" Pohon bisa ikutan terbakar. Sementara jumlah makhluk bernama Goblin ini terus bertambah. "Kita tidak imbang!" "Apa kelemahan makhluk ini, Keldirk!" "Ya! Aku tahu!" Keldirk mengeluarkan gambar pedang dari buku sihirnya. Pedang itu tidak sebesar milik Lio. Tapi mampu untuk menebas leher salah satu Goblin hingga kepalanya terlepas. Goblin lain yang melihatnya pun mundur perlahan. Saat Keldirk hendak menebaskan pedangnya lagi, makhluk itu berlarian kembali kedalam portal. "Meredith! Lakukan penutupan portal seperti tadi!" Aku melakukan gerakan yang sama untuk menutup portalnya usai semua Goblin kembali ke dalam. Portalnya berhasil tertutup, tapi aku nyaris pingsan. Keldirk menangkap tubuhku yang nyaris terjatuh. "Kamu tidak apa-apa kan?" "Energiku banyak tersedot untuk menutup dua portal." "Sebaiknya kita segera pulang saja." Keldirk membantu menyanggah tubuhku. Kami berdua berjalan keluar dari hutan. Namun kali ini kurasakan ada yang berbeda dengan Keldirk. Tatapan matanya tak seperti biasanya. Kenapa dia nampak lebih tampan dari biasanya? Jantungku rasanya berdegup kencang. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kereenn
03/07/2025
0BAGUSS BNGTT
02/06/2025
0Baguss ceritanya.. Happy end 🥰🫶
12/05/2025
0Lihat Semua