Akhirnya aku bisa kembali lagi ke Arkhturian! Portal dimensi sudah diijinkan oleh Dewan Galaksi untuk dibuka. Berarti sudah aman untuk saat ini. Suasana di Arkhturian kali ini memang berbeda. Kini para Centaurus sudah sah menjadi penduduk tetap Arkhturian. Jasa mereka besar saat perang dengan Bangsa Nish. "Aku rasa monumen untuk memperingati para pejuang yang gugur di medan perang lebih baik diletakkan di pusat kota." "Baiklah, Tuan Putri. Saya akan perintahkan pekerja untuk membangunnya disana." "Gayatri, bolehkah Aku bertanya satu hal?" "Apa itu, Tuan Putri?" "Setelah penobatanku menjadi ratu, apa yang akan kamu lakukan?" "Kembali ke markas besar galaksi. Tugas Saya sudah selesai dan program saya akan dinonaktifkan." Meski Gayatri hanyalah robot humanoid, namun jasanya tetap terasa besar bagiku. Banyak hal yang justru kupelajari darinya. Mungkin setelah ini, Aku akan banyak merindukan kehadiran Gayatri di Istana Arkhturian. "Terima kasih, untuk semua yang telah kamu berikan pada Kerajaan Arkhturian." "Saya hanya menjalankan tugas sesuai program yang ada." Lucu rasanya berterima kasih pada sebuah mesin. Sungguh, bagiku saat ini mesin ataupun makhluk hidup mereka layak untuk mendapatkan ucapan terima kasih. Aku pergi keluar untuk melihat kondisi Arkhturian diluar istana. "Izinkan Saya untuk menjaga anda jika ingin berjalan keluar, Tuan Putri." "Tapi tugas penjagaan disini...." "Bisa digantikan oleh prajurit lainnya." "Baiklah...." Aku pikir kondisi yang sudah damai ini bisa membuatku bebas berjalan-jalan tanpa pengawalan. Yaah...tetap saja harus dikawal. Kulihat para Elf nampak bahagia hari ini. Meski kegiatan mereka normal seperti biasanya, namun ini adalah hari perayaan kemenangan Arkhturian dalam perang. Saat sedang menikmati suasana Kota, Aku berpapasan dengan Bathlazor. "Selamat pagi, Tuan Putri." "Selamat pagi juga. Bathlazor, boleh Aku berbicara sebentar. Tapi kita cari tempat yang cukup sepi." "Tentu saja, Tuan Putri." Sebuah pohon besar yang cukup rindang menjadi tujuan utamaku. Prajurit yang mendampingiku tadi kuminta berdiri agak jauh. Sebab hal yang ingin kubicarakan ini sangat rahasia. "Apakah pilihanku sudah tepat, memilih Mystique Z sebagai Raja Arkhturian?" "Lebih tepatnya sebagai pasangan hidup Anda, Tuan Putri. Kerajaan Arkhturian sejak dulu selalu dipimpin oleh Ratu dan itu bukan tanpa alasan. Kehadiran Raja hanya sebagai syarat untuk mendampingi Ratu dalam sistem pemerintahan di Kerajaan Arkhturian." "Ya, Baiklah sebagai pasangan hidupku. Aku hanya tidak mau salah memilih. Sejauh ini, tidak terlalu banyak mengenal Mystique Z." "Saya juga jarang bertemu dengannya. Hanya beberapa kali terutama jika ada kabar penting dari Dewan Galaksi. Tapi Anda tidak salah memilih, Tuan Putri. Setidaknya saya tahu seperti apa sifat dia yang sesungguhnya." "Tanpa dia dan kerjasama seluruh penduduk Arkhturian, kita tidak akan pernah memenangkan perang itu." "Tapi Anda bukan memilih dia karena berjasa untuk Arkhturian bukan?" "Eh, tentu saja bukan! Itu sama dengan mempermainkan perasaan makhluk lain." "Oh, syukurlah. Karena dia sudah berulang kali mengalami kejadian semacam itu usai melaksanakan tugasnya. Tentu, dia menolaknya karena pernikahan bukan untuk membayar sebuah jasa. Tapi untuk menyatukan dua hati yang berbeda menjadi satu." Aku mengangguk setuju dan segera mengakhiri pembicaraan itu. Tak ada lagi ragu untuk acara pernikahan sekaligus penobatan Ratu besok. Hingga hari itu pun tiba. Gaun putih panjang yang Aku pakai, dibantu oleh Evita dan Elvita. Dua dayang pribadiku itu cekatan dalam membantu merapikan gaunnya. Perias kerajaan telah selesai menorehkan pemulas bibir padaku. Aku puas dengan hasil riasannya. "Anda nampak cantik sekali hari ini, Tuan Putri!" "Iya, nyaris Saya tidak mengenali Anda." "Kalian berdua berlebihan. Ini hanya efek riasannya saja." "Apakah sudah selesai persiapannya? Acaranya segera dimulai." Edward nampak panik saat mengatakan hal itu. Aku bergegas keluar dari kamar. Tapi cukup sulit untuk berjalan dengan gaun sepanjang ini. Evita dan Elvita membantu mengangkat bagian belakang gaunku. Acara sakral itupun dimulai dan kulihat Mystique Z tak lagi memakai jubah miliknya. Ia memakai kemeja putih panjang dengan jubah beludru warna biru laut tua dan pinggirannya dijahit benang emas asli. Mystique Z tersenyum lembut padaku. Mengulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan putih. Kuraih tangannya dan kami berjalan berdua menyusuri karpet merah yang terbentang menuju ke panggung. Seorang Pendeta dari bangsa Elf Cahaya telah menunggu kami. "Salam, bolehkah saya tahu nama asli anda Panglima Semesta? Sebab ini untuk pembacaan ikrar pernikahan." Mystique Z hanya membisiki Pendeta itu dan Elf tua itu hanya mengangguk. Baru acara dimulai. Seketika suara siapapun yang ada di dalam gedung istana berubah menjadi sunyi. Pendeta itu membacakan sesuatu dalam bahasa Arkhturian dengan kitab tebalnya. Aku tahu hanya sedikit karena yang diucapkannya bukanlah Bahasa Arkhturian yang kukenal. Itu bahasa kuno yang sudah ditinggalkan oleh penduduk Arkhturian. Lantas Pendeta itu memegang tanganku dan Mystique Z. "Anakku, pernikahan adalah suatu hal yang suci. Jangan nodai dengan keburukan kalian. Hari ini, Pangeran Zeno Zarafa El Sava anak dari Raja Zerafano telah sah menjadi pasangan dari Putri Patricia Dane anak dari Raja Patrick Dane." Pendeta itu menyatukan tangan kami berdua. Kupegang erat tangan Mystique Z yang kini berhadapan denganku. Kini ia tak lagi menutupi wajahnya dengan tudung kepala. Nampak jelas wajah aslinya yang seperti manusia tapi hidungnya lebih besar. Kulitnya hampir sama dengan bangsa Elf tapi lebih kasar dengan alis tegas berwarna hitam. "Bolehkah sekarang aku memanggilmu dengan sebutan Sayang?" "Tentu saja boleh." "Sayang, mendekatlah lagi." Aku maju selangkah dan dia mencium keningku. Suara "Aah..." membahana di dalam gedung. Lantas Gayatri maju untuk memulai acara penobatannya. "Penduduk Arkhturian, yang Aku cintai! Kini Tuan Putri Patricia Dane telah sah menikah. Sesuai dengan peraturan Kerajaan Arkhturian, jika seorang putri kerajaan telah menikah ia menjadi Ratu berikutnya. Maka dengan ini, Aku menobatkan Tuan Putri Patricia Dane menjadi Ratu Arkhturian berikutnya." Gayatri mengangkat mahkota di kepalanya dan meletakkan diatas kepalaku. Seorang pelayan datang membawa mahkota lain diatas bantal merah kecil. "Pangeran Zeno Zerafa El Sava, kini Anda telah sah menjadi Raja Arkhturian berikutnya. Sebagai pendamping dari Ratu Arkhturian." Gayatri mengangkat mahkota raja dan meletakkan diatas kepala Mystique Z. Eh, lebih baik sekarang Aku menyebutnya sebagai suamiku saja. "Dengan ini, tugasku sebagai Ratu Arkhturian telah selesai. Sambutlah Ratu dan Raja Arkhturian yang Baru." "Salam dari kami untuk Ratu dan Raja Arkhturian." Salam yang diucapkan oleh seluruh penduduk Arkhturian di hari istimewa ini. Terasa menggema di ruangan dan dalam dadaku. Gayatri kembali berbicara namun kini lebih lantang. "Semuanya...! Ikuti kata-kataku! Hidup Yang Mulia Ratu Patricia Dane!" "Hidup Yang Mulia Ratu Patricia Dane!" "Hidup Yang Mulia Raja Zeno Zerafa El Zava!" "Hidup Yang Mulia Raja Zeno Zerafa El Zava!" Sorak sorai para penduduk Arkhturian luar biasa hari ini. Tapi Aku masih mencari kemana mereka yang selama ini telah menemaniku saat pertama kali berada di Arkhturian. Cukup sulit mencari diantara sekian ribu Elf penduduk Arkhturian. "Suamiku, Aku masih mencari Elfhalia, Lio dan Keldirk. Kemana mereka ya?" "Mereka nantinya akan datang setelah kerumunan penduduk Arkhturian ini tak ada lagi, Sayang." Cukup lama Aku harus menunggu para penduduk pulang dan melihat Elfhalia juga Lio datang. "Selamat atas pernikahannya, Yang Mulia Ratu Patricia Dane!" Elfhalia memelukku seolah tak ada batas bahwa Aku adalah Ratu dan dia hanya Elf biasa. Lio pun memberi selamat juga pada suamiku. Namun ia hanya berani memberi salam sambil tersenyum padaku. "Sebenarnya, Aku mendapat pesan dari Dewan Galaksi, bahwa hari ini harus berpatroli lagi. Kapal Induk juga tidak jauh dari sini kan, Lio?" "Hah?! Berpatroli di hari pernikahan kita, Apa tidak ada hari libur?" "Oh, ayolah Panglima! Aku bisa menggantikan Anda untuk beberapa hari. Nikmatilah suasana di Arkhturian bersama Yang Mulia Ratu." "Zuuoong...!" Suara Kapal Induk yang tepat lewat diatas Istana Arkhturian. Sebuah tangga yang terbuat dari jalinan tali diturunkan dan Lio bergegas mengejarnya serta melompat untuk bisa meraihnya. Lantas ia melambaikan tangan pada kami semua. "Aku tidak melihat Keldirk hari ini. Kemana dia ya?" "Saya juga tidak tahu, Yang Mulia Ratu. Mungkin dia sibuk atau ada hal lainnya. Oh maaf saya harus pulang ke rumah. Ada yang harus saya kerjakan." Rasanya aneh di hari yang sangat penting bagi seluruh penduduk Arkhturian, Keldirk justru menghilang. Saat kucoba menyisir halaman istana, nampak sosok Elf yang kukenal mendekatiku. Sebuah boquet bunga dibawanya tanpa ragu sambil memberikan salam padaku dan suamiku. "Keldirk...." "Saya senang akhirnya Anda menikah dengan Panglima Semesta. Yang Mulia Raja, Anda memang beruntung bisa mendapatkan Yang Mulia Ratu Patricia Dane." Kulihat Keldirk berusaha tersenyum, Namun Aku sadar dibalik itu hatinya sedih. Melihat Elf yang selama ini selalu ada di rumahnya, berdebat hingga bertengkar sekarang sudah bersanding dengan makhluk dari planet lain. Menjadi Raja juga Ratu di kerajaan tempat dia berdiri sekarang. "Aku memang tidak pantas untuk Yang Mulia Ratu. Semoga Yang Mulia Ratu berbahagia selalu." Masih juga Aku terdiam sambil menerima boquet bunga dari Keldirk. Ia segera membalikkan badan dan berjalan pelan. Suamiku maju selangkah dariku. "Seperti itu sikap seorang laki-laki sejati, Keldirk?" Langkah Keldirk terhenti seketika. Ia membalikkan badannya pelan. Baru keduanya saling berjalan mendekat dan berhadapan. Aku takut jika terjadi sesuatu hal dan segera menyusul suamiku. "Yang Mulia Raja, Anda memang pantas dan beruntung bisa menikah dengan Yang Mulia Ratu Patricia Dane. Berbeda denganku, Elf kutu buku yang kurang pergaulan. Tetapi jika boleh, ijinkan Aku untuk memiliki Meredith saja." "Meredith ataupun Patricia Dane adalah SATU dan bukanlah sosok yang terpisah. Aku dulu pernah bilang mencintai adalah hak semua makhluk hidup di alam semesta ini. Kau pun boleh mencintai Patricia Dane sebagai Ratumu tetapi tidak bisa memilikinya. Sebab ia adalah istriku sekarang." Keldirk diam dan tertunduk. Kini ia tak mampu lagi menyembunyikan rasa sakit hatinya yang luar biasa. Aku tahu itu! "Keldirk, kau terlalu berfokus pada apa yang selama ini kamu lihat. Sadarkah kau bahwa selama ini ada Elf yang selalu memperhatikanmu?" "Maaf, maksud Yang Mulia Raja apa?" "Tengoklah ke belakang, Keldirk." Keldirk segera menengok ke belakang. Sosok Elf berbalut baju kuning lengan terbuka dengan kulit coklatnya yang eksotis. Separuh poni rambutnya menutupi mata kanannya. Tangan kanannya membawa beberapa tangkai bunga mawar berwarna pink. "June...." "Benar kata Yang Mulia Raja. Selama ini aku selalu berusaha mendapatkan perhatianmu. Tapi kau tidak pernah mau peduli denganku. Selalu kau mengira aku ini gila bahkan memandangku jijik." "Tapi kenapa June?" "Aku kesepian, Ibuku meninggal saat perang dulu. Tak ada satupun keluarga hanya Danteba tetua Elf Hitam yang mengasuhku. Saat melihatmu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa cinta itu muncul padamu meski kamu selalu menolakku." "Sikapmu itu yang buatku...." "Aku tahu, Keldirk! Aku berlebihan! Saat tahu kau ternyata suka dengan siapa yang disebut Meredith itu, aku tidak tahu lagi." Air mata June mulai mengalir. Bunga mawar ditangannya pun terjatuh. "Jadilah kakakku saja jika kau tidak mau menjadi pasanganku. Aku pun sejak dulu ingin punya kakak laki-laki yang selalu bisa melindungiku." Keldirk kini mendekati June. Tiba-tiba dia memeluk Elf Hitam itu. Aku pun jadi ikutan memeluk suamiku. "Maafkan aku yang selama ini tak pernah menyadari akan kehadiranmu itu. Sekarang Aku akan selalu ada di sisimu, June." *** "Saya terima nikah dan kawinnya Karina Wulansari bin Burhanudin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." "Bagaimana? Sah?" "SAH!" Kami berdua mengucap syukur seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Aku dan Zayn akhirnya menikah di dimensi ketiga. Memang setelah bertemu Papa, tidak butuh waktu lama untuk segera merencanakan pernikahan. Papaku tidak ragu untuk menyerahkan anak perempuannya ini pada laki-laki bernama Zayn. "Zayn, kesini sebentar." "Eh, iya Pak atau saya panggil Papa boleh?" "Tentu saja boleh, kamu kan juga anakku sekarang." Papa membisiki sesuatu di telinga Zayn. Ia hanya mengangguk pelan kemudian kembali berada di sampingku. "Papa bilang apa?" "Papa bilang, tolong jaga Karina ya. Papa percaya sama kamu." Aku hanya tersenyum kecil. Hari bahagia ini kami adakan cukup sederhana sekedar Ijab Qobul dan syukuran sederhana. Kami berdua sadar, ada tamu tak kasat mata yang datang di acara pernikahan kami ini. Disini terasa sesak meski hanya ada sedikit orang. Bagi kami bisa merasakan kehadiran mereka, namun bagi orang lain tak merasakan hal itu. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kereenn
03/07/2025
0BAGUSS BNGTT
02/06/2025
0Baguss ceritanya.. Happy end 🥰🫶
12/05/2025
0Lihat Semua