Terkadang Aku bingung dengan semua ini. Saat di Arkhturian makin lama sadar, bahwa Keldirk bukan lagi menganggapku sebagai teman biasa. Sikap anehnya sudah meyakinkanku bahwa dia memang ada rasa yang disebut cinta. Padaku? Yaah...tentu saja! Ini bukan soal Aku terlalu pede. Namun Aku sudah berani meyakinkan hal itu dari gejala yang ada padanya. Dalam dunia nyata, dimensi ketiga yang aku hadapi. Aku lebih sering bertemu dengan sosok Mystique Z yang kemudian kukenal sebagai Zayn. Meski hanya sekedar bertemu di jalan dan saling bertegur sapa. Namun intensitasnya lebih sering. Zayn pun beberapa kali main ke rumah meski hanya sebatas ngobrol. "Tapi...sejujurnya aku bingung." "Bingung kenapa Tuan Putri eh maksudku Karina?" "Bisakah kita yang ada di dimensi ketiga ini jatuh cinta pada makhluk di dimensi keenam. Perbedaan dimensi dan wujud secara fisik tentunya. Yah... bagaimana menjelaskannya?" Zayn nampak berpikir cukup dalam. Kopi hitam yang kusuguhkan padanya tak juga diminumnya. "Ini siapa yang dimaksud Karina?" "Aku malas mau bilang! Takut kalau kamu marah. Otoritasmu di antar dimensi lebih tinggi dibandingkan aku." "Sebenarnya itu bukan masalah otoritasku yang lebih tinggi. Tapi mereka paham, bahwa aku yang mengemban tugas sebagai Panglima Semesta memiliki kemampuan khusus untuk menetralkan kemampuan para musuh." "Baiklah, kembali ke bahasan awal. Apa bisa makhluk dimensi ketiga mencintai makhluk dari dimensi lain?" "Rasa cinta itu sangatlah wajar sebab dilandasi oleh nafsu. Mereka pun memiliki nafsu seperti kita. Tapi yang tidak bisa adalah memiliki makhluk yang dicintainya itu sebagai kekasih." "Itu dia! Tak bisa memiliki." "Lebih baik Karina bercerita saja, sebenarnya ada apa?" Aku pun akhirnya bercerita. Sebenarnya bukan apa-apa malas bercerita. Aku kasihan sama Keldirk nanti jika dia dimarahi atau apapun itu. Sebab sejak awal kan dia bilang hanya menjadikanku sebatas teman dan partner kerjanya. "Itu sudah pelanggaran! Bukan tanpa alasan jelas, kenapa Aku menitipkanmu pada Keldirk? Kami pun juga sudah buat perjanjian bahwa tidak akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan selama kamu masih ada di rumahnya." Tatapan Zayn berubah menjadi tajam. Ia meminum kopinya tapi masih sambil melihatku. Duh, padahal Aku kan hanya bertanya. Kenapa jadi begini? "A-apa alasannya?" "Pertama, agar kamu bisa membaur dengan penduduk Arkhturian. Kedua, supaya Keldirk bisa mengajarkanmu tentang mantra. Ketiga, untuk menyembunyikan identitasmu sebagai seorang Putri Kerajaan Arkhturian." "Tapi tolong... jangan sampaikan ini pada siapapun!" Zayn hanya gusar dihadapanku. Firasatku tak baik soal ini. Rasanya aku sudah bertanya pada orang yang salah! Semoga tidak terjadi apapun nanti di Arkhturian. *** Keldirk tidak nampak seperti biasanya. Iya, dia nampak berbeda hari ini. Aku sampai menelan ludah melihatnya. Apa yang salah denganku hari ini? Baru saja aku muncul disini. "Kenapa kamu begitu sih?" "Brakk!" Gebrakannya pada meja kerjanya yang terbuat dari kayu itu cukup buatku kaget. Ini sebenarnya ada apa? Dia bahkan sejak awal tidak berbicara padaku. "Kau mengatakan sesuatu pada Panglima Semesta, Meredith." "T-tidak! Aku tidak berkata apapun padanya." "Bukan disini, tapi di dimensi ketiga. Jangan mencoba membohongiku!" Uuh...! Apa yang harus kukatakan lagi padanya? Memang iya aku baru saja menanyakan soal rasa cinta. Kalau aku mau mengakui, sejujurnya rasa itu juga ada padaku untuknya. Tapi aku mencoba untuk membatasinya. Aku enggak mau kehidupan di dimensi ketiga tercampur jadi satu dengan kehidupan di dimensi keenam. "Jawab sejujurnya, Meredith!" "A-aku...." "Hei, kau tidak bisa kabur begitu saja! Kembali kesini, Meredith!" Aku memilih lari saja daripada harus melihatnya seperti itu. Jantungku rasanya berdetak tak beraturan. Lebih baik aku bersembunyi dibalik keramaian pasar ini saja. Ah... tapi tongkat ini sepertinya akan mudah untuk dilihat! *** "Sepertinya aman kalau aku berpura-pura saja berjalan disini." Tiba-tiba dihadapanku muncul sosok besar dan tinggi. Dia tersenyum dibalik jenggotnya yang panjang. Topi kain runcing seperti milik seorang penyihir itu diangkatnya sedikit. Hidungnya yang besar menjadi pembeda dengan ras yang ada disini. Aneh, padahal baru ini aku bertemu dengannya tapi sudah tahu namanya. "Paman Merlin!" "Halo, Tuan Putri. Lama tak bertemu ya? Ah, aku lupa kalau kau saat ini menggunakan identitas sebagai Meredith." Hah? Dia tahu siapa aku? Astaga! Dia ini siapa sih? Penyihir rasanya tidak setinggi dia. Aku saja sampai harus menengadahkan kepala agar bisa melihat mukanya. "Paman, aku mau pergi! Daah...!" "Hei, hei, Tuan Putri. Jangan seperti itu. Aku tahu kau sedang berlari dari siapa? Ingatlah! Masalah itu dihadapi. Bukan main kabur begitu saja. Kau harus tegas!" "Meredith!" Astaga! Keldirk sudah berhasil mengenalku. Bahkan Bathlazor pun ada disini. Kenapa jadi kacau begini ya? Badanku rasanya membeku sesaat. Tak tahu lagi harus kabur kemana. Paman Merlin menghalangi langkahku. "Halo, Keldirk. Lama tak bertemu ya! Sudah dewasa sekarang." "Wah, Paman Merlin! Suatu kebetulan kah kita bisa bertemu di Arkhturian?" "Oh, Merlin sahabatku!" "Bathlazor, Aku kesini untuk sekedar belanja di pasar itu." "Kau bohong, sahabatku! Aku tahu kau kemari karena diundang Mystique Z." "Panglima Semesta? Ya, Aku memang mau bertemu dengannya juga. Tapi aku memang mau belanja di pasar utama Arkhturian juga. Kebetulan Aku bertemu dengan anak ini." "Aku...bisa... aku akan jelaskan!" "Biar aku nanti yang berbicara saja. Uhm... meski sebenarnya ini masalah anak muda bukankah begitu, Bathlazor." "Salam, Merlin." "Panglima Semesta! Apa kabarmu...!" Merlin memeluk Mystique Z dengan erat. Aku tak bisa membayangkan ia pasti langsung sesak napas dipeluk oleh makhluk sebesar itu. Meski banyak Elf dan makhluk lain berlalu lalang di sekitaran kami, suasana tetap tegang. Kenapa tidak di dalam ruangan saja ya! Perutku rasanya mules menghadapi ini semua. Masalah yang menurutku seharusnya kecil, tapi menjadi besar. "Biar Mystique Z yang menceritakan dahulu duduk permasalahannya." Mystique Z menceritakan semua termasuk soal perjanjian yang tidak kuketahui. Keldirk hanya diam, namun menatap tajam. Paman Merlin mengangguk paham dan Bathlazor hanya diam sambil sesekali melihat ke arahku juga Keldirk. "Ya, memang ini sudah pelanggaran. Tetapi kurasa ini bukan soal kriminal. Aku...." "Maaf Saya menyela. Bolehkah saya mengambil alih pembicaraan disini?" Semuanya menatapku, namun ku tak peduli. Aku sudah mantap untuk mengatakan hal ini. Benar kata Paman Merlin, aku harus tegas! "Sejujurnya aku tidak tahu soal perjanjian itu. Aku hanya tahu tinggal di rumah Keldirk dan belajar banyak hal." "Tentu saja kamu tidak tahu. Perjanjian ini dibuat tanpa melibatkanmu." "Tolong diam dulu, Mystique Z. Maaf kalau sikapku ini tidak sopan bagi seorang Panglima Semesta." "Baiklah Meredith, lanjutkan." "Terima kasih, Tetua. Benar itu adalah sebuah pelanggaran dan ini sudah kita bicarakan di Dimensi Ketiga, Mystique Z. Bukankah hal semacam ini sudah kusampaikan tak perlu diulas lebih panjang. Cukup tegur Keldirk saja bukan?" "Ya, itu yang sudah kulakukan. Tapi...." "Ini menarik! Biarkan Meredith mengutarakan pendapatnya Panglima Semesta." "Tapi yang kudapatkan pagi ini adalah Keldirk marah luar biasa padaku. Aku tahu, tak ada satu makhluk pun yang bisa menolak kehadiran cinta. Hanya saja satu pertanyaanku untuk Mystique Z. Kamu sendiri juga ada rasa cinta itu padaku bukan?" Bathlazor dan Paman Merlin terkejut. Keldirk malah justru nampak berang mendengar perkataanku. Dia sudah mulai menyingsingkan lengan bajunya. Tangan kirinya sudah mengepal keras. "Kau mau apa Keldirk? Tahan Emosimu!" "Maafkan Aku, Tetua." "Tolong dijawab pertanyaanku tadi Mystique Z?" "Ya, benar. Aku memang mencintaimu. Tapi semua makhluk boleh mencintai makhluk lainnya." "Tapi yang kamu tunjukkan padaku itu beda Mystique Z. Jangan pernah mencoba mengelak dari sebuah perasaan yang disebut cinta. Aku tidak sebodoh saat pertama kali bertemu denganmu." "Saya dulu menghargai Anda sebagai Panglima Semesta. Benar ini kesalahan saya, tapi ternyata Anda sendiri juga memiliki perasaan dengan Meredith. ITU JUGA SEBUAH PELANGGARAN!" "Keldirk, tenanglah! Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan emosi." "Dengarkan apa kata Tetuamu, Keldirk. Amarah tak akan pernah menyelesaikan permasalahan dengan baik." "LALU INI APA TETUA BATHLAZOR?! INI TIDAK ADIL BUATKU! KITA TENTUKAN SEKARANG DENGAN PERTARUNGAN. MANA YANG LEBIH BAIK, AKU ATAU ANDA SEBAGAI PANGLIMA SEMESTA!" "Hentikan semuanya...!" Aku menghentakkan tongkatku ke tanah. Seketika waktu berhenti termasuk para Elf di sekitar kami yang mendadak menjadi patung. Hanya kami berlima yang masih bisa bergerak. Mata Bathlazor terbelalak. Paman Merlin bertepuk tangan pelan. "Sekalipun diantara kalian berdua bertarung, Aku tidak akan memilih keduanya." "Keldirk, ini bukan cara lelaki sejati untuk membuktikan sebuah cinta pada seorang perempuan." "Benar kata Mystique Z." "Masih ada yang ingin kamu sampaikan, Meredith?" "Tentu, Paman Merlin. Keldirk, sejak awal kita bertemu. Aku lebih suka menganggapmu sebagai seorang sahabat. Terima kasih, Aku sudah diijinkan menumpang di rumahmu selama ini. Mystique Z, bagaimanapun juga Aku tetap menghormatimu sebagai Panglima Semesta. Maaf Aku tidak bisa memilih siapapun untuk saat ini." Aku menghentakkan tongkat kembali. Arkhturian kembali normal seperti sediakala. Bathlazor hanya mengelus jenggot panjangnya. Paman Merlin terlihat berbisik pada Mystique Z. "Baiklah untuk sementara waktu aku anggap masalah ini telah selesai. Merlin, berkunjunglah ke rumahku dahulu sebelum pergi lagi." "Ah...Baiklah sahabatku! Jangan lupa ajak Panglima Semesta ini juga." "Maaf Bathlazor dan Merlin. Saya harus undur diri. Ada tugas menanti di galaksi lain." "Tidak bisakah meminta waktu libur pada Dewan Galaksi? Aku baru saja bertemu denganmu." Sementara itu, Aku memilih masuk kembali ke dalam rumah Keldirk. Rocky mengikutiku masuk. Ah...rumah ini memang penuh kenangan. Apakah ini saatnya Aku meninggalkan rumah ini saja? Barang apa yang bisa ikut kubawa pergi? "Meredith...." "Ya, ada apa?" "Kamu tetap tinggal disini bukan?" Aku hanya diam dan menunduk. Sebenarnya Aku pun tak tahu harus pergi kemana? Aku berbalik ke arah Keldirk. Namun sesuatu hal yang tak pernah kuduga pun terjadi. "Tolong...jangan pergi dari sini. Rumah ini selalu terbuka untukmu." "Guk...guk...!" Keldirk memelukku erat. Bagaimana dia tahu kalau aku mau pergi dari sini? Ini bukan masalah aku marah pada Keldirk. Namun aku sebagai pendatang di rumahnya merasa tak pantas untuk tetap berada disini. Apalagi sampai menimbulkan keributan seperti tadi. "Lepaskan, Keldirk!" "Tidak! Sebelum kamu berkata tidak akan pergi dari sini!" "Baiklah...aku tidak jadi pergi dari sini. Sudah puas kan?" Keldirk melepaskan pelukannya. Senyum kecil terkembang di wajahnya. "Tapi aku tidak tahu sampai kapan berada disini?" "Kenapa kau berkata begitu?" "Aku tidak tahu! Firasatku mengatakan hal itu." "Terima kasih sudah menganggapku sebagai sahabatmu selama ini. Kurasa ini lebih dari cukup." ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
kereenn
03/07/2025
0BAGUSS BNGTT
02/06/2025
0Baguss ceritanya.. Happy end 🥰🫶
12/05/2025
0Lihat Semua