logo text

16. Sekilas Tentang Mereka (1)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
[Q.S Az-Zumar/ 39: 53]
.
.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
.
Terlintas kembali kilasan ingatan beberapa tahun lalu, ada rasa yang sulit dijelaskan saat kaki ini mulai menapaki perkarangan, "rumah" kembali.
Ada rasa sesak yang menahan langkah Arsila, bulir bening tiba-tiba jatuh tanpa sengaja. Tangannya gemetar, membuat koper ditangannya terjatuh di ikuti tubuhnya yang luluh dihamparan rumput hijau dipekarangan rumah.
Untung saja sekarang El sedang berada di pelukan Soo Kang, jadi anak itu tidak akan terluka karena perubahan suasana hati Arsila yang tiba-tiba.
Dengan perlahan ingatan masa lalu mengajaknya kembali ke sana, ketitik terendah yang memaksanya untuk pergi dari dunia.
"Seandainya Umi dan Abi tidak datang menjemputnya, mungkin sekarang Arsila masih bersama mereka semua."
Dulu, seharusnya dia tidak perlu mengenal Fawwaz, seharusnya ia tidak bersikap manja dan  langsung pulang kerumah. Seharusnya hanya dia saja yang meninggal hari itu juga, supaya kejadian itu tidak akan pernah terjadi, Umi dan Abi tidak akan pernah meninggal jika dirinya tetap dirumah. Azzam akan tetap bersikap manja tanpa perlu bersikap dewasa di usianya yang masih terbilang muda.
Semuanya terjadi karena kesalahannya dan saat itu Arsila berusaha untuk berdiri kembali.
Saat melihat Arsila menangis dengan terguguh, Azzam langsung memeluknya dengan erat. Memberikan bahunya untuk menguatkan adiknya yang kini sedang berantakan. Arsila gadis kecil satu rahim dengannya, gadis yang memilih berlari ke Korea Selatan. Gadis yang banyak menyimpan kata-kata dihadapan manusia, gadis yang terbiasa memendam luka di dadanya sendiri hingga meradang dan membuatnya dulu ingin mengangkhiri semuanya. Gadis kuat yang berjuang untuk meluruskan besi yang kini sedang bengkok karena ke salahan beberapa belas tahun lalu.
"Dek, dengar! Setiap ujian yang diberikan Allah kepada kamu adalah pelajaran agar kamu bisa menjadi kuat. Kamu masih percayakan tentang  hadirnya mentari dari Timur yang akan menyambutmu dengan suka cita,  memayungimu dengan canda tawa. Terus ikhtiar dan berserah, akan ada masanya bahagia datang dengan suka cita."
Tanpa kata-kata, Arsila hanya mempererat pelukannya berusaha mengembalikan kepercayaan tentang arti Mentari dari Timur yang dijelaskan Abinya dulu. Dia harus tetap kuat karena dia tidak sendiri, ada Tuhan yang selalu di sisi dan keluarga yang berusaha membantu untuknya terus berdiri.
Entah ini naluri anak kecil atau bagaimana, El yang saat itu ada di gendongan Soo Kang tak bisa diam. Anak kecil itu terus saja menggapai ke arah Arsila yang masih menangis di pelukan Azzam.
Karena itu Soo Kang berjongkok lalu membiarkan El berjalan pelan ke arah Arsila.
Tak lama El berlari sambil menunjukkan giginya di ikuti oleh Soo Kang.
"Mi ... Mii ..." Mulut kecilnya menciptakan suara yang membuat Arsila melepaskan pelukan Azzam dan melihat asal suara kecil itu.
El sempat berhenti sebentar, saat melihat Arsila merentangkan lebar tangannya.
"Masyaallah, sini sayangnya Umi."
El langsung berlari sambil tersenyum bahagia, kaki kecil yang tak beralaskan apapun itu berlarian di rumput hijau yang sedikit basah oleh hujan.
Di waktu yang bersamaan Tuhan menciptakan rasa sakit sekaligus penawarnya, dengan hadirnya malaikat kecil di hidupnya saat ini membuat dirinya bisa tersenyum kembali.
Sekarang mereka seperti Teletubbies yang sedang berpelukan ditengah Padang rumput, bermula dari Arsila dan El, lalu di ikuti oleh Azzam dan Soo Kang.
"Mari kita belajar saling mengobati, terhadap luka-luka yang di berikan kemarin." Ujar Arsila dalam hati.
*****
Rumah yang Arsila datangi kali ini tak seramai dulu, tak ada ceramah panjang umi saat dirinya telat bangun subuh. Tak ada nasihat-nasihat dari Abi yang membuat jantung Arsila menggebu.
Saat matanya melihat meja makan, Arsila langsung teringat tentang percakapan hangat mereka saat Arsila akan berangkat ke Palembang.
—FlasbackOn—
Arsila berjalan pelan menuruni anak tangga rumahnya. Terlihat Abi, Umi dan juga Azzam sudah menunggu dirinya di meja makan.
Arsila menyapa keluarganya dengan senyum hangatnya, lalu mengambil tempat duduk disamping Umi.
"Makan yang banyak ya, dek. Hari ini kan hari pertama kamu ospek, kamu harus mempunyai stamina yang baik!" Ujar Umi sambil menaruh nasi dan ayam goreng dipiring ku.
"Iya, siap Umi!"
Setelah itu mereka berdo'a sebentar, lalu menyantap makanannya dalam diam. Itulah kebiasaan dalam keluarga kami saat sedang makan, maka tidak akan ada yang memulai pembicaraan. Karena ingin mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti tersedak atau pun nasi yang tidak bisa di habiskan akibat terlalu banyak bicara, jadi Abi membiasakan keluarga kecilnya untuk diam kalau sedang makan.
Kalau kami sudah selesai makannya, maka Abi yang akan memulai pembicaraan, seperti saat ini.
"Udah siap semuakan perlengkapan kamu?" tanya Abi kepada Arsila
"Udah siap semua kok, Abi!"
Abi tersenyum, "pinter, nanti kamu berangkatnya berangkat ke Palembang nya bareng Bang Azzam ya. Maaf Abi dan Umi ngak bisa antar kalian ke Bandara."
"Iya, Abi. Biar abang aja yang antar Arsila, biar dikira kalau Abang itu punya pacar. Wkwk!" Azzam menggoda Abi.
"Kalau bosen ya nikah bang, kan enak kemana-mana ada gandengan. Kayak Abi dan Umi,"
"Ngak nikah juga kali Bi, abang kan belum siap jadi imam bagi anak orang. Ilmu agama abang aja masih kurang, takutnya bukan malah ngajak kesurga malah kesasar ke neraka." Jawab Azzam sambil terkekeh pelan.
Abi menepuk pundak Azzam pelan, "Abi tahu apa yang di inginkan anak seusia kamu, pacaran bukan?" Tanya Abi sambil menatap wajah Azzam, Ia mengangguk membenarkan ucapan Abinya.
"Nak, jika Abi mengizinkan kalian untuk pacaran, berarti Abi sudah membuka pintu untuk setan datang kerumah kita ini. Abi ngak mau kalian terperosok kejalan yang salah seperti itu, Abi ingin kita sekeluarga bisa berjalan bersama sesuai dengan apa yang telah ditentukan.
Dengan pacaran kalian hanya mengundang maksiat, pegang sana, pegang sini, senggol sana senggol sini, terus yang di dapat cuma jagain jodoh orang saja.
Untuk Arsila, jaga aurat dan harga diri kamu dengan baik. Sebab kamu ngak mau kan memberikan suami kamu kelak bahan bekas orang lain? Maksud Abi gini. Misalkan kamu punya permen satu, tapi di dalam permennya banyak semut. Nah, esok harinya kamu berikan permen itu kepada orang lain. Pertanyaan nya orang itu mau ngak makan permen yang kamu kasih tadi?" tanya Abi kepada Arsila
Dengan mantap Arsila menjawab, "Tidak, Abi."

Komentar Buku (74)

  • avatar
    AhmadSyaiful

    semoga bisa membantu ke ekonomian masyarakat dan Amanah.

    15/11

      0
  • avatar
    Kamilah

    Seru ceritanya♥️

    16/07/2025

      0
  • avatar
    PutraRaihan

    bagus banget

    05/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru