"Dan akhirnya Aku belajar untuk terbiasa atas takdir yang terlalu datang tiba-tiba." ——Anonim—— . . . happy reading Saat melihat Arsila tertidur malam tadi, Soo Kang sempat terpaku sebentar. Melihat wanita yang kini sudah berstatus sebagai Istrinya, Arsila sangat mirip dengan mantan istrinya yang dulu. Mulai dari senyumnya, matanya yang membuat siapapun yang melihatnya merasa teduh, cara bicaranya yang lembut, cara berpakaian yang berbeda dari yang lain seolah mereka memiliki stayle mereka sendiri yang tak bisa ditiruh oleh siapapun. Yang berbeda dari mereka hanya setiap kali Soo Kang melihat Arsila hatinya tak berdetak kencang dan rasa ini berbeda saat menatapnya yang telah pergi. Soo Kang bangun dari sofa lalu mengambil dompetnya, tangganya mengambil foto polaroid yang diberikan adiknya saat di bandara tadi kepadanya, foto yang diambil secara paksa oleh Soo Yun semalam sebelum kejadian subuh yang membuat doa Soo Yun terkabulkan. Sebuah kisah yang tak sengaja terbentuk, bahkan ia sendiri tak ingin pernikahan ini terjadi. Sebuah kesalahan yang berbuntut panjang sampai Soo Kang tak bisa lari dari tanggung jawabnya, bahkan Azzam kakaknya Arsila akan membunuh dirinya kalau Soo Kang tak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Soo Kang sempat berpikir, mereka hanya tidur berdua di atas ranjang tanpa melakukan apapun. Bukankah itu hal yang lumrah dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, tapi saat Soo Kang berfikir lebih dalam Soo Kang baru mendapatkan pemahaman. Bahwa wanita muslim yang belum menikah ataupun yang sudah menikah sekalipun berkewajiban untuk menjaga harga diri dan mahkotanya untuk tidak dinikmati oleh sembarang orang, hanya mahramnya saja yang bisa memiliki mereka secara utuh. Soo Kang kembali ke sofa lalu kembali berbaring, lama ia menatap foto mereka berdua yang terlihat sangat kaku bahkan tidak ada yang tersenyum di foto pertama mereka sebelum menikah, jangan lupakan jarak mereka yang cukup jauh mungkin jarak itu bisa terisi oleh dua atau tiga orang lagi di sana. "Takdir yang terlalu tak terduga," ujar Soo Kang menaruh foto itu kembali di dalam dompet lalu menaruhnya di atas meja lampu di sampingnya. **** Setelah perjalan panjang selama tujuh jam lebih menggunakan pesawat, akhirnya mereka sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta dengan selamat. Azzam memperhatikan Arsila yang kini berdiri gelisah, wajahnya kini sedikit pias dan matanya tak bisa diam. "Bagaimana rasanya kembali setelah kabur sekian lama?" Azzam bertanya sambil mendorong dua koper di tangannya. Jika ditanya begitu Arsila tidak dapat menjawab apapun, setidaknya untuk sekarang. Sampai sekarang dirinya sendiri belum menemukan alasan apapun atas kepergiannya dari negara yang telah menerimanya sejak lahir. Ia pergi karena tidak ingin teringat terus akan kejadian kecelakaan beberapa tahun lalu atau dia hanya ingin berlari dari laki-laki yang membuat hatinya hancur. Dipikirannya dulu ia hanya ingin berlari, hingga ia bisa tinggal jauh dari rasa sakit itu sendiri. Dan ternyata rasa sakit itu tetap sama, saat ia sendiri maka kenangan-kenangan itu datang merengsek maju mendesak rasa sakit itu muncul di permukaan kembali. Semakin lama Arsila hidup dilingkaran itu maka semakin ia terbiasa, walaupun sakitnya teramat menyiksa. "Entahlah," ujar Arsila dengan mata yang sedikit memanas. Azzam mengusap kepala Arsila pelan. Azzam tahu, adiknya akan menangis saat melihat matanya yang kini sudah memerah. "Jangan menangis, nanti El kebangun!" Ujar Azzam bercanda yang langsung mendapatkan cubitan pelan dari Arsila di tangan Azzam. Setelah keluar dari bandara kami langsung di sambut oleh Pak Asep, supir keluarga kami. Aku tersenyum hangat saat menatap mata pak Asep yang melihatku sendu, laki-laki tua dihadapannya saat ini seperti pengganti sosok Abi. Laki-laki yang selalu Arsila cari saat ia ingin bercerita, laki-laki yang punya cara tersendiri membuat orang di sekitarnya nyaman. Kami hanya saling tatap, sama-sama tidak menanyakan kabar setelah sekian lama tidak bertemu. Bagi kami pertanyaan seperti itu tidak penting, jika mata sudah melihat jelas bahwa sosok di hadapannya berdiri kokoh maka semuanya berjalan lancar. Selama diperjalanan menuju rumah, Arsila tak henti-hentinya beristighfar saat melihat bangunan yang semakin tinggi dan rapat. Polusi udara yang semakin meningkat, diakibatkan oleh banyaknya mobil dan motor yang berlalu lalang di tengah padatnya ibukota. "Udara di ibukota tidak bersih lagi ya bang," Arsila menarik nafasnya pelan. "Bagaimana mau bersih, semua orang berlomba-lomba membeli kendaraan pribadi mangkanya setiap hari apalagi keluar di jam-jam kerja kamu akan menemukan ibukota yang bergerak lambat seperti semut yang sedang mengantri sembako." "Bisa bicara bahasa Inggris atau Korea? Saya tidak bisa mengerti apa yang sedang kalian bicarakan." Ujar Soo Kang mengeluarkan suara yang ditahannya semenjak di Apartemen milik Arsila. Pasalnya kedua kakak beradik itu selalu bicara menggunakan bahas Indonesia yang sama sekali tidak dimengerti oleh Soo Kang Azzam dan Arsila tertawa, karena mereka baru menyadari kalau ada orang lain yang tidak mengerti pembicaraan mereka. Setelah itu mereka mulai berbicara menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Korea agar Soo Kang bisa mengerti. Sekarang perbicangan bisa dimasuki oleh semua pihak, kecuali pak Asep yang hanya mengerti dua bahasa yaitu bahasa Jawa dan Indonesian. Sekarang El sudah bangun dari tidurnya, saat lampu hijau menyala. Mobil kini melaju pelan, di iringi rintik hujan yang mulai jatuh di bumi. Dulu Arsila sangat senang mencium aroma hujan yang jatuh ke bumi, tapi sekarang rasanya ia tak bisa lagi menikmati aroma itu lagi. Ibukota sudah berubah, begitupun aroma hujan yang sudah tak lagi sama. El mencoba untuk berdiri dari pangkuanku, tangganya yang kecil itu meraba kaca mobil yang kini di penuhi bintik-bintik kecil air hujan. Mata El berbinar saat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dengan hujan. El tertawa sambil meloncat-loncat senang. "Itu namanya hujan El, hujan!" Ujarku mengajari El menyebutkan huruf hujan. El tak menghiraukan ucapan Arsila balita kecil itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri yang sedang terkagum-kagum dengan hujan. "Kalau yang jatuh ke bumi itu namanya hujan, tapi kalau yang jatuh di pipi Umi mu namanya Air mata. Berati Umi mu lagi sedih El!" Kata Azzam dengan pengucapan bahasa Inggris yang fasih. "Tapi ada juga Lo Zam yang menangis karena bahagia, bukan menangis karena sedih saja." Soo Kang kini sedang melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia. Sangat jarang bagi Soo Kang berada di dekat El, karena dia sangat sibuk mengurus perusahaan miliknya. El selalu ia titipkan di daycare atau tidak dirumah Mama, waktu mereka relatif singkat untuk bersama. El dan Soo Kang akan bertemu sore dan paginya El akan di dititipkan kembali. Dan kali ini Soo Kang baru melihat anaknya yang terlihat energik, sampai tak Menti melompat-lompat di pangkuan Arsila. Andai saja Park Ji-Sun mantan istrinya tidak melakukan semua ini, mungkin mereka akan hidup sangat bahagia. Dan kata 'Andai' itu terus menjebaknya, bahwa itu semua tak akan pernah lagi menjadi nyata. Mereka sekarang adalah dua orang yang tak mungkin lagi untuk bersama. "Tapi jarang, kebanyakan menangis adalah ungkapan kesedihan paling dalam. Sedangkan tertawa adalah wujud dari kebagian itu sendiri." Setelah setengah jam lebih membela perjalanan Ibukota yang macet, serta perdebatan panjang masalah hujan dan air mata yang berbuntut panjang akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (74)
AhmadSyaiful
semoga bisa membantu ke ekonomian masyarakat dan Amanah.
semoga bisa membantu ke ekonomian masyarakat dan Amanah.
15/11
0Seru ceritanya♥️
16/07/2025
0bagus banget
05/06/2025
0Lihat Semua