logo text

Bab 36 Sisi Terdalam Hati

PoV Yandi
"Ayo bangun. Makanan sudah siap masih molor.”
“Hmm, jam berapa?” Kukucek mata yang malas membuka.
“Setengah enam.”
Kutarik tangannya yang tengah melipat selimut, sampai badannya jatuh menimpaku.
“Aww, Yan?!”
“Diam bentar aja.” Kudekap erat, mencari getar yang kuharap ada.
“Udah, yuk, kita siap-siap kerja.”
“Bentar lagi, masih kepagian.”
“Ya, kalau kamu belum mandi, belum juga sarapan nanti lambat. Awh, geli!” Najwa menggeliat, makin kurapatkan badan.
Naluri sebagai lelaki muncul. Kasihan juga sudah seminggu jadi pengantin aku belum menyentuhnya. Alasan kami adaptasi dulu. Ya, perasaan harus ada untuk memulai. Aku suka Najwa, sifatnya periang, tapi hati belum sepenuhnya terbuka.
“Yan … aku sudah … mandi.” Dia terlihat sangat gugup.
Gemas melihat, makin kurangkul tubuhnya.
Ehem, beberapa menit kemudian jadilah pagi ini mengganti malam pertama kami yang dingin. Aku tersenyum melihat dia yang masih gugup.
“Sana gih, cepat ke kamar mandi duluan!” Dia mendorongku untuk bangun lebih dulu.
“Duluan aja, aku mau kumpulin napas dulu.”
Cemberut, dia mengalah, turun dari tempat tidur. Tiba-tiba ttapan mata kami ke arah sama, tertuju pada seprei di bekasnya baring. Spontan saja otakku ingin tahu, dan sepertinya Najwa juga begitu.
Mukanya menegang, menatapku takut-takut. Aku pun merasa napas mendadak tersengal.
“Yan … aku sebenarnya pernah jatuh dari sepeda. Jangan kamu kira-“
Cepat kututup mulutnya dengan jari.
“Jangan pikirkan itu, Naj. Sana gih mandi.” Senyumku tercetak. Dipaksa.
Aku memang harus senyum, bukankah kalau aku nikahi Sekar juga akan sama, tapi kenapa kali ini ada juga kecewa menggores sisi hati.
*
Rumah tangga ini harus berjalan bahagia. Sekar bahagia, aku pun juga harus sama.
Menciptakan cinta untuk Najwa, kulakukan sebisa mungkin. Membuang bayang dan nama yang terlanjur melekat di kepala bertahun-tahun.
“Sementara kita bulan madunya di hotel ini.”
“Kamu ada-ada aja. Di rumah kan bisa? Lagian bulan madu harusnya habis merit, ini kan sudah hampir dua bulan. Kemana aja kemaren?”
“Sorry, kapan-kapan kita keluar kota berduaan, ya.”
“Umm-" Bibirnya yang manyun segera kusosor.
“Mmm, udah, Yan." Najwa melepaskan diri.
"Jalan, yuk. Makan malam romantis gitu," katanya sambil lihat view kota di bawah sana.
“Oke. Tunggu di sini.”
“Hei ke mana?”
“Bentar, tunggu aja. Nanti aku jemput.”
Seorang Yandi juga bisa buat kejutan dadakan.
Aku bawa Najwa nginap dua malam di kamar hotel dengan kelas terbaik di kota ini. Pekerjaan membuat kami sulit ambil libur mendadak, anggap saja ini pengganti bulan madu yang tak direncanakan.
Aku bikin surprise dadakan, makan malam romantis di restoran hotel.
*
Makin ke sini aku makin bergantung dengan istri. Dia sosok yang supel dengan semua orang, akrab dengan keluarga juga sekarang sedang ‘isi’, girangnya aku akan jadi seorang bapak.
“Pulang piket aku jemput, miss call aja nanti.”
“Yakin, Yang? Aku bisa nebeng Siwi, Yayang istirahat aja.” Dia nyebut nama kawan kerja yang akrab dengan kami.
“Mulai kali ini gak, Cinta. Aku akan jadi sopir pribadi kamu, antar-jemput, pokoknya.”
“Yakin nih gak capek?”
“Yakin dong.” Kujulurkan tangan untuk dia cium punggungnya.
Aku juga berangkat ke kantor. Bukan ke kampus, menjadi dosen seperti cita-cita dulu, tapi sebuah kantor property. Memang baru dimulai, atas dukungan Papa.
Akhirnya beliau dukung aku berbisnis. Membayangkan dengan jadi pengusaha, bukan pegawai, aku akan cepat menambah tabungan untuk anak turunan.
Kalah dari Calvin ‘kan karena aku kurang kaya. Ingin buktikan saja kalau aku juga bisa sukses!
*
“Makin sayaang sama istriku … makanannya selalu maknyoss!”
“Gombal!”
“Beneran.”
“Bo’ong!”
Kulirik mukanya yang masam.
“Kok, bilang gitu? Nanti selera makanku hilang.” Sedikit tersinggung kalau dikatakan bohong.
Terasa satu tingkat harga diriku jatuh.
“Yang, aku tau kamu belum lupa sama Sekar.”
“Yahh, kok sebut dia, sih? Mau makan nih!” Mukaku mendadak panas, kualihkan dengan menyendok nasi, eh kebanyakan sampai menggunung, sambil meringis kukembalikan lagi separuhnya.
Najwa menatapku malas.
“Aku lihat riwayat panggilan kamu telepon dia lagi, trus chatnya ada di atas, tapi isinya sudah kehapus. Wajar dong aku menduga gitu?”
Bagai didorong jatuh dari perosotan curam, aku kaget bukan main. “Kok kamu tau sandi-“
“Taulah, tanggal lahir Sekar yang kamu catat di buku harian.”
Ya ampun, dia buka buku harianku juga. Padahal lacinya dikunci.
Hawa mulai tegang, aku seperti tertangkap basah selingkuh di belakangnya.
“Maaf ya, aku … cuma mau tau kabarnya.”
“Tumben penasaran. Apa karena aku sudah punya anak, trus melar, sampe kamu mikir yang sudah lewat?”
Kutatap wajahnya.
“Sayang bukan gitu. Aku kangen kamu sama anak, itu nggak bohong, suwer! Kamu lihat kan gimana aku bergantung sama kamu, belain nggak makan di luar demi makan makanan buatanmu.”
“Kok jadi melebar bahasannya? Kamu beneran masih ingat Sekar kan? Jadi, selama ini berusaha nahan, gitu?”
Peluru tajam bernama pertanyaan ditembakkannya bertubi-tubi, aku terpukul mundur!
“Ya, nggak gitu, Cinta. Aku cuma dengar kabar kalau suaminya sakit.”
“Ohh, jadi ngarap jandanya?”
“Ya ampun, kok jadi ngelantur sih?” Kuhadiahi beberapa detik menyecap manis bibirnya, bercampur rasa gurih masam ayam masak saos yang barusan kutelan, Najwa langsung mendorong dadaku menjauh.
“Sudahlah pikir yang baik-baik aja. Anak kan sudah setahun lebih, kita bulan madu lagi, ya?” alihku agar dia pikir sesuatu selain Sekar.
Ini sudah hampir dua tahun berlalu, dan tak kusangka pembicaraan kami seperti awal baru nikah. Membahas Sekar.
“Aku suapin ya?”
“Nggak! Emang bayi,” ketusnya, padahal tadi terlihat mau bilang iya.
Dasar cewek! Suka sekali ingkar dengan perasaan sendiri. Mau, tapi pura-pura malu. Dia cemburu pasti karena terlalu cinta suaminya yang tampan ini.
“Ayolah … anggap aja permintaan maafku.”
Kuambil piring menyuapi Najwa perlahan. Dia membuka mulut juga meski kelihatan ragu. Ada nasi tertinggal di atas bibirnya, kuambil, bukan pakai tangan. Ahay, mukanya langsung memerah, malu.
Untung sekarang di rumah sendiri. Aku memang rencanakan bangun ini untuk anak istri dari awal nikah, baru selesai setelah Najwa melahirkan putriku. Tinggal di rumah sendiri nyaman, nggak ada yang ganggu kalau lagi romantis begini, mumpung si Mbak lagi temani anak di kamar.
“Aku sayang kamu.”
Ditatapnya mataku.
“Cuma sayang?”
“Sayang dan cinta.” Kuraih tangannya, tempelkan ke tengah dadaku. “Berasa nggak, hati meronta bilang cinta kamu.”
“Tau salah makanya ngegombal!”
Yah, masih marah.
Jujur, aku memang menyimpan khawatir pada Sekar. Kabar dari Lintang kalau Calvin sakit cukup mengganggu pikiran. Aku memang masih memantaunya dari sini, walau lewat orang lain.
*
“Kalian mama dengar ribut terus, coba ajak Najwa liburan, Yan. Biar mama yang jaga cucu.”
Kulirik Najwa, dia kalau capek pasti ngungkit lagi tentang Sekar.
“Aku sih maunya gitu, Ma. Nunggu Najwa ada waktu aja.” Kusenggol lengannya.
“Boleh, kalau dapat cuti.”
“Hum, Bu Bidan ini sibuk terus.”
“Kamu juga sibuk.”
“Ya, kalian itu sama sibuk, makanya mama nyaranin libur dulu. Lepaskan dulu kerjaan biar hati lega.”
Mama sedang tadi ke sini mau ketemu cucu, sembari bawa masakan buatannya.
“Ke Surabaya, gimana? Kita mengenang masa kuliah.”
Kalimat itu membuat dua perempuan tercinta melihat mukaku.
“Kenapa?” tanyaku sok polos.
“Kami yang harusnya tanya kenapa, Yan. Memang nggak ada tempat liburan lain selain Surabaya?”
Mama tanya, dan aku langsung menoleh pada Najwa, sepertinya dia juga akan tanyakan hal sama.
“Ada sih, tapi kangen-“ Ugh! Keceplosan. “Kangen suasana waktu kuliah, Ma.”
Sial*n! Lupa!
Sebut Surabaya di rumah ini seakan menyebut nama Sekar di mata mereka. Memangnya Surabaya milik Sekar?
Ah, tapi mereka ada benarnya juga, aku penasaran mau lihat anak kembar Sekar. Kata Lintang makin besar cakepnya makin kelihatan. Kutahu Sekar lebih banyak mengurus usaha yang makin terkenal bran-nya, sementara Calvin masih dirahasiakan Lintang bagaimana kondisinya. Alasan tengah berobat di luar negeri.
Agh! Kalau pikir itu aku memang menggebu mau bertemu.
Biasalah, terkadang laki-laki move on lebih sulit. Itu terjadi padaku, walau tidak sekuat dulu menginginkannya lagi. Sekadar ingin tahu, catat ya, sekadar ingin tahu kondisinya!
“Kita ke Bali atau ke Bogor?” usul Najwa mengembalikan kesadaranku, memandangi dua orang yang menanti jawaban.
“Bali aja!” jawabku sembari meringis lebar.
Dekat dengan Surabaya. Siapa tau ada kesempatan terbang sebentar ke sana? Sebentaaaar saja.
*
Awal tahun, lima bulan setelah pembicaraan itu baru kami bisa liburan berdua.
“Semoga selamat, lancar perjalanan, sampai kembali lagi sehat-sehat, ya,” doa Mama dan Ibu mertua mengiringi honey moon kami yang terhitung sangat terlambat. Untung anak dekat dengan kakek neneknya, kehilangan kami dia tetap tertawa senang melambai tangan.
Hitungan jam kami sudah menikmati angin pantai.
“Ngelihat sunset gini tu hawanya tenang.”
“Betul. Coba rumah kita di sini. Kamu bisa lihat pantai kapanpun mau.”
“Oya? Coba bikin aja, beli tanah di sini.”
Aku tertawa kecil. “Mama bakal ngamuk. Kamu tau kan, anak lelakinya harus dekat dengan rumah orang tua, paling nggak sekota.”
“Iya. Mama udah ingatin terus itu.”
Kuhirup napas dalam-dalam. “Hmm, ajaib, anginnya terasa menerbangkan beban hidup.”
“Beban masalah kantor, atau …?” Kalimat menggantung, dahinya pun mengkerut saat kami berpandangan.
“Ya, kantorlah, Cinta.” Kurangkul bahunya, kami sama-sama menatap sunset dari tepi pantai Jimbaran.
“Aku akan belajar misahkan antara masalah kantor dan rumah,” janjiku.
“Yakin? Kamu terlalu suka janji, Yan. Sayangnya banyak yang nggak ditepatin.”
“Naj?” Kuhadapkan mukanya ke sini.
“Sebenarnya aku capek. Kalau dihitung sudah berapa janjimu terucap, tapi kamu nggak berubah sepenuhnya.”
“Apa … aku begitu?”
“Kamu nggak sadar? Aneh!”
“Nggak, Naj, aku nggak paham maksudmu.”
“Coba ingat, berapa kali bilang cinta, bilang lupa dengan masa lalu, tapi diam-diam follow akun bisnisnya Sekar, kan? Komen juga!”
Aku tiba-tiba merasa ditampar!
“Kamu bilang percaya sama aku, tapi kok masih cari-cari salahku?”
“Bukan cari-cari, Yan, tapi memastikan kalau kamu tepati janji! Kamu pernah bilang ‘segala tentang Sekar sudah hilang, Cinta!’ Apa itu cuma omong kosong? Lalu niat ke Surabaya? Apa kamu memang mau ketemu dia?”
Naj-“
“Katakan aja, Yan, katakan. Aku nggak apa-apa. Heran aja orang sepintar kamu itu dibodohin cinta, sudah tau Sekar bahagia, lalu kamu dengan bodohnya hidup dalam mimpi!”
“Siapa yang hidup dalam mimpi?! Aku serius hidup sama kamu, ingin kita bahagia, ingin kita punya anak banyak! Apanya yang nggak serius?”
Mata Najwa berkaca. Dia mundur memberi jarak.
“Kalau gitu buktikan, nggak usah janji!”
“Aku sudah buktikan.”
“Tapi kamu masih mau ketemu dia kan? Ngaku, Yan!” desisnya tertahan.
Aku terpaku.
“Coba jujur sama diri kamu sendiri, Yan. Akhiri semua, aku capek. Apa sebenarnya yang kamu mau? Mumpung kita di sini cuma berdua, kita boleh tengkar hebat, mumpung orang tua, semua keluarga kita mengira kita bahagia.”
“Naj … kita memang bahagia kan?”
“Belum. Kamu masih butuh waktu lepasin Sekar dari pikiranmu.”
Najwa menatap kejauhan, sembari kemudian berkata hal yang bagai petir di dekat telinga.
“… kupikir kamu juga sudah tau sendiri nasibku sama kayak Sekar. Aku terlanjur cinta sma kamu, Yang. Berharap ... kamu bisa terima aku, kayak kamu mau terima dia, tapi kamu gagal kan, Yan?”
“Naj …?” Aku terlalu terkejut. Praduga itu sempet terbersit, tapi berhasil kubuang dari pikiran.
“Aku memang gagal jaga diri … tapi aku juga berhak dapat cinta kamu, Yan … aku tau kamu sengaja, pura-pura nggak tau aku bohong ….” Dia mulai terisak, sementara aku kian mematung.
Kubiarkan istri membuka aibnya sendiri. Lutut ini terasa ikut lemah atas kalimat-kalimatnya.
Ya Tuhan, inikah karma atas dosaku?
Segera kuarik tubuhnya ke dada, merangkul dia yang terisak dalam diam.
“Aku akan tetap suamimu, Naj. Sampai kapanpun. Aku mencintaimu ….”
*
Setelah kejadian sore kemarin terasa kami baru memulai hidup baru dari awal. Mata dan hatiku jadi berpusat padanya.
Dinner romantis di tepi pantai, sewa motor keliling tempat wisata yang istri mau datangi, pokoknya ke mana-mana bagai perangko. Tentang Sekar aku bahkan terlupa sudah. Otak ini diisi oleh sosok Najwa.
Hanya ingin lihat tawa lepas Najwa.
“Yakin langsung pulang atau … ke Surabaya dulu?”
“Sudah, jangan bahas itu lagi.”
“Kenapa, Yang? Biar kamu benar-benar plong.”
“Aku sudah lupa.”
“Beneran?”
“Hm, iya.”
“Yakin?”
“Iya cintaku, Najwa. Aku cinta kamu.” Kuterkam dirinya, memeluk dia seerat mungkin.
Sudahlah.
Ingin kusudahi semua. Tuhan tahu pasangan terbaik untukku.
Dialah Najwa.
Istri yang berani mengaku dosa, sebagai gadis ternoda di masa mudanya, walau pengakuan itu dilakukan setelah bertahun-tahun pernikahan kami. Sedangkan aku? Sama sekali tak punya nyali mengakui hal sama.
Dosa sendiri terasa baru ditampakkan di depan mata.
Saat menggebu ingin mendapatkan Sekar, aku pernah tersesat … ‘jajan’ kupu malam di klub malam kota Pahlawan itu ….
Arrgg! Itu pengalaman meremangkan kuduk sendiri.
Sudah.
Sudahlah.
Kuakhiri semua. Inilah pasangan terbaik untukku.
Bukan Sekar.
Bukan dia yang sudah terbang jauh lebih tinggi, bersama lelaki yang pantas untuknya.
Aku pecundang.
Pendosa!
🌷🌷🌷
Lima tahun berlalu.
“Ayaaaah!”
Dua bocah perempuan berlari mendatangiku pulang kerja. Kutundukkan badan sambil merentangkan dua belah tangan lebar. Bersiap memeluk mereka.
“Hmm, wangi semua anak ayah, capek ayah jadi hilang nih.”
Tertawa-tawa dua bocah usia 4 tahun, si kembar, anak kedua dan ketiga dari istriku, Najwa.
Mereka lah buah hati yang mirip wajah mamanya.
“Sayang.” Istriku datang juga menghampiri, mencium pipiku sekilas sambil meraih tas dan jas dari tanganku.
Dia selalu begitu, walaupun sama bekerja, sama-sama sibuk tapi perlakukanku dengan pelayanan prima.
Aku makin mencintai Najwa yang kini tengah hamil lagi. Anak kelima kami! Sungguh, aku lelaki hebat! Akan sukses mencapai cita mencetak anak banyak.
Alhamdulillah, hidupku semakin baik. Aku dan Najwa saling memperbaiki diri.
Menjadi seorang ayah dengan tiga anak perempuan makin membuatku berhati-hati, makin mendewasakan diri.
Kini hidupku hanya tertuju untuk keluarga. Tanggung jawab pada masa depan mereka, sama seperti keluarga kecil sahabatku di Surabaya.
Sekar sudah punya tiga anak juga, adik dari dua anak lelaki kembarnya perempuan. Cantik seperti ibunya.
Dia dikenal sebagai Fashion Designer internasional sekarang, beberapakali masuk majalah dan menjadi model sampulnya, saat tampil mengharumkan nama bangsa di London. Dari Lintang, aku tahu dia dan Calvin bahagia, kuat bersama dalam susah dan senang.
Suaminya pernah harus operasi lagi, dan kini kabarnya sudah sembuh total.
Aku ikut bahagia untukmu, Sekar Dewi. Nama yang tak mungkin hilang dari sisi terdalam hati.

Komentar Buku (130)

  • avatar
    Ranti Imanti II

    ceritanya luar biasa. korban kekerasan seksual butuh waktu lama untuk bangkit. ka Lie ada bukunya ga. kalau ada mo beli bukunya. Mau lanjut dong. ini ngegantung.

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ZairaSiti

    jalan cerita mengasyikkan.temggelam dalam perjalanan hidup sekar seolah kisah nyata.terus lanjutkan dan ingin sekar berbahagia bersama pak calvin bukan yan

    26/01/2022

      0
  • avatar
    Nada Tau

    lumayan

    05/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru