logo text

Bab 35 Umroh dan Honeymoon

Perjalanan kami ini dipilih oleh Calvin menggunakan travel agen kelas VVIP, dengan rute Mekah dulu, baru tambah city tour ke Madinah. Umroh, baru kemudian jalan-jalan. Begitu, katanya.
Perjalanan memang sangat membutuhkan tenaga ekstra, dan ikhlas hanya karena-Nya.
Bisa menginjak kaki di sini, dan dengan fasilitas luar biasa pula adalah sesuatu yang tak pernah terbersit mimpi sekalipun. Kami menginap di hotel sangat mewah versiku, Dar Al Tawhid Intercontinental.
Hotel dengan interior yang serba wah, kamar kami saja seperti rumah. Luas, besar, lengkap. Pokoknya aku sampai sulit berkata-kata selain syukur, dan tentu ucapan terima kasih pada suami.
Ke luar lobi langsung lihat pelataran Masjidil Haram, bisa menatap lurus pada pintu masuk utamanya. Hatiku dialiri hangat, rasa sama seperti saat dipeluk suami. Damai.
*
Masyaallah, tak henti syukur atas aliran nikmat-Nya.
“Labbaikallahumma umratan.”
(Ya Allah aku penuhi panggilanmu untuk berumroh)
Kami langsung bersiap tawaf, kami berkumpul di lobi. Suami dan jamaah umroh laki-laki sudah mengenakan pakaian ihram, aku mengenakan gamis putih, jilbab panjang seperti mukena warna sama.
Sesekali kulirik suami, kadar ketampanannya bertambah dua kali lipat dengan penampilan ini. Dia hanya membalas menatapku teduh, sepertinya wajah itu tengah serius menyiapkan diri untuk khusyuk ibadah.
Agh! Aku saja yang kadang berlebihan mengaguminya.
Segera kualihkan perhatian pada panduan Ustaz yang akan memimpin rombongan, kami kemudian dibagikan earphone untuk mendengar jelas suara beliau memandu doa nanti saat mengelilingi Ka’bah.
Hati kembali bergetar saat masuk dari pintu utama nomor 79 bertuliskan K. Fahd Gate, sebelah barat Masjidil Haram, yang berhadapan langsung dengan hotel. Kami masuk, lurus, turun melalui eskalator ke lantai satu langsung menuju depan Ka’bah sebagai tempat tawaf.
Berkeliling Ka’bah tujuh kali mulai dari area Hajar Aswad, setelah tawaf kita salat di Hijr Ismail--area setengah lingkaran depan Ka’bah. Berharap pahala-Nya mengalir, selalu mengingatkanku pada nikmat iman ini di hari-hari selanjutnya.
Kemudian kami laksanakan Sa’i jalan dan berlari kecil tujuh kali bolak-balik dari Bukit Safa ke Bukit Marwah, lalu sebaliknya. Setelah putaran terakhir kami laksanakan rukun umroh terakhir, yaitu tahallul, menggunting rambut sebagai tanda usainya ibadah umroh.
Alhamdulillah lancar.
Calvin langsung bercukur, menyisakan rambutnya hanya satu senti. Dia terlihat berniat kuat ke sini total untuk ibadah.
“Lebih segar rambut pendek,” pujiku saat kami kembali ke hotel.
“Really?”
Mangangguk, kuberikan senyum terbaik untuknya.
“Alhamdulillah, Semoga ibadah kita diterima.”
“Amiin.”
“Baru sekarang merasa syukur sedalam ini,” katanya saat kami tiba di kamar.
Aku menatapnya tanpa kedip, menemukan kejujuran di sana.
“Lihat kamu bahagia.” Dia kecup keningku lembut.
Selalu begini, dia mau aku yang bahagia.
“Apa kamu juga bahagia, Sayang?”
“Sure. Sangat bahagia.”
Ya Allah, ingatkan hamba untuk sebaik mungkin bisa menjaga hubungan ini.
*
Hari ini, usai salat fardhu Ashar, aku bertahan sesaat untuk perbanyak dzikir.
“Baru selesai juga, Sayang?”
Aku bertemu Calvin saat menuju pintu ke luar.
“Iya, kirain kamu tadi sudah ke hotel duluan.”
“Sengaja nunggu istri,” jawabnya membuatku tersenyum simpul.
“Kita ke hotel dulu atau langsung jalan?”
“Langsung aja, ya.”
“Oke.”
Menunggu Magrib kami nanti mau keliling sebentar ke tempat bersejarah, yang ada di dekat area Masjidil Haram.
Sebelah kiri masjid katanya ada istana raja, kalau raja datang ke sini akan tinggal di sana, lalu napak tilas melihat tempat lahirnya Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam, yang sudah dirombak menjadi perpustakaan. Aku masih mendengar, dan penasaran ingin melihat ke sana.
“Masih kuat jalan?”
Aku cepat mengangguk, Calvin bertanya saat kami puluhan meter lagi dekat dengan pintu keluar.
“Yang ada cuma senang,” sahutku semringah.
“Alhamdulillah.”
Brukk!
Tiba-tiba terasa ada yang menabrakku terdorong ke depan, lalu terseret ke samping. Beberapa langkah terbawa menjauh bersama rombongan orang berbadan besar.
Saat terhenti, aku menoleh cari Calvin, tapi tertutup masih adanya rombongan tinggi besar itu. Coba diam di tempat, aku menunggu mereka berlalu, sambil menunggu Calvin mungkin mendekat mencariku.
Rombongan itu sudah lewat, tapi sampai puluhan detik berlalu mataku cuma lihat orang asing. Bermenit-menit aku menunggu, diam di tempat dengan mata terasa jadi memburam.
Di mana Calvin?
Di mana pintu keluar tadi?
Kukucek mata, agar jelas melihat nomor pintu keluar tak jauh dari tempatku berdiri. Blur …!
Astagfirullah … ada apa ini?
Kenapa aku nge-blank?
Jantung mulai berdebar, seperti rasa takut kalau kehilangan sesuatu yang kusayangi.
Beberapa saat masih terdiam aku tertunduk, istigfar lalu mengangkat wajah, melihat sekitar masih terasa berputar melewati mataku yang masih mengabur.
Takut pingsan, jatuh atau terinjak membuatku terus istigfar.
Ya Allah … ampuni hamba …!
Alhamdulillah, sesaat kemudian baru pandangan jadi jelas. Segera aku bergerak mencari pintu 79, terpikir kalau Calvin pasti sudah lebih dahulu keluar.
Itu pintunya!
Segera kuayunkan langkah ke sana. Rupanya aku tadi terdorong cukup jauh.
Di luar mata kucari Calvin di antara banyak orang di pelataran ini, sampai tak sengaja terhenti pada punggung seorang lelaki berkoko biru tua. Sosok tinggi kurus itu tengah berjalan menjauh arah Zam-Zam Tower.
Yandi kok ada di sini …?!
Agh! Kurasa hanya salah penglihatan saja. Itu nggak mungkin.
Astagfirullahaladziim ….
Apa yang ada di pikiranku sampai mengalami kejadian ini.
Ya Allah, ampuni hamba … ampuni …!
Kuketuk-ketuk dahi sambil jalan menuju hotel.
“Yandi nggak mungkin-“
“Sayang, kamu kenapa?”
“Calvin?!” Berkaca-kaca mataku menatapnya, lega melihat dia sudah berdiri di sisi.
“Alhamdulillah, tadi ke mana?”
“Ada di sini.” Dia tampak heran melihatku.
“Tadi … di dalam aku kebawa rombongan yang badannya besar-besar itu, terus nggak lihat kamu ….” Kalimatku terbata.
Masih tersisa gugup, kehilangan Calvin membuatku merasa takut.
Calvin bergumam, tapi tak kudengar jelas. Lembut diusapnya pucuk kepalaku. “Ayo jalan.”
“I-iya.”
Tatapannya tadi sendu.
Ya Allah, jangan sampai dia dengar aku sebut nama Yandi tadi … itu hanya refleks terucap. Tidak ada perasaan lain.
*
“Selama masih ada kelingking ini, mana bisa kulupa janji kita, Sekar … kamu dan aku sudah janji ….”
Yandi menatapku lekat dengan mata berkaca, lukanya tampak dalam, bisa kulihat gambar hati berdarah pada manik matanya.
Dia kemudian berbalik pergi.
“Yan, dengarkan aku dulu!”
Langkahnya terlihat makin panjang, menjauh.
“Yan, maafin aku, Yan! Yandiii!”
Dia menghilang di balik kerumunan mereka berpakaian ihram. Yandi pasti bukan bagian kerumunan umroh itu.”
“Yan …!”
Terkejut. Di sini ternyata hening. Hanya gumaman lemahku terdengar di telinga.
Gelap ...?
Kelopak mata berat mulai membuka perlahan. Kusentuh dada, merasakan degup jantung masih terasa kuat.
Ya Allah … aku mimpi.
Beberapa saat atur napas sampai tenang, aku beranjak dari ranjang.
Langkah ini seperti ditarik menuju masjid. Hari terakhir kami di sini.
Entah berapa lama, aku begitu khusyuk itikaf, hingga tak terasa waktunya Subuh. Segala doa terlontar untuk Yandi. Kebaikan untuknya. Mohon ampun atas hubungan kami yang sepertinya belum tuntas diselesaikan. Mungkin hatinya masih berharap, atau ada hal lain tak terpindai dalam hatiku.
Kumohon Allah berikan yang terbaik untuk kami. Sebaik-baiknya menggenggam hati kami agar tak tersesat dalam rasa yang salah.
*
“Mata bengkak. Kurang tidur?”
“Mm, iya,” sahutku lembut.
“Hem, masih kuat lanjut ke Madinah?”
“Insyaallah, kuat.”
Kami pun bersiap. Akan kuingat kuat tempat ini, berharap bisa kembali lagi suatu saat.
Di Madinah kita menginap di hotel dekat Masjid Nabawi. Keindahan di sini kembali membuatku lupa dengan rasa lelah. Nikmatnya dapat kesempatan ngantre berdoa di Rhaodah, tempat yang dikenal sebagai Taman Surga, alhamdulillah bisa berdoa khusyuk di sana. Sempat ziarah juga ke makam Nabi.
Kesempatan sehat, masih mampu naik ke Jabal Uhud, lalu kita juga mengunjungi kebun kurma, masih sempat jalan-jalan malam di kota Madinah. Tidak belanja banyak, aku pilih beli sajadah dan kurma terbaik untuk jaga kesehatan.
Tenaga terasa tak habis-habis, mungkin karena terlalu senang bisa mendapat kesempatan ini aku langsung jawab ‘yakin kuat’ saat Calvin tanya jadi ke Turki, enggak? Ha, dasar aku, mumpung berada dekat dengan negara yang beberapa kusukai filmnya itu, aku tak akan buang kesempatan untuk tetap ke sana.
Let’s go, suamiku!
Bismillah, kami terbang lagi dari bandara Madinah ke Istanbul International Airport.
Suara adzan yang menyentuh dasar kalbu merdunya, Air Zam-Zam, Nasi Mandi, Al Baiq, semua khas Mekah dan Madinah akan sangat kurindukan.
*
“Masyaallah, indah sekali ….”
Bertahan di Istanbul untuk beberapa hari. Calvin akan mengajakku berkeliling wisata di kota ini.
Kami menginap di hotel dekat Blue Mosque. Calvin mengajakku masuk ke dalam masjid di kota bekas kekhalifahan Turki Usmani, yang dibangun atas perintah Sultan Ahmed masa itu. Bangunan ini berhadapan langsung dengan Hagia Sofia, bekas katedral terbesar di dunia yang kini berubah jadi masjid.
“Dingin …,” gumamku gemetar mengatup jaket tebal lebih rapat. Kami habis makan siang di sebuah Café yang menyajikan makanan Indonesia, setelah sebelumnya tadi sudah masuk ke Hagia Sofia juga.
“Kita istirahat dulu.”
“Iya, rasanya dingin sampe ke tulang. Berapa derajat?”
Calvin melirik jam tangan yang ada suhunya tertera.
“Enambelas derajat.”
“Wah, tapi rasanya lebih dingin dari itu ….” gigiku gemerutuk.
“Tandanya kita butuh istirahat dan vitamin.” Dia merangkul bahuku merapat.
“Hm, okelah, Sayang. Aku nggak mau sampe sakit sebelum kita sempat ke Cappadocia.”
“Yakin masih kuat ke sana?”
“Hem, insyaallah. Kita istriahat dulu sampai aku seger, ya?” Kupeluk pinggangnya saat jalan ke hotel.
“Apa sih yang tidak untuk istriku?”
“Ah, aku meleleh, nih. Rasanya nggak jadi dingin,” godaku dengan menambah rangkulan lebih erat.
“Kalau gitu, buruan ke kamar.”
“Hah?!” Aku berpura kaget.
Dia meringis lucu.
“Jadi omes, ya sekarang?” godaku lagi.
“Kalau sama istri boleh-boleh saja,” jawabannya sungguh membuatku tersenyum geli.
Dingin sekejap terlupa berganti debaran jantungku makin kuat saat kami sampai di depan kamar.
Kami saling lirik. Mungkin dia juga masih gugup. Pipinya memerah, entah karena dingin ataukah malu.
Ah, bulan madu itu memang ada. Saat kebersamaan kami makin hangat. Meski katanya negara ini akan masuk musim dingin, dekat dengannya dingin akan terkalahkan.
*
Puas banget jalan di wisata sekitaran Istanbul. Selama di sini kami sudah kunjungi Istana Topkapi, jalan kaki menikmati suasana pasar malam, ke Taman Miniaturk juga lihat lebih dari ratusan miniatur wisata terkenal di wilayah Turki.
Puas? Banget! Karena kita berdua ini menjalaninya santai. Kita juga sambil kerja dari kejauhan. Aku masih sempat buat desain gaun muslim cantik, terinspirasi dari apa yang terlihat selama jalan-jalan.
“Siap terbang lagi?” Calvin selalu menanyakanku lebih dulu.
“Siap dong, Sayang. O, ya kenapa Cappadocia harus pake pesawat lagi, memang jauh ke sana?”
“Kamu bisa capek duduk berjam-jam di bus.”
“Ohya? Kalau naik pesawat berapa lama?”
“Satu jam setengah sudah sampai.”
“Oh, gitu? Yasudah mana yang terbaik aja aku ngikut.”
Naik pesawat dari Istanbul ke Nevsehir, Cappadocia. Dari bandara kecil ini kita sudah dijemput pesanan mobil oleh suami akan menuju Goreme, sebuah kota yang katanya adalah lembah terbaik untuk wisatawan.
“Woww, ini semua batu-batu?”
Calvin mengiyakan, kalau batu-batu itu banyak dibuat rumah, atau bangunan oleh warga. Ya, dan hotel tempat kami menginap juga seperti di dalam gua. Masyaallah indahnya.
Aku tak bisa menahan takjub. Kota ini lanskapnya seperti kita ada di bulan, sekitar dikelilingi bebatuan seperti batu kapur. Tempat kami menginap ini tinggi, naik ke rooftop langsung tersaji pemandangan yang membuat nggak mau beranjak.
“Indah sekali.” Aku masih berdiri di rooftop, melawan dingin yang menggigit tulang menembus pakaian dan jaket tebal yang kukenakan.
Di tanganku kertas dan pensil, sambil menggores imajinasi baru efek melihat sekitar ini. Jadilah Jaket berbulu sebagai pakaian hangat di musim dingin.
“Kreatif. Lagi liburan masih mikir kerja.” Dia yang sabar di sisiku sejak tadi mulai perhatikan hasil oretanku.
“Ini tiba-tiba aja.”
“Wah itu di sana masih ada yang tinggal?”
“Ya, sebagian warga memang tinggal di rumah batu.”
“Wahh, jadi nggak sabar naik balon lihat kota ini dari atas.”
“Kita akan pesan tiketnya di situ.” Dia menunjuk sebuah bangunan coklat muda, bertuliskan Royal Baloon.
“Wah. Suamiku tahu banyak tempat ini, kayaknya dunia itu sempit ya buat orang kaya,” cetusku sambil memandang kejauhan.
Tubuh mendadak kaku saat dia memeluk pinggangku, merapatkan diri dari belakang. Apa yang dilakukan suami memang mengurangi hawa dingin yang terasa sekali di atas sini.
“Pejamkan mata.”
“Hah? Mau apa?”
“Pejam saja.”
Aku menoleh sekilas lalu menuruti. Perlahan direntangkannya kedua tanganku ke sisi badan, desir halus turut menjalar saat jari kokohnya menyela jari.
“Ini … kayak film Titanic,” gumamku kemudian usai dia menyatukan bingkai bibir kami, lembut.
“Anggap saja kita lagi di atas dek kapal,” ucapnya melucu.
Aku tertawa kecil.
“Sayang, kamu makin romantis aja.”
Beberapa menit kemudian dalam diam kami puas menikmati pemandangan di sini, sebelum akhirnya turun, jalan sedikit tak jauh dari hotel untuk memesan tiket naik balon besok pagi.
Kata Calvin kami akan lihat sunrise dari ketinggian.
Aww, suamiku ternyata romantis, dia memilih saat yang tepat untuk menyenangkan hati istri.
Makin sayang deh rasanya.
*
Usai Subuh, kita sarapan gratis, ini fasilitas dari Royal Baloon.
Waww, sensasi masuk keranjang untuk terbang itu luar biasa. Tegang, takut, pokoknya campur aduk. Apalagi dengar suara gas itu membuatku sedikit was-was.
Dengan bismillah, dan genggaman tangan suami akhirnya aku bisa menikmati dengan tenang. Terbang di ketinggian maksimal, menikmati sunrise dari atas sini sungguh indah. Kota Gureme terlihat kecil seperti kota kerajaan di kartun. Masyaallah tabarakallah, Allah membari kesempatan hidupku melihat maha karya-Nya.
Balon diarahkan pilot terbang rendah, membuatku beberapa kali menahan napas, menggenggam erat tangan Calvin. Takut kalau-kalau balon ini nyangkut pada batu-batu lancip yang tampak sangat dekat dengan keranjang yang menampung kami.
“Masyaallah. Ini luar biasa.” Antara takut dan senang bercampur aduk.
“Makasih, Sayang sudah bawa aku ke sini.” Kutatap penuh cinta suamiku.
“Sama-sama,” bisiknya lembut. Ah, andai cuma berdua, aku mau memeluknya erat sekarang.
Saat landing adalah yang paling menengangkan. Kita sampai tertawa-tawa untuk buang rasa takutnya.
“Tenang, mereka professional.” Calvin ikut tertawa sambil menenangkanku.
“Alhamdulillah ….”
Lega. Akhirnya keranjang mendarat tepat di atas sebuah pikap panjang, kami masih tetap di tempat, pikap bergerak membawa kami menuju area kru yang sudah menunggu.
“Habis ini kita ngapain, Sayang?”
“Itu namanya Champagne Celebration, merayakan keberhasilan kita terbang tadi.”
“Champagne?’
“Kita pilih jus buah saja.”
Kata Calvin mereka tahu tidak semua pemakai jasa minum alkohol, jadi ada pilihannya jus buah. Waww, di sini benar-benar terasa di tempat sendiri, karena semua kru itu ramah dan sangat suka tertawa.
*
“Warna di sini rata-rata abu-abu sama coklat ya, memang kayak negeri dongeng.”
Batu yang menjulang kerucut seperti menara itu membuatku teringat rumah Rapunsel.
Aku hanyut sendiri, kagum saat kami jalan kaki berkeliling kota kecil ini, Calvin siaga menjawab semua pertanyaanku, seolah dia tour guide professional yang hapal dengan kota berbatu-batu ini.
“Ayo naik onta, naik onta. Naik gratis turun bayar!” Suara seseorang di sana membuatku menoleh.
“Orangnya bisa Bahasa Indonesia?”
“Mereka di sini banyak bisa Bahasa Indonesia.”
“Kayak yang di pasar waktu kita di Istanbul itu.”
“Iya. Lihat wajah kita khas Indonesia mereka tau.”
“Oh.” Aku mengangguk-angguk. Kami mendekati lelaki muda berjambang tipis itu.
“Ayo naik kuda. Murah. Mau harga berapa?” katanya amat fasih.
“Berapa?” tanyaku.
“Itu.” Dia menunjuk papan harga di pagar sisi tangga, dengan tulisan bermata uang euro. Kata Calvin itu harga turis.
Suami langsung bicara pakai Bahasa Turki, menawar harga dan ternyata dikasih murah hanya 20 TL/ Lira per orang, seperempat dari harga turis.
“Baru tau bisa Bahasa Turki.” Kutatap Calvin kagum.
“Kalau mau dapat murah harus bisa bahasa mereka.”
“Ih, gemes.” Aku makin suka sama ini orang.
Kami pun naik unta bersamaan.
Saat unta berdiri aku jadi tegang, kupegang pinggang baju Calvin.
“Takut?”
“Iya,” sahutku gemetar.
Diraihnya tanganku, dilingkarkan penuh ke pinggangnya, lalu bilang sesuatu pada petugas muda yang jalan di sisi unta.
“O, bulan madu? Selamat-selamat.”
Rupanya Calvin bilang kami tengah berbulan madu.
Aku tersenyum, dia terlihat bangga jadi suamiku. Ya, mengakui istri di depan orang asing itu cukup membuat tersanjung.
Melayang. Kueratkan tangan memeluk pinggangnya.
Perjalanan panjang ini akan segera berakhir, kami akan kembali ke Surabaya untuk mengais rezeki lagi. Berharap kebersamaan sekarang menguatkan hubungan kami yang belum lama dimulai, sebagai penambah stamina juga untuk terus hidup penuh syukur dan bersemangat.
*
Kesenangan memang tiada yang abadi, semua rasa hanya akan numpang lewat, lalu segera berganti dengan perasaan lain. Seperti sekarang. Perasaan bahagia kami saat bulan madu berubah jadi was-was, sebab sehari usai tiba di Surabaya kami mendapati Nenek sakit.
Sesak napas akut membuat kami segera membawanya ke rumah sakit.
“Kalian pasti capek banget, biar gantian yang lain jaga.” Mami datang, aku dan Calvin disuruh pulang beristirahat.
Kami pun pamit setelah Nenek masuk ruang perawatan.
Sudah masuk mobil aku tersandar penuh, baru terasa lelah hari ini.
“Capek?” Diusapnya pucuk kepalaku.
“He, baru kerasa remuk tulang-tulang,” aku meringis malu.
“Istirahat seminggu, ya, jangan ngantor dulu.”
“Seminggu? Trus, aku ngapain di rumah?”
“Boleh ngedesain, tapi dari rumah aja.”
Ditariknya kepalaku untuk dikecupnya sekilas.
“Kita lanjut bulan madu di rumah,” cetusnya membuatku tertawa.
“Bulan madunya kemarin kurang ya, Pak?” godaku sambil mengerling nakal.
“Kita sementara kerja dari rumah dulu, sampai tenaga pulih.”
“Siap, Sayang. Aku ngikut aja.”
Suara ponsel berdenting deretan pesan masuk.
Sebenarnya enggan, tapi kemudian perlahan kurogoh tas. Sambil bersandar malas-malasan baca. Tengah malam begini, siapa yang kirim pesan?
Sekar, kurasa aku sudah move-on dari kamu.
Makasih ya sudah doain aku di depan Ka’bah.
Aku tau dari mimpi.
Doakan aku jatuh cinta sama Najwa.
Dia sudah sah jadi istriku.
Semoga bahagia, Sekar.
Maaf atas semua kenakalanku dulu. Tanda peace dua.
“Alhamdulillah …,” gumamku refleks.
“Siapa?” Calvin melirik.
“Yandi sudah nikah, Sayang. Dia minta doa, sama minta maaf juga.”
Calvin meremas tanganku sambil tersenyum. Senyum lega.

Komentar Buku (130)

  • avatar
    Ranti Imanti II

    ceritanya luar biasa. korban kekerasan seksual butuh waktu lama untuk bangkit. ka Lie ada bukunya ga. kalau ada mo beli bukunya. Mau lanjut dong. ini ngegantung.

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ZairaSiti

    jalan cerita mengasyikkan.temggelam dalam perjalanan hidup sekar seolah kisah nyata.terus lanjutkan dan ingin sekar berbahagia bersama pak calvin bukan yan

    26/01/2022

      0
  • avatar
    Nada Tau

    lumayan

    05/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru