Beranda/Gadis yang Ternoda/
Bab 23 Rumit
“P-Pak … saya-kami-“ Aku tergagap, kalimat pembelaan diri hanya tertahan di tenggorokkan.
“Masuk, Pak. Nggak enak kalau cuma berdiri di depan pintu.” Kupelototi Yandi yang menunjuk sofa di ruang tamu untuk Pak Calvin.
“Yan, kenapa kamu jadi nggak pake baju? Sana, cepet!” Gemerutuk gigiku mendesis pada Yandi yang kelewat cuek, mendorong bahunya untuk segera bergerak.
“Oh.” Dia malah pasang wajah cengengesan. “Bajuku basah, tadi habis kita-“
Menggeram, kudorong bahunya lebih kuat. Yandi seperti sengaja membuat Pak Calvin mengangkat alis, matanya tampak penuh tanda tanya besar.
Gemasku bertambah dengar Yandi bersiul ke kamar.
Apa sih maunya anak itu?!
Kepala dan seluruh kulit mukaku terasa terbakar.
“Mari, Pak. Silakan duduk.” Aku mengarahkan Pak Calvin ke kursi. Tubuh kaku itu baru bergerak setelah matanya mengedip.
Aku ikut duduk, kikuk, dengan jantung berdegup kencang.
“Ng, maaf, Pak …” Tangan dingin teremas di pangkuan, kerongkongan kering. Apa pendapatnya tentangku yang sudah berbohong?
Agh! Rasanya aku mau pakai topeng biar mukaku nggak kelihatan.
“saya tadi nggak bermaksud bohong …,” lanjutku ragu.
“Jadi kamu ngaku bohong?” Suara tertahan. Rahangnya tampak menegang.
“Maaf, Pak. Saya kira Bapak nggak ada di sini-“
“Oh, kalau aku tidak di sini kamu bebas bohong?” Mataku bertemu tatapan Pak Calvin yang terasa menusuk.
“Maaf, Pak. Bukan maksud saya begitu.” Aku tertunduk. “Yandi itu tiba-tiba aja datang waktu saya pulang kampus.” Kuadukan panjang lebar padanya yang hanya menatapku saksama, seolah mencari kejujuran di mata ini.
“… kami baru akan keluar carikan untuknya penginapan, dia itu ada kerjaan di sini. Padahal saya sudah nggak kasih tau alamat lho, Pak. Bapak tau ini alasan saya sampai ganti nomor juga … tapi dia itu tetap nemu.” Entah kenapa aku mau sejelas-jelasnya biar lelaki ini tak menaruh prasangka buruk.
Tampak napasnya terembus kasar. Matanya melihat ke arah kerudungku.
“Yasudah, kebetulan ini mungkin yang menarikku ke sini,” gumamnya membuat keningku mengkerut.
“Maksud Bapak?”
“Panggilkan temanmu itu,” titahnya kemudian, mengalihkan pertanyaanku yang jadi telat mikir.
“I-iya. Sebentar, Pak.” Aku cepat berdiri, beranjak, memanggil Yandi.
Rupanya dia bukan masuk ke kamar sebelah!
Oh, ya ampun, cowok ini sepertinya sengaja diam di kamarku?!
Lekas kubuka pintu lihat Yandi seenaknya baring di kasurku, headset terpasang di telinga. Dan … dia masih telanjang dada?!
Gemuruh jantungku merasakan sesuatu ingin meledak di kepala.
“Yan?! Kok masuk ke kamarku?!” pekikku cukup keras.
“Hemm?” Kedua alis tebal Yandi terangkat, hanya melirik tanpa melepas benda yang menyumpal telinganya.
“Cepetan keluar!” sergahku mendesis. Tangan mengepal mau masuk akan menariknya keluar, tapi langkah ini terhenti, saat ada tangan dingin menarik pergelangan tanganku.
Tubuhku tertarik ke belakang, punggung menubruk dada yang terasa tegap, kokoh tanpa bergerak. Tanpa berbalik pun aku tahu siapa pemilih dada lebar yang kini ada di balik punggung. Napasku terasa putus sesaat.
“Biar aku saja yang bicara,” ujarnya tepat di atas kepalaku.
Tubuh mengkaku, bagai tersetrum listrik tegangan rendah, sendi-sendiku terasa melemah. Aroma parfum dan napasnya bisa kurasakan menyebar dari puncak kepala.
Ya Tuhan … jangan sampai aku pingsan.
Ini terasa sulit mengambil napas.
“Namamu Yandi, kan?” Aku mematung, mendengar suara yang begitu dekat dengan telinga. Tangannya pun belum dilepas. Dingin salah satu jarinya tersentuh kulitku, terasa merayapkan benda halus sampai ke lubuk hati.
“Butuh tempat nginap? Ayo ikut aku!” lanjutnya dengan kalimat penuh penekanan, walau tak terdengar marah.
Yandi menoleh penuh, menatap kami lurus, lalu duduk sambil melepas headset.
“Kenapa harus sama anda?” tanyanya tajam. Meletakkan begitu saja ponsel di sisi badan.
“Aku bertanggung jawab atas Sekar.” Kujepit mulut merasakan gugupku bertambah. Pak Calvin bicara begitu dengan cengkeraman di pergelanganku terasa menguat.
Yandi berdiri, tak jua menjawab tapi matanya terlihat aneh menatap kamu.
Apa dia tersinggung?
“Ng, Yan maksudnya Pak Calvin ajak kamu nginap bersama, maksudku-“ Agh! perasaan campur aduk membuat kalimatku kacau.
Yandi maju. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
“Hei, Pak. Sekar calon istriku, kami sudah dewasa. Kenapa orang lain harus ikut campur?”
“Yan?!” Aku mendesis, tapi Yandi menyeringai seraya maju mendekat.
Tubuh panas dingin saat dia menyentak tangan Pak Calvin dari pergelanganku.
Bosku itu menghadapinya tenang, aku menggeser, bisa melihat rona amat datar pada wajah Pak Calvin.
“Aku bukan orang lain.”
“Oya, memangnya anda siapa? Haa.” Yandi tertawa mengejek.
“Kalau pintar, kamu tahu jawabannya.”
“Anda pikir aku bodoh, hah?!”
“Yan?!” Aku segera bergerak menengahi. “Maksud Pak Calvin benar. Kita bukan mahram. Nginap dulu sana sementara kamu dapat tempat besok.”
Yandi melunak melihatku memohon.
Tanpa bicara dia menyambar ponselnya, keluar ke kamar sebelah setelah sengaja menubruk bahunya dengan bahu Pak Calvin.
Yandi benar-benar berani, aku takut melihat dirinya yang begini.
Tersisa aku dan Pak Calvin saling pandang, kaku, dalam dua detik saja.
Aku mengekori langkah Pak Calvin.
“Tunggu telponku besok.”
“Iya, Pak.”
Yandi muncul sudah memakai hoodie hitam, ranselnya tersampir di bahu kiri.
“Aku sayang kamu, Sekar. Jaga diri baik-baik.” Aku sontak menunduk, kaget Yandi tiba-tiba mengusap pucuk kerudungku, menatap dengan tatapan sayu. Kulirik Pak Calvin tengah melempar tatapan dingin.
Kenapa aku jadi serba salah begini?
Siapalah aku, sejak remaja baru sekarang kesempatan mendapat debar-debar, seperti … diperebutkan lawan jenis. Jadi ingat saat di kelas sepuluh, aku sempat iri lihat teman tercantik satu sekolahan yang diperebutkan dua anak SMA favorit sampai dia bingung memilih.
Ternyata begini rasanya ….
Plak! Segera kusadarkan diri. Tak mau terbang, Pak Calvin belum tentu-
“Sekar?” tangan melambai di depan muka.
“Eh, i-iya, kenapa, Pak?”
Aku tergeragap, kembali ke dunia nyata.
“Kunci dulu pintunya, kami mau berangkat.”
“Oh, iya.”
Rupanya taksi pesanan Pak Calvin sudah ada, di sisi pintu yang terbuka Yandi berdiri, menampakkan wajah kusut.
Aku segera masuk, mengunci pintu.
Seperti mimpi ada drama singkat tadi … hampir terhanyut khayalan lagi aku kembali tersentak, ingat tugas yang belum selesai!
*
‘Pulang kampus temui aku!’
Belum juga aku berangkat sudah mendapat chat Pak Calvin. Buru-buru, takut Kay sudah nunggu di jalan depan sambil menarik tas aku meneleponnya.
“Assalamualaikum, kenapa telepon?”
“Waalaikumsalam, ini buru-buru mau ke kampus, Pak. Saya belum bisa pastikan pulang jam berapa, takutnya masih ada tugas,” jawabku tanpa titik koma sambil membuka pintu.
“Yandi …?”
“Yandi? Dia ada di situ?”
“Oh, ma-maaf, Pak ini saya buru-buru, maaf saya tutup dulu. Iya bisa, nanti saya telpon lagi. Terima kasih, Pak-“
“Sekar, sebentar!”
Agh! Suara tegas Pak Calvin membuatku urung mengakhiri. Yandi sudah berdiri dengan mata tanpa kedip ke mukaku. Mau apa lagi, sih, pagi-pagi ke sini?
“Iya, iya, Pak.”
“Jangan biarkan Yandi tinggal di situ, arahkan ke penginapan terdekat. Nanti aku yang bayar.” Aku ternganga.
Apa dia tahu Yandi bersikeras mau tinggal di sini?
“Iya, Pak.”
Lengah, aku kaget Yandi gerak cepat merebut kunci yang masih kupegang, lalu masuk tanpa permisi.
Suaraku ingin meneriakinya tercekat di tenggorokkan.
Sampai Pak Calvin menutup panggilan aku tak bisa konsentrasi menangkap kalimat terakhirnya.
Baru akan mendorong pintu, memarahi Yandi, panggilan dari Kay mengurungkan niatku.
“Iya, Kay aku ke situ,” sahutku sambil setengah berlari ke jalan depan.
Ini darurat, telat masuk dosen pertama orangnya super disiplin, tak ada toleransi kalau terlambat.
Tenang, Sekar … tenang …!
“Lo kenapa, sih? Sampe ngos-ngosan gitu?”
“Nggak papa, nggak ....” Terbata, kuangkat telapak tangan meminta Kay jangan banyak bertanya dulu.
Napas kuatur sampai tenang, duduk dalam mobil yang super dingin cukup mengendalikan panas di kepala. Kuhirup dalam hawa yang sudah bersahabat, sejak bertahun-tahun seruangan dengan Pak Calvin aku tak alergi dingin lagi.
Ah, lagi-lagi di kepala ada Pak Calvin, lalu Yandi. Kenapa jadi rumit begini?
Hush!
Kukibas tangan mengusir dua orang itu sejenak dari pikiran.
“Sadar, Dew! Gue merinding liat elo gitu,” cetus Kay dengan alis hampir bertaut.
*
Setelah mengabarkan sudah keluar kampus aku dijemput taksi pesanan Pak Calvin, mengantar ke tempat dia sudah menunggu. Tempat asing yang belum pernah kudatangi.
Gedung bertingkat tinggi, dan aku sedikit ragu masuk.
“Sudah sampai?”
Kuhubungi Pak Calvin.
“Sudah, Pak ini di bawah.”
“Tunggu di situ.”
Tak sampai menunggu menit Pak Calvin menghampiri, lalu mengajakku naik lift. Aku mau tanya, apa Pak Calvin nginap di gedung ini, tapi akhirnya memilih tutup mulut.
Suasana jadi canggung, saat cuma berdua di ruang sempit ini. Angka 21 yang terlihat menunjukkan lantai yang akan kami tuju. Aku menahan napas.
Masuk ruangan serba cream, disambut ruang tamu, lalu tempat menonton televisi berlayar datar. Ke belakang sedikit ada sekat rendah tampak meja makan. Ini seperti ukuran rumah minimalis.
“Bapak sendiri?” tanyaku setelah duduk di sofa merah hati.
Pak Calvin memintaku pindah ke ruang tengah, ada meja kaca di depan televisi. Sebelum duduk dia membuka pintu kamar, ada Bu Rachel, kakak perempuannya, dua anak dan suaminya di balkon. Perempuan yang selalu tampak anggun itu menyapaku ramah. Tempelan pipi kiri kanan yang tak kuduga membuatku sedikit segan.
“Silakan lanjutkan. Santai aja ya, Sekar.”
“Iya, Bu.” Aku mengangguk sambil tersenyum kaku.
Mimpi apa kok jadi berubah gini?
“Lagi liburan. Aku ikut skalian bahas pekerjaan denganmu,” jelas Pak Calvin tanpa kutanya.
Tak lama dia mulai jelaskan. Aku menyimak saksama, sambil lihat detail gaun rancanganku dua bulan lalu yang dibawanya, sesekali mencatat. Klien ingin ganti bahan dan sedikit taburan Swarovski kecil di bagian leher dan dada.
Lama tak diskusi dengan lelaki ini terasa waktu berjalan cepat, karena kudapati lagi sosoknya yang banyak bicara. Tentu, itu hanya kalau bahas pekerjaan.
*
Sudah setengah jam, setelah begadang selesaikan tugas aku masih belum bisa memejamkan mata.
“Tunggu aku, Sekar. Aku juga akan sukses buat kita!”
Penuh emosi Yandi mengatakan itu terakhir pergi dari sini. Dia terlihat sangat tersinggung saat Pak Calvin kembali ke sini untuk mengusirnya halus. Bosku itu katakan akan membayarkan sewa apartemen dekat Label yang akan kerjasama dengan Yandi jika perlu. Itulah yang membuatt Yandi panas.
“Aku nggak kere amat. Aku punya tabungan, kok. Nggak perlu kamu bayarin! Sok kaya banget jadi orang!” Dada Pak Calvin sempat ditinjunya, meski pelan aku cukup kaget dengan keberanian Yandi.
Dulu Yandi nggak sekasar itu …?
Memang Pak Calvin sedikit keras, katakan kalau rumah ini untuk kenyamananku selesaikan kuliah. Tidak terganggu orang lain, termasuk Yandi yang sepertinya memaksa keinginan mengikatku.
Heran juga, kenapa Yandi jadi begitu?
Apa ada yang disembunyikannya?
Kembali duduk, aku ke dapur, menyeduh susu yang biasa kusediakan untuk jaga kesehatan. Ini cukup bisa mengundang kantuk mendekat.
Yandi pergi, tak bisa dihubungi. Kuharap suatu waktu dia bisa lebih mengerti. Semoga saja dia tak salah pilih jalan.
*
Waktu bergulir cepat, tak terasa kami akan magang selama 2 bulan, sebelum tugas akhir masa perkuliahan.
Dulu waktu di SMK tempat magang sudah dipilih dari sekolah, sekarang kami diminta mencari mandiri. Pilihanku langsung ingat akan Butik Dian Pelangi, tapi segera kecewa saat ada teman yang lebih dahulu mengisi di sana.
“Lo belum dapet juga, Dew?”
“Belum, Kay. Kamu gimana?”
“Udah, dong, coba tebak di mana? Di IGP milik Kak Igun. Eh, tapi boleh dua orang loh di sana, kalo lo mau bareng gue bisa?”
Melongo, tapi seketika mataku membulat sempurna.
“Beneran, Kay?” Antusiasku lihat matanya ikut berbinar.
“Makanya gue ke sini. Yok, tinggal lo ajuin.”
Alhamdulillah, keajaiban lagi, aku dipermudah. Dengan berpasangan sama Kay, aku akan dipermudah urusan transport, Mazda merah menyala miliknya siap lagi kutumpangi. Yeay!
Di butik milik desainer kenamaan ini pengalaman makin tergali, terlebih tentang fashion show di mana kami dibimbing sangat ramah, pernah langsung interaksi juga dengan lelaki tinggi besar yang sebelumnya hanya kulihat di televisi ini.
“Kamu minta tanda tangan sama Igun?” tanya Pak Calvin mencandaiku, via telepon usai kami magang.
“Dapat dong, Pak. Kita juga dikasih kenang-kenangan gaun,” ujarku berbangga.
“Bagaimana Calvin’s, Pak? Jadi Fashion show yang di mall itu?”
“Masih persiapan. Oya, masih ingat tema Angel sama Pastel Tropical itu?”
“Umm …” kutatap langit-langit kamar. “Iya, ingat, Pak. Sedikit,” ucapku ragu. Terlalu banyak aku sampai lupa yang mana.
“Hem, itu juga akan ikut ditampilkan.”
Pak Calvin kemudian kirim foto yang sudah terpajang, tak lupa bilang ada beberapa bagian dia yang koreksi.
‘Wahh … ini kejutan lagi dari Bapak untuk saya. Terima kasih, Pak.’
Aku benar-benar terharu. Berarti ini akan jadi fashion show pertama karya tanpa kehadiranku.
‘Sebentar lagi kamu selesai. Fokuslah dengan tugas akhirnya,’ pesan Pak Calvin yang membuatku makin bersemangat.
*
Tugas akhir di depan mata, ini penentuan kelulusan. Membuat jas kerja wanita, dinilai dari kreativitas desainnya. Begitu mendengar tugas yang diberikan dosen, di kepalaku langsung memutar ide, cepat. Aku mau mode jas dan blazer dipadu, dengan aksen belt kecil, pilih warna monokrom.
Mulailah aku mengoret desain, tak jadi dalam sehari, karena harus matang, menginginkan yang terbaik untuk hasil kelulusanku di sini aku menghabiskan waktu 3 hari hanya untuk mendesain, baru benar-benar yakin. Itu pun kutunjukkan dulu pada Pak Calvin, minta pendapatnya.
“Bagus. Lanjutkan,”ujarnya tanpa ada usul perbaikan.
“Bapak nggak koreksi?” tanyaku tak percaya.
“Yakin saja.”
Tidak beri koreksi mungkin Pak Calvin membiarkanku membuat keputusan sendiri.
Meningkatkan kembali rasa percaya diri, aku kerjakan sesuai yang sudah kupikir matang. Tiba saatnya karyaku dipasang pada model, dan aku harus siap mendapat kejaran pertanyaan tim juri. Alhamdulillah, bisa lulus dengan nilai baik, meski bukan yang terbaik.
Hidup berpindah dari satu tempat baru ke tempat baru lagi seakan akrab denganku. Tinggal setahun di Jakarta seperti amat singkat. Tak percaya aku bisa melalui kegiatan super padat, dari materi hingga praktek. Berpisah dengan teman-teman, dan Kay yang mau bersamaku dalam suka duka.
Aku merasa lebih matang dan punya tujuan kuat.
Kembali ke Surabaya, aku berniat mengabdikan ilmu ini untuk perkembangan Calvin’s. Kedatanganku disambut tanpa diduga. Buket bunga diberi para karyawan bergantian, ternyata beberapa pekerja bertambah selama aku tidak ada. Ruangan terasa lebih hidup dan luas dengan pajangan yang sebagian besar hasil karyaku.
Selalu ada haru saat Pak Calvin mengatur ini sedemikian rupa.
*
“Bu sekar, ada yang nyari,” ucap seorang karyawan setelah mengetuk pintu.
“Suruh masuk aja.” Hari pertama kembali aktif kerja di ruanganku, sudah ada tamu.
Tak lama lelaki berkemeja putih masuk. Mataku langsung lekat tertuju padanya. Tampilannya amat rapi, rambut yang dulu menutup garis telinga kini bersih model spike.
“Hei, selamat, ya. Sorry aku datang nggak diundang.”
Refleks aku berdiri, kehadiran Yandi cukup membuat syok.
“Kamu … ke mana aja ngilang, Yan?” tanyaku tanpa bisa menahan pertanyaan dan rasa terkejut. Lelaki ini menghilang sejak dia tersinggung hari itu, nomor kontaknya juga tak pernah aktif.
“Sekar, aku baik-baik aja. Kayak yang kamu lihat.” Dia merentangkan tangan. Tubuh Yandi tampak lebih berisi.
Didekatinya mejaku. “Aku punya kejutan. Kamu siap, nggak?”
“Kejutan apa?”
“Ya, kalau bilang bukan kejutan namanya, Sekar.” Nada gemas ciri khasnya masih ada.
Yandi cepat bergeser ke belakangku, menutupkan kedua mataku dengan telapak tangannya.
“Ih, apaan, sih, Yan?” Kaget aku melepaskan diri.
“Yaudah kamu balik badan aja.” Dia mengalah, segera menurunkan tangannya dari mukaku.
Aku menuruti. Berbalik badan dengan rasa penasaran dengan kejutannya.
Yandi mengingatkan aku boleh berbalik kalau dia minta. Sedikit kesal aku dibuatnya, Yandi terasa lama menyiapkan.
“Masih belum, Yan?”
“Bentar!” Suaranya sedikit jauh. Aku menunggu.
Yandi kembali ke hadapan. “Kamu balik pelan, ya. Tetap tutup mata.”
Sudah terasa berbalik sempurna kedua bahuku dipegangnya.
Anak ini, datang-datang bikin aku deg-deg’an aja. Kejutan apa, sih?
“… dua … satu … buka mata!” Refleks kuikuti.
Pandangan langsung jatuh pada satu titik, di depan pintu itu …?!Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya luar biasa. korban kekerasan seksual butuh waktu lama untuk bangkit. ka Lie ada bukunya ga. kalau ada mo beli bukunya. Mau lanjut dong. ini ngegantung.
26/01/2022
0jalan cerita mengasyikkan.temggelam dalam perjalanan hidup sekar seolah kisah nyata.terus lanjutkan dan ingin sekar berbahagia bersama pak calvin bukan yan
26/01/2022
0lumayan
05/04
0Lihat Semua