Beranda/Gadis yang Ternoda/
Bab 17 Perhatiannya
Cukup lama aku duduk di sofa, sudah berulang atur napas panjang-pendek tapi geli ini tak jua mau pergi. Suara pintu membuatku refleks melihat di depan sana. Pak Calvin keluar kamar sudah dengan jas rapi dan menenteng tas kantor.
Jantung mendadak berderap cepat, melihatnya melangkah tenang ke sini. Mataku tertuju pada rambut berbelahan lurus, dengan minyak atau apakah yang membuat helainya tampak basah mengkilap. Teringat lagi penampilannya berponi tadi kembali membuatku sulit menahan geli.
Kujatuhkan pandang pada meja, berusaha mengalihkan pikiran.
Nggak boleh ketawa, Sekar, dia itu bosmu!
“Kamu itu, sudah salah malah senyum-senyum,” gerutunya.
Makin tertunduk, kutekan perut, meredam rasa yang masih saja menggelitik. Ogh! Jangan sampai tawaku meledak kalau terus terbayang wajah culun itu.
Kupukul-pukul kening. “Ma-maaf, Pak.” Kutangkup tangan, masih belum berani mengangkat kepala. Kalau lihat mukanya bisa-bisa geli lagi.
“Kamu ngeledek? Pulang sana! Nggak ada urusan kerja!” Pak Calvin melangkah melewatiku.
O'o ... wajahnya sangat serius. Mati aku!
Lekas berdiri, aku lari menghalangi langkahnya.
“Maaf, Pak, kemarin sore saya mau beli pakaian ini buat ke kantor ...” Kutunjukkan tas belanjaan. “tapi malah tersesat, saya lupa tanya nomor hape Bapak, lupa tanya alamat rumah Bapak, yang saya simpan cuma nomor Mbak Dwi, makanya saya nelpon Mbak Dwi, tapi-“
“Kenapa kontakmu tidak bisa dihubungi?!” Sejenak aku terperanjat, dia membentak tepat di depan mukaku.
Sebegitu marahnya orang ini?
“… hape saya diambil mamanya Yandi, Pak. Kami nggak sengaja ketemu.”
“Lalu? Kenapa nggak mikir langsung pulang?” sinisnya buang muka ke arah lain.
“Gimana pulang, Pak? Kan saya bilang, alamat sini dan kantor Bapak saya nggak tau, uang juga seratus rupiah pun nggak ada di kantung.” Kukeluarkan kain dalam kantung rok. "Nih, lihat, Pak. Uang saya nggak ada."
Apa yang kulakukan membuat Simcard terjatuh ke lantai. Lekas kupungut benda kecil itu sambil bilang kalau semua uang sisa belanja juga diambil Tante Mel.
“Banyak alasan! Kamu pulang saja, cari pekerjaan di tempat lain!”
“Maksudnya ...? Bapak … nggak jadi pekerjakan saya?”
“Iya. Buat apa punya karyawan yang pada dirinya sendiri saja tidak bisa bertanggung jawab?”
Tertunduk, kurasa mata ini panas.
“Pak!” Kuhadang kembali langkahnya maju akan menuju tangga.
“Ini belanjaan saya, Pak. Harganya hampir 800 ribu.” Kuperlihatkan isinya. “Kalau Bapak batal pekerjakan saya tolong ini diganti. Buat tiket saya pulang, Pak.” Air mata ini jatuh, terasa mengalir sampai ke dagu.
“... kalau ggak ada pekerjaan di sini saya mau pulang saja, memulai semua dari nol lagi.” Tas ini kutempelkan ke tangannya. “Tolonglah, Pak, daripada saya ngemis di jalan ….”
Tubuhnya mematung, seperti memindai wajahku. Kuusap air mata.
Harus kuat, aku sudah bersyukur diberi tumpangan olehnya sampai saat ini.
“Jelaskan alasan, kenapa aku harus mempertahankanmu?” Nada suaranya menurun.
“Maksud Bapak?” Aku mendongak melihat matanya.
Terlihat dia menarik napas panjang.
“Katakan kelebihanmu untuk mengubah keputusanku. Singkat saja!”
Merasa dapat kesempatan, aku segera berpikir cepat.
“Pokoknya saya akan kerja sebaik-baiknya, belajar sebaik-baiknya, Pak!”
“Belajar?” Dua alisnya terangkat.
“Ngg, maksud saya, apa yang Bapak tugaskan akan saya kerjakan sebaik-baiknya.” Kuangkat tangan kanan dengan jari telunjuk dan tengah membentuk V.
Dia melirik sejenak pada jariku yang masih terangkat. “Kalau melanggar?”
“Saya siap dipecat, Pak!” sahutku cepat.
Ini kesempatan, dan aku nggak akan melakukan kesalahan lagi!
Pak Calvin meneruskan langkah tanpa menjawab.
“Pak-“
“Ayo!”
Semringah senyumku seketika setelah mencerna maksudnya. Perasaan ini mendadak ringan saat aku mengekor langkahnya menuruni tangga.
“Terima kasih Bapak mau terima saya lagi,” ujarku dengan napas ngos-ngosan, menjejeri langkahnya.
Sesampai di halaman tetap si Kulkas ini diam. Ah, mungkin aku harus terbiasa dengan sikapnya.
Nggak apa, yang penting masih bisa kerja.
Senyum tak lepas kusunggingkan.
“Masuk!” titahnya mengagetkanku.
Bergerak cepat aku masuk dari pintu mobil yang dibukanya.
Sepanjang jalan Pak Calvin diam, aku juga menutup mulut rapat, takut nanti kalau salah ucap akan bahaya. Dia bisa saja tiba-tiba mengubah keputusannya lagi.
“Mandi, segera ke atas!” perintahnya lagi saat kami sudah sampai.
“I-iya, Pak.” Aku akan turun tapi sebuah wadah makan didorongnya ke lenganku.
Terpaku, sebelum mengambilnya kutatap kotak persegi warna biru laut itu dengan napas tertahan.
“Nanti sarapan dulu, jangan sampai kamu pingsan. Bikin repot saja!” Mulutnya merepet sambil keluar mobil, menyisakanku menganga menatap punggungnya yang kaku, sampai dia masuk lewat pintu depan.
Si Kulkas ini ternyata perhatian juga … tapi sayang sifatnya judes.
Aku keluar mobil, berikan senyum kecil pada lelaki berbaju safari yang sekarang masuk ke belakang kemudi. Aku tahu orang ini supir kantor yang standby di sini.
Sambil jalan masuk lewat pintu samping, kuintip isi wadah, tampak nasi terbungkus kertas putih dengan potongan rendang dan sambal ijo di sisinya.
Ya ampun, kok dia tahu makanan kesukaanku?
Ini pasti miliknya, tapi kenapa dikasihkan?
Aaaa …! Rasanya aku mau teriak kesenangan.
*
“Kalau belum bisa langsung di layar, gambar di kertas saja dulu.”
“Oh, iya. Kalau di kertas insyaAllah saya lancar, Pak.” Aku akan keluar, tapi terlupa sesuatu lekas berbalik lagi. Ternyata dia tengah melihat punggungku, lalu cepat mengalih pandang pada kertas di depannya.
“Pak?”
Dia diam.
“… terima kasih tadi sarapannya. Enak,” ujarku singkat lalu segera keluar saat tak mendapat jawabannya. Memang Kulkas! Mulutnya susah bicara.
Ini sudah ketiga kalinya aku bolak-balik ke ruangan Pak Calvin, mungkin sudah mengganggunya, sampai disuruh membuat di kertas saja. Aku memang belum pandai pakai komputer, ya gimana lagi. Aku takut melakukan kesalahan kalau belum jelas menangkap perintahnya, bisa-bisa barang mahal milik kantor ini rusak.
Awalnya kukira disuruh membuat desain jas, tapi ternyata membuat desain pakaian perempuan sesuai tema yang diminta, hanya mengikuti imajinasiku. Ini luar biasa. Gugup, senang, cemas, bercampur jadi satu. Mendapat sebuah kepercayaan membuatku takut mengecewakannya.
Beda dengan tempat sebelumnya, di sini aturan kerja delapan jam, tapi sementara aku berlatih sampai lancar pakai komputer diperbolehkan lembur. Siang hari kami punya waktu istirahat sejam untuk makan dan Dzuhur. Rasanya menyenangkan, seperti orang kantoran sesungguhnya.
“Hei, aku duduk sini, boleh?”
“Silakan.” Seorang rekan kerja berambut panjang, dengan senyum lebar mendudukkan diri berhadapan denganku. Ini makan siang pertamaku di kantin karyawan, letaknya di balkon sebelah timur menghadap jalan.
Sepertinya makanan ini dimasak di bawah, tadi aku cium bau sama di dapur yang letaknya dilewati kalau aku keluar paviliun. Makan yang tersedia dalam kotak dan air mineral saja yang gratis, kalau minuman ringan di kulkas kaca itu bayar. Ini mungkin fasilitas untuk mendukung kelancaran kerja karyawan.
“Aku Lintang. Kamu?”
Kusambut tangannya. “Sekar.”
“Kamu itu ya yang tinggal di sini?”
“Iya, tinggal di belakang. Tahu dari siapa?”
Dia tersenyum sambil memandangiku dengan tatapan jail, ada gingsul mencuat membuat wajahnya bertambah manis.
“Kelihatannya sepi, tapi berita di sini cepat beredar, lho, Sekar. Termasuk Pak Calvin sibuk nyari karyawan barunya semalam.”
“Benarkah?” Makanan ini mendadak kurang nyaman di lidah.
Benar kata Mbak Dwi tadi … Pak Calvin ikut cari aku.
Wajah Lintang berbinar mulai ceritakan apa yang aku belum tahu.
Sampai akhir kalimatnya. “Aku curiga kamu itu beda di mata si bos.”
“Hah?!” Sambil tertawa aku mengingatkannya untuk jangan mengada-ada.
Aku takut ada fitnah lagi di sini.
“Pernah ada karyawan yang nggak masuk sampe dua hari, pura-pura sakit, biasa caper bos dingin yang masih betah melajang itu, tapi besoknya malah dikeluarkan.”
“Mungkin karena aku masih tinggal di sini, Lin, makanya Pak Calvin khawatir. Pekerja di rumahnya bisa jadi ngerasa jadi tanggung jawabnya,” ujarku yakin.
“Humm, benar juga. Tapi …” Dia memajukan badan, bicara setengah berbisik. “kurasa bukan itu alasannya. Tadi Pak Calvin mau masuk ruanganmu tapi mundur lagi, untung aku cepat sembunyi jadi Pak Bos nggak malu ketangkap basah kikuk.” Lintang terkikik geli.
Dahiku mengkerut.
“Nggak mungkin, ah. Bisa jadi salah masuk ruang.”
“Salah masuk gimana? Haa. Kamu lucu, Sekar.”
Kuteruskan makan. Membiarkan Lintang sibuk bicara dengan tebakannya. Sambil mengunyah mulutnya tersenyum-senyum.
“Eh, kenapa lihat aku gitu? Bikin merinding aja,” kataku membuatnya terbahak. Untung tak sampai tersedak.
“Berani taruhan, kalau dugaanku benar? Aku menang kamu harus traktir aku belanja,” desisnya sambil minum es teh di depannya.
Mau tak mau kalimat Lintang sedikit mengganggu pikiran,
Sore, ba’da Ashar Pak Calvin masuk ke ruanganku.
“Eh, P-Pak.” Kuangguk kaku kepala seraya tersenyum kecil. Dia hanya balas melihat, sedikit tertarik sudut bibir tapi amat samar. Memang susah senyum sejak bayi kali, ya?
Aku tahu dari Lintang kalau ini ruangan Pak Calvin juga kalau sedang mendesain. Apa dia kurang nyaman dengan keberadaanku?
“Siap-siap kalian cinlok, ya,” goda Lintang tadi, membuatku sekarang agak sesak bernapas.
Ada-ada saja. Jelaslah itu nggak mungkin.
Ruangan jadi terasa mencekam. Sambil menggerakkan jari aku teringat lagi ucapan Lintang, selama ini Pak Calvin hanya membuat desain jas, setahu dia belum pernah mendesain pakaian perempuan. Aku sebenarnya mau tanya desainku untuk siapa, tapi itu sangatlah tidak sopan.
Kaku. Canggung. Terasa beda sendiri dengan ada orang di ruang ini.
Ugh! Jadi sulit fokus. Kulirik orang yang berjarak dua meter di sebelah kananku itu lancar menggerakkan jari, aku merasa tak boleh kalah!
Kutarik napas panjang.
Sekar, kamu harus terbiasa dengan suasana ini.
Susah payah kukumpul lagi di otak ide yang tadi sempat mampir, membawa jari mulai bergerak.
“Ha-hasyyimm!” Tiga kali bersinku tak tertahan. Saat Pak Calvin masuk tadi dia menambah dingin suhu ruang. Kebiasaan kalau lama di ruang terlalu dingin hidungku terasa mampet dan gatal.
Kupencet hidung. Ah, tahu gini tadi aku beli tisu.
Ada yang menyentuh lenganku, menoleh, tampak Pak Calvin menyurungkan sapu tangan. Baru kulihat kursi kerja berodanya bergeser mendekat.
Terasa ada yang merayap di dalam dada, perlahan kuterima sapu tangan biru dari tangannya.
“Pak, nanti kotor ... ha-hassyimm!” Bersin lagi, kututup mulut dan hidung dengan telapak tangan kiri.
“Kamu kira ini bekasku? Itu baru dicuci.” Dia terlihat tersinggung.
“Oh, bukan, Pak. Bukan begitu.” Cepat kuusap hidung dan mulut dengan sapu tangan berbau khas parfumnya.
Uhm, harumnya lembut.
“Kamu mau kerja apa bengong?” Terperanjat, aku tercuri mengisap bau saputangannya.
Lekas kutegapkan duduk, mulai fokus lagi. Sapu tangan ini cukup membantu, diam-diam sesekali kuhidu, aromanya terasa cukup melegakan saluran pernapasan. Aneh.
Kupandangi hasil kerja yang masih separuh jadi. Tema Floral, dan ini desain kedua pekerjaanku sejak pagi tadi. Masih berupa oretan pensil, kata Pak Calvin di awal ini buat saja semampunya, yang dia pilih akan diperbaiki dengan desain digital, lengkap dengan bahan kain dan warnanya bisa diatur di applikasi.
Sedikit lagi selesai, masih harus kupikirkan detail maxi dress yang berbeda. Mendongak menatap langit-langit, perlahan kututup mata kumpulkan imajinasi yang sempat buyar. Bayangkan diri sedang ada di taman bunga, hidung menghirup dalam wangi semerbak, membawa rasa tenang. Pakaian melambai indah tertiup angin sepoi nan sejuk.
Merasa cantik, dan percaya diri, itu kumau dari mereka yang akan memakai karyaku.
Bibirku terasa melengkung ke atas, sudah dapat gambaran kembali kubuka mata cepat, mulai menggoreskannya. Aku mau hasil goresan ini punya khas. Seperti busana Dian Pelangi yang penuh warna, aku juga ingin punya khas seorang Sekar. Ya, mimpi itu akan kutumbuhkan di sini, walau aku hanya seorang pekerja.
Selesai! Ah, lega melihatnya. Kuangkat kertas, memandangi goresanku tanpa kedip, meski masih abu-abu aku sudah bisa membayangkan jadinya.
Mataku berkedip, saat sudut mata menangkap seseorang di sisi kananku tengah memandang ke sini. Napas terasa tertahan lagi, jantung pun mulai nakal memukul-mukul dada. Ya ampun, aku lupa ada si Kulkas di sini!
*
Alhamdulillah, berjalannya waktu pekerjaan kuselesaikan sebaik mungkin. Mulai berlatih menggunakan digital. Di hari kelima aku merasa makin mencintai pekerjaan sekarang.
Para pekerja di sini juga terbuka mau menerimaku apa adanya. Selain Lintang aku juga sudah akrab dengan karyawan lain. Makin aku tahu kalau kantor ini khusus tempat perencanaan, pembuatan pola, dan cutting, ada gudang bahan juga. Setelah proses di sini baru dikirim ke ruko tempat kerjaku sebelumnya untuk dijahit.
Dari mereka aku tahu, orang tua Pak Calvin adalah pemilik perusahaan garmen besar, tapi lelaki lajang meski sering dijodohkan ibunya itu lebih memilih usaha sendiri, dibanding menggantikan posisi bapaknya. Usaha ini yang dirintis sejak dia masih kuliah.
Hebat. Sukses mandiri dalam usia masih terbilang muda.
Aku bermimpi bisa sepertinya. Mungkin saja hanya mimpi, karena modal untuk seperti usaha ini pastilah amat besar.
Seperti biasa, sebelum Pak Calvin pulang aku masuk ke ruangnya untuk mengantarkan hasil kerjaku hari ini. Pintu kuketuk dua kali. Saat terbuka dia sedang tak sendiri, ada perempuan memakai dress navy pendek berkerah V-neck sedikit terbuka bagian dada, dia duduk di tangan kursi kerja Pak Calvin.
Melihat aku masuk perempuan itu masih bergeming sembari memandangku.
“Pegawai baru?” tanyanya dengan nada kurang enak.
“Cha, bisa minggir sebentar?” Suara Pak Calvin terdengar jengah.
“Oke, aku tunggu di luar.” Melirikku tajam perempuan berkulit seputih susu itu berdiri, lalu terdengar suara ketukan sepatu meninggalkan ruangan.
“Mana?”
“Oh, ini, Pak. Maaf kurang rapi, saya masih berusaha berteman dengan layar,” ujarku mencoba sedikit santai.
Dilihatnya sejenak hasil print-ku, desain yang sudah kuedit digital, sesuai petunjuknya kemarin.
“Not bad. Buat lebih baik lagi besok.”
“Siap, terima kasih, Pak.” Aku lega hari ini tak mengecewakan, meski mata ini terasa mabuk lihat layar.
Aku bertemu teman lain yang sedang bersiap pulang.
“Kami duluan, Sekar.”
“Iya, dah!”
“Jangan terlalu keras belajarnya, bawa santai aja lagi,” ujar Lintang menepuk pundakku, dia sudah menenteng tas. Wajah karyawati bagian accounting ini tampak cerah. Tadi siang cerita kalau calon suaminya yang super sibuk itu bisa jemput.
“Duluan ya, Sekar. Bye.”
“Iya, Lin. Bye.”
Aku juga membalas salam Pak Azis, karyawan bagian pola dan cutting jas yang pamit pulang di belakang Lintang.
“Oh, kamu yang namanya Sekar?” Langkahku kembali ke ruangan tertahan, suara perempuan membuatku menoleh belakang.
Oh, cewek yang ada di ruangan Pak Calvin tadi.
“Iya, saya Sekar,” sahutku tak lupa tersenyum. Mata bulat berpayung bulu lentik dan tebal berubah sinis.
“Kalau mau kerja, kerja aja jangan pake gaya minta perhatian bos. Sadar diri, dong.” Matanya melirik penampilanku. Kubuatkan mata, merasa penampilanku baik-baik saja.
“Murahan!” desisnya sembari mendahului langkahku.
Murahan itu menurutmu! Sembarangan!
Hati merutuki kesombongan cewek yang kembali melenggang ke ruang Pak Calvin, tepat saat laki-laki itu keluar, sejenak melirik ke sini.
“Habis ini ke mana, Calv?”
“Aku mau ke kantor Papi.”
“Aku ikut, ya!”
“Kamu pulang saja, ini kayaknya lembur, akan rapat lagi.”
“Nggak apa aku nunggu. Apa sih yang enggak buat kamu, Calv.” Sempat kulihat lengan Pak Calvin digandengnya.
Hm, itu mungkin kekasih Pak Kulkas.
Aku masuk ke ruangan, bersiap akan membuat satu desain baru. Kali ini aku merasa mau buat dress anak, bentuk yang lucu dan menggemaskan. Entah kenapa hatiku ingin saja membuatnya.
“Hei, Sekar!” Kaget. Aku menoleh cepat ke pintu, terlihat kepala Pak Calvin melongok separuh.
“I-iya, Pak?”
“Kamu lembur?”
“Iya.” Aku mengangguk cepat.
“Ambil kotak snack di mejaku.” Belum sempat kujawab kepalanya sudah menghilang di balik pintu.
Melongo sejenak, aku sedikit bingung. Bukannya tadi dia turun sama ceweknya itu?
Kok bisa … balik lagi?
Aneh.
*
Aku baru turun. Terlalu semangat perlancar jari aku sampai lupa waktu, ini sudah hampir jam sepuluh malam. Pinggang baru terasa pegalnya kelamaan duduk.
“Sekar.” Bik Yati memanggil sebelum masuk.
“Iya, Bik?” Wanita yang separuh rambutnya mulai putih itu menyodorkan paper bag kecil.
“Titipan untukmu.”
“Untukku? Dari siapa, Bik?”
“Dari Pak Calvin, dititipkan sama supir tadi.”
Pak Calvin? Kupandangi paper bag putih mengkilap itu.
“Oh. Apa, ya, isinya, Bik?”
“Nanti aja dibuka sendiri,” kata Bik Yati bersiap keluar. “Oh, ya. Sekar.” Wanita berwajah tenang itu menatapku sejenak, lalu melepas senyum tulus.
“Kamu bersiaplah, sepertinya bocah itu sudah menemukan apa yang dicari,” ujarnya kemudian sembari tertawa kecil.
“Maksud Bibik?”
“Nanti kamu akan tau sendiri.” Pundakku disentuhnya. “Yang pasti ini membuatku terharu.” Mata Bik Yati berkaca tapi bibirnya tersenyum lebar. Sikap yang makin membuatku tak mengerti.
Kututup pintu setelah Bik Yati ke kamarnya.
Duduk di bibir ranjang, perlahan kukeluarkan isi tas.
Kotak ponsel?
Lekas kubuka.
Kenapa si Kulkas itu kasih hape segala?
Ada kertas di atas ponselnya.
‘Kalau sudah dibuka, langsung hubungi aku. Hanya memastikan saja kalau kartu ini sudah di tanganmu. Nomorku ada di kontak.’
Memang Kulkas. Tulisannya aja isinya cuma perintah!
Kusentuh layar, geser ke bagian kontak. Tertegun sesaat melihat foto wajah Pak Calvin di sana.
Sempat-sempatnya pasang foto segala.
Beberapa detik kuperhatikan saksama. Wajah yang terpahat sempurna, dengan hidung tinggi, dan rahang tegas. Namun, pandangku langsung terhenti pada matanya.
Kenapa sorot mata ini terlihat sedih? Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya luar biasa. korban kekerasan seksual butuh waktu lama untuk bangkit. ka Lie ada bukunya ga. kalau ada mo beli bukunya. Mau lanjut dong. ini ngegantung.
26/01/2022
0jalan cerita mengasyikkan.temggelam dalam perjalanan hidup sekar seolah kisah nyata.terus lanjutkan dan ingin sekar berbahagia bersama pak calvin bukan yan
26/01/2022
0lumayan
05/04
0Lihat Semua