logo text

Bab 16 Kesepakatan

Kepala terasa memberat seperti dibebani batu besar di bagian belakangnya. Kucoba buka mata, meringis sambil menyentuh kepala yang berdenyut.
“Sekar?”
Ringisanku terhenti mendengar suara seseorang di dekat telinga. Kupaksa lagi membuka mata. Melihat bayang samar mirip orang yang kukenal di depan muka.
Kulebarkan mata melihatnya lebih jelas.
“Sekar?”
“Yan …?”
“Kamu sudah sadar?” Ditepuknya pelan pipiku.
Kupandangi matanya yang lelah, dengan wajah sangat khawatir melihatku. “Aku kenapa, Yan?”
“Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu sampai ada di sini?” Yandi mengambilkan air teh, membantuku duduk untuk minum.
“Mana kerudungku?!” Aku kaget menyadari kepalaku tanpa penutup
“Sst, jangan ribut gitu ini masih malam, orang rumah ini barusan aja tidur.”
“Iya, tapi mana-“
Yandi segera mengambilkan kerudungku di sisi badannya, langsung memasangkan ke kepalaku.
“Diam aja. Jangan ribut dulu,” ujarnya kesal melihatku akan protes.
“Ini, makan.” Setelah memberi segelas teh hangat Yandi juga menyuapkan biskuit ke mulutku, memukul tanganku yang akan mengambil alih mau menyuap sendiri.
Dengan wajah serius dia menyuapiku sampai habiskan dua jajanan bungkusnya bergambar singa itu. Aku ingat ini pemberian Bapak yang membantuku tadi. Kata Yandi, dia sampai di sini--alamat yang kusebut padanya di telepon—saat suasana sedang ribut. Ternyata bapak itu memukuli keponakannya yang bermaksud menggangguku.
Yandi kemudian mengenalkan diri sebagai suamiku dan dia diizinkan menjagaku sampai sadar sebelum pulang.
“Kamu lapar, Sekar. Pantas perutmu tadi bunyi kayak bedug,” katanya sambil mengacak kepalaku.
Aku tersenyum melihat perhatiannya kembali seperti awal.
“Masih pusing?”
Aku menggeleng. “Sedikit.”
“Kepalamu sedikit memar, cowok mabuk itu hampir aja-“ Yandi menghentikan kalimatnya. “Harusnya kamu hati-hati, Sekar, ini kota besar isi kepala orang nggak bisa kita tebak. Aneh aja bisa sampai nyasar gitu.”
Muka terasa panas. “Iya, Yan, ini memang bod*h, aku nggak nyangka juga kalau sampai gini.”
Yandi menghela napas panjang sambil naik ke dipan, lalu merebahkan badan di sebelahku.
“Ehh, mau ngapain?!”
Aku menggeser sampai ke ujung ranjang ukuran nomor dua ini.
Yandi berbaring miring membelakangiku.
“Sekar, kamu kalau masih pusing istirahat aja dulu, ini masih malam. Kita pulang besok pagi.”
Aku terdiam menatap punggungnya. Dia kembali seperti sebelumnya.
Apa Yandi sudah lupa kejadian pagi itu?
“Makasih, ya, Yan. Kamu mau datang.” Hati masih terasa perih mengingat keributan kami terakhir dan tatapan marahnya saat itu.
Apa Yandi tadi lambat datang karena ditahan ibunya? Trus, gimana dia bisa sampai ke sini?
Banyak tanya yang ingin kulontarkan.
“Kenapa duduk aja? Istirahatlah,” ujarnya tanpa berbalik.
Masa aku baring sekasur dengannya?
“Aku mau pulang, Yan.”
Teringat Pak Calvin, Mbak Atun. Apa mereka mencariku?
“Sekar, maaf ya atas hari itu.” Suara Yandi berubah gemetar.
Kuhela napas. “Nggak apa, Yan. Aku sudah lupa-“
Cepat dia membalik badan, melihatku.
“Maksudnya? Kamu sudah lupa aku?” tanyanya dengan wajah tak terima.
“Bukan. Aku cuma mau lupain muka marah kamu sebelum pergi itu.”
Matanya meredup. “Maaf ya, itu aku lagi ngerasa tertekan.”
Yandi beralih menatap langit-langit. Diam beberapa saat. “Aku capek dikekang Mama.”
“Maaf, semua gara-gara aku, Yan.”
Yandi duduk dan aku tersentak melihatnya mendekatkan wajah. Kusiapkan tangan akan menahan dadanya.
“Mau apa?!” desisku sambil melotot.
“Kalau kita khilaf mau nggak mau Mama pasti setuju.” Ide gil* muncul di wajahnya. Yandi makin mendekat, kudorong dadanya sambil merayap turun dari tempat tidur.
“Jangan gil*, Yan!”
“Sekar, kalau kita nikah mungkin keadaan akan beda. Aku capek diawasi kayak tahanan.” Yandi ikut turun dari ranjang, duduk menyandari dipan dengan tangan mengusap kasar mukanya.
“Mama nggak percaya lagi sama aku, kami nyewa rumah nggak jauh dari kampus. Mama sampai lepaskan semua kegiatannya di sana, itu juga atas dukungan Papa. Disuruh tinggal sama aku di sini sampai selesai pendidikan. Bayangkan, Sekar, itu sangat mengerikan!”
Yandi juga tahu ponsel yang diberikannya padaku sudah diambil lagi oleh mamanya tadi, entah kalau uang tiket apa Tante Mel katakan ataukah tidak. Hubungan ini sudah ditentang terang-terangan.
“Itu … karena mamamu sayang kamu, Yan.”
“Tapi aku harusnya berhak memutuskan masa depanku sendiri!”
“Masa depan sama aku?”
Matanya menatapku lurus. “Iya. Masa depan kita. Kenapa kamu tanya begitu? Kamu ragu?”
Kami saling berpandangan beberapa saat. Terlihat luka dan sayang di matanya itu bercampur jadi satu. Kasihan Yandi terluka karena aku. Andai bukan aku mungkin hubungan dengan orang tuanya akan baik-baik saja.
“Yan ….”
“Hemm.”
“Mungkin lebih baik sebelum berhasil kita masing-masing dulu ….”
Beberapa detik hanya mata kami yang bicara, saling tatap dalam jarak sekitar tiga meter.
Aku memeluk lutut dengan punggung bersandar pada tembok.
“Kita berjuang sungguh-sungguh, siapa tahu setelah kita berhasil mama papamu mau nerima.” Kalimatku terasa tercekat, gemetar. Bukan karena merasakan hati teriris perih, tapi aku kurang yakin karena keadaanku tak bisa berubah lagi. Seumur hidup akan tetaplah sama.
Aibku tak pernah bisa terhapus.
Setelah terdiam beberapa detik Yandi pun menyahut, “Mungkin … sementara begitu lebih baik.”
Agh! Rasanya sebelah hatiku baru saja dilepas paksa. Nyeri.
“… sebenarnya aku bisa ngelawan Mama dari awal, tapi nggak tega. Mama itu lagi sakit, Sekar. Ada benjolan di dada kanannya, sudah periksa di Silo*m, aku sama Papa maksa Mama periksa, pas Papa sempatin ke sini. Harusnya dioperasi, tapi Mama belum mau.”
Air mataku langsung luruh. “Apa itu benjolannya sudah lama …?”
“Mungkin, tapi Mama baru nyadar pas awal datang ke sini malah. Dari hasil screening itu tumor jinak, makanya Mama terkesan santai, padahal disuruh bedah.”
“Harus cepat operasi, Yan. Ummi dulu juga nolak operasi, lama-lama besar, Ummi sakit ….” Isakku melesak keluar, teringat kondisi Ummi yang tetap tersenyum di saat sakitnya. Beliau saat itu masih merayuku untuk mau tinggal dengan Ibu.
Tahu tentang sakitnya Tante Mel ini aku tiba-tiba merindukan Ibu. Ingin melihat lagi wajahnya, meski pemarah Ibu tetap sayang. Saat aku bersamanya, masih disekolahkan diberi makan adalah hal yang harus kusyukuri, meski banyak tanya di kepala tentang masa lalu.
“Aku akan merayu Mama melakukannya.”
Kuusap sisa air mata dengan ujung kerudung, memberikan Yandi senyum untuk menguatkannya.
“Alhamdulillah, semoga penyakit Tante diangkat.”
Mata Yandi berkaca melihatku.
“Kenapa sedih gitu?” tanyaku sedikit menggodanya agar tersenyum.
“Sekar … aku nggak bisa buang kamu dari pikiran ini,” ujarnya dengan rona bersungguh-sungguh.
“Kita kan tetap jadi teman, Yan.”
Yandi berpindah duduk mendekat, membuatku sedikit menggeser duduk.
“Kalau ngikutin perasaan, aku mau melewati semua ini sama kamu ...” Dia menoleh, menatapku lekat. “kalau menjauh aku takut perasaanmu hilang?”
Kuberanikan diri membalas tatapannya. “Kenapa mikir begitu? Mamamu nggak suka aku mungkin ada alasan kuat, kalau aku berhasil mungkin saja akan beda.” Kucoba mengukir senyum.
“Kuharap begitu. Aku sempat down waktu Mama-Papa kompak menentang.”
Kejujuran dalam kalimat Yandi sangat menusuk. Mungkin aku begitu buruk di mata mereka ….
Kutarik napas panjang, embuskan pelan. “Ikuti aja apa kata orang tuamu, Yan. Aku takut kalau kita melanggar, sementara rasa bersalahku sama Ibu juga masih ada. Tinggalkan dulu perasaan ini buat senangkan mereka.”
Perlahan Yandi menyentuh tanganku, menyela jari kami dan menggenggamnya kuat.
“Aku sayang pemilik tangan kecil ini. Sangat sayang,” ujarnya sambil menatap tanganku di genggamanannya. “Aku takut dia nggak bisa jaga diri lagi ….” Bulir air dari matanya jatuh di punggung tanganku.
Kukatup mulut rapat menahan isak yang mendesak ingin kembali tumpah, melihat luka Yandi juga kurasakan luka sendiri di dalam sana.
“Aku pasti bisa jaga diri, Yan. Doakan aja.”
Sakit perpisahan beginilah rasanya. Kami beberapa menit terdiam, dengan tangan tergenggam.
Keputusan kembali berteman sampai jodoh yang akan pertemukan kami sepakati.
“Yan, bisa antarkan aku ke masjid?” ujarku perlahan membuyarkan lamunannya. Dua kewajiban tertinggal kukerjakan tadi.
Diam beberapa saat sebelum Yandi melepaskan tanganku.
“Aku juga sampai lupa Isya. Mama nahan pas aku mau keluar tadi, untung pura-pura tidur sampai Mama nggak curiga baru aku keluar dari pintu belakang.
“Ya ampun, pasti sekarang kamu dicari, Yan!” Mataku melebar.
“Nggaklah, Mama sudah tidur, nanti habis antar kamu ke masjid aku langsung pulang. Kita ke masjid dekat kos Salma aja.”
“Iya. Kalau di sana aku sudah tau jalannya.” Yandi tahu aku kerja di cabang Calvin Tailor.
Kami pamit pada Bapak yang sudah membantuku semalam, lelaki itu tadi baring di ruang TV terbangun saat kami keluar kamar. Sekali lagi lelaki berkulit gelap itu minta maaf atas kelakuan keponakannya.
Aku dan Yandi meninggalkan rumah itu, menembus dingin tengah malam dalam diam.
*
Yandi sudah pulang, sementara aku tidur duduk di selasar masjid menunggu waktu salat Subuh. Usai itu juga masih di sini menunggu jam ruko buka. Uang 50 ribu tadi Yandi berikan untukku membeli sarapan.
Pemberian Yandi tak bisa ditolak, karena aku membutuhkan biaya untuk ojol nanti, ini cuma mau tanya alamat kantor Pak Calvin sama Mbak Dwi.
Pukul 08.00 aku jalan ke ruko. Bagai orang hilang, aku melangkah di kota asing ini sambil menenteng belanjaan yang kujadikan dalam satu tas plastik.
Putus dari Yandi aku akan benar-benar sendiri sekarang. Semoga saja Pak Calvin masih mau pekerjakan aku.
“Ya ampun, Sekar kamu itu ke mana aja. Aku hubungi balik kok gak bisa-bisa?”
Mbak Dwi bilang semalam ada acara, hapenya silent di dalam tas sampai lowbatt.
“Tengah malam kami terus hubungi kamu balik sudah nggak bisa. Pak Calvin sampai marah, tuh.”
Saking cemasnya Mbak Dwi sampai memeriksa apa ada yang kurang dengan tubuhku.
“Mbak Dwi aku nggak papa, cuma nyasar.”
“Nyasar?!” tanyanya setengah terpekik.
Kujelaskan sedikit sampai wajahnya tampak lega.
“Sana, langsung ke belakang! Pak Calvin ikut pusing nyari kamu semalam. Sudah pesan kalau kamu ke sini disuruh langsung menemuinya.”
“Ke belakang, Mbak?”
“Iya, Sekar. Sana!” Pelototan Mbak Dwi membuatku menggulum senyum. Senangnya ada yang memerhatikanku.
Aku sudah di depan pintu rumah Nenek yang terbuka lebar.
“Assalamuallaikum.”
“Waallaikumsalam, ya ampun Sekar darimana saja kamu?” Raut Nenek ternyata sama khawatirnya dengan Mbak Dwi.
Aku menjelaskan sedikit padanya yang tampak rapi, tengah bersiap akan keluar, tapi belum selesai penjelasanku sudah diputusnya.
“Cepat naik! Kamu bikin Calvin marah-marah pergi kok ndak bilang-bilang.”
“Naik?”
“Mang, siapkan mobilnya!” Nenek mengacuhkanku, terlihat terburu-buru meminta supirnya menyiapkan mobil dan barang yang akan mereka bawa.
“Ayo sana naik, Sekar.” Nenek menunjuk atas melihatku belum juga bergerak. “Kamu itu sudah buat aku kesiangan juga,” gerutunya,
Cerewet Nenek itu membuat hati menghangat. Ternyata di sini aku dianggap ada.
Apa segitu pentingnya aku, sampai hilang semalam saja sudah mengganggu mereka?
Ah, terasa senyum lepas terkulas di bibir.
Sebelum menaiki tangga memutar ke lantai atas, kutarik napas panjang, menelan saliva yang terasa kering.
Jam segini Pak Calvin juga belum berangkat, apa aku akan dimarahi?
Degup jantung ini jadi bertambah kuat saat kaki menginjak tangga paling atas.
Kenapa jadi gugup begini?
Melangkah perlahan, aku mencari tak satu pun orang di sini. Terhenti, berdiri di dekat sofa yang seperti ruang tamu, pandanganku mengarah ke sebuah kamar di ujung sana.
Kuputuskan mengetuk kamarnya saja setelah beberapa menit berdiri.
Di depan kamar Pak Calvin, kutarik napas panjang. Detik kemudian terkesiap, tangan yang bergerak akan mengetuk terhenti di udara, saat sosok yang kusegani itu membuka pintu.
Sontak mata kami bertemu dalam tiga detik.
“Kamu? Baru pulang?!” Matanya menatapku tajam.
Aku menegang, tapi pas pandangan ini bergerak ke dahinya, perut seketika terasa digelitiki. Kubulatkan mata, menjepit mulut berusaha menahan tawa.
"Darimana saja kamu?!"
Lekas kutundukkan pandang. Jadi terlupa jawab tanyanya saat mata ini jatuh pada dada piyama Pak Calvin yang setengah terbuka, tampaklah otot menyembul membentuk kotak-kotak, membuat napasku langsung tertahan di tenggorokan.
“Ma-maaf, Pak. Sa-ya nyasar.” Tergagap, aku lekas balik badan berusaha meraup udara yang terasa hilang di ruang ini.
Hening.
Detik selanjutnya terdengar pintu di belakang punggungku ditutup. Ah, kutarik napas lega. Lekas kembali ke sofa menunggunya.
Melihat pintu kamar itu membuat gugupku perlahan hilang, berganti kembali merasa perut digelitiki. Kubekap mulut menahan tawa. Ternyata rambut lurus Pak Calvin kalau tanpa minyak rambut akan turun semua ke dahi, membentuk poni. Hahaa. Fix! Aku tadi merasa baru melihat aktor Korea berwajah cantik.
Tersenyum-senyum kalau ingat muka Pak Calvin ... jadi imut dengan poni di atas alis. Haa.

Komentar Buku (130)

  • avatar
    Ranti Imanti II

    ceritanya luar biasa. korban kekerasan seksual butuh waktu lama untuk bangkit. ka Lie ada bukunya ga. kalau ada mo beli bukunya. Mau lanjut dong. ini ngegantung.

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ZairaSiti

    jalan cerita mengasyikkan.temggelam dalam perjalanan hidup sekar seolah kisah nyata.terus lanjutkan dan ingin sekar berbahagia bersama pak calvin bukan yan

    26/01/2022

      0
  • avatar
    Nada Tau

    lumayan

    05/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru