Beranda/Gadis yang Ternoda/
Bab 13 Nasib
“Lembur lagi?” tanya Salma saat aku baru masuk kamar.
“Ya, Sal, baru selesai kerjaan sampe tengah malam.” Setelah memastikan pintu tertutup rapat kulepas kerudung. Sampai di kamar letih ini baru terasa berlipat. Enaknya kalau langsung merebah tubuh di kasur, sayangnya ini bukan kamarku. Karena dianggap menumpang aku agak segan sama Salma.
“Sekar, semalaman kamu itu sendiri atau …?”
“Maksudnya apa, Sal?” Aku mengernyit dahi.
Kok, tatapan Salma curiga, gitu, ya.
“Maksudnya, yang lembur cuman kamu, atau ada temen lain?” Aku refleks tertawa.
“Iya, Sal, kan cuma aku karyawan baru yang masih lelet kerjanya. Kalau sudah lihai aku akan sama kayak yang lain, kok, pulang tepat waktu. Ini gegara target harus selesai,” ujarku sambil menyentuh rambut yang lembab dengan jari.
“Ohh ….” Mulutnya membulat sambil menatap layar ponselnya yang menyala.
Apa Salma kurang suka aku sering pulang malam, bahkan sampe pulang sampe pagi begini. Tapi kan sudah kujelaskan alasannya.
“Aku mau mandi dulu,” ujarku seraya ke kamar mandi di sudut kiri kamar.
Kunikmati siraman air dari gayung di atas kepala sepuasnya. Rrrr, dingin. Segar.
Ini pembalasan kemarin sore nggak mandi. Sejak kerja sama Pak Calvin aku jadi lupa mandi sore. Bukan betah dengan punggung lengket keringat, tapi terpaksa. Andai tak pakai target aku bisa sedikit santai.
Saat aku keluar dari kamar mandi Salma sudah tidak ada di tempat. Kukeringkan sebentar rambut dibantu kipas angin, sebelum ke dapur umum di belakang. Perut sudah nagih minta diisi.
Salma masuk, di depan pintu dia melongo melihatku. “Kamu … mandi keramas, Sekar?”
“Hu’uh, Sal, kepalaku bau.” Tersenyum, tapi kemudian aku mengernyit kening lagi melihat reaksinya sedikit aneh.
“Memangnya kenapa, Sal?” tanyaku sembari menyisir rambut perlahan.
“Mm, gak kok. Itu di luar ada yang nyari kamu.”
“Yandi?”
Menggeleng, dia angkat dua bahu. Selain Yandi di sini aku nggak punya teman lain.
… jangan-jangan Tante Mel ngikutin aku ke sini?!
Lekas kutarik kerudung dari rak bawah lemari, bagian yang sukarela dibagi Salma untuk menyimpan pakaianku.
Belum juga aku keluar, pintu sontak terbuka lebar tanpa diketuk, dan siapa yang muncul itu membuat jantungku melompat.
Tante Mel, dan di belakangnya ada dua anak kos yang melihatku dengan wajah tegang.
“Buat apa kamu masih pakai kerudung? Topeng!”
“Tante?”
“Tutup mulutmu. Siapa sudi dipanggil Tante dengan mulut busuk itu. Kamu pikir bisa nipu banyak orang lagi, hah?! Pakai pura-pura sok suci!”
Gemetar badan ini bertambah melihat Yandi muncul di belakang ibunya, dengan mulut menganga dan napas megap-megap, ia sepertinya habis lari cepat.
Tante Mel melirik anaknya. “Benar ‘kan mama bilang, Yandi? Dia itu baru pulang. Percuma kamu perjuangkan orang nggak bener ini. Jangan buat mama tambah sakit, Yan ….”
Bola mataku terasa langsung panas.
Apa mereka mengira aku ….
“Kamu baru pulang, Sekar?”
“Yan-“ Aku mau jelaskan tapi kemudian Yandi malah melihat ke arah Salma.
“Sal, beneran dia baru pulang?”
Salma melirikku, lalu mengiyakan.
Kutahan napas yang terasa disesaki bulatan batu tajam.
“Nggak kayak yang kamu kira, Yan,” selaku.
“Mau modus lagi? Kalian semua harus tau, Yandi ini dihipnotis. Rela kasih hape, melawan orang tua, bayarkan tiketnya ke sini buat bantu dia kabur, belum lagi banyak bohong pada kami, seumur-umur baru ini Yandi jadi pembohong besar. Ya, semua gara-gara perempuan ini! Mulutnya beracun, pintar mengada-ada!” Tante Mel sengaja bersuara keras untuk didengar semua penghuni kos, yang sepertinya hampir semua sudah mengerubungi kami sekarang.
Ugh! Fitnah lagi. Di manapun aku sepertinya keadaan akan tetap sama!
Kalimat Tante Mel masih menggebu bicarakan aibku, tapi itu terasa selewat saja di telinga. Aku sudah kebal. Kubalas tatapan mata Yandi berharap cowok ini masih percaya padaku.
“Mama lihat sendiri dia diantar mobil mewah pagi-pagi.”
“Tante salah paham!”
“Salah paham dari mana? Kamu itu pembohong! Pantas saja ibumu membuang anak kayak kamu!”
Mataku masih beradu dengan Yandi yang mematung, bagai tak melihat kelakuan mamanya. Napasku sudah memburu menahan emosi terasa mengisi rongga kepala.
“Yan-“ Aku mendekati Yandi, mau dia percaya, tapi dadaku didorong Tante Mel menjauhinya.
“Jangan kamu sakiti mama dengan memungut sampah, Yan! Dengar Mama! Kamu lihat sendiri buktinya.” Lengan Yandi diguncang mamanya yang mulai meratap. Air mata itu terlihat membuat Yandi tergerak, bereaksi.
“Yan, dengar aku dulu.”
“Diam!” Mulutku terkatup saat Yandi mengangkat tangan.
“Salma, jawab aku.” Suaranya melemah, bertanya pada Salma, tapi matanya menatap ke sini.
Kilat iris mata itu membuatku menelan ludah yang terasa berduri.
“Iya, Yan.” Salma bersuara sedikit gemetar.
“Apa Sekar sering pulang pagi?”
“Mm, kalau pulang pagi baru ini,” jawab Salma.
“Sebelumnya?”
“Seminggu lebih ini memang pulang malam ….”
“Yan, aku pulang malam karena aku kerja!” Mulutku tak bisa menahan untuk menyela.
Hening sesaat.
Hati tersayat melihat Yandi mengeraskan rahang, matanya sinis melihatku.
“Apa dia juga … habis keramas?” Nada suara Yandi terasa mengejek, sontak membuatku menganga lebar. Kupegang kerudung yang lembab.
“Pertanyaan bodoh itu, Yan!” teriakku spontan.
“Mulut kotormu itu diam!” Tante Mel mendorong bahuku sampai mundur.
“Jawab, Sal.” Yandi minta jawaban Salma dari pertanyaan anehnya.
“Iya ….” Jawaban Salma seperti menarik senyum tipis di bibir Yandi.
Sikapnya menaikkan emosi sekaligus ingin membuatku tertawa. Dasar bod*h! Dipikirnya aku habis apa?!
Melangkah maju, kunaikkan dagu melihat muka Yandi.
“Kamu pikir aku pulang pagi, lalu mandi keramas itu kenapa, hah?!” Kudorong dada Yandi, kesal. Hati ini tak terima kalau dia tampak melecehkanku dengan matanya.
“Aku kerja, Yan! Nggak ngapa-ngapain!”
Kubiarkan mamanya melawan kalimatku, kembali memaki, lalu menarikku menjauh dari anak lelakinya. Bukan kalimat sumpah serapah itu yang kutakuti. Bukan. Sikap pengecut Yandi yang langsung berbalik pergi, membawa kesimpulan buruknya tentangku sangatlah melukai hati ini.
“Ingat kalian, hati-hati sama orang ini ….”
Kemudian, lancar bagai jalan tol kalimat-kalimat Tante Mel sebelum pergi mengikuti putranya. Kutulikan telinga. Biarkan dia puas, mengumumkan ulang pada para penghuni kos yang hampir semua teman sekampus Yandi tentang masa laluku.
Air mata ini luruh seketika bukan karena kalimatnya, tapi ini luapan kecewaku pada Yandi ….
Apa semua harus berakhir dengan begini, Yan?
Kututup wajah, menahan isak yang begitu menyesak.
*
Siapa yang aku punya?
Siapa yang mau mengakui keberadaanku?
Siapa yang mau bersamaku?
Tidak ada.
Miris.
Kenapa aku harus sendiri?
Apa yang salah dengan hidupku?
Sunggingkan senyum pahit, kutarik napas dalam-dalam. Aku tak akan mengasihani diri sendiri, apalagi meminta mereka mengasihaniku.
Langkah kuayunkan pasti menuju tempat kerja. Cukuplah menangis setengah jam tadi, lalu puas makan mie instan dua bungkus, dan kerupuk isi 10 kuhabiskan dengan lahap. Bukan karena selera, sebab jelas makanan itu kalah rasa dengan perih di dada.
Aku hanya ingin tetap hidup, dan makan adalah salah satu cara bertahan dan mungkin juga sedikit penghilang perih di dada.
Fitnah bertubi-tubi bisa saja membuatku rapuh, enggan berdiri, atau meratapi nasib sampai mati. Namun, itu sama sekali tidak berguna.
“Sori, Sekar. Kamu sudah kerja, kan? Sudah bisa nyari tempat lain. Bu Kos tadi manggil aku ….”
Teringat tadi kalimat Salma itu. Setelah dipermalukan Tante Mel, aku juga diusir secara halus. Aku sadar sudah merepotkannya.
Sebelum pergi dari kos itu aku punya permintaan.
“Sal, boleh aku numpang masak mie dulu?”
Gadis itu mengangguk, tanpa bisa sembunyikan rona keheranan memandangku. Haha, baru kusadar itu permintaan teraneh dari orang yang diusir. Betapa lucunya hidupku!
Kugenggam kuat tali ransel, berusaha menatap jalan di depan.
Air mata sudah terasa kering. Aku tak mau menangis lagi. Biarkan hati ini membatu. Biarkan mereka bangga dengan prasangkanya. Percuma juga orang sepertiku menjelaskan apa pun, tetap saja di mata mereka akan dipandang salah.
*
Hari ini aku mengerjakan jumlah target sama seperti kemarin, hanya berbeda detail modenya. Rupanya usaha Pak Calvin ini selain membuat pesanan jas mewah, juga memproduksi blazer dan cardigan limited stock_kalau ada pesanan, baru model yang sama akan dibuat. Begitu yang aku dengar dari karyawan lama.
Salut dengan mode yang khas bergaya elegan, seperti menggambarkan siapa pemiliknya.
Penasaran, kutanya siapa yang membuat pola dan memotong kain ini, tapi mereka pun tak tahu, karena bahan memang selalu sudah tersedia di meja sebelum jam kerja.
“Kita di sini cuma diminta menjahit serapi mungkin, Sekar. Kerjakan saja, bukan bertanya,” tegur teman di sebelahku, bicara sambil matanya menatap penuh teliti pada gerakan tangannya di bawah jarum.
Apa perusahaan ini punya tempat lain? Gudang kain atau tempat khusus desain, gitu …?
Agh! Kutepuk dahi, menyadarkan diri untuk kembali fokus bekerja.
Posisi Yandi dan mamanya di otak memang kubuang jauh, diganti impian yang terasa menggebu.
Untuk apa buang energi memikirkan orang yang merendahkan kita?
Aku tidak akan jatuh terlalu dalam. Selama masih ada orang yang mau memakai tenagaku, rasanya jalan masih tetap terbuka.
Terulang lagi, sampai di tengah malam pekerjaanku baru selesai. Terdengar ketukan sepatu berhenti membuat napas sedikit tertahan.
“Apa kamu sengaja lambat biar nggak pulang?”
“I-ini sebentar lagi selesai, Pak.” Aku tak mengangkat kepala. Namun, tangan ini berhenti bekerja, bermaksud menghargai kehadirannya.
“Benarkah? Lalu itu apa?” Terpaksa aku mendongak, melihatnya memandangi ranselku yang gemuk di sisi meja.
“M-maaf, Pak. Saya dikeluarkan dari kos. Bu Kos mengira saya liar sampai pulang malam selama kerja di sini.”
“Pulang pagi,” ralatnya.
Aku meringis, menahan wajah panas. “I-iya, Pak. Pulang pagi, jadi mereka kira saya-”
“Siapa yang tanya? Kemarin sudah diberitahu, bukan? Kalau lambat lagi kamu tahu konsekuensinya.”
Tertunduk, kupandangi jarum jahit, berdiri tegak di atas kain yang masih kupegang. Kenapa tajamnya itu terasa menusuk-nusuk hati?
“Saya akan usahakan lagi besok lebih cepat, Pak.”
“Buktikan!”
Si Kulkas itu pergi, baru bisa kutarik napas lega. Ah, masih ada kesempatan. Paling tidak dia belum memecatku.
*
Kurang tidur dua malam, membuatku terasa seperti mayat hidup. Kepala melayang, mata berat, mungkin saja kantung mata menggantung dan gelap. Tubuh ini juga sedikit gemetar dan sulit fokus.
Berusaha kulawan, terus gerakkan jari tanpa henti, hingga jam istirahat siang aku tak tahan lagi. Lepas Dzuhur, saat yang lain makan, aku masih bertahan di mushala. Tak kuat menahan mata yang terasa lengket seperti dilem. Akhirnya, aku tertidur sampai jam istirahat habis. Itu pun dibangunkan pekerja rumah neneknya Pak Calvin.
Lumayan bisa mencuri tidur, walau tidak makan siang aku cukup merasa segar. Minum yang banyak saja terasa kenyang.
*
“Kamu tidur di sini?” Bos memergokiku bersiap akan salat Subuh.
“Maaf, Pak. Kalau boleh sebelum saya gajian izinkan saya numpang, tidur duduk di meja jahit nggak apa, Pak,” mohonku.
Dia hanya melirik tanpa menjawab, lalu masuk ke mushala.
Apa dia itu terlahir sulit bicara banyak, ya?
Menebalkan wajah, membuang malu, aku kembali melangkah bergabung bersama shaf perempuan.
“Lembur lagi?” tanya wanita yang masih cantik di usia senja ini, usai salat.
“I-iya, Nek. Saya akan usahakan kerja lebih cepat lagi.”
Oh, ya, neneknya Pak Calvin ini yang menyuruhku memanggilnya begitu, waktu kami di mobil—sama seperti pekerja lain juga memanggilnya.
“Latihan lebih keras lagi, pasti bisa.” Cerah sekali wajahnya menyemangatiku. Kubalas banyak ucapan terima kasih mereka masih menerimaku bekerja di sini.
*
Apa itu Tante Mel?!
Tertahan langkahku saat akan menemui Mbak Dwi di ruang depan, tertubruk pandang pada wanita itu. Dia keluar dari ruang Pak Calvin, dan lelaki itu ada di belakangnya!
Beku. Tubuhku terasa membatu seketika, tertahan di tempatku berdiri.
Tante Mel kemudian berbalik, menghadap lelaki itu, lalu bicara dengan suara tak kudengar. Mata Pak Calvin mengarah ke sini tanpa kedip.
Apalagi kalau bukan aibku yang dibahas?
Urung ke ruang depan, aku lekas berbalik ke meja kerja.
Kenapa Tante Mel sampai ke sini? Apa dia belum puas sampai aku pergi dari kota ini?
Sore hari, pada jam Ashar seperti biasa kami gantian beranjak ibadah. Aku sedikit terlambat karena lagi semangatnya mengerjakan pakaian kedua. Jariku sudah mulai cepat menyelesaikan jahitan.
Sesudah wudu aku akan melewati halaman rumah Nenek, dan kembali kaget melihat Tante Mel sedang bicara dengan Nenek di ruang tamu yang pintunya terbuka lebar. Kuperhatikan mulut wanita itu tampak bergerak tanpa jeda.
Kutarik napas sebelum melanjutkan langkah. Tahu aku bekerja di sini sepertinya Tante Mel tidak terima. Apa tujuannya menjatuhkanku?
Ah! Kenapa aku berpikiran buruk? Anggap saja mamanya Yandi itu sedang pesan jas, makanya dia ke sini. Dengan mikir begitu aku merasa lega.
Usai keluar mushala aku kembali melewati mereka yang tampak masih bicara serius.
Hidupku harus berjalan, apa pun yang wanita itu katakan silakan saja.
“Mbak Sekar dipanggil ke ruangan Pak Calvin.” Pengawas berwajah ramah itu menemuiku sebelum pulang.
“Iya, Bu. Terima kasih.” Usianya sekitar 40-an, berpenampilan selalu rapi dan terlihat berkelas. Aku kira dia itu salah satu saudara Pak Calvin, karena sering menghabiskan waktu bersama Nenek dan pekerjaannya cuma mengawasi saja.
Aku beranjak dari tempat duduk. Teman yang lain baru saja pulang, tinggal aku tengah finishing tugas terakhir. Sesuai janji, aku bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini tak sampai tengah malam.
Kuhela napas sebelum kaki mendekati ruangan berpintu kaca patri motif burung terbang.
Pasti mau bahas apa yang Tante Mel sampaikan tadi ….
Kuketuk pintu sebelum masuk.
“Bapak panggil saya?”
“Duduk.”
Sambil meremas tangan yang dingin kuatur napas tenang, menunggu lelaki yang kini menatapku itu bicara.
“Berkemaslah, kamu mulai besok kamu tidak bekerja di sini.” Nadanya datar dan tenang tapi terasa seperti petir di atas kepala. Aku sontak mengangkat kepala dengan napas tersendat, dan mata terasa akan keluar.
“Apa jahitan saya salah, Pak?” tanyaku cepat.
“Tidak ada. Sana berkemas, setelah itu kamu ke sini lagi.”
Panas kepala dan mukaku melihat lelaki itu santai, dia mengambil ponsel dan mengetik dengan raut tenang.
Dasar orang kaya! Gemerutuk gigi ini melihat kesombongannya.
“Pak! Saya akan berkemas kalau dipecat dengan alasan yang saya tau. Salah saya di mana, Pak?”
Melirik sejenak, lalu kembali melihat ponselnya. “Jahitanmu bagus.”
“Lalu? Kalau bagus, kenapa saya dipecat?” Kumajukan badan untuk jelas melihat mukanya, menunggu alasan yang akan dikatakan.
Dia berdiri, memasukkan tangan kanannya ke kantung jas. “Ada banyak hal yang tak harus punya alasan.”
Aku ikut berdiri, menatap tak suka padanya. Percuma wajah tampan tapi hatinya picik!
“Kerjaan saya tinggal finishing, Pak. Permisi!”
Aku melangkah ke pintu.
“Tinggalkan saja. Biar besok yang lain melanjutkannya.” Kutahan langkah, mengepal telapak kuat, menahan kesal pada manusia di belakangku itu.
Tanpa menjawab kuhentakkan kaki keluar ruangannya.
Dia pikir karena seorang bos bisa bersikap semaunya?!
Lihat saja, aku akan melawan selagi merasa benar.
Puluhan menit berlalu, aku kembali selesaikan pekerjaanku.
Berpura tak lihat saat melihat sosok itu mendekat. Setiap sisi kuteliti, mengecek kalau ada bagian yang salah ataukah kurang rapi.
“Apa perintahku tadi?” tanyanya datar.
“Sebentar, Pak. Sebelum pergi biarkan pekerjaan saya tuntas.” Kujawab sambil merapikan sisa benang tertinggal di ujung dalam.
Setelah yakin aku melipat blazer terakhir yang kubuat di sini, hasilnya akan sempurna setelah dibawa ke bagian finishing akhir.
Dalam diam kuangkat ransel di sisi meja, menggendongkan di punggung.
Nasib, ke mana lagi aku setelah ini …?
Kutatap sengit lelaki arogan itu, dia dengan santai melipat tangan di dada, sepertinya mengawasiku sejak tadi. Sombong sekali jadi manusia!
Maju, kubuka telapak tangan di depan dadanya. “Gaji saya, Pak!”
“Kerjamu belum sebulan.”
Kupelototi matanya melawan. “Saya butuh uang untuk nyari kos, Pak. Apa anda suruh saya tidur di jalan?”
Tipis senyumnya mengejek.
“Ayo keluar.”
“Bapak mau pecat saya tanpa digaji?!” Mata ini melotot, dan terasa panas. Rupanya aku bertemu manusia yang lebih kejam!
“Itu kamu yang bilang,” ujarnya sambil berbalik, mengarah ke pintu belakang.
Tak terima, kukejar sambil menarik punggung bajunya.
“Gaji saya, Pak!” Menggeser ke depan kuhadang langkahnya. Mata ini basah, berair sebab terbakar emosi tinggi.
“Saya kerja sekuat tenaga, Pak, semampu yang saya bisa ... apa Bapak sama sekali tidak menghargainya? Gimana saya makan? Tempat tinggal? Saya baru di kota ini.”
“Justru karena itu, makanya kamu harus keluar.” Dia melangkah lagi.
Napasku memburu menahan emosi yang menggumpal. Andai bukan bos sudah kulempar punggungnya dengan kursi jahit itu!
Hah! Baiklah. Nasib buruk sepertinya belum mau menjauh dariku.
Melangkah gontai, aku keluar lewat pintu belakang.
Mungkin akan kucari selasar masjid sebagai tempat sementara. Besok pikirkan lagi harus kerja apa. Manusia busuk yang pakai tenagaku tanpa dibayar itu akan menerima dosanya!
“Masuk!”
Menoleh, ada mobil Pak Calvin berhenti di sebelahku. Pintunya terbuka dan menyuruhku masuk.
“Masuk?”
“Masuk atau kamu mau tidur di jalan?”
Ragu-ragu aku masuk, mendudukkan diri di sebelah kemudi sambil memeluk ransel.
“Tutup pintunya!”
Kutarik pintu rapat dengan pikiran menerka.
Kudukku bergidik, melihat Pak Calvin melajukan mobilnya dalam diam.
Aku diantar ke mana …?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya luar biasa. korban kekerasan seksual butuh waktu lama untuk bangkit. ka Lie ada bukunya ga. kalau ada mo beli bukunya. Mau lanjut dong. ini ngegantung.
26/01/2022
0jalan cerita mengasyikkan.temggelam dalam perjalanan hidup sekar seolah kisah nyata.terus lanjutkan dan ingin sekar berbahagia bersama pak calvin bukan yan
26/01/2022
0lumayan
05/04
0Lihat Semua