Beranda/Gadis yang Ternoda/
Bab 10 Teman Terbaikku
“Makanlah. Habiskan.” Nasi bungkus diberikan Pak Haji, diambil dari sisa jualan istrinya yang baru pulang berjualan keliling.
“Terima kasih, Pak.”
Mata masih terasa menyipit bekas menangis tadi. Kaki pegal sisa capai lari kencang dikejar Paman, tapi hati sudah melega. Setelah Paman pergi aku menerima telepon Yandi yang khawatir panggilannya tak kunjung diangkat, dia langsung bisa kuandalkan dengan solusinya.
“Sama-sama. Kamu itu bapak nilai anak sopan juga cerdas. Tidak seperti yang pamanmu bilang.”
Sedikit menunduk, aku tersenyum kecil sambil mengunyah suapan pertama. Ternyata ini nasi gurih, meski lauk sederhana lengkap dengan sambal teri, rasanya sangat enak.
“Memang tidak ada anak nakal, Pak. Yang ada anak yang belum diberitahu baik-baik, belum paham. Lihat tadi, Sekar mau bantu aku pegangin sepeda yang mau rubuh, sampai gesit juga parkirkan,” timpal istri Pak Haji sambil terkekeh, beliau sekarang ikut duduk di tikar ini setelah membuatkan teh.
Hatiku menghangat. Jika ada yang memuji diri rasanya sulit dipercaya. Hampir semua anggota keluarga menganggapku anak nakal, bodoh, dan banyak kata lain yang membuatku merasa kecil. Sudah lama diam saja, saat kepala ini sering jadi sasaran tempelengan, dorongan, dan sekaranglah aku harus berani melawan.
“Bapak mau tau, Sekar, kamu itu sebenarnya tinggal di mana? Apa benar lari dari rumah?”
Setelah isi mulut kosong kusebut nama lengkap plus binti, nama Bapak di belakangnya. Menjelaskan sedikit kalau aku memang tinggal sendiri.
Pasangan berhati baik ini terlihat terkejut. Pak Haji terdiam sebentar, menyeruput tehnya.
Kami ini ada di rumah kecil di sisi belakang, dekat tempat wudhu masjid, Pak Haji tinggal bersama istri dan dua cucunya usia remaja.
“Berarti … kamu ini anaknya Saodah yang jual kain di pasar itu?” ujar Bu Haji setengah bertanya.
“Iya, Bu Haji kenal Ibu?”
Ditatap pemilik mata kecil itu aku lekat-lekat.
“Dulu pernah tetangga, kami tinggal di rumah ujung jalan, dekat warung, sebelum pindah ke sini.” Pak Haji yang menjawab.
“Berarti adiknya Winda ini, ya, Bu?” tanya lelaki itu kemudian pada istrinya.
“Itu Rana, Pak. Ini kayaknya yang bungsu, ya?”
Aku mengangguk, menyelesaikan suapan terakhir, lalu minum. Mendengar mereka mulai membahas keluargaku tanpa mengungkit aib kami, rasanya bertambah lega. Entah mereka benar tidak tahu ataukah pura-pura saja, yang pasti aku nyaman ada di sini, merasa jadi manusia yang tetap dihargai privasi-nya.
Namun, kemudian terbit lagi rasa penasaran lama, apalagi melihat Pak Haji dan istrinya saling tatap penuh arti.
Apa mereka tahu cerita masa kecilku …?
Kecurigaan makin kuat saat mereka mengalihkan pembicaraan, jadi bahas tentang Ummi yang memang dikenal sangat baik oleh hampir semua orang di kota ini.
“Sekar, masih sering ziarah? Masih suka doakan Ummi Nur, ‘kan?” Bu Haji bertanya dengan nada lemah lembut.
“Iya, Bu Haji. Tiap bulan pasti ada ke makam.” Senyum mudah kukembangkan kalau membahas Ummi. Sosok yang sangat sederhana. Sampai sekarang makamnya terawat, dan selalu harum dari taburan bunga para peziarah.
“Kalau doakan pasti hari-hari, sering kangen. Semua ceramah Ummi juga kayak masih ada di kepala,” ujarku lagi sambil memandangi kedua orang tua itu mengangguk-angguk, seperti menyetujui kalimatku.
“Alhamdulillah, kamu beruntung pernah merasakan hidup bersama Ummi Nur. Itu bekal yang sangat berharga buat hidup kamu ke depannya.”
Bu Haji kemudian seru menuturkan saat aku TK dan SD sering diikutkan Ummi dalam lomba Dacil (Dai Cilik). Kata beliau aku sangat percaya diri di panggung, meniru ceramah-ceramah Ummi, bicara bak orang dewasa.
Tersipu, sebagian aku ingat masa itu, saat diri belum malu-malu. Kalau tak salah sampai kelas 3 SD masih berani tampil. “Iya, itu gara-gara Ummi kadang ceramah sambil mangku saya, Bu Haji.”
“Masyaallah, jadi ini si Sekar Dewi, yang pernah kita juluki ustazah cilik itu, Bu?” tanya Pak Haji setengah kaget, ternyata beliau tadi diam-diam untuk mengingat siapa aku.
“Itu dulu, Pak Haji. Sekarang Sekar sudah banyak jeleknya,” tanggapku.
“Ah, jangan bicara begitu. Tetaplah berprasangka baik, Nak. Semua pasti ada hikmahnya.”
Masa bersama Ummi sempat sangat menyenangkan, tapi berubah saat aku tahu siapa Ibu dan siapa bapakku. Bukanlah Ummi ataupun Abi yang kusayang. Kelas 3 SD masa berat, yang membuatku bingung dan lebih banyak diam saat Bapak mencariku, lalu terbukalah semua.
Sejak itu diam-diam aku mendengarkan apa yang orang-orang dewasa itu bicarakan, takut menanyakan pada siapa pun apa sebenarnya yang terjadi. Sampai setahun kemudian Ummi menawarkanku kembali ke Ibu. Aku cuma bisa menangis, menolak, tapi tidak bisa apa-apa.
Pernah juga aku ‘dilempar’ ke rumah Bapak yang hidup di hutan trans dengan keluarga lain dan juga anak kecil yang harus kupanggil adik.
“Bu Haji …” Aku menelan saliva yang terasa perih.
Ragu.
Ini mungkin saatnya aku bertanya … ataukah memilih diam saja dan hanya menatap ke depan?
Ibu juga seolah tak menganggapku lagi … lalu buat apa …?
Minum lagi, lalu kutarik napas panjang.
“… apa boleh saya nanya?”
Tampak serius kedua pasangan itu melihatku.
“Bu Saodah itu … ibu kandung saya, apa bukan?”
Pertanyaanku membuat Pak Haji tersedak. Terbatuk-batuk tanpa henti, beliau segera bangun sambil angkat dua tangan ke atas, seakan melegakan napasnya. Istrinya juga ikut sibuk menepuk-nepuk punggung Pak Haji.
Aku masih terdiam melihat dua orang tua ini bersikap sedikit aneh, sampai mereka kembali duduk. Seperti sengaja menghindar jawab pertanyaanku.
“Bu Haji, dulu katanya sempat tetangga dengan Ibu, pasti Bu Haji, dan Pak Haji tau. Saya kayak anak ayam hilang induk ... kenapa Ibu sampai saudara-saudaranya kelihatan nggak suka Sekar? Ummi nggak pernah cerita apa-apa dulu.”
Tidak ada nada sedih dalam suaraku, seolah ini tentang orang lain. Ya, mungkin aku memang tak punya ikatan hati dengan Ibu. Dulu saat bersama saja aku berusaha menyayanginya, tapi itu sebatas hanya patuh pada pesan Ummi untuk menghargai Ibu. Padahal di dalam hati, posisi Ummi belum bergeser meski raganya sudah tidak ada.
Beberapa saat kemudian, setelah tercenung lelaki tua itu membuka suara, mengatakan aku memang anak Ibu, tapi seakan mengindar dengan menanyakan Bapak.
"Apa sampai sekarang kamu belum pernah dengar kabar lagi dari Pak Sugi?”
Pak Haji menyebut nama Bapak, aku menggeleng.
“Terakhir ketemu waktu Bapak ke rumah, sebelum Sekar lulus SD tapi dilempar Ibu pakai ember .…”
Tiba-tiba panas dan perih lagi mata ini bila ingat kejadian itu. Bapak diusir saat menemuiku. Duit yang digenggamkannya ke tanganku jadi berhamburan, telapak tangan ini dipukul Ibu berkali-kali. Ibu menolak Bapak, mengusirnya dengan sumpah serapah, kalimat buruk yang sama saat marah padaku. Sejak itu Bapak tak pernah terlihat lagi.
“Ya, ya … kita juga sudah lama tidak ketemu lagi. Bapakmu sempat tinggal di trans. Kenal dekat ya pas kecilnya Winda sama Rana.”
Bulir air mata kuusap dengan ujung kerudung. Keluarga Ibu dan Bapak banyak menyimpan misteri bagiku, ternyata bagi yang lain juga, tapi akulah yang nyata menjadi korbannya.
“Pak Haji, kalau Sekar nikah apa Bapak wajib jadi wali? Kalau tidak ketemu Bapak, apa pernikahan Sekar tidak sah?” Teringat Yandi, maka timbullah pertanyaan ini.
“Tentu, Nak Sekar. Bapakmu adalah walimu yang utama, kecuali ada pemberian wewenang untuk diwakilkan.”
Aku menyimak. Teringat saat Kak Rana dan Kak Winda menikah, wali mereka kakek saat masih hidup. Bapak kandung kedua kakakku itu suami pertama Ibu, meninggal saat Kak Rana kecil. Bapak adalah suami kedua Ibu.
Dari Pak Haji ini kutahu, setahun setelah kehilangan suami Ibu menikah dengan Bapak, lelaki perantauan yang bekerja serabutan, tapi sangat bertanggung jawab pada anak-anak Ibu. Keributan mulai ternyata sebelum Ibu hamil aku.
“Kita tidak ada yang tau masalahnya apa, ibumu sering ribut dengan bapakmu ya sejak itu. Tetangga cuma bisa melerai. Bapakmu pergi, tak lama pulang lalu ya ribut lagi. Sampai kamu lahir. Kami tidak bisa ikut campur banyak, Sekar.”
Nyeri.
Kata itu saja tak mampu menggambarkan sakitnya dalam hati. Perpisahan orang tua menjadi misteri yang menyimpan banyak ranjau untuk hidupku, tiap ‘ku melangkah ada saja yang melukai, amarah Ibu yang bertubi-tubi. Sumpah serapahnya menganggap aku bukan anak, padahal nyata aku anaknya.
Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan ...?
Kenapa seorang anak hanya diminta diam dan menurut, tanpa penjelasan?
Aku juga anak yang diciptakan punya akal, bisa menanyakan ini kenapa, itu kenapa. Meski aku tak pernah berani menanyakan langsung.
Dua jam kebersamaanku dengan keluarga ini terasa singkat. Aku benar-benar hanyut dengan suasana akrab dengan mereka, padahal kami baru saja mengenal.
“Kamu yakin ini akan pulang, menuruti ibu dan pamanmu?”
Ragu-ragu, aku mengangguk kecil atas pertanyaan Pak Haji.
“Kalau memang mau menikah, tunggu dulu kabar bapakmu, Sekar. Usahakan mencarinya, biar pernikahanmu tidak batil,” nasihatnya lagi.
Pak Haji tadi bilang, kalau beliau dengar kabar terakhir Bapak sudah pulang ke Semarang, kebetulan tanah Bapak di desa seberang Mentaya itu dijual pada saudara Pak Haji, karena anak Bapak sakit. Kebetulan Pak Haji yang bantu urus dulu, masih tersimpan fotocopy KTP Bapak, yang akan jadi titik terang aku mencari kampung asalnya. Alhamdulillah, lari ke sini mungkin sudah jadi petunjuk-Nya untukku.
“Terima kasih, Pak Haji. Sekar akan coba cari kabar Bapak.” Aku menggendong ransel, bersiap pergi.
“Benar ini tidak diantar?”
“Tidak usah, Pak Haji, Bu Haji. Terima kasih sudah bantu saya.”
Pamit, kutempelkan dua punggung tangan keriput itu bergantian ke kening. Saat yang sama di dalam hati kugumamkan maaf atas kebohongan ini. Aku bilang akan ke rumah Paman, tapi setelah keluar pelataran masjid aku melambai tukang becak, lalu berhenti di tempat travel untuk segera menuju kota madya.
Begitu tahu aku lari ke masjid tadi Yandi segera membelikan tiket via online. Penerbangan nanti malam, sengaja pilih dari kota karena dari kabupaten ini hanya sekali keberangkatan, tadi pagi. Yandi memang teman terbaik yang aku punya, pahlawan yang bisa diandalkan saat ini. Aku banyak berhutang budi padanya.
Empat jam perjalanan, membawaku meninggalkan semua yang aku punya di kota kecil ini. Termasuk nasib dua baju orang yang dipermak terbawa ke rumah Paman. Yah, mau bagaimana lagi, aku ‘kan terpaksa lari dari tanggung jawab.
Sampai di bandara aku mulai grogi, memikirkan rasa naik pesawat, sebab ini pengalaman pertama.
Saat check-in aku mengikuti apa yang calon penumpang lain lakukan, meski mungkin terbaca kaku. Aku juga banyak tanya dengan petugas, takut salah. Kalau sampai nyasar, ‘kan nggak lucu, hehe.
Setelah salat Magrib di mushala bandara, aku duduk di ruang tunggu sambil menerima telepon Yandi.
“Gimana, Sayang? Masih kuat?” tanyanya penuh perhatian. Tadi aku mabuk darat, setelah minum obat anti mabuk lumayan sudah berkurang peningnya.
“Mendingan, tapi masih panas dingin …,” gumamku sambil lihat di sana ada dua pesawat di landasan. Membayangkan benda itu akan terbang dengan ketinggian puluhan ribu meter dari tanah membuat napasku menyesak.
“Takut naik pesawat?” tanyanya, kurasa Yandi bicara sambil tersenyum lebar.
“Iya, Yan. Aku sampai bolak-balik ke kamar mandi."
“Grogi naik pesawat apa nggak sabar lihat aku?”
“Ya, grogi naik pesawat, Yan. Ini aku mulas campur takut ….”
“Trus, kalau ketemu aku gimana rasanya?”
Dasar. Ada-ada aja pertanyaannya.
“Itu beda kali, Yan, mulasnya kayak …” Aku menggantung kalimat, memikirkan. “kayak mau ujian dadakan … kayak mau tampil di panggung.”
“Ciee, berarti cinta banget sama aku.” Di sana dia terdengar senang. Sementara aku senyum-senyum, kalau lewat telepon aku berani ngomong begitu, dia kan nggak lihat juga.
“Mm, emang kamu nggak grogi mau ketemu aku?” Lumayan juga efek ngobrol bucin begini, aku sedikit lupa takut terbang.
“Biasa aja.”
“Biasa? Maksudnya?”
“Biasa … kayak ada banyak hewan kecil beterbangan di dalam perut, bikin sedikit susah napas, dan … nggak bisa nahan diri mau …” Kubulatkan mata mendengar arah bicaranya. Yandi sengaja menggantung kalimat beberapa detik.
“Mau apa?” Refleks kututup mulut yang keceplosan tanya.
“Mau … mau halalin kamu, Sayang!”
Hahaa. Aku menahan perut yang geli saat spontan tertawa lepas. Terhenti seketika saat ingat ini tempat umum. Menoleh ke kiri sepertinya ada satu dua orang melirik tapi kemudian cuek lagi. Pas noleh ke kanan, tertumbuk pada seseorang di sana, berjaket coklat tengah menelepon.
Kak Evan?!
Lekas kupaling wajah, untung duduk agak jauh jadi mungkin Kak Evan belum menyadari keberadaanku.
Sebelum pesawat berangkat aku masih teleponan dengan Yandi, bicara dengan suara kecil.
*
Bagai terkurung dalam ruang sempit, tanpa ada ventilasi udara lalu diputar di dalamnya. Ough! Seperti itulah rasaku saat pesawat mulai naik. Susah mengambil napas, dan yang menambahku tersiksa kak Evan duduknya di deretan sama, aku harus pakai ujung kerudung untuk dijadikan masker wajah, hanya menyisakan mata.
Jangan sampai Kak Evan mengenaliku.
Begitu pesawat melandas, aku sengaja menunggu Kak Evan sudah jauh, baru bergerak. Kakak ipar pertamaku itu pasti sedang ada tugas. Berarti dia masih kerja di perusahaan leasing, yang kadang memang ditugaskan ke cabang lain.
Kak Evan sudah pergi, aku melangkah tenang. Sempat kaget melihat yang menjemputnya wanita berambut panjang ber-blazer abu. Menepis fikiran negatif, aku menerka itu mungkin rekan kerjanya.
“Sekar!” Tampaklah cowok tinggi dengan tawa semringah melambai dan mendekat ke sini.
“Yandi!” Setengah berlari aku menghampirinya.
“Kasian, mabuk, ya? Kok muka sampe berantakan gini?”
“Berantakan? Emang mulutku pindah tempat?” sahutku berpura sewot.
Diacaknya pucuk kerudungku.
“Kangen lihat kamu ngambek. Ayo,” ujarnya seraya mengambil alih ranselku, digendongnya, dan aku jalan mengekor di sisi.
Ada rasa tenang melihat sosok ini di sampingku.
Kami naik taksi sampai melintasi lalu lintas padat khas kota besar. Aku cukup terpana melihat apa yang tersaji di depan mata, sampai Yandi bicara apa aku kurang nyambung menjawab.
Mobil berhenti aku mengikutinya turun.
“Ciee, yang bawa istri.” Mengerut dahi aku mendengar beberapa cowok menggoda Yandi, saat kami masuk ke rumah berlantai dua.
“Ciee, yang ngiri,” balas Yandi disahuti riuh.
“Woww, Lesti Kejora itu, ya, Yan?”
“Wah, calon istrinya artis, euy!”
Kucubit lengan Yandi yang sibuk balas memanasi mereka dengan merangkul bahuku, dia sontak mengaduh merasakan kejamnya jariku. Tau rasa!
Rumah luas ini ternyata kos, dengan kamar saling berhadap-hadapan, seperti lorong … penginapan. Tiap kamar ada papan nama, mungkin menunjukkan siapa penghuninya.
“Masuk.” Kami terhenti di pintu bertuliskan nama Novri Yanditrias.
“Yan … memangnya aku tinggal di sini?” tanyaku ragu, sambil mengekorinya masuk.
“Istirahat aja dulu, aku udah izin Bu Kos, kok.”
“Diizinin?”
Dia mengangguk.
“Pasti kamu bilang aku istri?”
“Iya, kan benar istri.” Kupelototi dia yang cengengesan. “Iya, iya … calon istri.”
Diletakkan ranselku ke atas meja. Mengambil handuk, dikalungkan ke leherku.
“Mandi gih, kasian kusut banget. Aku mau carikan makan malam dulu. Habis makan kuantar kamu ke kos cewek.”
Aku mau protes Yandi keburu keluar kamar.
Bengong sesaat, kuedar pandang pada ruang ini. Ukuran sekitar 4x4. Bersih. Rapi.
Ada kasur nomor tiga dengan seprai motif bola, kaku. Buku tertata, ada gitar di pojok, dan juga lemari sorong plastik lima tingkat.
Setelah mengambil pakaian ganti dari ransel, aku masuk kamar mandi. Entah kenapa dada ini tiba-tiba sesak teramat sangat, dan air mata minta ditumpahkan segera. Aku menangis sambil menyiram kepala. Sampai air mata itu hilang dengan sendirinya. Sedikit sensitif merasa hidup ini terombang-ambing.
Sampo Men Care milik Yandi menyebarkan rasa dingin di kulit kepala, sengaja kubiarkan sesaat sambil pijat ringan kepala, biar dingin ini meresap sampai ke otakku. Alhamdulillah, setelah mandi malam badan terasa segar.
Mulai sekarang aku janji akan lebih kuat memulai hidupku dari sini.
Keluar kamar mandi aku sudah berpakaian rapi.
Ternyata Yandi sudah datang, mata kami bertemu saat dia menoleh pintu kamar mandi.
“Kenapa? Kok, heran gitu?” tanyaku melihatnya memandangku tanpa kedip.
“… masih pake kerudung juga?” tanyanya setengah menggumam.
Aku tertawa geli. “Iyalah, Yan.” Aku mengusap muka dengan handuk sebelum menaruh di tempatnya.
“Kamu keramas, ‘kan? Rambut masih basah ditutupin?”
“Nggak papa, nanti juga kering sendiri. Waah, nasi padang.” Mataku langsung membelalak melihat makanan enak sudah di piring.
Aku langsung duduk di lantai keramik, bersiap makan.
“Sekar?”
“Hmm.”
“Makasih ya kamu mau melawan ibumu demi aku.”
Kuangkat wajah, melihat mata Yandi.
“Aku memang belum mau nikah, Yan.”
“Ohh, jadi aku geer ya, kirain kamu nolak dinikahin karena aku.”
Gemas. Kucubit dadanya. “Karena kamu juga,” ujarku mengoreksi jawaban.
“Alhamdulillah. Makasih, Sayang. Ayo makan. Habisin. Nanti aku antar ke kos teman, tadi udah bilang dan mereka mau nampung kamu.”
“Makasih ya, Yan. Kamu jaga aku kayak saudara.”
“Nggak juga. Aslinya aku nggak bisa nahan diri.” Sambil ngunyah dia senyam-senyum.
“Tadi sedikit kecewa lihat kamu keluar kamar mandi pake kerudung. Padahal ngarap, mau lihat … rambutmu," ujar lagi.
“Dasar, Omes!” Kutowel sambal ijo ke ujung hidungnya seraya tergelak.
Cepat disambarnya tisu. “Benar, Sekar. Aku sudah nggak sabar. Pokoknya aku akan usahain cepat lulus. Kita berjuang bersama, ya ….”
Dia memandangku penuh rasa sayang. Sorot mata yang melindungi.
Terharu, ada rasa teriris di hati atas kebaikan Yandi. Kuharap kami benar berjodoh.
Kubalas kalimatnya dengan senyum, sambil melanjutkan makan. Sebenarnya mau bilang, aku makin sayang atas semua yang sudah dia lakukan, tapi bersabar tunggu halal ajalah. Saat itu akan kuhujani dia dengan yang terbaik.
Bunga-bunga di hati terasa berhenti menari saat handphone Yandi berbunyi, sebab mata ini langsung melihat layar benda yang tergeletak di dekat piringnya.
Kami kemudian saling pandang sesaat dengan wajah kaku.
Itu … Video call dari mamanya …!
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (130)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya luar biasa. korban kekerasan seksual butuh waktu lama untuk bangkit. ka Lie ada bukunya ga. kalau ada mo beli bukunya. Mau lanjut dong. ini ngegantung.
26/01/2022
0jalan cerita mengasyikkan.temggelam dalam perjalanan hidup sekar seolah kisah nyata.terus lanjutkan dan ingin sekar berbahagia bersama pak calvin bukan yan
26/01/2022
0lumayan
05/04
0Lihat Semua