Beranda/POTRET ARUS PASANG/
Bab 29 TANGAN KANAN DAN LAMA
Para pendiri dan petinggi keluar dari arena tontonan pertarungan kandang melewati jalur darurat. Ketua menyuruh Joon Su pergi terlebih dahulu untuk mengecek ruang kendali/monitor dan segera mengidupkan kembali listriknya. Ketua sudah berfirasat buruk tentang kejadian ini dan memberi tugas pada Gordon untuk menangkap para penyusup yang datang kemari. Setelah mereka berdua pergi memenuhi tugas, Ketua menyuruh salah satu bawahannya lagi yaitu Morkin pria berambut panjang untuk menuntun ke jalan keluar.
Tidak sampai sepuluh menit, akhirnya ketua dan para petinggi berhasil keluar lewat jalur darurat. Listrik-pun kembali menyala. Para petinggi merasa kesal dengan situasi yang merusak kesenangan mereka.
"Apa-apa ini? Kenapa kau merusak kesenanganku dengan situasi konyol ini?" Ucap salah satu pria petinggi berjas silver.
"Apa kau ingin bertanggung jawab karena telah membuat kami merasa tidak puas? Aku juga sudah mengeluarkan banyak uang untuk acaramu ini?" Ketus pria berambut putih dengan janggut. Perkataannya masih terdengar tidak fasih berbahas korea.
"Bagaimana caramu akan bertanggung jawab?" Mulut kompor salah satu petinggi wanita.
"Cara bicara kalian sudah berlebihan karena mabuk rupanya. Terutama anda Tuan Stain! Biar kami antar kalian ke tempat istirahat." Ketua Hae melirik tajam kearah pria berambut putih itu, namun sebisa mungkin Ia harus menata perkataannya dengan baik.
"Ne (apa)?! Bu ne cüret (beraninya kau)! Apa kau sedang menghinaku disini?" Pria Turki bernama Stain ini merasa dirinya telah dihina dan berontak balik dengan cakapnya.
"Morkin!" Ketua Hae menekan emosi dalam perkataannya dengan memanggil Morkin untuk segera membereskan orang-orang ini yaitu para petinggi. Karena sudah merasa lelah meladeni omongan mereka para pemabuk tidak tahu diri.
Orang-orang dijalur keluar sebelah kanan terlihat sedang berkerumun meributkan tentang acara pertarungan yang tiba-tiba berhenti bubar. Ketua Hae semakin emosi melihat keributan itu apalagi diwilayahnya. Ditambah para petinggi yang menggonggong terus kepadanya. Geram, gusar, dan menjengkelkan menyelimuti seluruh tubuhnya. Ketua Hae menghela napas sembari membalikan badan dan berjalan pelan meninggalkan orang-orang itu.
Sedangkan Morkin tertekan akibat aura Ketua yang berubah dengan helaan napas dan gertakan giginya. Dia berusaha untuk menjauhkan para petinggi secepat mungkin dari sisinya walaupun dengan cara kasar sekalipun. Morkin memukul bagian belakang leher para petinggi hingga pingsan. Setidaknya harus cepat dibereskan sebelum Ketua Hae makin marah. Dia melihat langkah kaki ketua semakin jauh darinya. Ini akan menjadi malam yang panjang untuk eksekusi, dalam hati Morkin.
Ketua Hae menanggalkan ponsel ditelinga, dia menelpon seseorang. Raut wajahnya benar-benar terlihat kesal, dia bertujuan memanggil seseorang untuk segera menyelesaikan keributan ini secepatnya.
"Dimana kau? Cepat kemari, bersihkan semua orang disini. Ini membuatku jengkel." Ketua Hae meninggikan suaranya.
"Dan Suya~ Aku menemukan mangsa. Tenang saja, akan kuselesaikan dengan cepat. Akan ku kirim anak buahku kesana." Balas orang ini dengan santai dan mematikan panggilannya.
*
Memangsa daging yang berusaha untuk bertarung mati-matian itu lebih memuaskan. Mengonyak secara perlahan dan memangsa satu persatu organ bagian dalam. Mereka bertarung dengan hasil yang sudah pasti yaitu kekalahan. Tapi tentu saja, akan lebih menyenangkan jika melihat keputuasaan dan memohon agar segera diakhiri. Tiga ekor rusa yang malang dengan tatapan rasa takut dihadapan pemangsanya. Bukan begitu?
"Apa itu kalian? Ah, tunggu dulu. Kurasa bukan kalian berdua. Apa itu kau yang ditengah?" Pria ini menunjukan kedua jarinya kearah dua orang disisi kanan dan kiri. Tapi jari telunjuknya kemudian menekuk dan menujuk dengan jari tengahnya tepat keorang yang ditengah.
"Sudah kuduga tidak akan semulus ini. Bocah, pegang dia dan berdiri dibelakangku." Tuan Sung menyadari jari tengah pria itu tepat menujuk kearahnya. Dia hanya mendengus dan memberikan pria yang dibopong (Cha Young Pil) kepada Ahn Se Jong.
"Apa?! Kenapa aku harus berdiri dibelakangmu pria tua!" Sedangkan Ahn Se Jong mengomel karena merasa tidak terima Tuan Sung memperlakukannya seperti anak ayam yang harus berlindung dibelakang induknya.
"Karena aku pria tua, jadi aku akan melindungimu bocah." Jelas Tuan Sung sambil mendorong Ahn Se Jong kebelakang punggungnya.
"Hahahaha~ kalian ini sedang shooting drama? Ah..benar-benar menggelikan." Tawa pria ini sangat puas namun juga jengkel melihat pemandangan yang mengganggu dihadapannya. Para rusa itu seperti sedang mengabaikan pemangsa dihadapannya.
Pria berwajah codet dibagian dahi kiri menyuruh para bawahan segera pergi ke lantai pertarungan untuk membereskan orang-orang disana. Mereka-pun mematuhi Si Pria Codet alias Tuannya tanpa bantahan. Sedangkan Si Pria Codet akan menikmati waktu bersenang-benang bersama para rusa dihadapannya.
Tiba-tiba dari arah belakang para rusa itu (Tuan Sung, Ahn Se Jong dan Cha Young Pil) muncul satu seseorang dengan kaki yang pincang berdarah. Si Pria Codet berteriak seakan mengenal orang itu. "Oh? Jung Jae Ha!" Ketiga orang itu langsung berbalik kebelakang bak merespon nama yang diteriakan oleh pria dihadapannya. Mereka bertiga terkejut melihat orang itu alias Jung Jae Ha yang berjalan pincang kearahnya.
Pandangan Jung Jae Ha menatap kearah Cha Young Pil yang menunduk tidak bertenaga. Dia tidak peduli siapa orang yang membopong Cha Young Pil dan langsung mengambil dari pelukan orang itu, Ahn Se Jong. Namun tentu saja Ahn Se Jong merasa kesal akan kehadiran dirinya yang telah diabaikan begitu saja. Terutama karena Ia mengenal siapa pria sombong ini. "Oi! Jung Jae Ha! Apa yang kau lakukan?" Ucap Ahn Se Jong penuh penekanan sembari menatap tajam kearah Jung Jae Ha. Dia tidak peduli mengenai Cha Young Pil yang sudah diambil, tapi ada hal lain untuk diperjelas disini.
Disaat Ahn Se Jong berusaha mendapatkan penjelasaan dari Jung Jae Ha mengenai situasi ini. Si Pria Codet mulai merasa bosan karena diabaikan oleh mereka yang dianggap sebagai para rusa. Dia mulai mengeluarkan pisau dan berjalan santai kearah mereka sembari memainkan pisau ditangan. Senjata pisau yang dimainkan seperti sendok makan saja. Sedangkan pendengaran mereka secara naluriah merespon gesekan benda tajam dan berbalik kearah suara itu berasal yang ternyata sebuah pisau.
Tuan Sung refleks memposisikan tubuhnya untuk melindungi mereka. Lalu Si Pria Codet berlari kearah Tuan Sung sambil mengayunkan pisau dalam jarak tempur yang sudah dekat. Namun Tuan Sung berhasil menahan tangan Pria Codet itu dan mendorong sekuat tenaga untuk menjauhkan dari mereka. Baru tiga langkah mendorongnya mundur, Tuan Sung mendapat tendangan dibagian perut. Pria Codet tiba-tiba menjatuhkan pisau dan mendekatkan tubuh sambil mencengkram kuat bahu Tuan Sung lalu melancarkan tendangan menggunakan lutut kirinya. Tenaga Pria Codet itu menjadi kuat dua kali lipat. Membuat Tuan Sung tersungkur jatuh kelantai "Akkk!! S-sialan!" Berusaha menahan sakit.
Tidak merasa cukup dengan tendangan lututnya, Pria Codet itu langsung menendang bagian bahu Tuan Sung hingga dibuat jatuh terlentang. Pria Codet itu mengambil pisau yang ada dilantai lalu berjalan mendekat kearah Tuan Sung dan menginjak bagian dadanya sambil tersenyum kearah mereka. Ahn Se Jong yang merasa kesal akibat perlakuan Pria Codet itu pada Tuan Sung, berniat untuk maju melawannya. Tapi langkah Ahn Se Jong tiba-tiba terhenti sambil membelalakan mata saat Pria Codet itu meletakan pisau disekitaran wajah Tuan Sung.
"Haruskah kubuat tanda asli menggunakan tanganku disini?" Pria Codet ini menepukan bagian tengah pisau kewajah Tuan Sung dengan suara berat yang membuat kedua mata Tuan Sung bergetar sembari melirik pisau tepat berada diwajanya
"Apa yang sedang kau lakukan, bajingan!?" Ahn Se Jong hanya bisa mengeluarkan amarahnya dengan umpatan. Kakinya sama sekali tidak bergerak. Jika bergerak kearah Tuan Sung, dia khawatir Pria Codet itu sungguh menggores wajahnya. Faktanya Pria Codet itu acuh dengan kehadiran Ahn Se Jong.
"Mereka mengijinkanmu masuk karena tanda itu bukan? Katakan padaku siapa yang membuatnya? Ah tidak perlu, biarku lihat langsung." Pria Codet itu perlahan menurutkan pisaunya kebagian dada kanan Tuan Sung. Dia berniat merobek baju Tuan Sung untuk melihat tanda tatoo ditubuhnya.
"Sialan! Singkirkan tangan dan kakimu dari tubuhku brengsek!" Namun Tuan Sung berusaha menahan tangan Pria Codet itu agar tidak mengenai tubuhnya sedikitpun. Kedua pria yang beradu tenanga untuk mendapatkan keinginannya. Pada akhirnya ujung pisau itu merobek beberapa centi baju Tuan Sung hingga bagian dadanya ikut tersayat juga.
Saat perlakuan kasar sekaligus menegangkan diantara mereka berdua itu terjadi, dari arah belakang seseorang berteriak hingga membuat perlakuan Pria Codet itu terhenti dan membeku seketika. "Rupanya kau yang menjadi penggantiku, Ma Bon!" Terdengar suara yang tak asing, suara itu sudah menyebut namanya juga Si Pria Codet.
Tuan Sung melihat pria dihadapannya tersenyum gila dan perlahan berdiri melepaskan pijakan kaki didadanya. Pria Codet itu berbalik memunggungi Tuan Sung dan beralih menatap pria didepan sana. Tuan Sung sedikit terkejut melihat kehadiran orang itu, Kim Man Soo. Pasalnya, pembagian tugas Kim Man Soo tidak berada disini, dia seharusnya menunggu dipintu keluar. Tapi terlepas dari semua itu, Tuan Sung meresa lega karena Kak Man Soo datang disaat yang tepat. Keberuntungan nyawanya terselamatkan.
Ahn Se Jong mengambil kesempatan itu untuk membantu Tuan Sung bangun dan menjaga jarak dari Si Pria Codet. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan memastikan sesuatu.
"Apa mataku tidak salah lihat? Bwahahaa~Kim Man Soo! Kim Man Soo! Kim Man Soo! Kkkkkk~ Si Pengkhianat Kim Man Soo!!!" Berkali-kali menyebut nama Kim Man Soo penuh dengan emosi, amarah, dan penekanan. Semakin tinggi hingga berteriak dan tertawa seperti hilang kewarasannya.
"Hah~ Ternyata kau masih penuh kebencian padaku, Ma Bon. Akan ku hargai sambutan penuh kebencian darimu itu." Sedangkan Kim Man Soo meresponnya dengan tenang sambil perlahan mendekat kearah pria itu.
"Brengsek! Akan kubunuh kau sekarang juga!" Tentu saja Ma Bon langsung terpancing dengan raut wajah kesombongan bak menantang dirinya. Itulah yang ada dipikiran Ma Bon terhadap Kim Man Soo.
Pria bernama Mabon itu berlari kearah Kim Man Soo dan menyerang dengan pisau ditangannya. Namun bagi Kim Man Soo mudah sekali untuk menghentikan serangan ceroboh akibat terbawa emosi. Serangan yang ditarik keluar oleh emosi tidak akan akurat dan malah menjadi serangan gegabah hingga mudah terbaca. Kim Man Soo mejatuhkan pisaunya dan mengunci kedua lengan Mabon kebelakang punggung.
"Ma Bona! Apa kau sedang menggunakan obat?" Kim Man Soo menangkis tangan Ma Bon dengan mudah hingga menjatuhkan pisau itu dan mencekik lehernya. Tatapan mata Kim Man Soo menusuk bak pisau tepat didepan wajah Ma Bon.
"Akk!! Bicara apa kau brengsek!" Dibuat tidak bisa berkutik karena aura yang menusuk ini. Ma Bon hanya bisa menggonggong.
"Aku tidak akan ikut campur mengenai ini. Tapi sebaiknya pergi dari tempat ini sebelum mereka datang." Jelas Kim Man Soo sembari mencengkram lebih kuat leher pria yang ada dihadapannya.
Tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah lorong dan salah satu bawahan Ma Bon berteriak menghampirinya. "Bos! Ada polisi datang!" Jelas orang itu panik dengan napas terengah-engah.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (72)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
19/06/2025
0good
04/04/2025
0seru senang sekali membaca novelah ini Terima kasih
30/11/2024
0Lihat Semua