Pembicaraan singkat bersama Raskal bukan cuma menyita emosi, tapi juga mengalihkanku dari waktu janjian dengan Pak Angga. Menatap jam yang tertera di layar ponsel, aku buru-buru memacu langkah menaiki tangga. Suasana hatiku berubah muram setelah konversasi tak menyenangkan tersebut. Bertemu Pak Angga setelahnya, hanya akan memperburuk kondisi yang ada. Walaupun kenyataan bahwa suasana hatiku memang tak pernah baik setiap kali berurusan dengan dosen itu. Lantai dua gedung perpustakaan utama merupakan lantai khusus penyimpanan arsip skripsi, tesis, beserta jurnal penelitian lainnya. Deretan rak-rak tinggi yang terpisah berdasarkan pembagian fakultas, mengelilingi hampir keseluruhan ruangan. Menyisakan area cukup luas di tengahnya sebagai tempat pengunjung untuk duduk membaca, maupun mengerjakan tugas. Area ini biasanya hanya ditempati oleh mahasiswa semester akhir yang datang mencari referensi skripsi atau tesis, dan ada juga mahasiswa semester bawah yang memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas mata kuliah Metode Penelitian mereka. Di luar dari itu, tak banyak yang menghabiskan waktu datang kemari. Dosen pun hanya hitungan jari jika punya keperluan di sini. Sebagai sesama pejuang toga garis depan, bukan perkara sulit mengenali muka-muka senasib yang sedang mengadu nasib di ruang terisolasi ini. Beberapa dari mereka terasa akrab di ingatan karena berasal dari fakultas yang sama, bahkan dua di antaranya juga berasal dari prodi yang sama. Aku mengenali lelaki gondrong dengan kumis minimalis yang tengah sibuk membalik jurnal di mejanya. Dia adalah satu dari sekian mahasiswa---atau tepatnya disebut mahasisa karena masa studinya sudah mencapai limit seharusnya, yang berasal dari prodi kami. Dan mahasiswi berpenampilan awutan yang duduk tak jauh darinya juga merupakan teman seangkatan beda kelas denganku. Tanpa berkaca, melihat gadis itu saja, aku seperti menyaksikan penampilanku saat ini yang pasti tak jauh berbeda. Kantung mata yang hitamnya mendekati warna pantat wajan, wajah pucat letih khas orang anemia karena begadang, belum lagi bibir pecah-pecah yang sama sekali tidak terkesan seksi, cukup membuatku berubah nelangsa karena menyadari telah berpenampilan seburuk ini ketika bertemu si mantan pacar---rangkap mantan sahabat beberapa menit lalu. Lengkaplah sudah suasana hatiku yang kian memburuk. Masih memindai sekitar, aku mencari sosok yang menjadi alasan kedatanganku kemari. Tak sulit menemukannya di tempat yang minim keramaian seperti ini. Pria itu duduk menyendiri di bagian yang jauh dari perkumpulan mahasiswa. Tertunduk pada buku tebal bersampul lusuh di tangannya. "Maaf, Pak Angga. Saya terlambat." Ia menengadah padaku sepintas, namun tak butuh waktu lama langsung menunduk kembali pada bacaannya. "Empat menit tiga puluh dua detik." "Hah?" "Kamu buang-buang waktu saya empat menit tiga puluh dua detik." Ia masih tertunduk membalik lembar buku tak acuh. Meski begitu, kentara sekali ada kekesalan dalam intonasi bicaranya. Aku mengerjap setengah tak percaya. Bagaimana mungkin dia menjadi sebegitu ketusnya hanya karena masalah waktu. Oh, ayolah, maksudku ini hanya keterlambatan yang tak sampai 5 menit, bukan membiarkannya menunggu selama berjam-jam. "Terlambat empat menit ataupun dua jam tak akan ada bedanya, Audrey. Dan perlu diingatkan, ini bukan pertama kalinya kamu bertingkah seenak dengkul setiap kali pertemuan." Aku semakin membelalak tak percaya. Astaga. Selain bermulut medusa, dia rupanya punya kekuatan membaca pikiran orang. "Saya benar-benar minta maaf. Lainkali---" "Lainkali perbiasakan untuk menghargai waktu orang lain. Saya tau kamu tipe orang yang masa bodoh soal waktu, tapi saya harap kamu tidak sebodoh itu menggangap semua orang sepemikiran dengan kamu." Pria itu melepas kacamata bacanya, lalu beralih menatapku. "Maaf. Apa kata-kata saya terlalu berlebihan? Saya tidak bermaksud menyinggung kamu dengan fakta yang ada." Terpujilah sang Pencipta karena telah mengaruniakanku hati setebal baja, bukan serapuh rengginang. Salah satu alasan kenapa lelaki ini selalu dibanjiri kutukan oleh setiap mahasiswa, adalah sikap manipulatifnya yang suka memojokkan orang lain tanpa perlawanan. Dan saat ini aku memang benar-benar dipojokkan tanpa mampu melawan. Entah kesabaran apalagi yang akan mengujiku selama sisa waktu ke depan. *** Suasana sunyi berangsur-angsur makin terasa semenjak penghuni di ruangan ini mulai angkat kaki satu-persatu. Bahkan penjaga perpustakaan yang duduk tak jauh dari kami juga sudah tenggelam jauh ke alam bawah sadarnya---jika ditinjau dari jejak sungai Kapuas di ujung bibirnya, dan diameter seberapa lebar ia menganga. Aku tak pernah membayangkan akan menghabiskan waktu selama berjam-jam dengan manusia sejenis Pak Angga, di tempat yang minim tanda-tanda kehidupan pula. Diikuti kebisuan yang tercipta selama 4 jam belakangan, membuatku tak dapat berhenti mengelus dada. Kalaupun ada pembicaraan yang terjalin di antara kami, paling-paling lebih banyak didominasi oleh komentar pedas Pak Angga terkait betapa amburadulnya kerangka berpikir yang kususun, atau tinjauan pustaka penelitian yang tidak relevan dengan judul yang kuambil. Dan kadang juga tanpa ragu, ia akan mengungkit perihal tingkatan IQ-ku yang berbanding lurus dengan daya tangkap otakku yang katanya setara anak SD. Bisa kalian bayangkan itu? Suatu keajaiban dunia kalau aku tidak menyumpahinya mati-matian dalam hati. Seusai memeriksa hasil revisi bab sebelumnya dan membantaiku dengan begitu kejam, ia akan kembali menampilkan raut tenang, tanpa sama sekali merasa berdosa setelah menohok orang lain dengan perkataan tajamnya. Seperti sekarang, bagaimana ia masih terlihat santai mencurahkan perhatian pada buku lusuh yang ia baca sejak tadi---tak perlu ikut menelaah isinya untuk mengetahui betapa membosankan bacaan yang ia pilih, karena melihat tulisan Filsafat Modern yang tercetak tebal pada sampulnya, cukup memberiku gambaran betapa membosankan hidup dan selera hobinya. "Kalau kamu cuma menghabiskan waktu memandangi saya seperti itu, revisi kamu tidak akan selesai-selesai sampai satu dasawarsa ke depan." Aku berdeham salah tingkah saat ketahuan tertangkap basah mengamatinya diam-diam. "Pak Angga sebegitu tertariknya, ya, sama ilmu filsafat?" tanyaku, mencoba mengusir rasa canggung. "Apa pertanyaan itu ada kaitannya dengan revisi penelitian kamu?" Aku menggeleng. "Saya cuma penasaran." "Kalau begitu berhenti menanyakan hal-hal tidak penting. Karena tujuan saya di sini bukan melayani rasa penasaran siapapun." Aku langsung mingkem. Orang ini memang tak bisa diajak basa-basi. "Dan satu lagi." Ia menjeling ke sudut lain meja kami. "Saya selalu menempatkan aturan untuk tidak memakai ponsel di kelas saya, dan hal itu berlaku juga di luar kelas, termasuk ketika saya memberi jam bimbingan." "Tapi saya dari tadi tidak menyentuhnya sama sekali." "Memang tidak. Tapi bunyi getar dari pesan yang masuk sejak tadi cukup mengganggu saya." Menahan diri agar tidak mengumpat, dengan berat hati aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu menonaktifkan benda persegi mungil tersebut. Demi semesta dan segala isinya, jika malaikat maut ingin mencabut nyawa makhluk semenjengkelkan Pak Angga hari ini juga, aku tidak akan keberatan. Mau lewat cara disambar gledek, keselek durian, digolok preman, atau dilindas gerobak sayur pun, sama sekali tidak masalah. Sungguh. *** "Saya sudah memperbaiki kerangka berpikir dan hipotesis penelitian yang Bapak minta." Aku menyerahkan laptopku yang memuat hasil revisi yang telah diketik. "Kajian pustaka pada bab dua juga sudah saya tambahkan, termasuk memindahkan hasil penelitian terdahulu dari latar belakang masalah ke bab dua." Pak Angga mengambil laptop yang kusodorkan dan mulai menggulir layar di hadapannya. "Bagaimana dengan populasi dan sampel yang diambil?" "Saya akan memilih perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia, pada sub sektor semen yang terdaftar di BEI sebagai Populasi. Dan untuk sampelnya sendiri, saya akan menggunakan sampling jenuh, mengingat populasi yang ada relatif kecil." Pria itu hanya mengangguk singkat mendengar penjelasanku. Masih tetap fokus menilik halaman demi halaman secara teliti. "Lalu bagaimana dengan variabelnya?" "Saya akan meneliti financial distress sebagai variabelnya, dengan menggunakan model Altman Z-score." "Kalau begitu kenapa harus model Altman?" "Ya?" Ia mendongak dari balik layar laptop. "Dari berbagai model untuk memprediksi financial distress perusahaan, kenapa kamu lebih pilih pakai model Altman? Kenapa bukan Ohlson, Springet, Zmijewski, Grover, atau membandingkan beberapa di antaranya biar jauh lebih valid?" Aku terdiam. Pertanyaan kali ini sukses membuat otak kiriku yang jarang terpakai mendadak berdenyut. Alasan? Aku bahkan tak ingat alasan kenapa aku memilih model ini. "Kenapa? Jangan bilang kamu tidak punya alasan khusus." Glek. Dihujam tatapan penuh intimidasi seperti itu membuatku merasa bertambah gugup dan membawa rasa percaya diriku ikut merosot. Tidak bisakah ia bertanya dengan lemah lembut tanpa harus menanamkan kesan teror pada lawan bicaranya? "Saya rasa mungkin model Altman yang lebih cocok." "Atas dasar apa?" "Maaf?" "Kalau kamu menentukan model yang cocok untuk suatu analisis, harusnya kamu juga bisa memberikan landasan logis dari pemilihan itu." Matanya menyipit tajam. "Yang namanya penelitian ilmiah, wajib berjalan secara sistematis dan objektif. Mendasari penelitian hanya berdasarkan kemungkinan dan coba-coba, sama sekali bukan pemikiran yang etis." Lagi-lagi aku cuma terdiam. Memaksa menjawab pun, hanya akan membuatku kelihatan dua kali lipat lebih bodoh. Dapat kudengar embusan napas panjang keluar dari mulutnya. "Hampir lima jam kamu berkutat dari bab satu sampai bab tiga, tapi inti penelitianmu sendiri saja kamu tidak tau? Pertanyaan tadi hanya pertanyaan dasar untuk menguji seberapa paham kamu dengan penelitianmu sendiri. Kalau yang seperti itu saja kamu tak bisa jawab, bagaimana kamu bisa survive menghadapi pertanyaan para penguji di sidang Sempro nanti?" Baiklah. Ucapannya satu ini mungkin ada benarnya. Ia kembali menekankan, "Kalau kamu tidak ingin mengulang sidang Sempro dua kali, dan tertahan lebih lama menjadi mahasiswa abadi, mulai sekarang pahami setiap detail penelitianmu sebaik mungkin." Lelaki itu kemudian berdiri dari kursi seraya melirik arloji di tangannya "Sudah hampir jam 6. Saya rasa cukup untuk hari ini," ujarnya menutup buku keramat yang sempat ia abaikan. "Print hasil revisinya, dan bawa Senin depan untuk saya Acc. Kalau tidak banyak perubahan yang diminta Pak Tanto, kemungkin dua minggu depan kamu sudah bisa maju sidang." Aku membeliak terkejut. "Maksud Bapak, proposal saya sudah bisa di-Acc?" "Ya. Tapi saya tekankan untuk pelajari kembali inti penelitian kamu sedetail mungkin dari bab satu. Jangan sampai mempermalukan Pak Tanto dan saya di sidang nanti. Mengerti?" Aku mengangguk cepat. Kabar ini sungguh di luar dugaan. Aku pikir bimbingan kami hanya akan berakhir tanpa membawa pulang hasil berarti. Begitu jauh dari bayanganku kalau akan mendapat persetujuan proposal darinya secepat ini. "Sebaiknya kamu pulang sekarang." Pak Angga meneleng ke bagian pintu masuk. Aku mengikuti arah yang ia maksud dan langsung terkesiap begitu mendapati Gio sudah berdiri di sana seraya melemparkan seulas senyum ke arah kami. Sejak kapan dia datang? "Ingat apa yang saya katakan tadi. Dan lainkali cobalah untuk lebih fokus." Pria itu berujar singkat sebelum melangkah pergi. Gio yang berpapasan dengannya tak lupa sedikit menundukan kepala, menyapanya dengan sopan. Sedangkan aku masih belum mampu meredakan gejolak bahagia yang sedang bergemuruh di dadaku. Hanya karena satu kata Acc, semua perasaan buruk sepanjang hari ini seolah ditepis hilang ke kerak bumi. Dengan dramatis, aku menyentuh debaran jantungku yang berpacu sedemikian kencang. "Dih. Kenapa malah senyum-senyum gaje? Lo nggak lagi kesambet---" "Giiiiii!!!!" Gio yang tak menyangka akan menerima serangan pelukan dadakan dariku, nyaris terjungkal ke belakang. "Oy, apa-apaan, sih? Gile! Baru juga beberapa jam dibimbing si tentara Monde, udah korslet begini rupa." Mengabaikan Gio yang mulai sesak napas oleh pelukan kencangku, aku tak berhenti mengulum senyum bahagia. Jadi begini rasanya mengecap hasil dari semua kerja keras dan jerih lelah selama ini? Ya Gusti ... mimpi apa aku semalam.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
09/04
0terbaik
02/04
0Lihat Semua