logo text

45. Rahasia Menyakitkan

Aku bergeming menatap nanar rumput yang kupijak. Helaan napas lelah entah sudah berapa kali kukeluarkan saking sulit menyelami perputaran keadaan yang terlalu mengejutkan ini. Segala sesuatu yang terjadi, terlampau di luar kendali. Dan jujur saja, semuanya terasa begitu melelahkan.
Kandungan lemah.
Janin sudah masuk usia 8 minggu.
Dua informasi itu samar-samar yang kutangkap dari penjelasan Dokter saat orang tuaku datang menyusul menghampiri kami ke rumah sakit. Arabella masih terbaring dalam ruang Instalasi Gawat Darurat setelah mendapat pertolongan awal terkait kondisi tubuhnya yang semakin menurun. Demi mencegah kemungkinan yang semakin buruk, opname adalah pilihan tepat yang disarankan Dokter untuk diambil.
Mama yang mengetahui kondisi kritis putrinya, tak berhenti menangis histeris di pelukan papa. Sementara aku yang berdiri di lorong tak jauh dari mereka usai menyelesaikan proses administrasi rawat inap, hanya bisa memandang sendu dari kejauhan menyaksikan kehancuran dan kesedihan dari kedua orang yang paling kusayang.
Betapa takdir begitu lucu mempermainkan kami semua.
"Lo juga butuh istirahat, Drey." Nasehat Gio pun terdengar hambar di telingaku. "Biar Om dan Tante yang jaga Ara untuk malam ini. Kalian perlu menenangkan dulu diri masing-masing sebelum memikirkan semua permasalahan ini lebih lanjut."
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. "Makasih untuk malam ini, Gi. Gue udah banyak ngerepotin lo." Beralih menatapnya, senyuman itu masih tulus kupertahankan. "Gue baik-baik saja, dan akan baik-baik saja," imbuhku terlihat meyakinkan. Meskipun aku sendiri tak terlalu yakin untuk bersikap pura-pura.
Sesaat kulihat Gio menelusuri wajahku dengan tatapan ragu. Dia masih belum sepenuhnya percaya bahwa aku masih sangggup menahan diri dari pukulan bertubi-tubi yang datang tak terduga malam ini. Namun seperti sudah mengenal luar dalam semua sikap keras kepalaku, laki-laki itu hanya bisa mendesah panjang seraya menepuk pelan puncak kepalaku. "Take your time. Gue tunggu di parkiran."
Usai mengatakan itu, dia berbalik kembali ke dalam untuk berpamitan sejenak dengan kedua orangtuaku. Sedangkan aku memilih untuk berdiam terduduk di bangku taman depan ruang IGD, dengan segala macam pikiran berkecamuk tiada henti.
Memandang sekeliling yang terasa sunyi karena jam kunjungan pasien sudah ditutup belasan menit lalu, aku meluruskan kaki seraya menyandarkan diri ke punggung kursi. Menutup mata sejenak, ikut membiarkan udara malam sedikit mengambil perannya mendinginkan kepala.
Hening yang menyungkup seolah menjadi teman berbagi penat terbaik.
Bersamaan dengan itu pula, pikiranku ikut melambung kembali pada kejadian yang begitu menguras tenaga dan perasaanku tanpa henti. Kata-kata Arabella masih begitu kuat menancap di pikiranku, hingga suaranya terus bergaung tanpa henti menyesaki setia sudut yang ada.
Tapi dari semua kebencian yang dia lontarkan, tatapan terlukanya saat mengatakan betapa dia membenciku karena melihat hidupku selama ini begitu dicintai dan lebih bahagia darinya, adalah hal yang sulit untuk kupahami.
Bukankah fakta itu justru akan terdengar lucu bagi siapapun yang mendengarnya? Siapapun di dunia ini tahu betapa beruntungnya hidup sempurna yang dia jalani. Pencapaian yang dia miliki sudah lebih dari cukup untuk membuat orang lain merasa iri.
Lagipula apa yang dia harapkan dari seseorang yang nyaris menghabiskan sisa hidupnya dengan berbagai macam kegagalan sepertiku? Selalu dibandingkan-bandingkan dengan keberhasilan orang lain, selalu merasa rendah diri karena tertinggal langkah begitu jauh dari orang-orang sekitar, bahkan untuk perhatian kedua orangtuaku yang begitu membuat Arabella merasa iri setengah mati, tidak lebih kupandang sebagai tekanan batin untuk membuat hidupku terhindar dari kata menyedihkan.
Memang, di beberapa waktu di masa lalu, mama dan papa cenderung berlebihan dalam menangani kecerobohanku. Baik saat aku tak sengaja berbuat ulah di sekolah, atau kecerobohan yang justru merugikan kesehatanku. Mereka seposesif itu karena merasa terlalu mengenal karakter anak sulungnya yang teramat begitu ceroboh, sehingga memerlukan perhatian ekstra agar tak menimbulkan masalah yang lebih rumit untuk mereka di kemudian hari.
Berkebalikan dengan Arabella yang tampak begitu dewasa dan mandiri sejak kecil, mama dan papa merasa terbantu karena beban mereka dalam memikul tanggung jawab menjadi berkurang. Bukan karena mereka tak memperdulikan Arabella sama sekali, tapi itulah bentuk kepercayaan dan kebanggaan mereka atas kemandirian putri bungsunya. Selama ini Ara tak pernah mengecewakan mereka, terlihat mampu berdiri di atas kakiknya sendiri, sehingga orangtua kami tak pernah berpikir dua kali untuk membiarkannya bertumbuh selaras dengan segala kemandirian itu.
Namun sayangnya, tanpa mereka berdua sadari, keputusan mereka itu justru menjadi bom waktu yang justru membawa kehancuran yang jauh lebih pelik di kemudian hari. Ya, seperti saat ini.
"Boleh aku duduk?"
Suara familiar itu sontak membuatku tertarik dari bayangan menyakitkan tersebut, berpindah memindai sosok di samping kiriku yang tetiba muncul tanpa diundang di saat yang tidak kuinginkan.
Baiklah, memang kebencianku padanya terkesan berlebihan, meskipun perkataan Ara secara terang-terangan menyatakan bahwa dirinya tak ikut andil di dalam kekacauan keluarga kami saat ini. Namun, tetap saja, masih sulit untuk meredam sepenuhnya emosiku yang tadi ikut terpancing keluar.
"Aku janji akan langsung angkat kaki saat kamu benar-benar muak." Setelah menyaksikan kebungkamanku, dia memutuskan untuk ikut duduk mengambil tempat di sisiku.
Ada rentang jarak yang cukup dia ciptakan untuk membuatku bisa senyaman mungkin. Dan mau tak mau aku cukup menghargai itu dengan tidak secara jelas menolak kehadirannya. Lagipula ini adalah tempat umum yang bebas diduduki siapa saja tanpa izin dariku.
Untuk Sesaat, kami berdua hanya saling bungkam dalam keheningan.
Dari jarak ini pula, diam-diam aku juga mampu menangkap bayangan merah samar di salah satu pipinya, buah tanganku beberapa waktu lalu saat emosi yang terasa begitu sulit kukendalikan. Tapi jauh di lubuk hati, aku tidak menyesali apapun.
"Aku nggak akan minta maaf untuk tamparan tadi," kataku seraya memalingkan pandangan dari pipi kanannya. Tak ingin tertangkap basah mengamati dirinya diam-diam.
Pelan, kudengar dia terkekeh di tempatnya. "Aku memang pantas dapetin itu, Drey. Kamu nggak perlu minta maaf atas apapun."
"Dermawan sekali," cibirku tanpa sungkan.
Dia hanya balas dengan senyuman tipis. Lalu sekali lagi, kami terdiam dalam kesunyian.
"Orang itu...," mulainya dengan lirih saat kami cukup lama dilanda bungkam. "Benar-benar bukan aku, Drey."
"Ya, sepertinya memang bukan kamu. Melihat bagaimana Ara sekeras kepala itu membela kamu." Tanpa menjelaskan secara gamblang, aku tahu ke mana arah pembicaraan yang kami tuju.
Kondisi tubuh Ara jauh lebih menyita atensi kami semua dari permasalahan lanjut tentang alasan dibalik kehamilannya. Rasa panik melihat tubuh lemas pucat itu terbaring tak sadarkan diri teramat melukai hati kami masing-masing, termasuk untuk diriku sendiri. Tak peduli seburuk apa hubungan kami selama ini, atau sebesar apa rasa benciku yang tertinggal karena beragam sikapnya yang begitu menyakitkan hati, tapi tetap saja darah yang lebih kental dari air tak mampu mengecohkan nurani.
Aku ternyata masih cukup untuk peduli.
"Aku nggak punya hak untuk membuka hal yang harusnya dibicarakan langsung oleh keluarga kalian secara intim. Tapi aku rasa kamu perlu tahu sebelum Ara sendiri merasa siap membahasnya dengan orangtua kalian. Selama proses itu, aku harap kamu bisa ikut berdiri di sampingnya menjadi penopangnya secara nggak langsung."
Entah kenapa kalimat Raskal membuatku ingin tertawa. "Kamu bercanda? Memangnya selama ini kamu nggak bisa lihat seberapa bencinya dia sama aku? Jangankan berharap aku berdiri di sampingnya, setiap melihat wajah aku aja dia selalu merasa muak."
"Drey...."
"Dia sudah cukup dewasa memahami sebab akibat dari semua perbuatannya, Raskal. Nggak ada perbuatan yang jauh dari kata resiko, kan? Setiap hal yang terjadi selalu menagih timbal baliknya."
"Tapi nggak semua hal juga terjadi atas keinginan kita sendiri." Raskal beralih menatapku lekat-lekat. Membuat dahiku ikut berkerut samar.
"Maksud kamu?"
Kulihat dia mengalihkan pandangan dengan raut gelisah. Sesekali tampak dia menarik napas gusar.
"Maksud kamu?" kejarku penuh penekanan.
"Setahun, Drey," ujarnya setengah berbisik, kesenduan tak bisa ditampik dari sorot matanya. Melihat itu, seketika perasaan was-was datang tanpa diundang.
"Hampir setahun dia menyembunyikan pelecehan itu. Dan aku sama sekali buta untuk peduli."
"Ja-jangan bicara omong kosong...." Aku tertawa getir dengan suara nyaris tersekat. Ini sama sekali tidak lucu. "Kalau kamu bermaksud menarik simpatiku, ini terlalu berlebihan---"
"Kamu sangat tahu sejak dulu Ara begitu berambisi mencapai kebanggaan apapun, kan, Drey? Termasuk mati-matian mempertahankan segala pencapaian dan nama baiknya. Menurut kamu, untuk ukuran seseorang yang begitu menganggungkan nama baik di mata orangtua kalian, apa dengan sengaja dia mau mencorengnya?"
Raskal masih menatapku dengan kesungguhan penuh. Sedangkan aku masih berusaha mencerna setiap kenyataan baru yang terasa jauh menakutkan dari mimpi buruk.
"Aku nggak membenarkan pilihan yang dia buat, Drey, tapi aku juga merasa bersalah karena melepas tangan begitu lama dan terlambat menyadari apa yang terjadi selama ini----"
"Siapa?" potongku tanpa mengindahkan penjelasannya lebih lanjut.
"Drey...."
"Sialan, Raskal! Berhenti bicara berputar-putar! Aku tanya SIAPA?"
Mataku perlahan ikut memanas. Kenyataan ini begitu sesak hingga membuat dadaku terasa diremas tangan tak kasat mata.
"Siapa?" lirihku sekali lagi penuh permohonan.
Raskal tertunduk sembari memainkan jemari tangannya dengan gugup. Melihat raut putus asaku mungkin membuatnya merasa lebih bersalah. Tapi aku butuh penjelasan yang lebih runut dari basa-basinya yang tak berujung.
"Handoko Cahyadi," jawabnya diikuti desahan panjang. "Aku tahu kamu juga kenal dia dengan baik."
Lututku yang tadi gemetar hebat kini seketika dilanda lemas. Satu nama yang terucap, begitu terasa menyembilu hati. Kegilaan satu persatu yang datang terasa semakin pelik untuk kumengerti.
"Sejak kapan?" Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari getar bibirku.
Raskal tampak menimbang-nimbang melihat wajah pucat pasiku, sebelum pada akhirnya memutuskan mengatakan segalanya yang dia tahu.
Semua yang dia tahu.

Komentar Buku (151)

  • avatar
    Lutviah Winarni

    suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ALFEANAMMAR

    enak

    09/04

      0
  • avatar
    Bilkis Allma

    terbaik

    02/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru