Aku bukanlah tipe orang yang mudah terpancing emosi. Lebih memilih bertahan dan bersabar agar tak menimbulkan permasalahan yang semakin mendalam saat amarah mulai merangkak naik. Intinya aku benci terlibat konfrontasi. Menyerang kembali adalah upaya pertahan diri terakhirku saat memang diperlukan jika seseorang sudah bertindak terlalu kelewatan yang sudah tak mampu ditampung batas toleransiku. Selagi aku bisa menghindari percekcokan, aku akan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Namun, yang kali ini berbeda.... Aku tak punya alasan lagi untuk menahan diri. Rasa panas di telapak tangan akibat tamparan yang kulayangkan di wajah laki-laki brengsek di depanku, tidak memberikan sedikit kelegaan. Amarah itu semakin membumbung jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan. Bahkan saat tubuhku terdorong paksa ke belakang oleh sikap defensif dan pembelaan Ara yang sudah berdiri di depan sasaran kemarahanku, amarah itu kini telah bercampur menjadi perasaan jijik yang memuakkan. "Minggir," desisku tertahan geram. "Aku belum selesai." Ara membalas tatapanku tak kalah tajam. "Aku tahu apa yang bawa kamu kemari. Tapi bukan berarti kamu punya hak menjadikan itu alasan buat bertindak seenaknya!" Tawa getirku tak kuasa meluncur dengan sarkas. Lihat saja, tak peduli selama apa waktu berlalu, pembenaran buta yang selalu mereka berdua perankan, sama sekali tak pernah berubah. Bermain drama sebagai korban sudah menjadi tabiat abadi yang ingin terus mereka lakoni. Tak peduli sudah selama apa, mereka berdua masih tetap sama saja. "Setelah semua kekacauan ini? Dan kamu masih bisa bilang aku nggak punya hak bertindak apapun?" Kedua tanganku ikut terkepal erat. "Setelah puas buat Mama Papa kelimpungan nyaris gila nyari kabar anak bungsunya yang tiba-tiba hilang di tengah-tengah masalah yang diciptakannya sendiri, kamu masih bisa bilang aku nggak punya hak bertindak apapun?" Tanpa sadar, kakiku sudah melangkah maju. "Sialan, Arabella! Aku bahkan jauh lebih berhak! Bahkan untuk ikut nampar kamu sekarang juga, AKU BERHAK!" Satu-satunya hal yang mengisi ketegangan selain deru napasku yang naik turun karena emosi yang menggunung, adalah sentuhan pelan Gio di bahuku, sebagai upaya tak langsung darinya untuk membuatku cukup tenang, dan tidak berusaha memancing keributan semakin ramai. Mengingat sudah mulai terlihat dua atau lebih orang-orang yang berada di sekitar rumah kontrakan tergugah rasa ingin tahu akibat keramaian yang kami ciptakan. Ini memang pertama kali aku bisa lepas kontrol dan meledak-ledak di depan umum. Dan ini juga pertama kalinya aku mengeluarkan sumpah serapah di depan kedua orang yang selalu membuatku jatuh terpuruk dan merasa rendah diri. Namun, entah kenapa aku tak ingin menyesalinya. Bahkan terbesit pun, sama sekali tidak. Perbuatan dan kekacauan yang mereka tinggalkan tidak memberiku rasa toleransi sedikitpun. Katakan saja aku jahat dan egois. Tapi raut kekecewaan di wajah mama terasa jauh lebih menyakitkan dari sekadar luka hati yang pernah mereka torehkan di masa lalu. Aku sekali lagi menatap lekat-lekat sosok yang pernah menjadi bagian terpenting dalam pelajaran hidupku. Di detik itu pula air mata tetiba meluncur samar di salah satu pipiku. Perasaan yang aku pikir sempat membuatku tersayat, kini masih menyisakan rasa perih lain di sudut yang kupikir sudah benar-benar sembuh. Entah ini karena genangan masa lalu itu ternyata belum sepenuhnya surut, atau semua ini hanya karena murni rasa kecewaku yang teramat begitu besar padanya, karena lelaki yang kini berdiri di hadapanku sekarang, benar-benar sudah tak kukenali lagi seutuhnya. Dia terasa begitu jauh dan benar-benar asing. "Kamu tahu?" mulaiku sembari tersenyum pahit menatap Raskal. "Saat tahu perasaanku waktu itu benar-benar buat kamu tersiksa, sampai kamu memilih cara paling menyakitkan untuk melarikan diri, hari itu juga aku langsung merenungkan banyak hal." "Apa selama ini aku terlalu egois? Apa aku kelihatan terlalu memaksa? Seandainya kalau aku tahu lebih dulu dia nggak punya perasaan yang sama, mungkin aku nggak perlu merasa terkhianati serendah ini? Tapi apa nyatanya aku pernah punya hak untuk merasa terkhianati?" Ya, itu benar. Meskipun sebagian besar hatiku meneriakkan betapa brengsek dan bajingannya sikap Raskal, tapi di bagian hati terkecil, aku juga diam-diam ikut menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa membaca situasi. Karena menjadi begitu terlalu serakah untuk menginginkan lebih, padahal dengan Raskal berada di sisiku dan bersedia menjadi tameng pelindung dalam keadaan apapun, seharusnya itu sudah lebih dari cukup. Walaupun dia gagal menjadi lelaki yang baik dalam hubungan kami, tapi satu fakta yang tak bisa kupingkiri, bahwa dia adalah sahabat yang baik dalam persahabatan kami selama bertahun-tahun aku mengenalnya. Aku bahkan berpikir saking baiknya, dia mau membalas perasaanku meski hanya dalam kurun waktu tiga minggu. Aku tak tahu apa itu didasari sedikit ketulusan, kasihan, atau memang dia terlalu tak enak hati untuk menolak perasaan sahabatnya sendiri. Dan ketika dia merasa tak sanggup berpura-pura lagi, dia justru memilih cara yang paling menyakitkan untuk menegaskan bahwa dia ingin berhenti sampai di sini. Benar. Dulu pikiranku memang senaif itu. "Waktu kamu pilih datang minta maaf dengan tulus---jujur, waktu itu aku juga mulai belajar untuk menerima semuanya. Meskipun memakan waktu cukup lama, aku mungkin nggak keberatan lagi untuk benar-benar menerima maaf kamu tanpa syarat apapun, dan pelan-pelan akan mencoba membuka hubungan baik lagi, walaupun juga mungkin nggak sebaik dulu." Senyumku kembali terulas getir. "Tapi malam ini, ada satu kemungkinan yang baru aku sadar bisa saja luput dari pengamatanku. Kalau mungkin, aku bisa saja belum benar-benar mengenal kamu, atau terlalu bodoh untuk melihat siapa Raskal Ariandi sebenarnya yang hampir sepuluh tahun berada di sampingku. Karena sekarang, aku tahu kamu benar-benar asing." Bukan lagi amarah dan benci yang persis kurasakan saat pertama kali mendapati perasaanku bertepuk sebelah tangan, atau saat perasaanku merasa dipermainkan karena diselingkuhi oleh sahabat dan adik sendiri dengan menyedihkan. Tidak. Semua tidak lagi sesederhana itu. Namun perasaan kecewa lah yang saat ini nyata mendorong bagaimana aku memandang laki-laki di depanku saat ini. Dan itu bahkan jauh lebih besar daripada perasaan amarah, benci maupun terkhianati. "Drey, aku...." "Jangan," tolakku saat akhirnya mulut lelaki yang sedari tadi terkunci rapat itu tergerak untuk merespon. "Yang aku butuhkan sekarang bukan lagi permintaan maaf. Kalau kamu nggak ingin dicap lebih bajingan dari ini, kamu tahu bagaimana harus mempertanggung jawabkan semuanya, kan?" Lalu tatapanku beralih pada gadis yang tampak begitu pucat, yang baru juga kusadari bentuk wajahnya yang mulai terlihat sedikit tirus dan kantung mata tebal menyertai setelah kami berdiri dalam jarak sedekat ini. Tatapannya masih nyalang, tapi aku juga bisa menangkap emosi lain dari sorot matanya. Entah itu campuran rasa takut, keterkejutan, atau mungkin juga luka? Tapi aku tak ingin terlalu peduli lebih jauh lagi. "Selesaikan apa yang sudah kamu mulai dengan cara yang lebih dewasa, bukannya melarikan diri. Temui Mama dan Papa, bahkan kalau diharuskan untuk berlutut meminta pengampunan, kamu lebih dari layak untuk melakukannya. Karena aib yang kamu ciptakan bukan hanya terlanjur mencoreng nama mereka berdua, tapi juga menjadi luka keluarga kita bersama." Aku tak perlu menunggu respon siapapun, dan memutuskan untuk melangkah berbalik pergi dari hadapan kedua orang itu. Rasanya cukup. Kerumunan beberapa orang yang sudah mulai terlihat ramai berkumpul, membuatku mawas diri untuk membawa perdebatan ini lebih lanjut. Kami butuh ruang sesaat untuk menetralkan gejolak masing-masing, dan mungkin dengan begitu bisa memikirkan langkah ke depan dengan pikiran jernih. Setidaknya untuk sekarang, aku sudah menyampaikan apa yang ingin kusampaikan, dan melakukan apa yang ingin kulakukan. Hasil akhirnya, mari kita lihat nanti. Tatapan iba Gio tak kuindahkan sama sekali. Langkahku tetap terayun pasti. Perasaan caruk-maruk ini membuatku lelah batin dan juga fisik. Aku tak menyangka, gundahku memikirkan perasaan Sandi, justru berujung ke pangkal yang semakin pelik. "Memangnya kamu tahu apa?" Belum genap enam langkah, suara lirih Arabella yang masih tertangkap pendengaranku mengurungkan niatku untuk terus beranjak. "Memangnya kamu punya hak apa?" "Apa karena kita keluarga?" Sekonyong-konyong, tawa kecilnya terdengar, tapi getaran pada suaranya menandakan ada kesenduan juga ikut terpatri di sana. "Nyaris belasan tahun, Drey. Sudah selama itu, dan kamu baru akan peduli dengan hak itu sekarang?" Tawanya kembali terdengar. "Terlambat, Drey. Terlalu terlambat." Aku memejamkan mata sekilas dan menarik napas panjang. Namun belum sempat membuka mulut hendak membalas, suara itu kembali menyahut rendah. "Nggak peduli sekeras dan segigih apa selama ini aku berusaha, pada akhirnya aku selalu kalah langkah dari kamu, kan, Drey?" Nada getir itu sekali lagi beralun sarkas, tapi kali ini kesenduan di dalamnya tak ditutup-tutupi lagi. "Mau aku berjuang sekuat apapun untuk dilihat, tetap saja hanya Audrey Mariska yang selalu jadi pusat perhatian semua orang, kan?" "Si Audrey yang ceroboh, si Audrey yang bodoh, si Audrey yang naif, si Audrey yang bahkan nggak bisa membaca perasaan sahabatnya sendiri, mau berapapun aku menyebutkan semua kekurangan kamu, nyatanya kamu tetap selalu mendapatkan cinta dari siapapun. Termasuk Mama dan Papa." Tak tahan, aku berbalik menghadapnya. "Jangan bicara omong kosong Ara---" "Kamu ingat waktu aku pernah minta Papa untuk datang ke pementasan teater SMP sebagai bentuk hadiah ulang tahunku?" tanyanya dengan sorot sayu dan kosong. "Sampai aku menunggu jam pulang sekolah pun, dia tetap nggak muncul-muncul. Alasannya apa? Karena putri sulungnya sedang sakit karena asam lambungnya naik, padahal ada Mama di rumah yang bisa membantu merawat, dan pementasan itu juga nggak akan berlangsung lebih dari satu jam. Lucu sekali, kan?" Tawanya kembali menggema. "Padahal saat aku sakit pun, mereka nggak pernah seperhatian itu. Bahkan mereka bisa tega meninggalkanku dirawat si Mbok di rumah saat kamu berulah di luar sana, dipanggil sekolah karena kecerobohan yang kamu buat sendiri." "Benar, Drey, kamu memang seluar biasa itu dicintai," imbuhnya dengan sarkastik. "Apa kamu juga tahu kalau aku sering di-bully di sekolah dasar karena dianggap nggak punya orang tua? Karena selama ini hanya oma Mirah yang selalu terlihat mengantar dan mengurus semua keperluanku di sana. Aku bahkan hampir mengira kedua orangtuaku sudah mati saking terlalu jarang mereka menunjukkan kehadirannya. Padahal nyatanya mereka---kalian bertiga hidup bahagia bersama di bawah satu atap tanpa beban apapun. Dan setelah oma Mirah meninggal, dan kalian datang menjemputku lagi, aku bahkan nyaris nggak mengenal dan tahu apapun tentang keluargaku. Kalau diingat-ingat lagi, di awal kita tinggal bersama pun, kamu juga terlihat tidak mau peduli, kan, Drey? Kamu justru sama sekali nggak menganggapku ada." "Sejak saat itu aku berusaha mendapat pengakuan dan cinta mereka. Aku berusaha melakukan apapun. Jadi Arabella yang manis, jadi Arabella yang penurut, jadi Arabella yang bisa dibanggakan. Aku selalu berusaha keras, setiap hari, siang-malam, hanya demi bisa dilihat mereka." "Ya, aku memang mendapatkan pengakuan itu dari pujian dan binar rasa bangga di mata mereka, tapi bagian paling mirisnya, aku belum bisa menemukan rasa cinta yang sama sebagaimana mereka selalu memperlakukan kamu selama ini. Padahal kamu tidak berjuang sekeras yang kulakukan, kamu hanya perlu ceroboh dan bertindak idiot maka mereka akan selalu memperhatikan kamu tanpa syarat." "Lalu sekarang? Setelah semua pencapaian dan kebanggaan yang aku berikan, mereka hanya terpaku pada satu kesalahan ini? Pada satu titik noda hitam ini?" Air matanya mengalir turun saat dia kembali tertawa entah yang ke berapa kalinya malam ini. "Kamu tahu apa yang mereka katakan setelah menamparku tadi, Drey?" "Aku anak sialan! Bikin malu orang tua! Aib keluarga! Nggak berguna!" Aku tersentak kaget saat dia mulai memukul-mukul dadanya sendiri. "Serendah itu harga aku di mata mereka sekarang, Drey. Serendah itu! Dari semuanya, mereka hanya menilaiku dari kesalahan itu. Dan kamu juga sekarang nggak ada bedanya dengan mereka! Menatapku nggak lebih dari sampah!" "Memangnya kalian tahu apa? Memangnya kalian mengerti apa? Kalian bahkan nggak tahu apa yang membawaku sampai ke titik najis ini. Memangnya kalian PEDULI APA SIALAN?!" Arabella meraung histeris dan menjatuhkan dirinya terduduk ke tanah. Air mata mengalir tak terbendung, isakannya tak tertahankan lagi. Aku termangu melihat betapa kacaunya sosok di depanku selama ini. Jujur ... ini adalah kali pertama aku melihat dia tampak begitu putus asa dan menyedihkan. "Bahkan Raskal yang kamu anggap manusia paling bajingan sekalipun, setidaknya dia jauh lebih peduli daripada kalian yang mengaku punya ikatan darah. Padahal dia nggak punya hak untuk bertanggung jawab apapun," imbuhnya dengan senyum terulas getir, membuatku mengernyit di tengah rasa resah. "Maksud kamu apa?" Tapi dia hanya tertawa semakin kencang. "Ya, kamu dan pemikiran sempitmu itu, Drey. Itulah alasan kenapa aku bisa membencimu sejauh ini," lirihnya yang secara tiba-tiba menyentuh bagian bawah perutnya dengan tangan gemetaran. Kemudian hal selanjutnya yang langsung membuatku terpaku membisu di tempat, adalah teriakan panik Raskal saat tubuh kurus gadis itu terayun gontai hingga akhirnya ambruk ke tanah. Saat bisik-bisik orang sekitar makin ramai merebak, bahkan suara histeris Gio yang berusaha menyadarkanku untuk ikut membantu menyelamatkannya, aku masih saja bergeming dengan sekujur tubuh gemetar hebat. Pandanganku kosong menatap tubuh lunglai yang tengah terbaring dalam pelukan Raskal tanpa kesadaran. Dan entah sejak kapan, setetes air mata sudah ikut turun mengalir tanpa kusadari. Ya Tuhan, memangnya apa yang sudah kulewatkan selama ini?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
09/04
0terbaik
02/04
0Lihat Semua