Aku menghempaskan tubuh lelah dan letihku ke atas kasur, bersamaan dengan sisa-sisa kekesalan usai perdebatan tak penting bersama Pak Angga beberapa puluh menit yang lalu. Sangat jauh berbanding terbalik denganku yang terus saja menekuk muka menahan kesal saat perjalanan pulang, pria itu justru hanya menyetir dalam tenang tanpa merasa terganggu sedikitpun. Entah kenapa muka lempengnya itu selalu sukses menciptakan rasa mendidih di ubun-ubun kepala tiap kali melihatnya. Maka begitu mobil yang dikemudikannya sudah berhenti di depan pagar rumahku, dengan sigap pula aku memanfaatkan momen tersebut untuk segera melarikan diri dari suasana canggung nan mengesalkan di ruang yang sempit itu bersamanya. Buru-buru berpamitan sesopan mungkin, tanpa berniat menyelipkan basa-basi apapun saat melangkah keluar dari jok penumpang. Begitu melihat mobilnya sudah sepenuhnya menghilang dari pandangan, usai bunyi klakson satu kali sebagai bentuk tanda pamit, barulah aku bisa menarik sedikit napas lega. Lalu tanpa menunggu lama segera berbalik arah menuju rumah. Melirik sekilas jam weker di atas nakas yang sudah menunjuk pukul sembilan malam, aku mengembus napas panjang dan meraih ponsel yang sempat kulemparkan secara asal ke kasur. Menggulir layar yang mengantarku pada aplikasi pesan pribadi, menampilkan kembali beberapa chat tak terbaca yang sudah kukirim sejak 7 jam lalu. Kabar dari Sandi semenjak pamit dari Plaza Senayan siang tadi masih belum terlihat menyapa ponselku. Aku bahkan sempat menelpon untuk mengabarinya kalau aku baru bisa sampai di rumah karena harus mengiyakan permintaan Mbak Mawar yang tiba-tiba memberi ajakan minum teh bersama. Namun sepertinya kepadatan tugas Sandi di Instalasi Gawat Darurat setelah panggilan darurat kecelakaan di Tubagus Angke, membuatnya benar-benar menonaktifkan semua alat komunikasinya. Bunyi operator panggilan yang menandakan bahwa nomor si penerima telepon sedang di luar jangkauan menjadi buktinya. Ini adalah salah satu kebiasaan Sandi yang baru kuketahui semenjak hubungan kami telah berkembang dua bulan belakangan. Lelaki itu tak pernah setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya, untuk itu dia tak akan membiarkan hal sekecil apapun turut menyela. Sandi akan memberi kabar begitu dia yakin punya waktu istirahat yang cukup di sela-sela kesibukannya. Termasuk inisiatif menghubungiku. Awalnya aku perlu membiasakan diri dengan gaya komunikasi hubungan semacam ini. Walaupun dulu momen berpacaranku dengan Raskal terbilang sangat singkat, tapi kami selalu intens bertukar pesan hampir tiap hari meski hanya untuk mengutarakan pertanyaan basa-basi. Berbanding terbalik dengan komunikasiku dalam hubungan bersama Sandi sekarang ini. Tapi mengingat perbedaan kesibukan Raskal dan Sandi, tentu saja aku harus bisa memaklumi karena bagaimanapun Sandi punya tanggung jawab lebih besar yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Meletakan ponsel yang masih bergeming tanpa kabar, aku bergerak bangkit dari ranjang untuk melepaskan pakaian yang sudah nyaris seharian melekat di tubuhku. Mengambil handuk yang sedari pagi hanya kusampirkan asal ke punggung kursi belajar, aku berniat untuk membersihkan diri sepenuhnya dari rasa penat. Baru saja kakiku terayun beberapa langkah ke pintu kamar mandi, bunyi panggilan masuk dari ponsel mengurungkan keinginan tersebut. Saat benda pipih yang tergeletak itu berhasil kuraih, nama yang sedari tadi menyita atensiku karena tak kunjung mendapat kabar darinya, kini berkelap-kelip menyapa di layar datar. Hanya butuh satu usapan jari dariku untuk langsung menerima panggilan tersebut. "Hai. Aku baru aktifin ponsel karena baru selesai operasi minor 15 menit yang lalu. Maaf, Drey, pesan kamu nggak aku baca sama sekali." Suara Sandi bercampur bising kendaraan lalu-lalang di seberang telepon, menandakan bahwa sepertinya dia baru saja keluar dari pelataran gedung rumah sakit. "Kamu di jalan?" tanyaku tak menyembunyikan sedikit rasa khawatir. Jika tugas pelayanannya memang baru selesai 15 menit yang lalu, dapat dipastikan bahwa sedikitpun dia pasti belum mengisi perut sejak makan siang kami di Wingstop tadi. Seperti yang sudah kubilang di awal, Sandi adalah tipe orang yang tak pernah setengah-setengah dalam pekerjaannya. Akibat dedikasi itu pula, tak jarang dia jadi terbiasa melewatkan jam makannya. Padahal dia lah yang selalu terlihat paling cerewet, menjadi alarm pengingat untukku agar tak melupakan jam makan yang teratur dan pola hidup sehat, tapi justru dirinya sendiri yang kerap mengabaikan petuah tersebut. "Iya, aku sama beberapa anak residen mau cari tempat makan malam di sekitar sini." Suara-suara tawa dan canda yang samar masih bisa kutangkap, menunjukkan bahwa Sandi memang tidak sendirian saat sedang menyetir. "Emh, Drey...," panggilnya terdengar ragu. "Malam ini aku nggak bisa mampir ke rumah kamu, habis ini aku harus balik rumah sakit lagi karena ada janji temu dadakan sama Prof Januar, dosen pembimbing yang bantuin rekomendasi beasiswa spesialis aku ke Johns Hopkins. Nggak apa-apa, kan?" Aku menelan kembali tawaran makan malam buatan mama di rumah yang baru saja ingin kuutarakan padanya. Selain dia baru saja menjelaskan akan ikut bergabung makan bersama rekan sesama dokter yang kini sedang bersamanya, kesibukan lain yang sudah menanti sehabis itu juga membuatku tak punya alasan untuk memaksa. "Drey?" panggilnya lagi karena aku masih dibungkam hening. Tak ingin menciptakan rasa bersalah untuknya, aku mencoba mengulas senyum di balik suaraku. "Nggak apa-apa, kamu bisa mampir ke rumah lainkali." "Maaf, rencana kita hari ini benar-benar gagal total." Aku kali ini mengulas senyum geli mendengar nada menggerutu dari ucapannya. Kami memang menjadwalkan banyak hal berdua seharian ini karena sangat percaya diri Sandi punya waktu cukup luang di hari Jumat setelah jadwal jaganya hanya berlangsung singkat. Seperti makan siang ke Plaza Senayan usai menjemputku di kampus, meluangkan waktu jalan-jalan di sekitar pusat perbelanjaan, hingga rencana nonton film selepas aktivitas itu. Kemudian penutupnya adalah melanjutkan makan malam di rumahku, diikuti acara minum teh dan mengudap camilan di beranda rumah, seperti kebiasaan kami setelah jalan berdua yang sudah-sudah. Namun rencana hanya menjadi rencana, begitu panggilan tugas rumah sakit tak bisa dihindari Sandi. Tanggung jawab yang tak sederhana itu pula memaksa kami untuk menepikan ego dan keinginan untuk kepentingan lain yang jauh lebih besar. Aku juga tahu bahwa Sandi adalah orang yang selalu berusaha menepati janjinya, dan jika ada hal yang terjadi di luar ekspektasi lelaki itu, maka rasa bersalah adalah hal pertama yang akan mengganggunya. Sehingga aku berusaha untuk meyakinkannya agar tak terlalu ambil pusing terlalu jauh. "Aku juga punya daftar revisi dan perhitungan data yang harus dikerjain malam ini. Kita masih punya banyak hari luang di lain waktu." Sempat ada jeda hening di seberang sana, sebelum helaan napas pelan darinya terdengar kembali. "Maaf, Drey. Aku janji lain waktu itu nggak akan gagal kayak hari ini." Sekali lagi aku menggumamkan kalimat tidak apa-apa, agar dia tak perlu merasa terbebani. "Yaudah, kamu lanjut kerjain skripsi kamu. Nanti aku telepon lagi." Ketika panggilan di antara kami telah ditutup, aku mengingatkan diriku agar tak perlu merasa kecewa sedikitpun. Aku memang masih perlu banyak membiasakan diri jika suatu hari situasi semacam ini datang kembali. Ya, meskipun belum terlalu terbiasa, aku harus mampu memakluminya. *** Aku meregangkan badan dan melemaskan jari-jemari tangan yang mulai terasa kaku, akibat cukup lama menghadap layar laptop beserta printout data sekunder laporan keuangan dari masing-masing perusahaan manufaktur yang dikumpulkan. Sedari tadi aku masih berkutat pada data olahan lima rasio keuangan dari model Altman yang akan kugunakan untuk uji asumsi klasik dan regresi berganda. Selain untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan, uji ini dilakukan juga untuk mengetahui variabel mana saja yang berpengaruh pada kebangkrutan. Guna menjadi evaluasi bagi perusahaan sampel nanti mencegah permasalahan keuangan bertambah buruk. Tak terhitung berapa banyak bungkus camilan yang berserakan di bawah meja, bahkan gelas kopi keduaku yang terlihat nyaris tandas, tak cukup membantu untuk menghilangkan rasa kantuk sepenuhnya. Otak kiriku yang memang sulit diajak berkompromi ketika dihadapkan pada perhitungan matematis, mulai berdemo memberontak untuk segera diistirahatkan. Selama dua jam penuh aku tak lepas dari pekerjaan yang menyita seluruh perhatianku. Bahkan deringan ponsel yang kembali masuk menginterupsi, hampir saja kuabaikan jika saja sudut mataku tidak sengaja menangkap nama penelepon yang tertera di sana. "Masih sibuk?" Suara Sandi kembali terdengar begitu aku menekan tombol hijau pada layar. "Hm." Aku menjawab sekedarnya karena konsentrasiku masih terpusat pada tampilan SPSS perhitungan. "Kenapa telepon jam segini?" Deretan angka pada jam weker nakas yang masih bisa kutangkap dari meja belajar, menunjukkan bahwa waktu sekarang ini memang nyaris menunjukkan tengah malam. Kesibukan padat Sandi dan pertemuan dengan dosen pembimbingnya, harusnya sudah membuat dia terlelap di alam mimpi saat sampai ke rumah. Bukan malah menghubungiku selarut ini. "Aku udah janji bakal telepon lagi kalau semua urusan aku selesai, Drey." Ya, aku masih mengingat janjinya untuk menelepon kembali sebelum menutup sambungan. Hanya saja aku pikir itu tak lebih dari basa-basi belaka. "Dan aku juga masih berhutang permintaan maaf karena ninggalin kamu di mall tadi siang." Dia tampak menjeda ucapannya. "Aku tahu kamu pasti kecewa." Aku menyandarkan diri ke punggung kursi. "Aku beneran nggak apa---" "Ya, aku tahu." Sandi memotong ucapanku yang belum selesai terlontar. "Tapi kalimat beneran nggak apa-apa di kamus cewek apalagi di kondisi seperti ini juga bisa berarti sebaliknya, kan?" Aku mendengkus menangkap nada setengah menggoda dari kata-katanya. Tanpa melihat langsung, rasanya aku bisa membayangkan lengkungan mata segarisnya tertarik menyipit, diikuti dua lesung pipit di bawah bibirnya yang selalu dia perlihatkan tiap kali berhasil memancing kekesalanku. Lagipula siapa yang coba kubohongi di sini? Meskipun berusaha untuk terlihat tak terlalu peduli, nyatanya ada bagian lain dari hatiku yang memupuk sedikit rasa kecewa dengan kesibukan Sandi yang sering tak terduga, apalagi di hubungan kami yang baru seumur jagung ini. Aku tak punya pengalaman yang matang dalam menjalin hubungan selama 22 tahun jatah hidupku. Masa muda yang kuhabiskan nyaris hanya untuk mengejar Raskal, membuatku jarang melirik orang lain atau bahkan tak pernah terpikirkan untuk menjalin kesenangan pacaran di masa remaja dengan siapapun selain Raskal. Alhasil, kebutaan pengalaman romansa itu lah yang menyulitkanku untuk menghadapi situasi hubungan semacam ini, karena aku tak punya tolak ukur apapun selain pengalaman pacaran tiga mingguku yang berakhir mengenaskan tersebut. Atau mungkin juga aku belum terlalu sepercaya diri itu untuk memulai hubungan di atas pondasi hati yang masih rapuh setelah hancur-lebur di masa lalu. Karena jauh di dalam sini, di sudut kecil hatiku, aku masih menyimpan rasa takut kalau suatu hari nanti kejadian yang sama akan terulang kembali, dengan Sandi sebagai pemeran utamanya kali ini. "Aku nggak apa-apa." Sekali lagi hanya jawaban itu yang bisa kuberikan untuk menutupi perasaanku. Walaupun aku ragu akan berhasil, mengingat Sandi adalah orang yang cukup peka terhadap orang-orang di sekitarnya. "Aku nggak keberatan kalau harus melayani permainan 'nggak apa-apa' dari kamu ini sampai pagi, Drey." Sudah kuduga. Membohongi Sandi memang tak ada gunanya. Cowok itu bahkan tak sungkan terkekeh geli di sebelah sana seakan tahu kalau kebohonganku hanya terdengar bagai lelucon di telinga. "Jadi?" tanyanya masih dengan nada usil yang sama. Mau tak mau, aku kelepasan mendengkus sebal. "Oke, Fine! Aku emang sedikit kecewa karena semua rencana kita yang gagal hari ini, kecewa karena pesan-pesan aku nggak kamu balas selama 7 jam, dan kecewa karena kamu lebih pilih makan malam dengan teman-teman residen kamu." Baiklah, kali ini aku tak berniat menyembunyikan rasa kecewaku yang tersimpan beberapa jam lalu. Namun, bukannya terusik oleh semua keluh-kesahku, cowok itu hanya kembali tertawa dengan santai. "Aku ngerti, kalau gitu kecewanya bisa di-pause bentar?" "Hah?" "Turun dulu, aku di depan pagar. Martabaknya nanti dingin kalau kelamaan marah-marah." Aku menganga begitu mendengar bunyi panggilan ditutup setelahnya. Sambil mengerjap tak percaya, aku segera berderap menyibak tirai jendela kamar. Dari lantai dua ini, bisa kulihat jelas tubuh Sandi yang berdiri di depan pagar tak jauh dari mobilnya terparkir. Dia menendang-nendang kerikil di bawah kakinya sambil sesekali mengedarkan pandangan ke pekarangan rumah, namun begitu pandangan matanya mengarah ke lantai dua kamarku, dapat kulihat senyum lebarnya terlukis seraya mengangkat tinggi bungkusan berisi martabak yang tadi dia maksud. Meski hanya diterangi pencahayaan lampu jalan, dari kejauhan aku masih dapat menangkap gerakan mulutnya yang membentuk kata 'Sorry' dan 'I Miss You Too'. Tanpa bisa dicegah, mataku sontak ikut memanas. Ah, sepertinya aku memang terlalu sentimental.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
09/04
0terbaik
02/04
0Lihat Semua