logo text

29. Bisikan Nurani

"Ngeliat lo suka senyum-senyum sendiri beberapa hari ini, bikin gue jadi trauma buat ngelamar orang. Amit-amit kalau calon gue nanti ketularan gila kayak lo gini." Mengabaikan wajah risih Gio, aku terus menyesap lemon tea seraya membalas pesan masuk dari Sandi.
Terhitung sudah lewat 4 hari dari waktu peresmian hubungan kami. Rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata bagaimana aku memantapkan diri mengambil langkah besar pada keputusan ini.
Meskipun begitu, aku tak berniat menyesali apapun. Karena setidaknya aku yakin kali ini telah meletakkan hati dan kepercayaan pada orang yang tepat.
Mungkin saja sekarang aku belum mampu mengimbangi perasaan tulus Sandi, tapi aku yakin bukan perkara sulit bagiku untuk benar-benar jatuh padanya sepenuhnya. Mengingat bibit perasaan itu sudah ada sejak beberapa kali kami menghabiskan waktu bersama. Hanya perlu sedikit waktu dan usaha untuk menumbuhkannya dengan mekar. Ditinjau dari jejak masa laluku yang pernah jatuh cinta sebodoh-bodohnya pada orang yang salah, belajar menerima sosok setulus Sandi akan jauh terasa mudah. Toh, hati manusia siapa yang tahu?
"Kayaknya lo benar-benar butuh dirukiah, Drey. Gilanya udah tahap kerasukan," lantur Gio kembali saat melihatku tak berhenti tertawa sendiri.
Meletakkan ponsel, aku menyipit tajam ke arah Gio yang tak berhenti menyerocos sumbang bak radio rusak. Namun alih-alih merasa terintimidasi, Gio balas menatapku dengan gaya tengil andalannya. "Apa? Emang bener, kan?"
"Lo kehabisan Kokain, ya, Gi? Atau lagi datang bulan? Apa jangan-jangan si Tiara kurang kasih jatah?"
Laki-laki itu mendecak pelan. "Mulutmu itu, lho, Beb, pengen Abang ulekin saking pedesnya." Lalu tanpa tahu malu tangannya mulai bergerilya di mangkuk bakso milikku dan asal mencomot satu bakso di sana. "Terus, rencana kalian selanjutnya apa? Emang Tante Rosita udah setuju kalo lo beneran nikah muda? Apalagi berencana nikah dekat-dekat ini sementara nasib sarjana lo aja masih butuh banyak topangan doa."
Sialan. Kalau urusan merusak kebahagiaan orang lain, cowok di depanku ini memang jagonya.
"Lo kenapa sih, Gi? Kenapa jadi rese gini? Bukannya lo sendiri yang nasehatin gue buat fokus nyari kebahagiaan di luar sana ketimbang berusaha move on? Pas udah dapat, enteng aja lo main ngerusak mood gue seenak dengkul."
Suaraku naik beberapa oktaf saking terpancing kekesalan, tak peduli meski kafetaria jurusan tempat kami makan siang sedang ramai-ramainya.
"Pola pikir model lo gini nih yang nggak bagus buat keremajaan kulit, negative thinking mulu bawaannya." Gio meletakan sendok nasi gorengnya, lalu menumpukkan kedua tangan di atas meja. "Gue justru bersyukur karena lo mau berusaha membuka hati lagi. Dan gue ikut lega karena tahu orang yang menjadi alasan di balik itu benar-benar orang yang tepat. By the way, gue ngomong gini bukan karena Bang Sandi rajin ngirimin gue duit bulanan ya, jangan salah paham dulu."
Dahiku mengernyit, memangnya siapa yang menyangkutpautkan dengan hal itu?
"Tapi di sini gue berusaha membantu lo melihat sisi realistis ke depannya, sisi yang nyaris lo lupakan karena terlalu terbawa euforia."
Dia menatapku lekat. "Meyakinkan orang tua lo dan masalah kelulusan, hanya dua dari sekian banyak tantangan untuk hubungan kalian berdua ke depan. Terus apa rencana yang bisa lo ambil soal itu?"
Menelungkupkan dagu bertopang pada tangan yang terlipat di meja, aku tak kuasa mendesah panjang. Gio benar, saking terbawa suasana bahagia, aku sampai melupakan fakta penting tersebut. Sandi memang sudah meneguhkan niat untuk membawa hubungan ini ke komitmen yang lebih serius. Namun mengingat status pendidikanku yang masih luntang-lantung tak jelas, aku sedikit ragu kalau niat itu akan terwujudkan dengan mudah.
"Terus menurut lo gue harus gimana?" tanyaku yang lebih mirip gumaman.
"Apanya yang gimana?"
"Gue nggak mungkin bikin Sandi nunggu kelamaan cuma buat dapat restu mereka, kan? Yang ada dia keburu ubanan duluan kalau ngikut tunggu gue selesai wisuda."
"Nah, itu nyadar."
"Asem!" Satu jitakan kuat kuarahkan ke kepalanya. "Niat ngasih solusi nggak, sih?"
Gio mengaduh sambil mengusap-usap sayang kepalanya sendiri. "Mau solusi gimana lagi sih, Drey? Solusi lo udah jelas, kan? Selesain tuh skripsi, kalau perlu marathon nggak tidur nggak mandi, siapa tahu mujizat Tuhan berlaku buat lo, dan akhirnya bisa ikut wisuda akhir tahun ini. Jadi lo nggak perlu pusing lagi mikirin ngajak Bang Sandi minta restu ke rumah, kalian bisa tunangan, nikah, punya banyak anak, lalu hidup bahagia dunia akhirat. Selesai. Kasus ditutup. End of discussion."
Bicara memang mudah. Tapi sayangnya situasi realitas akan selalu bertolak belakang dengan ekspektasi yang ada. Aku kembali melirik Gio yang kali ini tengah sibuk menyeruput kuah baksoku. "Menurut lo kalo gue nargetin wisuda lima bulan dari sekarang kira-kira masih sempat nggak, sih?"
Aku menatapnya lamat-lamat. Berharap menemukan sedikit harapan di balik jawabannya.
Gio mangut-mangut sekilas tampak berpikir keras. Kemudian tatapannya berpindah padaku, detik selanjutnya kami sama-sama saling mendengkus keras.
Ah, sepertinya memang mustahil. Nasib, nasib.
***
Perpustakaan utama tampak selalu lengang jika menjelang sore hari. Setelah bertahun-tahun menjadi mahasiswa, jiwa keingintahuanku baru terpancing ke permukaan di waktu-waktu mepet seperti sekarang. Jika dihitung berapa kali dalam setahun aku menyambangi tempat ini, aku rasa satu tangan lebih dari cukup untuk menjabarkannya.
Menyusuri rak-rak buku, aku berhasil mengantongi beberapa bacaan statistika dan metode penelitian kuantitatif untuk tambahan referensi bab pembahasan nanti. Menyebalkan memang, saat mahasiswa lain di luar sana berbondong-bondong merecoki pembimbing akademik mereka ketika mengalami kebuntuan skripsi, aku justru harus berbesar hati secara mandiri menyelesaikan problematikaku sendiri. Mengharapkan Pak Tanto bermurah hati mengulurkan bantuan, tidak ada bedanya dengan mengharapkan hujan lebat turun di tengah gurun Sahara. Sama-sama terasa mustahil.
Usai mendapatkan yang diperlukan, aku mengayun langkah menuju meja panjang yang sedikit terpojok di sudut ruangan, berdekatan dengan jendela yang mengarah langsung ke area parkir perpustakaan. Bagian yang cukup sunyi untuk membaur bersama ketenangan. Selain untuk kebutuhan konsentrasi dalam riset, aku memang lebih senang berkawan dengan buku dalam keadaan hening, entah itu untuk membaca novel roman picisan, atau bacaan berat lain semacam statistika.
Namun belum sempat mencapai meja, niatku yang tadinya amat menggebu-gebu langsung merosot tajam begitu mendapati tempat itu nyatanya tidak sesunyi dugaanku. Ditambah sosok familiar yang mendominasi meja tersebut, semakin menurunkan antusiasmeku untuk bergabung di sana. Tidak peduli meski banyak kursi kosong yang masih tersedia, aku lebih memilih memutar balik dan menempati meja panjang lain yang diisi beberapa mahasiswa tak jauh dari situ.
Sebenarnya tidak masalah bagiku jika ikut bergabung bersamanya. Lagipula keberadaanku juga tidak akan ditanggapinya karena sudah jelas buku apapun itu yang sedang dia baca, tentu jauh lebih menarik dari kehadiran siapapun. Terbukti dari keseriusannya yang sibuk menekuri lembar demi lembar halaman tanpa mengindahkan sekitar.
Hanya saja jika harus terjebak duduk berjam-jam di dekatnya, aku mungkin lebih memilih mati perawan dan menjadi penunggu pohon rambutan depan perpustakaan ini ketimbang mengambil opsi tersebut. Entahlah, apakah itu hanya perasaan terintimidasi karena mulut tajamnya yang kadang suka salah tempat, atau memang aku sendiri yang enggan berada dalam radius yang sama dengannya.
Oh, ayolah, kalaupun bukan karena jam konsultasi, aku juga malas berlama-lama berurusan dengannya. Makanya saat terjebak kebuntuan masalah skripsi, aku akan dengan senang hati mengejar-ngejar dosen PA-ku, atau berusaha sekuat tenaga mengasah otak tumpulku ini mencari solusi sendiri daripada mengharapkan bantuan darinya sebagai pembimbing keduaku.
***
Ketiduran adalah salah satu tabiat burukku yang sudah mendarah daging jika terlalu memeras otak menyelesaikan suatu problema. Baiklah, kuakui aku hanya menghabiskan kurang dari 15 menit untuk memahami rumus-rumus dari rasio keuangan yang menjadi variabel penelitianku, sebelum akhirnya memutuskan menyerah dengan sendirinya karena tak paham apapun yang tersaji di sana selain garis besarnya saja. Dan entah berapa lama aku terbawa kantuk, sampai baru tersadar kembali saat langit sudah berubah kelabu di luar jendela. Sepertinya perpustakaan dan ilmu pengetahuan sama sekali tidak cocok untukku, selain hanya berfungsi kujadikan tempat mendengkur. Tidak heran kalau aku sampai menghabiskan lebih dari 11 semester menjadi mahasiswa.
Aku meregangkan leher dan lengan yang terasa kaku akibat tidur menelungkup di atas meja. Mahasiswa-mahasiswa yang tadi duduk semeja denganku kini sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Segera saja aku melirik jam yang terpampang di layar ponsel dan nyaris terbelalak saat sadar waktu sudah menunjuk pukul setengah tujuh malam. Astaga, tidurku bahkan terlihat lebih mirip mati suri saking tak menggubris waktu.
"Kalau kamu datang kemari cuma untuk tidur, kasur di rumah jauh lebih empuk daripada meja kayu dan kursi plastik itu."
Ah, suara familiar itu kembali menyadarkanku bahwa keberadaanku sepenuhnya tak sendiri di bilik Ekonomi ini. Aku mendongak menatap Pak Angga yang mulai sibuk menyusun buku-buku yang baru selesai dibacanya. Well, aku tidak tahu kalau dia juga akan menghabiskan waktu di perpustakaan sampai selarut sekarang.
"Pak Angga juga di sini? Maaf, saya nggak sadar karena terlalu sibuk nyari referensi." Aku mengangkat buku statistika tebal yang sempat kubaca tadi dengan wajah seriang mungkin, menunjukkan bahwa aku terlalu sibuk untuk sekedar menyadari kehadirannya di ruangan yang sama. Mustahil, kan, aku berterus terang mengutarakan alasan sebenarnya kenapa aku sengaja mengabaikannya? Jika saja dia tidak menyapaku terlebih dulu, aku mungkin sudah pasti mengabaikannya sampai akhir. Ya, jika ucapannya barusan juga termasuk kategori menyapa.
"Kalau kamu memang tidak menyadari kehadiran saya, kamu tidak perlu cepat-cepat menghindari saya seperti tadi." Dia mengangkut kumpulan buku yang sudah ditumpuknya.
"Dan sekedar mengingatkan, tidak ada orang yang serius menekuni referensi hanya dalam waktu sepuluh menit, dan menghabiskan lebih dari satu jam setelahnya dengan tidur mendengkur." Lelaki itu berujar santai, kemudian berlalu menuju deretan rak mengembalikan buku-buku yang diangkut, mengabaikan pelototan tak percaya dariku karena perkataan telaknya. Astaga, rupanya sejak awal dia sudah menyadari kehadiranku. Dan tunggu, apa itu tadi? Mendengkur? Ya ampun, jangan bilang dengkuranku tadi cukup keras sampai-sampai bisa terdengar ke mejanya. Mau ditaruh di mana mukaku?
Dengan setengah dongkol, aku bergegas membereskan ketiga buku yang berserakan di meja, lalu meletakkannya secara asal di rak terdekat. Aku perlu secepatnya angkat kaki dari sini sebelum mempermalukan diriku lebih lanjut lagi.
"Audrey Mariska."
Belum genap enam langkah menjauh, suara itu kembali memanggil. Membuat aku tak kuasa memutar badan dengan senyum terpaksa ke arahnya. "Ada apa, Pak?" sahutku berusaha terdengar seramah mungkin saat tahu dia sudah berdiri tepat di belakangku.
"Tas kamu." Dia menunjuk ke meja tempat yang kududuki barusan. "Tidak mungkin akan kamu tinggal di sana sampai besok, kan?" Lalu tanpa menunggu jawaban, dia sudah beranjak melewatiku menuju pintu keluar. Bagus. Sekarang aku benar-benar terlihat luar biasa bodoh.
***
Begitu kakiku menjejak selasar gedung perpustakaan, deras suara hujan bersahutan di luar yang terlebih dulu menyambut. Tapi tidak masalah, meskipun cenderung teledor, aku adalah orang yang selalu menganut pepatah bijak 'sedia payung sebelum hujan'.
Bukan apa-apa, aku hanya satu dari sekian banyak wanita normal yang paling benci jika pulang dengan rambut lepek setelah dibuat basah kuyup. Makanya mau langit mendung sampai matahari sedang gahar-gaharnya, mau musim pancaroba, musim kemarau, bahkan musim durian sekalipun, aku tak pernah melewatkan payung lipatku absen dari dalam ransel. Terbukti hal itu sangat berguna di waktu seperti sekarang.
Aku berhenti tepat di samping Pak Angga yang tampak kebingungan menatap guyuran hujan yang makin menderai. Melihat tangannya yang hanya memegang kunci mobil dan bahu yang disampirkan tas selempang kerjanya, tak pelak membuat senyum jumawa terbit di bibirku. Karma memang selalu datang tepat pada waktunya. Batinku terus bergelora menikmati kesialan pria di sampingku yang harus terjebak lebih lama di depan perpustakaan sepi ini. Ah, pembimbingku yang malang.
Dengan gerakan elegan nan dilebih-lebihkan, aku mengeluarkan payung lipat merah kebanggaanku sambil terus sengaja mengibas-ngibasnya dengan angkuh. Dan rupanya gerakan itu berhasil menarik perhatiannya. Tak mau ketinggalan momen menertawakan kemalangannya secara tak langsung, aku menyampirkan sehelai rambutku ke belakang telinga seraya menyunging senyum tipis padanya.
"Saya permisi dulu, ya, Pak Angga. Takut hujannya makin deras. Mari," pamitku sesopan mungkin, meski dalam hati berusaha keras menahan tawa agar tidak meledak. Biar saja, siapa suruh sudah bersikap sangat menyebalkan di dalam tadi.
"Audrey." Baru saja turun tiga anak tangga selasar, suaranya kembali menahan langkahku. Dia ikut beringsut turun dan berhenti satu tangga di atasku.
"Mobil saya diparkir cukup jauh dari sini," terangnya tanpa kuminta. Melihat kerutan bingung di wajahku, dia pun mendesah sekilas. "Saya tidak sempat membawa payung."
Meski sudah menangkap maksud ucapannya, aku memilih tetap menampilkan raut bodoh. "Wah, sayang sekali, ya, Pak Angga. Lainkali Bapak harus lebih sigap sedia payung sebelum hujan. Cuaca, kan, nggak selamanya bisa kita prediksi dengan akurat."
Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi detik berikutnya kembali dia urungkan dan hanya mengatup mulut rapat-rapat. Melihat reaksi itu, aku hampir tak mampu membendung buncahan kepuasan di dadaku.
"Kalau gitu saya permisi dulu, ya, Pak," tekanku tanpa melenyapkan senyum basa-basi. Lalu segera melangkah turun.
Sekilas aku melirik ke belakang, mendapatinya masih terus memandangiku yang menjauh, sampai akhirnya dia mendengkus sejenak dan berbalik bersedekap menyender di pilar selasar.
Terus melangkah, aku mengupayakan agar tetap teguh dari rasa bersalah yang mulai timbul karena bersikap kurang sopan mengabaikan orang lain yang membutuhkan bantuan. Tapi hey, yang sedang kita bicarakan ini Pak Angga. Bersikap dingin padanya bukanlah sebuah dosa. Semua orang tahu betapa menjengkelkannya pria itu selama ini, sekali-kali membiarkannya dalam kesulitan tidak akan membuatmu terlihat jahat.
"Tapi kan, Drey, begitu-begitu dia juga cukup berjasa membantu selama konsultasi proposal. Jangan lupa juga kebaikannya yang menolong kamu sewaktu sidang sempro." Malaikat di hati kecilku mulai memainkan perannya untuk mengetuk nuraniku dengan mengingatkan kebaikan-kebaikan Pak Angga terdahulu.
"Halah! itu kan sudah jadi tugasnya sebagai pembimbing. Tetap aja semua itu nggak sebanding dengan sifat-sifat rese'nya. Timbangannya kurang seimbang. Udah, jalan aja terus, Drey." Si Iblis yang tak mau kalah eksis juga turut mempengaruhi pikiranku.
"Inget, lho, Drey. Nggak ada orang yang bahagia karena balas dendam. Bersikap kurang sopan pada orang yang lebih tua juga pamali hukumnya." bisik si malaikat lagi.
"Kalau ukuran manusia semenyebalkan Pak Angga, pamali itu urusan belakangan. Jangan goyah, Drey. Udah lanjut terus aja."
"Tapi dia bisa saja tersinggung dengan sikap kurang sopan kamu, lho, Drey. Emang kamu udah siap dipersulit skripsinya ke depan karena sikap kamu ini? Tiga semester depan kamu udah terancam DO, lho, Dre. Niat ke pelaminan sama Sandi gimana kalau beneran kejadian?"
Aku spontan menghentikan langkahku dan menghela napas panjang. Hati nurani sialan. Seenaknya membuat aku terjebak di situasi serba salah semacam ini. Dengan perasaan berat sebelah, aku terpaksa mengenyahkan kekesalanku lalu memutar badan menghampiri sumber keresahanku.
Tubuh tinggi Pak Angga yang masih setia menyender di pilar, sontak  menegak begitu melihatku yang berbalik arah mendekatinya. Tanpa berlama-lama, aku mengeluarkan kalimat sakti yang berusaha kutepis jauh-jauh sejak tadi.
"Pak Angga mau bareng sama saya?"

Komentar Buku (151)

  • avatar
    Lutviah Winarni

    suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ALFEANAMMAR

    enak

    09/04

      0
  • avatar
    Bilkis Allma

    terbaik

    02/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru