logo text

28. Jawaban

Suara merdu Lukas Forchhammer masih setia mengisi keheningan yang melekat sepanjang perjalanan pulang kami dari rumah makan Padang. Aku melirik Sandi yang sesekali memijat-mijat tengkuknya di tengah fokus menyetir. Dia kelihatan begitu letih karena harus kebagian jaga malam akhir-akhir ini. Belum lagi keramaian tak kunjung habis di Intalasi Gawat Darurat, semakin menambah kepenatannya. Tapi lelaki itu hanya tersenyum dan menjawab bahwa dia sangat menikmati pekerjaan yang diembannya saat aku menanyakan apa dia tidak jenuh dengan rutinitas padat seperti itu.
Selama waktu yang kami habiskan sepanjang hari ini, pembicaraan hanya berputar pada pertemuan pertamanya dengan Saras dan kesibukannya di rumah sakit, sesekali dia juga akan menanyakan kesibukanku usai sidang sempro. Tak ada pembahasan yang mengarah ke pembicaraan di rooftop restoran malam itu. Semua berjalan senormal mungkin, seolah peristiwa mendebarkan yang sempat membuatku susah tidur benar-benar tidak pernah terjadi. Semakin menambah kebingunganku untuk menanggapi bagaimana harus bersikap di depannya.
Aku masih diam-diam memperhatikan wajah yang tampak fokus di balik roda kemudi itu dari samping. Mencoba menyelami kedalaman hatiku terhadap kehadirannya. Dan tanpa butuh waktu lama, perasaan hangat dan debaran asing itu pun mulai terasa, menunjukkan bahwa aku memang punya ketertarikan yang sama padanya.
Maksudku, dari segi kelayakan, Sandi lebih dari pantas. Dia tampan, mapan, baik hati, penyabar, dan yang terpenting mencintaiku dengan penuh kesungguhan. Bahkan ketika aku mengabaikan perasaannya untuk mengejar sesuatu yang sia-sia, dia dengan sabarnya masih mau menunggu. Aku mungkin tidak akan bisa menemukan seseorang dengan perasaan setulus itu untuk yang kedua kalinya. Entah apapun itu, seharusnya tidak sulit bagiku meyakini perasaanku sendiri.
"Cedera kepala, fraktur tulang, tekanan darah naik, lecet sana-sini...."
"Hah?" Aku mengerjap begitu khayalan liarku terpotong oleh perkataan tiba-tiba Sandi.
"Itu efek paling ringan pasca kecelakaan lalu lintas kalau kamu gangguin kosentrasiku menyetir." Dia terkekeh sebentar tanpa mengalihkan perhatian dari jalanan di depan. "Makanya jangan sengaja bikin aku gagal fokus, Audrey Mariska."
Aku mendecak lidah. "Siapa yang mau bikin kamu gagal fokus."
"Kalau kamu diam-diam natap aku terus kayak tadi, yang ada aku makin gagal fokus."
Secepat menyadari kebodohanku, secepat itu pula aku membuang pandangan keluar jendela. Mengabaikan muka merona yang menjadi bukti keidiotanku. Bisa-bisanya aku mempermalukan diri sendiri tertangkap basah mengaguminya dalam diam tanpa berkedip seperti tadi.
"Malu berarti iya, kan?"
"Bodoh ah," balasku berupaya meredam rasa malu. Rasanya aku ingin segera saja melompat ke aspal jalan saking tak mampu membendungnya. Begitu mobil telah berhenti di bagian depan pagar rumahku, aku dengan sigap langsung beringsut turun dan berjalan cepat memasuki pekarangan, merutuk kebodohanku yang kadang suka salah tempat.
"Langsung main turun aja, nih? Nggak ada tawaran mampir gitu?" Mungkin karena langkahku yang memang selambat kura-kura, atau memang kakinya saja yang sepanjang galah sampai tanpa butuh waktu lama dia sudah menjajari langkahku.
"Nggak ada. Langsung pulang aja," balasku ketus. Kemudian mempercepat langkah. Aku tidak tahu kenapa aku mendadak jadi kesal begini. Entah karena malu telah ketahuan menatapnya penuh kekaguman, atau jengkel karena dia masih bisa menggombal seperti biasa tapi detik berikutnya malah bersikap biasa saja. Seolah semua perkataan manisnya hanyalah modus belaka. Atau sebenarnya aku juga kesal karena dia terlihat tak acuh dan tampak tidak terusik dengan pernyataan cintanya beberapa malam lalu, seakan-akan hanya aku di sini yang menganggap semua terasa nyata. Sial. Aku merasa luar biasa bodoh.
"Jadi aku diusir secara nggak langsung nih?"
Aku masih terus mengabaikan kehadirannya di sampingku.
"Yang ngajak kamu ngomong ini makhluk hidup, lho, Drey. Bukan makhlus halus. Jangan dicuekin terus."
Masa bodoh.
"Drey." Belum sempat aku meraih gagang pintu beranda, dia sudah sigap mencegat tanganku untuk berbalik menghadapnya. "Kenapa sih?"
Mendengkus kasar, aku menyilang tangan di depan dada. "Pikir aja sendiri."
Lalu senyum usil itu kembali tersungging di bibirnya. "Tahu, nggak? Aku ngerasa kita kayak pasangan yang lagi ribut kalau kamu bertingkah judes kayak gini. Am I wrong?"
"Menurut kamu?" Sumpah, aku tak bermaksud bertingkah menjijikan seperti ini, tapi rasa kesalku sudah mencapai ubun-ubun menyaksikan tingkah tenang dan biasa-biasa Sandi. "Sebenarnya kamu beneran niat nggak sih dengan ucapan kamu waktu itu?"
"Ucapan?" tanyanya dengan kerlingan heran. Namun begitu matanya membulat paham, aku langsung menyeringai sinis.
"See? Kamu bahkan nyaris lupa dengan ucapan kamu sendiri."
"Jadi kamu marah gara-gara itu?"
"Lebih tepatnya aku merasa bodoh," sergahku dengan nada naik dua tingkat. "Merasa uring-uringan nggak jelas, sementara orang yang menjadi sumber keresahanku tampaknya nggak terganggu sama sekali. Sampai aku mikir apa jangan-jangan hanya aku di sini yang menganggap serius semua ucapannya malam itu?"
Melihat keterdiamannya, aku tak bisa menahan diri untuk lagi-lagi mendengkus lirih. "Lupakan saja. Kamu juga pasti capek seharian di rumah sakit, kan? Kita bahas lain kali aja. Aku masuk buatin kamu teh hangat dulu sebelum balik."
Namun belum sempat aku beranjak, suara Sandi kembali menahanku.
"Jadi menurut kamu aku sedangkal itu?" Senyum usil yang tadi sempat terlintas di wajahnya, kini telah hilang tak berbekas. Dia melesat mendekat menepis jarak, membuat aku yang masih menghadapnya, tak sigap untuk menghindar. "Menurut kamu aku menghabiskan waktu 3 tahun hanya untuk perasaan sedangkal itu?"
Suaranya yang lirih dan tegas membungkamku seketika di tempat. "Mungkin kita punya pandangan dan sikap berbeda soal ini. Tapi bukan berarti aku menganggapnya main-main atau cuma selintas perkataan tanpa arti."
"Di sini aku berusaha sedemikian rupa agar kamu tetap nyaman tanpa merasa terbebani. Aku pernah ditolak sekali bahkan sebelum aku sempat mengutarakannya, memilih mundur karena tahu sahabat kamu akan selalu jadi prioritas utama. Makanya aku mengambil langkah hati-hati dan nggak gegabah yang membuat kamu merasa terpaksa. Aku nggak ingin mendorong kamu menjauh dan mengorbankan hubungan baik kita selama ini."
Jarak yang tak tersisa banyak di antara kami, cukup membuatku untuk mengamati tiap jengkal raut wajahnya, menelisik setiap kejujuran dari perkataannya.
"Aku juga laki-laki yang punya ego, Drey. Tapi di sini aku berusaha menekan egoku sendiri. Bersikap diam dan nggak acuh, bukan berarti menandakan ucapanku hanya main-main. Pilihan yang aku ambil semata-mata agar bisa menahan kamu tetap dalam jangkauanku. Karena aku sadar, kehadiran aku belum sedalam itu di mata kamu. Bersikap agresif hanya akan memperumit hubungan baik kita."
Rasanya seperti ditampar dua kali melihat sorot kejujurannya. Membuat aku segera dirundung rasa bersalah. Ya, aku yang egois di sini karena selalu meragukan banyak hal, lalu menyalahkannya hanya karena kebingunganku sendiri. "Ma-maaf, aku nggak bermaksud...."
"Hey." Dia menangkup kedua pipiku dengan telapak tangan hangatnya. "Nggak ada yang perlu minta maaf di sini. Jangan merasa terlalu terbebani. Aku pernah menunggu selama 3 tahun, menunggu sedikit lebih lama bukan hal yang baru. Kapanpun kamu siap, aku bisa menunggu."
Seusai melepas tangannya dari pipiku, dia beralih mengacak pelan rambutku. "Masuk, gih. Aku balik sekarang. Tawaran tehnya nanti bisa kapan-kapan."
Senyum usil itu kembali menghias wajah orientalnya. "Jangan ngambek lagi. Nanti aku makin sayang." Dia melambai sekilas sebelum berbalik meneruskan langkah.
"Sandi...." panggilku cepat sebelum dia menuruni tangga beranda. "Bagaimana kalau sekarang?"
Aku tahu ini hal paling spontan yang pernah kulakukan, tapi sebenarnya tidak terlalu spontan juga mengingat hampir dua minggu ini aku juga telah mempertimbangkannya. Dia memang meyakinkanku untuk bisa menunggu, tapi aku tidak sejahat itu menggantungkannya pada ketidakpastian lebih lama lagi. Ketulusannya terlalu berharga untuk disia-siakan waktu.
"Perasaan kamu...," kataku seraya melangkah mendekat dan berdiri tepat satu langkah di hadapannya. "Bagaimana kalau aku jawab sekarang?"

Komentar Buku (151)

  • avatar
    Lutviah Winarni

    suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ALFEANAMMAR

    enak

    09/04

      0
  • avatar
    Bilkis Allma

    terbaik

    02/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru