logo text

24. Pria Menyebalkan

Aku pernah mencintai seseorang dengan begitu dalam dan dengan begitu bodohnya. Menjaga hati agar tetap pada orang yang sama selama bertahun-tahun, tanpa sedikitpun mempertimbangkan apakah orang yang dimaksud memiliki perasaan yang sama atau tidak, atau mungkin lebih parahnya lagi menganggap hatimu adalah sebuah lelucon yang layak dipermainkan. Aku memang sebodoh itu. Kebanyakan orang jatuh cinta akan selalu sebodoh itu.
Saking terlalu terbawa perasaan sepihak, aku jadi mengabaikan perasaan tulus orang lain yang ternyata diam-diam ada di sekitarku.
"Sejak 3 tahun lalu, aku tetap menyukai orang yang sama, sampai detik ini pun perasaan itu ternyata nggak pernah berubah. Kamu tahu siapa gadis kurang peka itu, kan? Apa aku perlu juga menyebutkan namanya terang-terangan?"
Perkataan Sandi malam itu masih begitu sulit kutepis dari pikiranku. Pengakuan terus terangnya tentang apa yang dirasakannya selama ini, di luar ekspektasiku. Aku memang tidak sepenuhnya buta untuk tidak menyadari ada hal lain dari tiap perhatian dan kepedulianya ketika kami sering bersama.
Tapi luka lama yang ditinggalkan Raskal telah mengikis habis kepercayaanku dalam melihat ketulusan orang lain. Sehingga setiap kode terselubung Sandi selalu kuanggap hanya perasaanku saja. Karena aku selalu diingatkan masa lalu agar tak terlalu mudah menaruh hati pada segala bentuk perhatian seseorang, apalagi menganggapnya sebagai sesuatu yang spesial saat merasa perhatian itu sudah mulai berlebihan. Aku jadi lebih berhati-hati menjaga hati agar tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali.
Setidaknya itu yang murni kurasakan sebelum Sandi datang membawa pengakuan jujurnya.
"Di usia segini, terlalu tua buat aku memulai hubungan hanya karena rasa penasaran atau rasa suka semata, Drey," timpalnya ketika aku masih dibungkam keterkejutan.
"Nggak ada orang yang ingin bertahan sampai 3 tahun hanya untuk perasaan yang didasari ketertarikan dangkal. Kamu tahu pasti yang aku maksud lebih dari itu."
Aku sangat tahu. Pernyataannya bukan sebuah pengakuan sederhana untuk mengutarakan keinginannya meningkatkan hubungan pertemanan kami menjadi sepasang kekasih, tapi lebih daripada itu. Sebuah komitmen pasti yang lebih sakral dari sekadar pernyataan cinta mendebarkan. Keinginan untuk membawa ikatan hubungan ini berakhir pada kata 'selamanya'.
"Jangan terburu-buru." Dia menampilkan senyum menenangkan saat tahu aku kesulitan mencerna semua pengakuan mengejutkan darinya. "Aku tahu ini keputusan besar. Kamu butuh waktu memikirkannya matang-matang. Aku nggak akan menuntut jawaban sekarang, karena saat ini aku hanya ingin jujur dengan perasaan sendiri. Rasanya cukup melegakan setelah memendamnya bertahun-tahun."
Dia kembali meraih tanganku ke dalam genggaman hangatnya. "Aku bisa menunggu. Kapanpun kamu siap, aku bisa menunggu."
Tanpa sadar aku menghela napas panjang. Bayangan kata-kata Sandi tak mau keluar dari otakku. Bahkan kini pipiku terasa semerah kepiting dalam kuali. Debaran itu masih terasa nyata memenuhi setiap rongga dadaku. Karena untuk pertama kalinya aku menerima pengakuan dari perasaan setulus itu, setelah hanya menghabiskan waktu mencintai orang yang salah selama hampir 10 tahun.
"Kamu tahu apa yang paling tidak saya sukai dari orang lain?"
Suara yang mengalun rendah di telinga sontak membawaku kembali dari lamunan panjang bersama Sandi, terembau pada realita bahwa aku tengah duduk berhadapan dengan pria bertampang masam yang sedang bersedekap menunjukkan ketidaksukaannya.
"Diabaikan saat sedang susah payah memberi penjelasan." Dia berujar singkat sebelum menghempas proposal di tangannya ke atas meja.
"Ini yang kedua kali kamu melamun di jam konsultasi saya, Audrey Mariska. Saya tidak dibayar kampus untuk duduk berlama-lama di sini menemani lamunan kamu."
Aku menelan ludah kaku.
Saat ini kami memang tengah duduk berhadapan di ruang dosen begitu dia mengingatkanku untuk segera membawa hasil revisi sidang yang diminta. Namun dengan pikiran berat sebelah karena euforia pernyataan cinta tak terduga, aku malah terbawa lamunan, tanpa mengacuhkan penuturan teori akuntansi dan metodologi penelitian yang dijabarkan Pak Angga.
"Ma-maaf, saya kurang fokus, Pak," akuku jujur. Berusaha membetulkan posisi dudukku agar kembali terfokus padanya. Sial. Seharusnya aku tidak bertindak ceroboh memancing kekesalan laki-laki ini di saat genting. Mengabaikan penjelasan mata kuliahnya saja sudah beresiko terusir dari kelas dengan bonus nilai D di akhir semester, apalagi saat sedang dalam sesi konsultasi. Bisa-bisa aku terancam menambah durasi status mahasiswa bangkotanku.
"Lebih tepatnya kamu tidak memperhatikan sama sekali apa yang sedari tadi saya sampaikan."
Baru saja ingin membuka mulut memberi pembelaan, pria itu sudah kembali melontarkan kalimat lanjutan.
"Memangnya jam berapa kamu tidur semalam?"
"Maaf?"
"Saya tanya jam berapa kamu tidur semalam?" Dia mengarahkan telunjuk secara terang-terangan pada kedua mataku. "Lingkaran hitam mata kamu saya yakin bahkan bisa dipakai casting film horor saking kelihatan naturalnya."
Aku nyaris mendengus kesal. Apa mulut asal jeplaknya ini tidak bisa dikondisikan barang sedikit saja? Meski mulai terbawa perasaan dongkol, aku tetap menjawab sesopan mungkin. "Itu...." Aku berdeham sekilas. "Saya hanya sempat tidur 3 jam sebelum subuh."
Yang kukatakan itu memang benar. Dituntut menyelesaikan semua revisi dalam waktu singkat cukup membuatku terbirit-birit kesetanan. Makan dan mandipun hanya seingatku saja. Meski salah satu faktor yang menjadi alasan kenapa jam tidurku tak teratur adalah efek jangka panjang dari dinner malam itu. Tapi tidak mungkin, kan, aku mengemukakan alasan tersebut juga padanya.
Pak Angga hanya membalas dengan anggukan pelan pertanda paham, kemudian menyodorkan sebotol air mineral yang masih tersegel ke arahku. "Kalau begitu sekalian ambil ini."
Aku yang kebetulan dilanda haus setelah terkurung hampir setengah jam di ruangan ini bersamanya, tanpa ragu mengambil botol tersebut dan langsung meneguknya cepat-cepat. Air mineral mungkin bisa sedikit mengembalikan konsentrasiku yang sedang terpecah belah.
"Kenapa malah kamu minum?" Dia bertanya kaget bercampur heran begitu aku nyaris menandaskan isi botol dan menyisakan hanya seperempatnya saja.
Aku balas menatapnya dengan raut tak kalah herannya. "Kan Bapak yang nawarin saya minum."
Dia memijit pangkal hidungnya sambil menggeram pelan. "Kadang saya bingung dengan semua sikap teledor kamu. Memangnya ada kata-kata saya tadi yang menyuruh kamu minum?"
Menyaksikan muka bengongku, dia menunjuk botol dalam genggamanku seraya berdecak. "Saya minta kamu sekalian ambil botol itu untuk dibuang ke tong sampah depan kalau keluar nanti. Saya baru sempat bersih-bersih laci meja dan kemasan air mineral itu sudah mengendap di sana lebih dari dua tahun lalu."
Aku speechless.
"Lagipula saya tidak berminat melanjutkan sesi konsultasi sementara otak kamu melayang entah ke mana karena kurang tidur. Temui saya lagi kalau pikiranmu sudah jernih kembali."
Aku masih dilanda speechless.
"Ah, ya, jangan lupa buang botolnya ke tempat sampah sesuai jenisnya, Pak Ujang sering protes ke Kaprodi karena masih banyak mahasiswa yang tidak bisa membedakan mana tempat sampah khusus organik dan anorganik."
Kepada Tuhan yang Maha Esa pencipta langit dan bumi, doaku tentang memakai toga semester depan boleh di-pending saja dulu? Tolong cabut saja nyawa orang minim hati nurani ini sebagai gantinya jika tidak keberatan. Sungguh, aku tidak masalah.

Komentar Buku (151)

  • avatar
    Lutviah Winarni

    suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ALFEANAMMAR

    enak

    09/04

      0
  • avatar
    Bilkis Allma

    terbaik

    02/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru