logo text

21. Sidang Proposal

Giovandra Asa : Buah semangka buah kedondong. Semangat dong.
Aku hanya mengernyit membaca barisan kalimat chat absurd tersebut. Bukannya merasa termotivasi, bulu kudukku lah yang terpancing berdiri.
Audrey Mariska : Najis!
Giovandra Asa : Abang jambret dimakan hiu. Kampret lu!
Giovandro Asa : Jam berapa lo mulai sidang? Gue masih otw.
Giovandra Asa : Otw kamar mandi tapi. Hahaha.
Audrey Mariska : Nggak usah datang. Cuma bikin enek dan hilang konsen.
Giovandra Asa : Iya, sih. Susah orang cakep mah, bawaannya bikin kalap mulu. Tapi tenang, Drey, gue terlalu rendah hati ninggalin lo dibantai sendirian di ruang sidang. Lo pasti butuh penyemangat dan dukungan moril. Ingat, bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.
Audrey Mariska : Dasar Sableng!
Giovandra Asa : APAA?? GIO GANTENG?? Terima kasih kembali.
"Semua undangan dan copy-an proposal sudah diserahkan ke dosen pembahas?"
Menutup ruang chat dengan Gio, aku mengangguk sambil terus menjejali langkah tergesa Pak Angga.
"PowerPoint sudah kamu cek ulang? Pastikan langsung saja ke pembahasan utama atau poin-poin pentingnya."
Aku sekali lagi mengangguk.
"Laptop? Proyektor?"
"Semua siap." Kali ini aku memang menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan sedetail mungkin, karena cukup yakin dia akan menanyakan segala persiapanku sampai ke akar-akarnya.
"Bagaimana dengan Pak Tanto? Sudah dihubungi? Sidang akan dimulai tepat jam 9, pastikan tidak bentrok dengan kesibukannya."
"Dari kemarin sudah saya hubungi. Pak Tanto bilang akan terlambat sedikit karena ada pertemuan di kantor pusat. Tapi karena giliran tampil saya kedua terakhir, jadi mungkin nggak masalah."
Dia hanya bergumam pelan sambil meneruskan langkah lebarnya, aku semakin kesulitan menyejajarkan diri karena kaki panjangnya sangat kontras dengan langkah pendekku. Kami berbelok di ujung koridor lantai dua, di mana tempat seminar proposal akan berlangsung.
"Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan saat mendadak blank di depan nanti?"
Langkahku memelan karena sibuk berpikir. "Emh ... tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan lewat mulut sebanyak tiga kali?"
Aku nyaris menabrak punggungnya jika saja tidak refleks berhenti begitu dia berbalik mendadak. Matanya secara spontan melotot dengan kesal "Ini sidang seminar proposal, Audrey Mariska, bukan sesi latihan yoga! Bernapas teratur saja tidak cukup membantu kamu di depan sana."
Dibentak secara tak terduga, membuatku spontan membelalakan mata. "Ja-jadi saya harus gimana, Pak?"
"Baca, baca, dan baca! Proposal yang kamu pegang itu bukan cuma jadi pajangan di depan, kan? Sudah saya suruh catat istilah-istilah yang tidak kamu mengerti ke dalam notes. Itu gunanya catatan tambahan."
Masih mempertahankan muka ngajak tawurannya, dia lalu melengos pergi meninggalkan aku yang masih terpaku di tempat. Mau tak mau aku bergerak cepat berlari menyusulnya dari belakang. Heran, padahal sidang baru akan dimulai beberapa menit lagi, tapi adrenalinku sudah diuji habis-habisan oleh omelan pedasnya. Aku yakin pasti telah melakukan dosa tak terampuni di kehidupan sebelumnya, sampai harus mendapat kutukan menerima dosen pembimbing se-sensitif pantat bayi ini.
"Pertanyaan dari Pak Gunawan biasanya nggak akan muluk-muluk. Dia lebih banyak mengarahkan pembahasan ke metodologi penelitian. Jadi yang satu ini saya rasa kamu cukup mampu mengatasinya." Dia masih terus berkicau sumbang di depanku.
"Kalau Prof Emma sangat mendetail soal latar belakang masalah, alasan pemilihan judul yang kamu ambil, korelasi kajian teori untuk pengembangan kerangka berpikir dan hipotesis. Jadi penguasaan konsep masalah penelitian dengan matang akan sangat membantu. Jauh-jauh hari sebelumnya sudah saya peringatkan, kan?"
Aku segera mengangguk.
"Kalau kamu paham poin-poin pentingnya di sini, tidak akan terlalu sulit menjawab pertanyaan apapun dari penguji, karena pertanyaan mereka hanya berputar-putar di situ saja dan tidak akan keluar dari konteks penelitian yang kamu paparkan."
Sebelum sampai di depan pintu ruang seminar, pria itu berhenti dan berbalik menatapku sejenak.
"Jadi Audrey Mariska...." Dia mengangkat map coklat berisi proposal milikku.
"Lakukan sebaik mungkin dan semoga beruntung," ujarnya singkat sebelum berlalu memasuki ruangan.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Meyakinkan diriku untuk tetap memupuk kepercayaan diri. Baiklah, Drey, mari selesaikan ini. Kamu harus bisa. Kamu pasti bisa.
***
Salah satu bagian tak mengenakan menjadi peserta terakhir dalam antrian, adalah menjadi saksi mata betapa kejamnya pembantaian yang diterima peserta sebelumnya---ya meskipun tidak semua. Hanya mereka para mahasiswa kurang beruntung yang mendapat dosen penguji berdarah dingin lah yang matanya harus berkaca-kaca, setelah dibuat gagap dan gagal fokus menjawab pertanyaan.
Sebut saja Mutia, junior angkatan 2015 setahun di bawahku, dia adalah satu dari sekian mahasiswa kurang beruntung itu. Selain kesialan mendapat penguji sedetail Pak Ali, yang tiap titik koma saja harus diperkarakan, ketambahan mulut pedas Pak Angga sebagai salah satu pengujinya adalah neraka tersendiri.
"Bagaimana mau melanjutkan riset kalau membedakan analisis regresi dan korelasi saja kamu tidak bisa? Mau diolah pakai apa data-data kamu?! Kalkulator dan Sempoa?"
Lalu kemudian dia akan mencoret-coret tanpa ampun proposal si mahasiswa di tangannya, sambil terus meluncurkan komentar-komentar tajam.
"Sejak kapan teknik random sampling dipakai menentukan sampel dari populasi infinite? Jangan ngawur kamu!"
"Slovin bisa mendadak jantungan kalau tahu rumusnya salah kamu tempatkan. Makanya kalau kuliah Metode Penelitian, otak kamu jangan lupa dibawa."
"Kamu mengerti cara mengutip jurnal ilmiah tidak? Sekecil apapun pendapat yang diambil harus tetap dicantumkan sumbernya. Kalau seperti ini, apa bedanya kamu dengan para plagiat di luar sana?"
Dan kalimat pamungkas Pak Angga berikutnya yang menyentil hati hingga turun ke ginjal, sanggup membuat si Mutia berkaca-kaca frustasi.
"Saya harus pertimbangkan ulang meloloskan proposal ini. Terlalu banyak cacat di sana-sini."
Kemudian detik selanjutnya, akan terjadi negosiasi dari pembimbing dan proses bertukar pikiran dengan penguji lain agar memberi kesempatan bagi mahasiswa bersangkutan untuk diluluskan. Tentu saja dengan syarat berbagai catatan revisi menggunung. Jika beruntung, maka tidak perlu ada drama menyedihkan tentang mahasiswa yang harus mengulang sidang Sempro dua kali. Dan Mutia cukup mujur dalam hal ini, karena Pak Angga berhasil diyakinkan berbelas kasih.
Meski aku yakin, malam seusai sidang dia akan dihantui mimpi buruk berhari-hari mengenang komentar pedas Pak Angga yang telah mempermalukannya di depan umum. Peluru sarkas dari perkataan pria itu memang tak bisa dianggap sepele. Sekali tertancap menembus lawan bicara, bekasnya akan terasa sampai kapanpun.
Aku kembali diserang gugup saat membayangkan akan dimaki-maki seperti itu jika berhadapan dengan dosen penguji nanti. Kehadiran Pak Tanto sebagai pembimbing akademikku juga sama sekali tidak membantu. Jangankan berinisiatif memberi bala bantuan saat aku terpojok dan terancam digagalkan, menyebut namaku saja dia masih sering khilaf. Aku bahkan ragu kalau dia ingat pernah punya anak bimbing bernama Audrey Mariska.
Lalu Pak Angga? Jangan harap! Terlalu mustahil kalau membayangkan dia akan bersikap heroik seperti dosen pembimbing Mutia. Tidak dimaki balik saja aku sudah bersyukur. Ultimatum darinya agar aku tak mempermalukan dia dan Pak Tanto di depan umum, sampai sekarang masih terngiang-ngiang jelas di ingatanku.
"Cieee yang gugup." Kemunculan Gio yang menyelonong seenaknya mengambil tempat di sampingku, bukan lagi hal baru. Melihat kedatangannya setelah lewat dua jam dari chat absurd tersebut, membuat aku jadi bertanya-tanya ritual apa saja yang dilakukan laki-laki itu di kamar mandi sampai baru muncul sesiang ini.
"Sekalian aja datangnya besok. Yang ini masih kepagian," sindirku mencebik malas.
"Lo kalau ngambek jeleknya kuadrat, Drey." Tanpa rasa berdosa, dia hanya mengedip usil dan menunjukkan kamera DSLR yang cukup familiar akhir-akhir ini. "Gue dibayar Bang Sandi buat jadi paparazi sehari."
"Bilang aja lo lagi nyari bahan olokan. Nunggu momen gue pingsan kejang-kejang di depan."
Gio memegang dadanya mendramatisir. "Astaga. Jadi orang jangan negatif mulu, Drey. Kalau gue ngambek balik, siapa yang mau tanggung jawab?"
"Bodo amat."
Melayani Gio dan segala omong kosongnya hanya akan buang-buang waktu. Sekarang ada hal lain yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Komentar Buku (151)

  • avatar
    Lutviah Winarni

    suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ALFEANAMMAR

    enak

    09/04

      0
  • avatar
    Bilkis Allma

    terbaik

    02/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru