logo text

Bab 30 Melarikan Diri

PoV April
“Aaagh! Jangan, Bang …!”
“Apa gunanya kamu, kalau bukan buat nyari duit, hah! Maumu apa?!”
Kulit kepala sangatlah sakit, sudah tak kutahu lagi cara katakan nyerinya. Rambut terasa tercerabut, ditarik kasar bagai diri manusia tak punya rasa. Ini sakit!
Mamak … tolong April, Maaak …!
Hati ini menjerit. Aku tidak mau lagi dibawa ke sana!
Tidak!
.
.
.
Bagaimana diri bisa terjebak ada di antara orang-orang jahat ini? Sangat miris bila kuingat.
Aku lari dari rumah Almira, terpaksa membawa Adam karena Mas Danang menyumpahi dan mengusirku pergi. Jahat sekali dia, aku hanya minta hak Adam, sempat berharap dengan kondisinya begitu dia menyerah, dan menerimaku yang masih mau mengurusnya, tapi nyatanya terbalik. Mas Danang sudah bisa membaca niatku.
Lari tak tentu arah sampai sebuah mobil Avanza menyerempet, membuatku dan Adam terjatuh. Keluarlah wanita dan dua lelaki berwajah sangar, melihatku dari atas ke bawah, tanpa peduli tangisan Adam. Perempuan itu berbisik pada lelaki brewokan di sebelahnya.
“Mau ke mana?”
Mereka bertanya tapi aku sibuk mendiamkan Adam yang makin keras tangisnya.
“Bawa masuk!”
Laki-laki bertubuh besar itu menarik lenganku masuk mobil.
Mungkin ini jalanku agar tak tidur di jalan, aku tidak menolak, apalagi kemudian Adam mereda tangisnya mendapat angin sejuk dari pendingin mobil.
Di sebuah rumah cukup besar, mirip kos dengan kamar saling berhadap-hadapan. Tinggal puluhan orang bercampur pria dan wanita. Aku dipisahkan dari Adam yang kadang menangis kencang, diurus oleh seorang wanita tua berkebaya yang kutahu kemudian seorang tukang masak.
Wanita berkulit putih yang ada di mobil tadi mengenalkan diri bernama Nancy, aku memanggilnya Kak Nancy, karena ia seperti pemimpin di rumah ini.
Aku disuruh menempati salah satu kamar yang berbau kain, ternyata seprei motif batik ini baru pertama dipakai. Aku duduk pada dipan kecil, melihat ruang yang akan kutempati sementara. Sudah tak peduli di mana Adam, anak itu juga tak terdengar suaranya, mereka juga tak menanyai apa-apa tentangku dan anak itu. Asal diberi makanan dan pakaian aku sudah senang. Kupikir mereka baik.
Hingga malam mulai beranjak, aku diberi pewangi berbau menyengat, dan pakaian baru, sebuah terusan pendek ngepas badan. Ada kertas kecil, tulisan harga dari semua barang itu, membuat mataku berkedip tak percaya.
Dikasih nota berarti aku harus bayar …? Hati ini jadi was-was.
Tak lama lelaki bertato, berkulit gelap dengan rambut keriting masuk, tanpa bicara menarik tanganku ke sebuah ruang, kamar paling besar di sini, letaknya sedikit belok dari pintu samping.
“Ke-ke mana, Bang?” Aku gugup, takut akan dilecehkan lelaki bertampang menyeramkan ini.
Dengan kasar ia mendorongku masuk. Meringis, aku tersungkur di lantai, segera merapikan rok yan terangkat perlihatkan dalamanku. Pintu lelaki itu tutup. Aku mengangkat wajah, melihat perempuan beeambut cepak, ala lelaki, dia melirikku sekilas. Ada rokok menempel di bibir merahnya.
Melangkah dia ke depanku, berhenti beberapa senti dari tempatku terduduk.
Tertunduk, pandanganku jatuh pada kutek merah darah mewarnai kuku kakinya.
“Kamu diterima di sini, dengan syarat harus bisa hasilkan kasih duit untukku.”
Kuangkat wajah mau menjawab, tapi rona mukanya terlihat merendahkan.
Nama dan alamat asalku ditanya, kubohongi kalau aku pembantu di rumah Almira. Wanita ini katakan akan kembalikan Adam ke rumah itu, agar tak mengganggu pekerjaanku. Peduli apa aku pada Adam, kalau dibalikin ke sana hidupnya pasti lebih baik. Lah aku? Biarkan aku di sini, yang penting tidak terlunta di jalan.
“Bangun!”
Bagai dicocok hidung aku menuruti. Berdiri, merapikan pakaianku yang terasa terlalu pendek, sampai kutarik-tarik ke bawah tetap saja naik, karena bahannya karet.
Masuk lagi lelaki tadi.
“Bawa dia.”
Kembali aku ditarik ke luar. Masuk mobil dan diantar ke sebuah tempat. Kamar hotel. Astaga! Dugaanku benar, mereka itu kelompok penjual orang.
Aku mau duit, tapi bukan ini caranya. Lelaki berwajah bulat yang menungguku ini pasti sudah pernah pakai jasa puluhan bahkan ratusan orang gadis nakal … ih! Merinding bulu kudukku membayangkan.
Aku memang mau uang dari lelaki, tapi lebih memilih jadi istri daripada menjual diri!
Orang itu langsung melihat tampilanku dari atas ke bawah, gerakan matanya perlahan. Tubuhku jadi terasa kaku, saat bersamaan rongga hidung terasa digelitik, seperti ada hewan kecil masuk. Kutahan. Namun, tak tertahan kemudian aku bersin kuat, sampai batang hidung terasa perih. Sesuatu terloncat begitu saja, lendir kental dari hidung mengenai leher si bapak yang sudah mendekat.
“Ewh! Apaan ini?!” Dia langsung marah-marah dan mendorongku dengan raut jijik.
Aku memegang hidung yang berdenyut. Bekas suntik ini kenapa kembali sakit …?
Sambil menutup hidung, aku kembali ke mobil yang masih menunggu di parkiran. Amarah dan caci maki mulai kuterima. Dianggap sebagai manusia tak berguna.
*
“Kak … tolong pulangkan aku … aku cuma butuh uang buat pulang …,” mohonku sambil menyentuh kaki Kak Nancy_tangan kanan wanita yang dipanggil Mami.
“Kasihani aku, Kak ….”
Turun dari kursi dia jongkok, aku melihat jelas mukanya menatapku sinis.
“Gara-gara kamu, aku dimarahin Mami, bukannya untung bawa kamu malah bikin aku rugi. Mami suruh aku ganti uangnya baju, uang makanmu!”
Dia katakan lelaki waktu itu memarahinya, minta ganti rugi. Kemudian telapak tangannya membuka. “Kembalikan uangku!”
Aku tertunduk menatap kosong lantai. Dari mana aku punya uang, andai punya sudah pasti kuganti lalu segera kabur dari sini.
“Nggak punya kan? Aku mau tanya, gimana caramu bayar utang padaku dengan kondisimu begini, huh?”
“Biarkan aku kerja, Kak ….”
Gerak cepat dia berdiri. “Baik. Kerja. Mm, aku akan pikirkan orang sepertimu itu bisa kerja apa.”
Aku disuruh keluar, menunggu perintah darinya.
*
“Ini. Yang bersih!”
Setumpuk pakaian sudah kucuci di depan muka, masih diantar lagi oleh penghuni lain, ditaruh begitu saja di lantai cor tempat mencuci. Ku usap keringat, dua bak cucian tinggal jemur, aku masih harus mulai lagi?
“Aaagh!” Saat berdiri tulang pinggang terasa sulit ditegakkan. Kupaksa bergerak, keringat mengucur deras, terasa mengalir di punggung.
Pakaian-pakaian itu kukumpulkan, direndam. Sambil menunggu, kujemur yang sudah selesai di tanah kosong belakang dapur itu.
Beginilah, sementara aku membayar uang pada Kak Nancy. Hidungku kembali meradang, konsumsi obat nyeri sebagai pereda. Karena keadaan ini wanita bengis itu tidak bisa menjualku, rata-rata anak buahnya berwajah mulus dan licin. Kulit dan rambut mereka mengkilap, warna mata gonta-ganti pakai lensa kontak, persis mata orang luar negeri. Makin terlihat cantik. Aku iri, tapi juga senang. Kondisi muka begini malah membuatku aman.
Terakhir dengar ada yang terjangkit virus, mereka berusaha sembunyikan, cewek itu sudah dipulangkan. Ternyata jelek ini bisa menyelamatkanku juga, lumayanlah ada juga gunanya.
Setelah menjemur, tenaga kembali ku isi sebelum mengerjakan cucian lain. Minum sirup dan nasi terbungkus daun pisang. Kujejalkan sampai hambis tiga bungkus, lalu minum lagi. Lumayan buat tenaga yang terasa habis terkuras.
Matahari makin tinggi, ruang cuci makin panas, pasti akan lebih capek.
“Kamu masih kuat kan?” Kak Nancy muncul. Aku mau menggeleng, tapi tidak jadi, melihat tangannya memegang beberapa lembar baju.
“Cucikan, yang harum, ya.” Dua saset pewangi juga pakaian itu ditaruhnya ke tanganku.
Tidak bisa menolak aku hanya bisa menatap punggungnya menjauh.
*
Aku benar-benar kelelahan. Selain mengerjakan semua cucian, juga harus membersihkan kamar mana saja yang mereka pinta. Sudah hidung sakit, tubuhku pun terasa remuk. Saatnya aku baring sebentar.
“Hei kamu!” Belum juga menikmati rebahan sudah ada yang membuka pintu. Kamar ini entah kenapa tidak ada kuncinya. Lelaki bertato itu langsung masuk.
“Capek, Bang. Badanku remuk.” Malas bergerak, aku menarik selimut. Dipan ini dekat jendela kaca, baring di siang hari, walaupun panas tetap segar saja karena aku dapat angin dari celahnya.
“Kerok aku dulu!” Nadanya meminta tapi dengan paksaan. Tanganku ditarik sampai terduduk, dia berikan uang koin, dan balsam cap kaki.
Mau kutolak tapi nyaliku ciut, kalau dia marah, trus aku diperk**a. Ih! Ngeri! Tubuhnya tinggi besar, muka sangar persis preman jalanan. Bisa-bisa aku mati ketakutan.
“Ayo!”
Dia bilang masuk angin, sambil melepas baju kaus dan celana panjang, menyisakan kolor super pendek. Karena aku lambat beranjak dipukulnya kaki dipan, terperanjat aku segera berpindah, dia seenaknya baring di tempat tidurku.
Hilang semua lelah tadi, berganti rasa takut menguasai.
Kujepit erat koin dengan jari. Gemetar menyentuh kulitnya yang ternyata sangat keras. Ambil posisi, aku mulai menggoreskan koin searah garis bahunya.
Mata ini tiba-tiba perih, ingat Mamak dulu suka dikerik kalau meriang, jarang minum obat karena setelah begini langsung tidur sebentar, bangunnya sudah segar lagi.
“Kurang keras!” bentak lelaki yang kupanggil Abang karena tidak tahu namanya ini.
Geram, kuperkuat tekanan, garis merah kehitaman sudah membentuk di sebelah kanan punggung, aku berpindah ke kiri. Orang ini kemudian ngorok, suara dari mulutnya kadang bersahutan dengan angin dari pembuangan belakang. Aku menahan napas, menutup hidung. Ruangan sempit ini jadi terasa pengap, bau busuk membuat isi perut bergelombang naik.
Gegas mendekati jendela, kuhirup udara banyak-banyak. Makan apa dia sampai buang gas berbau busuk menyengat gini!
“Sudah?” Suara berat mengagetkanku yang langsung berbalik kembali, mendekati punggungnya.
“Su-sudah.” Mana dia tahu sebelah kirinya belum semua. Kulap tangan dengan ujung baju.
“Ah, lega. Enak juga kerikan tanganmu,” ujarnya sambil beranjak berdiri.
Aku menjauh, masih sesekali menahan napas, bau gas masih tersisa di udara malah ditambah lagi, dengan bunyi kencang pula. Dasar manusia jorok! Mau buka pintu tapi lekas dilarangnya.
Lelaki ini bergerak menahan pintu, mulai melihatku dengan tatapan aneh.
“Kamu itu aslinya cantik juga. Punya lesung pipit. Sayang, hidung itu rusak, kupikir bakal busuk kalau dibiarkan.”
Aku menegang, bukan karena geram dengan ejekannya, tapi ini lebih pada rasa takut melihat sorot mata itu.
Perlahan dia jalan mendekat.
“Bang, aku mau-“ Lari ke pintu, dia malah menahan lenganku.
“Ayolah,” ujarnya dengan suara berat.
Tidak! Orang ini pasti sudah menyentuh berpuluh orang, aku juga pernah lihat dia ke luar dari kamar teman yang sakit itu. Virus pasti ada padanya. Tidak!!
“Bang … aku m*ns, Bang. Lagi deras-derasnya.”
“Bohong!”
“Kalau Abang gak percaya akan aku buktiin!” tantangku.
“Memang masalah kalau kamu kotor, hah?”
“Se-sebentar, Bang, aku bersih-bersih dulu!”
Dasar manusia set** alas, gimana aku bisa lolos?!
“Awas kalau bohong, aku pecahin kepalamu. Kamu itu tidak berguna di sini!”
“Ba-baik. Aku ke wc, A-Abang tunggu di sini.”
Sial! Lelaki sangar itu malah mengkutiku, menunggu di depan pintu kamar kecil.
Kunyalakan air, merasakan isi kepala terasa penuh.
Habislah aku kalau kena virus itu …!
Hidup tersiksa, kurus … sisa tulang belulang … tengkorak hidup …? Agh!!
Hampir aku teriak membayangkannya.
Tidak!
Nekat, segera kuambil pisau cukur di tempat sabun.
“Hei kamu, sudah belum?!” Gedoran dari luar seakan memaksaku bergerak cepat. Kupejamkan mata, menarik napas panjang.
Entah pada siapa aku harus meminta tolong. Ini sarang orang yang punya pikiran sama. Jika aku teriak pun pasti hanya akan jadi bahan tertawa.
Berdoa?
Aku malu, akankah Tuhan menoleh padaku …? Diri yang hina.
Gedoran tidak sabar lagi di luar, memaksaku gerakkan tangan kuat-kuat, meringis kemudian menahan nyeri luar biasa, sampai menitik air mata. Inilah siksa yang harus kuterima …? Semoga lelaki bejat itu urung.
Ku buka pintu, bergerak perlahan. Melihat kondisiku lelaki itu membelalak, kemudian meludah tepat mengenai dahiku.
“Breng***! Bilang kek dari tadi. Dasar tidak berguna!”
Aku langsung terpaku. Meski merasa terhina, ada lega melihatnya masuk ke kamar lain langsung menutup pintu. Suara gaduh itu di sana tak mengusik hatiku. Agh, aneh, biar direndahkan tapi ternyata aku tidak merasa rendah. Sungguh sebuah kejutan.
Sebelumnya aku benci kalah. Aku ingin dapat apa yang kuingini dengan jalan apa pun. Aku ingin uang, bisa saja melayaninya tadi, lalu meminta bayaran, tapi tidak kulakukan.
Menakjubkan, mungkin takutku pada virus itu membuatku begini. Cairan bertali, berbau jigong ala jengkol kubiarkan mengalir di muka. Aneh, aku merasa tidak apa-apa. Rasanya ada kemenangan tersendiri.
Segera bergerak, kuabaikan luka menganga di paha atas, melihat darah mengalir dibalik rok ini sukses buat lelaki itu menjauh tadi.
“Kamu kenapa?” Kak Nancy menghampiri.
“Oh ini, Kak.” Ku usap darah yang mengalir. “A-aku izin ke apotik, ya, Kak.”
“Mau apa?”
“Beli pembalut sama jamu pelancar.” Kupegang perut dengan wajah meringis.
“Sana cepat, apotek yang dekat gang saja, habis itu cepat pulang!”
Aku mengangguk cepat.
Segera ku ayunkan langkah. Sempat ambil uang tip nyuci pakaian yang kusimpan. Aku harus kabur!
Setelah di jalan, aku setengah lari menjauh, melambai bis kota yang tengah lewat. Entah akan ke mana arah yang penting jauh dulu dari sini. Melihat tulisan jalan Wates aku meminta turun.
Linglung sejenak melihat sekitar. Aku harus ke mana …?
Mamak, tolong April … setelah ini aku pasti pulang, tinggal di kampung. Hidupku aman. Tolong, Mak …!
Batinku sudah meratap lagi, semua ini terasa menakutkan.
Apa yang kucari lagi di sini. Mas Danang sudah curiga Adam bukan anaknya, tidak ada tempat lagi untukku. Mas Danang pasti membenciku.
Aku mendekati orang yang lewat, tapi mereka menghindar. Apa mereka pikir aku orang gil*, dengan pakaian pendek, darah mengalir dari paha dan … mungkin tampangku sudah pucat.
“Pak, tolong, Pak.” Mengelak dariku, lelaki tua itu sama sekali tidak mau melihat.
“Bu … tolong-“ Wanita yang jalan kaki itu juga percepat jalannya.
Apa tampangku menakutkan …?
“Ayo naik!”
Terkejut aku mendapati lelaki bermotor berhenti tepat di depanku, langsung menempelkan senjata kecil ke arah perut ini. Terpaksa aku naik ke boncengan. Dua anak buah Mami lain juga ternyata mengikutiku tadi. Akhirnya, kembali lagi ke tempat mengerikan ini.
*
Daun pintu yang tak punya kunci setiap akan tidur kuganjal barang. Saat ada yang masuk aku akan terbangun. Beberapa hari terasa aman, tidak ada yang terlihat mau menggangguku.
Pekerjaan mencuci seperti biasa kukerjakan lagi. Kata Kak Nancy hutangku sudah tersisa sedikit, rupanya upahku diambil olehnya, kata salah satu penghuni hasil mereka dipotong bayar upah cuci.
“Kamu bersihkan diri, Pril. Ada pelanggan baru cari teman siang ini.”
Terperangah, aku kok diminta melayani tamu?
“Tapi, Kak-“
“Siap-siap saja, nanti kamu diantar. Mau dapat duit banyak nggak?”
Aku diberikan lulur putih super harum, setelah memakainya tubuh terasa segar, terasa lebih sehat, kebetulan luka di pahaku juga sudah sembuh.
“Jangan pernah pikir kabur lagi, kalau tidak kamu akan dihajar anak buah Mami!”
Aku mengikuti saja saat mereka membawaku ke sebuah rumah. Di sana seorang lelaki berkumis, berperut buncit menunggu. Raut mukanya terlihat kecewa melihatku, mungkin karena tak secantik harapannya.
Aku mengambil ancang-ancang. Saat dia mulai mau menyentuhku, gunting kuku yang kubawa tadi kugoreskan ke lengannya.
“Aww!!” Dia memekik keras. Kesempatan aku lari ke luar. Ternyata anak buah Mami ada di depan pintu, mereka langsung menangkapku, menyeretku masuk ke mobil.
Mendapat telepon komplain dari lelaki buaya itu rambutku dijambak, pukulan lelaki di sebelahku ini membuat dahi luka kena cincin batunya, terasa ada darah mengalis dari pelipis.
Dalam kesakitan masih kuharap bisa bertemu Mamak … bertemu adik-adik yang selalu menatapku sayang, padahal aku tak sebaik yang mereka duga.
Saat pikiran ini terlintas pada kampung halaman, mataku tertumbuk pada seseorang di mobil sebelah, saat mobil terhenti menunggu lampu merah.
B-Bu … Soraya …?
Dia ternyata tengah perhatikanku ….
Mata ini tak ingin lepas darinya, mengharap iba dia turun dan menolongku. Namun, mobilnya terus melaju dan kami terpisah karena berbelok kanan.
Melihatnya lagi aku ingat kesalahanku.
Apa ini balasan dosaku padanya …? Pada keluarganya …?
Aku tersiksa, sementara dia tetap hidup mewah dan bahagia.
Sungguh, hidup tidak adil. Selalu memihak pada orang lain dibanding diriku.
.
.
.
“Turun!” Terperanjat aku lihat kami sudah di depan rumah.
Tidak! Aku tidak mau kembali di rumah ini lagi. Mami pasti akan marah. Aku harus kabur!
Mata terhenti pada sela kursi depan, ada tongkat besi ukuran sedang.
“Turun cepat!” Aku ditarik lelaki brewokan ini keluar.
Dalam gerak cepat tangan menyambar potongan besi itu, ku hantamkan ke dahinya. Mengaduh, dia tertelungkup, aku gegas ke luar dari pintu sebelah. Memukul sembarang pada dua temannya yang hendak mendekat.
“Aaa, aaaagh!” teriak kesakitan lelaki brewok itu membuat dua temannya urung mengejar. Kesempatan aku lari. Lari sekuat mungkin ke jalan.
Tampak ada seorang pengendara motor jalan melambat, karena sambil menerima telepon. Aku memanggil, minta tolong hingga ia berhenti di pinggir jalan.
“Tolong aku, Mas. Tolong. Cepat jalan!” Aku gerak cepat naik ke boncengan, sambil melihat belakang, takut mereka mengejar.
Untung orang ini tanggap, dia cepat melajukan motor bebeknya.
“Jauh lagi, Mas. Aku takut mereka ngejar. Aku ini mau dijual, Mas!” ujarku panik sembari menepuk bahunya.
Setelah jauh aku bisa menarik napas lega.
Mak … aku selamat!
Yang terpikir sekarang hanya Mamak. Hanya keluargaku.
Aku mau cepat pulang …!

Komentar Buku (84)

  • avatar
    IdnFuza

    beri robux

    15/06

      0
  • avatar
    HidayatTopik

    bagus cepat baru nyoba

    28/04

      0
  • avatar
    Rahim Akbar

    bagus banget

    23/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru