logo text

Bab 31 Sri Mulai Berbisnis

Sampai pada persimpangan jalan, Kadir tidak melihat ada mobil melaju dengan kencang.
"Bruaaaakkk…."
Tubuh Kadir terpental beberapa meter setelah di tabrak mobil tersebut. 
Kadir pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit, untungnya tidak ada yang parah. Setelah sembuh Kadir langsung dijebloskan ke dalam penjara bersama rekan-rekannya.
"Mak, Ali minta minum." Lamunan Sri tentang masa lalu buyar setelah mendengar perkataan anaknya.
"Iya Nak, ini minumlah."
Setelah dirawat selama seminggu keadaan Ali sudah membaik, dokterpun  memperbolehkannya pulang.
Dirga dan Ani juga sering datang ke rumah Sri. 
…
"Mbak, saya ingin membicarakan bisnis dengan Anda," ucap Dirga kepada Sri sore itu.
"Kalau saya boleh tahu bisnis apa ya Pak?"
"Begini, saya lihat Ani sering memasak waktu di rumah saya dan masakannya rasanya sangat lezat. Saat saya bertanya siapa yang mengajarinya, dia menjawab kalau anda. Maksud saya, bagaimana kalau Mbak membuka restoran, untuk modal dan tempatnya biar saya atur, Mbak tinggal mengurus masalah dapur saja. Rencananya masakan Indonesia menjadi menu di restoran nanti. Bagaimana, apakah Mbak setuju?"
Sri sangat kaget mendengar rencana Dirga, bagaimanapun juga dia tidak pernah berpikir untuk membuka restoran.
"Saya tidak percaya diri dengan rasa masakan saya Pak, apalagi untuk dijual di rumah makan sekelas restoran. Memang dulu Ibu saya pernah jualan makanan matang tapi itu hanya sekelas warung kecil saja. Saya takut jika nantinya saya hanya mengecewakan Bapak."
"Jangan pesimis seperti itu, kita tidak tahu bagaimana hasilnya kalau belum mencoba. Lagi pula mulai sekarang Mbak juga harus memikirkan masa depan anak-anak. Dengan pekerjaan Mbak yang sekarang apakah bisa menjamin mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak nantinya."
"Bapak benar, bolehkah saya berpikir dulu Pak? Saya butuh waktu untuk mengambil keputusan yang sebesar ini."
"Tidak masalah, jika Mbak sudah punya keputusan tolong kabari saya."
"Baik Pak"
….
Malam ini Sri tidak bisa tidur, dia terus memikirkan tentang tawaran Dirga. Memang benar jika pekerjaannya yang sekarang sangatlah tidak memungkinkan untuknya menabung. Untuk makan saja kadang pas-pasan apalagi menabung.
Dengan mengikuti saran Dirga pastilah dia bisa mengangkat perekonomiannya. Tapi disisi lain dia sangat takut jika nanti hasilnya tidak seperti yang diinginkan. Sudah keluar uang banyak tapi ternyata tidak ada yang berminat dengan masakannya. Jika hanya warung kecil saja pasti kerugiannya sedikit, tapi untuk restoran pasti banyak.
Sri sangatlah bingung untuk mengambil keputusan. Dia memilih untuk sholat dan meminta petunjuk pada yang di atas. Setelah sholat dia memutuskan untuk tidur.
Saat tidur dia bermimpi bertemu dengan Mita. Mita terlihat sangat cantik dengan wajah yang berseri-seri memakai pakaian serba putih.
"Mak, Mita kangen." 
"Emak juga kangen Nak, apakah kamu sudah tenang di sana Nak?"
"Mita sudah tenang Mak, Emak terima saja tawaran pak Dirga, dia orang baik Mak. Semoga dengan membuka restoran ini nantinya perekonomian Emak bisa lebih baik lagi, adik-adik bisa sekolah yang tinggi."
"Iya Nak, terimakasih untuk sarannya."
Sri dan Mita pun salin berpelukan.
Sri terbangun karena mendengar suara adzan berkumandang.
"Ya Allah, inikah jawaban atas pertanyaanku."
Akhirnya Sri sudah mendapatakan keputusan untuk menyetujui usul Dirga.
…
Keesokan harinya Dirga datang lagi.
"Bagaimana Mbak, apakah sudah ada jawaban atas pertanyaan saya kemarin?"
"Iya Pak, saya setuju dengan usulan Bapak."
"Alhamdulillah, kalau begitu hari ini juga mbak bisa ikut saya untuk survey tempatnya?"
"Hah? Hari ini?"
"Ya tentu saja Mbak, lebih cepat lebih baik."
"Baiklah Pak, saya setuju."
Dirga pun mengajak Sri untuk melihat tempat yang akan dijadikan restoran nanti. Setelah sampai ditempat tujuan Sri sangatlah kaget. Suatu tempat ditengah kota yang padat penduduk tetapi dibuat bernuansa alam. Di sana sangatlah luas, saung-saung berada dipinggir kolam ikan yang besar.
Pepohonan sangatlah banyak membuat suasananya menjadi asri. Ada juga bangunan luas yang khusus untuk pertemuan atau rapat.
Ditambah lagi dengan lagu Jawa yang diperdengarkan menambah kesan pedesaan lebih terasa.
"Bagaimana, apakah Mbak suka?"
"Suka sekali Pak, saya tidak menyangka bapak punya konsep yang luar biasa seperti ini." Pujinya dengan tulus.
"Haha … biasa sajalah Mbak," jawab Dirga tersanjung.
"Jadi kapan mulai dibuka, Pak?"
"Semuanya sudah lengkap, koki yang nantinya membantu juga sudah ada, tinggal nunggu Mbaknya saja."
"Bagaimana kalau hari minggu nanti pak?"
"Tidak masalah."
Selama tiga hari ini Sri sibuk menyiapkan semua keperluan pembukaan restoran. Untungnya si kecil tidak rewel saat ditinggal Sri.
Hari yang ditunggu telah tiba,  pagi ini Dirga menjemput Sri dan anak-anaknya.
"Kenapa pagi sekali datangnya Pak? Bukankah acaranya masih jam tiga?"
"Aku mau mengajak kalian berbelanja dulu?"
"Hah? Belanja?"
"Iya, lekaslah bersiap-siap nanti keburu siang."
"Tapi Pak…."
"Sudah, ini hari yang sangat penting. Penampilanmu harus terlihat wow karena kamu bintang hari ini."
"Baiklah Pak."
Sri mulai mendandani ketujuh anaknya. Mereka pun langsung menuju ke butik langganan Dirga. 
"Mbak, tolong carikan baju untuk Ibu dan adik-adik ini ya."
"Baik Pak." 
Beberapa pelayan mulai melayani Sri dan anak-anaknya. Untungnya anak-anak Sri mudah diatur jadi smuanya cepat selesai.
Sri mulai mencoba beberapa baju, baju dengan warna biru muda menjadi pilihannya. Setelah itu dia didandani sekalian. Butik tersebut memang merangkap salon, ada area untuk bermain anak-anak sehingga mereka tidak merasa bosan saat menunggu.
Beberapa saat kemudian Sri sudah selesai dirias. Dengan grogi dia berjalan menemui Dirga.
"Pak Dirga."
Dirga yang tertidur di ruang tunggu kaget mendengar suara Sri. Dia mendongak dan merasa takjub dengan penampilan Sri. Melihatnya tanpa kata-kata, hanya mulutnya saat yang terlihat terbuka.
"Pak…." Panggil Sri lagi.
"Eh i-iya, sudah selesai?" ucap Dirga tergagap.
"Sudah pak, ayo kita berangkat."
"Cantik," ucap Dirga pelan.
"Bapak bilang apa tadi?"
"Eh, ah tidak bilang apa-apa kok, yuk berangkat."  
"Emak cantik sekali," ucap Ani yang melihat emaknya.
"Terima kasih sayang."
Mereka bersembilan berangkat menuju tempat pembukaan restoran. 
Acarapun dimulai, semua mata tertuju ke arah Sri. Sri hari ini memang terlihat sangat cantik. Sri memotong pita sebagai tanda dibukanya restoran. Setelah itu mereka makan hidangan  yang sudah disiapkan. Para tamu undangan memuji masakan Sri. Hitung-hitung sebagai promo gratis. Acarapun selesai, mereka merasa puas dengan acara yang berjalan lancar.
…
Hari-hari Sri setelahnya disibukkan dengan mengurus restoran. Rasa masakan Sri yang lezat membuatnya diminati para pelanggan. Dalam satu tahun saja mereka sudah membuka cabang di beberapa tempat. 
Kehidupan ekonomi Sri pun sudah mulai berubah, dia sudah bisa membeli rumah besar dengan dua lantai dan memiliki pekarangan yang luas. Dia juga mempekerjakan beberapa asisten rumah tangga di rumahnya.
…
"Assalamu'alaikum." Terdengar sapaan dari luar rumah. Sang empunya rumahpun bergegas membuka pintu. Betapa kagetnya dia setelah tahu siapa yang datang.
"Bapak, Emak…."

Komentar Buku (304)

  • avatar
    2016Louise

    Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.

    10/01/2022

      0
  • avatar
    Callista

    fokus ceritanya ke mana²

    02/02

      0
  • avatar
    Visitor

    jumadi

    02/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru