bag 9. Sampah

Ketika Surgaku Tak Lagi Sempurna
Bag 9. Sampah
Mah, mamah, aku segera berlari ke rumah belakang, mendekati anak-anakku yang sedang bermain di belakang.
"Ada apa kesayangannya Mamah? Tumben teriaknya kenceng bener?" Anak-anak terlihat begitu ketakutan.
"Mah, itu Bude Nina," anak-anakku menunjuk pintu gudang produksi yang terbuka lebar. Terdengar suara keributan di dalamnya. Segera ku dekati sumber suaranya.
Betapa terkejutnya aku, melihat empon-empon yang sudah tertata rapi menjadi berantakan.
"Mbak, apa yang kau lakukan? Barang-barang ini sangat bernilai bagiku, apa kau sanggup menggantinya?" Aku mendekati Mbak Nina dan berusaha menghentikan aksinya.
"Apa? Sampah kayak begini saja berharga, barang-barang ini semua itu cuma sampah dari warga yang kau punguti, dengan tanpa malu kamu mengambil sampah-sampah yang tidak berguna ini! Dias sang pemulung!" Mbak Nina benar-benar menabuh genderang perang. Aku tidak akan berdiam diri.
"Sampah yang sangat berguna bagi kami, pejuang receh yang bisa mengubah sampah menjadi gunung emas. Alangkah lebih berharga sampah-sampah ini dibandingkan kamu, untuk makan saja butuh uluran tangan saudaranya. Hidup dengan gaya yang wah, dari hasil menengadahkan tangan. Dengan sampah-sampah ini aku bisa mengeluarkan seorang pengedar yang mengaku ustad pada keluarganya!" Mbak Nina memandangku dengan penuh kebencian, jangan harap kau bisa menginjak-injak harga diriku lagi. Dias si putri tidur sudah bangun, siap berubah menjadi singa.
"Diam kau, Dias! Debu tidak akan berubah menjadi emas, sadar diri dong! Debu tetaplah debu, hanya jadi kotoran yang harus dibersihkan!" Mbak Nina menjawab dengan senyum meremehkan.
"Tenang, Mbak, akan ku buktikan kalau debu ini bisa merubah sampah menjadi gunung emas, kita tunggu saja waktunya!" jawabku tidak kalah menyakitkan. Entah sudah berbentuk seperti apa gudang produksi jamuku ini, Mbak Nina benar-benar mengacaukan tempat ini.
"Mbak, sebaiknya tinggalkan tempat ini, gudang ini bukan tempat pertandingan. Banyak yang berharap recehan dari tempat ini!" Kuhirup nafas dalam-dalam kemudian ku hembuskan lagi.
"Berani-beraninya kau mengusirku dari rumah ibuku. Kamu itu tidak punya hak apapun disini. Yang seharusnya meninggalkan tempat ini itu kamu, bukan aku!" Mbak Nina tidak terima dengan jawabanku.
"Di tempat ini, aku sudah membayar sewa, mbak, jadi aku bisa mengusirmu tanpa hormat. Lebih baik kau tinggalkan tempat ini saat ini juga, sebelum aku berbuat nekat!" Ucapku penuh penekanan.
"Kumohon tinggalkan tempat ini, Mbak! Sebelum kau dikeroyok warga desa sini!" Ku ulangi sekali lagi permohonanku.
"Benar-benar kurang ajar kamu, Dias!" Mbak Nina berjalan dengan cepat meninggalkan gudang produksi.
Aku baru bisa bernafas dengan lega setelah kupastikan kalau Mbak Nina dan ibu sudah meninggalkan gudang. Segera aku bereskan segala kekacauan yang di buat Mbak Nina.
Aku merasa bersalah karena kedua anakku harus melihat pertengkaranku dengan Mbak Nina. Segera ku ajak mereka masuk ke dalam rumah.
Hari sudah malam, ketika aku keluar dari kamar anak-anakku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini. Setelah seharian sibuk dengan acaranya Musa, sekarang saatnya mempersiapkan bahan ajar untuk besok pagi.
"Mah, bisa buatkan ayah wedang jahe!" Pinta Mas Anung yang baru datang.
"Sebentar, dari mana Mas?" Aku berkata sambil menyeduh wedang uwuh.
"Dari rumah teman, Mah!" Jawab Mas Anung singkat.
"Ini, Mas, diminum mumpung masih panas!" Kulihat Mas Anung sebegitu kacaunya hari ini.
"Mah, besok aku temani ke rumah bapak ya? Maafkan suamimu ini, Mah! Maaf aku belum bisa membahagiakan kamu!" Mas Anung menatapku penuh pengharapan.
"Iya, Mas, besok siang setelah aku pulang mengajar ya, Mas!" jawabku singkat.
"Ada yang bisa aku bantu, Mah?" Mas Anung bertanya sambil mendekatiku.
"Ada, beneran mau bantuin?" tanyaku menggoda. Mas Anung mendekatiku yang masih sibuk di depan laptop.
"Mas, ini ada pesanan jamu, sudah tak rekap, tolong dibuatkan nota dan siapkan barangnya. Kalau ini rekapan skincare, nota sudah tak print, tinggal siapin barangnya. Paham?" Aku berkata sambil menaik turunkan alis menggoda Mas anung.
"Ternyata banyak ya, Mah!" Mas Anung serius melihat rekapan orderanku hari ini.
Setelah rekapan orderan dan nota selesai ku kerjakan, segera aku menyiapkan orderan sesuai catatan. Setelah memilah-milah pesanan segera kubungkus pesanan sesuai nama-nama konsumen yang sudah transfer pembayaran.
Alhamdulillah, selesai sudah orderan hari ini, besok tinggal mengantar ke agen kurir langganan. Mas Anung tersenyum bahagia bisa bersama-sama menyelesaikan orderan hari ini.
"Mah, kita tidur yuk, badanku rasanya pegal semua!" Aku hanya tersenyum melihat Mas Anung yang kelelahan.
Malam ini aku menutup segala rutinitasku dengan senyum gembira. Kebahagiaan akan terasa lebih indah jika dilakukan secara bersama-sama.
***
Ku awali kegiatan hari ini dengan tersenyum bahagia. Pagi ini aku hanya membuat nasi goreng+telur ceplok untuk sarapan kami.
"Mas, aku tetap pada keputusanku ya, untuk segera pindah dari rumah ini. Aku pengen hidup secara wajar tanpa tekanan dari manapun juga." Aku berkata sambil menyiapkan bekal untuk makan siang anak-anak.
"Nung, Anung, ibu ikut sarapan disini ya! Dias siapkan sarapan untuk ibu!" Ibu yang datang-datang langsung ikut makan bersama kami. Beruntung aku membuat nasi goreng agak banyak jadi tidak kebingungan di saat ibu datang mendadak seperti saat ini.
"Mah, rencananya berapa tukang yang akan di gunakan?" Mas Anung bertanya sambil memakan nasi goreng yang sudah kusiapkan.
"Rumah ini mau dibangun? Baguslah kalau kalian sadar, memang seharusnya rumah ini sudah dibangun dengan bentuk yang modern, nanti ibu akan tinggal disini juga, biarlah rumah yang disana digunakan Musa." Aku hanya mendengarkan kata-kata yang diucapkan ibu, tanpa ada niat untuk menjawabnya.
"Bu, kami akan pindah ke rumah Dias di desa sebelah," Mas Anung menjelaskan kepada ibu dengan hati-hati.
"Tidak bisa, Anung harus tinggal disini, dia harus dekat dengan ibunya. Pasti kamu yang mempengaruhi Anung supaya berani kepada orang tua! Dasar menantu tidak berguna, hanya bisa memanfaatkan uang anakku!" Ibu menikmati sarapan paginya dengan wajah penuh kemarahan.
"Ibu, Dias membutuhkan tempat yang cukup besar untuk usaha jamunya, sedangkan disini, kami tidak memiliki tempat!" Mas Anung mulai emosi dengan sikap ibu.
"Kurang besar apanya, semua tempat di rumah ini sudah digunakan istrimu. Dasar menantu kurang ajar, kamu sengaja memisahkan Anung dari ibunya! Dias seharusnya kamu membantu suamimu untuk berbakti, bukan malah memisahkan!" Ibu menatapku penuh kebencian.
"Ibu, ini keputusanku, bukan pengaruh dari Dias! Aku suaminya seharusnya aku bisa membuat dia bahagia?" Mas Anung mulai terbawa emosi. Aku hanya bisa menahan nafas setiap mendengar kata-kata kasar dari ibu mertuaku.
"Diam kamu, aku tidak membutuhkan pembelaan, Anung harus tetap disini, kalau kamu mau pindah, pindahlah bersama kedua anakmu!" Aku hanya diam tanpa mengucapkan satu katapun, kulihat Mas Anung duduk dengan gelisah.
"Mas, aku berangkat dulu, ayo anak-anak salim sama nenek dan ayah!" Aku segera melajukan kuda besiku dengan perasaan yang sudah mantap untuk segera meninggalkan rumah neraka ini.
💖💖💖🙏💖💖💖
Alhamdulillah selesai satu bab, mohon maaf telat up hari ini. Author hanya manusia biasa, kadang otaknya tidak sejalan dengan tangan.
Jangan lupa follow akun author tuk update babnya, biar selalu semangat menulis
Selamat membaca

Komentar Buku (12)

  • avatar
    Naii Cntik

    bgus

    27/05/2025

      0
  • avatar
    123bagus

    bagus

    23/01/2025

      0
  • avatar
    ZidanAlfa

    good

    02/12/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru