Beranda/ketika surgaku tak lagi sempurna/
Bab 40. Tanah Pekarangan
Bab 40. Tanah Pekarangan
Ibu hanya diam, beliau berusaha menahan air mata yang akan menetes. Aku dan Mas Anung meninggalkan ketiga orang itu, karena aku merasa itu adalah permasalahan mereka di masa lalu dan harus diselesaikan mereka sendiri.
"Kalian tidak perlu meninggalkan tempat ini, itu hak kalian! Saat ini kalian cukup duduk dan mendengarkan kami!" Akhirnya aku dan Mas Anung duduk kembali.
"Hm …, sebenarnya," ibu berhenti berkata, beliau melihat kami satu per satu. Terlihat penyesalan di mata beliau.
"Tanah pekarangan itu, sudah jadi pabrik di ujung desa itu, maafkan aku! Sebenarnya uang pembayaran tanah pekarangan itu sudah ada, tetapi …" Ibu menarik nafas dalam, kemudian menatap tajam padaku.
"Uang penjualan tanah itu sudah habis, dipakai judi anakku!" Ibu menarik nafas dengan berat kemudian menundukkan wajahnya.
"Dulu tanah itu kami gadaikan untuk membayar hutang keluargaku, kemudian Mas Zaenal berhasil menebusnya. Sampai akhirnya tanah itu dijual dengan harga yang sangat tinggi." Ibu berhenti sejenak, sedangkan aku dan Mas Anung berusaha memahami cerita ibu. Bude Ari dan Bapak Arya menyimak dengan serius.
"Tetapi, uangnya dibawa teman Mas Zaenal. Bahkan sampai Mas Zaenal meninggal beliau belum mendapatkan uang hasil penjualan tanah tersebut. Sampai akhirnya pada saat menjelang pernikahan anak terakhirku, teman Mas Zaenal menyerahkan uang sebesar 500 juta dan surat perjanjian yang dulu kita buat." Ibu berhenti sejenak, mengambil nafas panjang, berusaha meneruskan ceritanya kembali.
"Maaf uang tersebut dipakai anakku Nina untuk berjudi," ibu menundukkan wajahnya terlihat penyesalan yang mendalam.
"Trus, maksudmu bagaimana Zaenab?" Bapak Arya berusaha bersikap tenang, beliau menatap tajam ibu.
"Maaf seandainya aku ganti dengan tanah yang lain bagaimana? Tetapi tidak seluas tanah pekaranganmu. Maafkan sikapku dulu yang selalu memanfaatkan dirimu!" Ibu tertunduk malu.
"Tanah itu milik Mas Danu, akan aku serahkan kembali ke ahli warisnya. Begini saja, kamu sanggup mengganti tanah tersebut berapa? Yang jelas, tanah itu harus dikembalikan karena bukan hak kamu!" Bapak Arya menatap tajam ibu. Sedangkan ibu sedari tadi hanya menundukkan wajahnya.
"Dias, tolong ambil sertifikat tanah yang kemarin ibu titipkan padamu!" Ibu berusaha mengangkat wajahnya, terlihat sekali bahwa beliau berusaha menahan air matanya.
"Njih, Bu!" Aku dan Mas Anung segera mengambilkan sertifikat yang ada di kamarku.
"Meniko, Bu!" Ibu menerima sertifikat yang aku berikan.
"Ini, kamu pilih saja, tapi tolong sisakan tiga sertifikat untuk ketiga anakku!" Ibu menatap penuh pengharapan.
"Sertifikat tanah ini kalau dijumlahkan luasnya masih kurang jika digunakan untuk menggantikan tanah Mas Danu! Apalagi masih harus dikurangi tiga sertifikat!" Bapak Arya menatap ibu dengan kecewa, tatapan mata itu terlihat sangat tidak bersahabat.
"Dias, adikmu mana?" Bapak Arya mencari Dira yang memang hari ini tidak pulang.
"Dira, di asrama, Pak Lek! Dia baru mengerjakan tesisnya, tadi pamit hari ini tidak bisa pulang." Aku menerangkan dengan hati-hati.
"Oke, begini saja, Zaenab! Aku ambil tiga sertifikatnya tapi tolong langsung diproses balik nama besok! Ini ku kembalikan tiga sertifikatnya. Besok pegawaiku akan mengurusnya, jadi kamu siapkan uang untuk biayanya!" Bapak Arya menarik nafas dengan kasar, beliau terlihat sangat tidak senang dengan keputusan ini. Beliau meminum wedang uwuh yang sudah dingin.
"Mbakyu, ini tanah untuk keponakan-keponakanku, satu untuk Lastri, satu untuk Dira dan satu lagi untuk Dias. Untuk Dias sengaja aku mengambil yang paling besar, karena akan kubangunkan pabrik jamu begitu proses balik nama selesai!" Bapak Arya menatap Bude Ari, dan Bude Ari hanya menganggukkan kepalanya.
"Arya, ini tidak adil buat kami, mengapa kamu begitu memprioritaskan anak-anak perempuan! Sedangkan dua anakku laki-laki, seharusnya kamu mempertimbangkan itu!" Ibu tidak terima dan beliau dengan tanpa malu mengatakan itu.
"Tidak adil apanya? Seharusnya kamu malu mengatakan itu! Kamu pasti takut orang-orang memandang remeh padamu? Aku sudah tahu karaktermu, tenangkan dirimu, sekarang aku tidak akan terpikat lagi dengan segala rayuanmu!" Wajah ibu merah padam menahan malu, beliau terlihat tidak terima.
"Benar, aku tidak suka Dias lebih unggul dari anak-anakku, dan perlu kamu tahu Dias itu sumber masalah bagiku!" Ibu menatap tajam padaku.
"Sumber masalah atau sumber keuangan? Kamu sekarang tinggal menumpang di rumah Dias, itu buktinya kalau kamu benalu bagi Dias!" Bapak Arya tersenyum mengejek.
"Arya, jaga bicaramu! Bagaimanapun juga aku mertua Dias, dia harus mengutamakan aku dalam hal apapun!" Aku hanya menahan nafas, berusaha tetap kuat mendengar segala ucapan ibu mertuaku.
"Anung, jaga ibumu baik-baik, dia bisa sakit jiwa dengan segala obsesinya!" Bapak Arya berkata dengan tenang.
"Arya!" Ibu tidak terima dan beliau segera meninggalkan kami semua.
"Pak Lek, apa semua ini tidak berlebihan! Biarkan ibu hidup dengan tenang di masa tuanya! Untuk pabrik aku sama sekali belum terpikirkan, yang penting saat ini kujalani semua yang menjadi ketentuannya!" Aku mengatakan itu, karena kaget dengan semua pembicaraan tadi.
"Iya, Arya, benar yang dikatakan Dias! Sebaiknya kamu pikirkan lagi!" Bude Ari berusaha berbicara.
"Sudah aku pikirkan semuanya, Mbakyu! Selama ini aku selalu merasa bersalah dengan Mas Danu, ini sebagai penebus rasa bersalah terhadap beliau. Untuk Zaenab dia mempunyai kewajiban mengganti apa yang pernah di pinjamnya!" Bapak Arya menundukkan kepalanya.
"Aku tidak akan tinggal diam, selama kamu selalu meremehkan keponakanku," Bapak Arya berkata lirih.
"Pak Lek, ini saya seduh ulang wedang uwuhnya, monggo dinikmati!" Aku berusaha membuat suasana menjadi tenang kembali.
"Dias, Pak Lek tadi sudah mempelajari perkembangan usaha jamu ini, perkembangannya sangat pesat dalam tiga bulan ini. Sebaiknya sekalian kamu pegang pasar Indonesia, jangan hanya lingkup Jawa. Aku tadi juga buka website jamu, ternyata pemesannya sudah sampai Papua. Kamu hebat Dias, tetap pertahankan kualitas dan berikan pelayanan terbaik untuk pelanggan!" Bapak Arya berbicara dengan sangat bijak, aku sangat kagum dengan beliau.
"Untuk pabrik tetap akan dibangun, karena jamu-jamu ini sangat dibutuhkan masyarakat. Kamu tenang saja, Dias! Segala sesuatu yang berhubungan dengan pabrik nanti aku urus! Alat-alat modern dan tenaga kerja yang profesional biar menjadi urusanku, begitu urusan tanah dan pembangunan pabrik sudah selesai." Aku hanya bisa menangis mendengar penjelasan dari Bapak Arya. Begitu juga Bude Ari.
"Ternyata sudah malam, sebaiknya kita teruskan lagi besok! Maaf besok pagi, aku ada rapat di kantor pusat. Anung persiapkan dengan baik acara besok pagi! Mbakyu, ayo aku antar pulang! Kita mampir beli mie jowo yang legendaris itu ya!" Bude Ari hanya menganggukan kepalanya, Bapak Arya segera meninggalkan rumah kami.
Segera kubersihkan sisa-sisa makanan dan minuman hari ini, Mas Anung menutup pagar dan mengecek kunci-kunci gudang dan tempat usaha kami.
"Dias, jangan besar kepala dengan keadaan ini! Jangan karena kamu memiliki saudara orang penting di partai, kamu jadi sewenang-wenang dengan suamimu! Ingat dia suamimu! Surgamu ada padanya!" Aku hanya memandang ibu, tidak bisa berkata-kata lagi.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (12)
Share
Selesai
Rekomendasi untuk Anda
bgus
27/05/2025
0bagus
23/01/2025
0good
02/12/2024
0Lihat Semua